Persiapan Ibadah Umroh Sesuai Sunnah Rasulullah

Persiapan Ibadah Umroh Sesuai Sunnah Rasulullah

Ibadah Umroh (bahasa Arab: عمرة) adalah berkunjung ke kota suci Makkah khususnya ke Masjidil Haram untuk melakukan serangkaian ibadah sesuai dengan rukun umroh dan syarat-syarat ibadah umroh yang telah ditetapkan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

 

=======================================================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH Rp18,9 Juta

H. SUDJONO AF – 0813 88097656  WA

=======================================================================

Ibadah umroh yang juga disebut haji kecil ini dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah yaitu tgl 10 Zulhijjah dan hari-hari Tasyrik yaitu tanggal 11,12,13 Zulhijjah. Namun untuk saat ini mengingat besarnya jamaah haji maka jadwal ibadah umroh dibatasi. Khusus bulan Zulqaidah-Zulhijjah-Muharam tidak dikeluarkan visa umroh. Hal ini dilakukan pemerintah Saudi untuk meningkatkan pelayanan kepada jamaah haji selama melakukan ibadah haji.

 

Perbedaan Ibadah Umroh dengan Ibadah Haji

 

Ibadah umroh Risalah Madina Travel

Ibadah umroh Risalah Madina Travel

Perbedaan ibadah umroh dengan ibadah haji adalah pada waktu dan tempat pelaksanaan ibadah. Umroh dapat dilaksanakan sewaktu-waktu, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, kecuali waktu-waktu yang dilarang, dimulai dengan berihrom dan niat dari tempat miqot yang ditetapkan dan melakukan thawaf, sa’i serta tahalul di Masjidil Haram.

Sedangkan ibadah haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 1 Syawal hingga 13 Dzulhijjah. Sementara pelaksanaan ibadah haji sendiri adalah mulai 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah. Pelaksanaannya dimulai dengan berihrom dan niat dari tempat miqot yang ditetapkan, wukuf di Padang Arofah, mabit atau menginap di Muzdalifah, melepar jumrah dan mabit di Mina, serta  ditutup dengan thawaf ifadhoh di Masjidil Haram. Pelaksanaan ibadah umroh bisa berdiri sendiri, namun ibadah haji harus disertai ibadah umroh. Baik dengan Haji Ifrad, Haji Qiran, maupun Haji Tamattu.

Jadi tempat dalam melakukan ibadah haji dan umroh pun berbeda. Memang keduanya ada kesamaan, misalnya dalam hal miqat (tempat pertama kali mengucapkan niat haji/umroh). Juga karena melakukan ibadah yang sama yaitu thawaf dan sa’i maka tempatnya pun sama, yaitu di Mekah. Namun untuk umroh tidak ada syariat wukuf dan mabit sehingga tidak diperlukan pergi ke Arafah, Mina dan Muzdalifah. Dalam ibadah haji ketiga tempat tersebut wajib dikunjungi karena termasuk rukun dan wajib haji.

Dari segi bentuk atau jenis ibadah juga ada perbedaan. Ibadah umroh hanya melakukan ihram dan niat, thawaf, sa’i serta tahallul. Yakni jika telah selesai sa’i maka melakukan tahallul dengan menggunting rambut atau mencukur gundul. Sementara itu ibadah haji adalah ibadah umroh (ihram dan niat, thawaf, sa’i serta tahallul) ditambah dengan wukuf di Arafah, mabit (tinggal/menetap) di muzdalifah dan melempar jumroh serta mabit di Mina.

Dengan demikian jelas bedanya antara haji dan umroh. Jadi, inti prosesi ibadah haji adalah wukuf di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah selepas matahari tergelincir sampai magrib. Apabila hal itu tidak dilakukan maka seseorang tidak dapat dikatakan sudah berhaji. Sedangkan ibadah umroh intinya hanya melakukan thawaf dan sa’i. Keduanya didahului dengan memakai pakaian ihram di miqat (tempat) yang telah ditentukan dan diakhiri dengan tahallul (bercukur).

Jadi bagi seorang calon jamaah umroh dan haji, penting ia harus mengetahui apa itu ibadah haji, apa itu ibadah umroh. Calon jemaah umroh dan haji harus bisa membedakan ibadah-ibadah mana  yang termasuk haji dan mana yang termasuk umroh.

 

Hukum Ibadah Umroh

 

Thawaf dalam menjalankan rukun umroh

Thawaf dalam menjalankan rukun umroh

Dalam menetapkan masalah ini ada khilaf (silang pendapat) di antara para ulama. Ulama Malikiyah dan kebanyakan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa umroh itu sunnah muakkad, yaitu umroh sekali seumur hidup.

Sedangkan sebagian ulama Hanafiyah lainnya berpendapat bahwa umroh itu wajib sekali seumur hidup karena menurut istilah mereka sunnah muakkad itu wajib.

Pendapat yang paling kuat dari Imam Syafi’i, juga menjadi pendapat ulama Hambali bahwa hukum umroh itu wajib sekali seumur hidup.

Imam Ahmad sendiri berpendapat bahwa umroh tidak wajib bagi penduduk Makkah karena rukun-rukun umroh yang paling utama adalah thowaf keliling Ka’bah. Mereka, penduduk Makkah, sudah sering melakukan hal ini, maka itu sudah mencukupi mereka.

Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berdalil bahwa umroh itu hukumnya sunnah dengan dalil sebagai berikut:

Hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai ‘umroh, wajib ataukah sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. Jika engkau berumroh maka itu afdhol.” (HR. Tirmidzi no. 931, sanad hadits ini dinilai dho’if sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Hadits Tholhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, “Haji itu jihad dan ‘umroh itu tathowwu’ (dianjurkan).” (HR. Ibnu Majah no. 2989, hadits ini dinilai dho’if sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa umroh itu wajib sekali seumur hidup dengan alasan firman Allah Ta’ala,

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196).

Maksud ayat ini adalah sempurnakanlah kedua ibadah tersebut. Dalil ini menggunakan kata perintah, hal itu menunjukkan akan wajibnya haji dan umroh.

Juga dalil lainnya adalah,
Dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

Jika wanita saja diwajibkan umroh karena itu adalah jihad bagi wanita muslimah, lantas bagaimanakah dengan pria?

            Pendapat yang terkuat dalam hal ini, umroh itu wajib bagi yang mampu sekali seumur hidup. Sedangkan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah (mu’akkad) berdalil dengan dalil yang lemah (dho’if) sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Jadi bagi yang mampu, sekali seumur hidup berusahalah tunaikan umroh. Namun perlu diketahui bahwa ibadah umroh ini bisa langsung ditunaikan dengan ibadah haji yaitu dengan cara melakukan haji secara tamattu’ atau qiran. Karena dalam haji tamattu’ dan haji qiran sudah ada umroh di dalamnya. Sementara untuk umroh-umroh berikutnya adalah sunnah.

 

Jamaaumroh Risalah Madina di Masjid Nabawi

Jamaaumroh Risalah Madina di Masjid Nabawi

Ibadah umroh tidak dibebankan kepada seluruh kaum muslimin. Hanya yang mampu saja, yang dalam istilah agama disebut dengan istitha’ah. Pengertian mampu adalah mampu secara fisik, yaitu sehat dan kuat. Sebagaimana kita ketahui ibadah umroh sebagian besar adalah ibadah fisik sehingga diperlukan fisik yang kuat bagi yang akan melaksanakannya. Selain fisik, rohani juga harus siap. Seorang calon jamaah umroh harus mengetahui dan memahami manasik umroh sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan pikirannya sedang tidak terganggu karena perjalanan yang dilakukan cukup jauh dan berat, serta bersama banyak jamaah lain.

Selain jasmani dan rohani, seorang calon jamaah umroh harus mampu secara ekonomi, artinya mampu membayar biaya perjalanan ibadah umroh yang ditawarkan oleh biro-biro travel haji dan umroh. Menurut hemat kami, untuk saat ini Paket Umroh paling murah yang aman adalah di kisaran harga US$1.500. Sehingga bila ada penawaran dari travel umroh yang berani menjual paket umroh dengan biaya dibawah US$1.500 perlu hati-hati. Calon jamaah umroh sebaiknya tidak tergiur dengan penawaran harga yang tidak realistis. Agar dibelakang hari tidak kecewa dan rugi.

Di dalam fiqih juga disebutkan bahwa seseorang tidak bisa dikatakan mampu jika yang dipakai biaya perjalanan ibadah umroh adalah modal utamanya sehari-hari yang apabila dipakai dikhawatirkan akan mendapatkan kemudharatan bagi diri dan keluarganya. Misalnya berumroh atau haji dengan menjual rumah tempat tinggal satu-satunya sehingga ketika pulang ia dan keluarganya tidak punya tempat tinggal. Atau berumroh atau haji dengan menjual lahan sawahnya yang selama ini menghidupi keluarganya sehingga ketika pulang ia tidak punya pekerjaan lagi. Selain itu, bagi seorang kepala keluarga, yang dimaksud mampu termasuk biaya hidup bagi mereka yang ditinggalkan di tanah air selama berumroh dan haji. Jangan sampai ia dan istri berangkat umroh tetapi anak-anaknya di tanah air tidak terurus karena tidak ditinggali biaya hidup.

Hal penting lagi adalah masalah keamanan. Jika semua kemampuan sudah dimiliki namun keamanan menuju Tanah Suci tidak terjamin maka tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk menunaikan ibadah umroh. Juga aman bagi keluarga yang ditinggalkan di tanah air yang menjadi tanggung jawabnya. Jadi, seorang yang diwajibkan berumroh adalah orang yang mampu secara fisik, rohani, ekonomi dan keamanan.

Jamaah Umroh usai melakukan thawaf di lantai dua

Jamaah Umroh usai melakukan thawaf di lantai dua

Jadi kesimpulan dari syarat istitha’ah adalah:

  1. Jasmani

Tidak terlalu tua, tidak sakit lumpuh, tidak dalam keadaan sakit berat/cacat fisik yang sulit untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji/umrah, kecuali ada pendamping yang siap membantu secara penuh dengan bantuan alat-alat yang dibutuhkan, misalnya kursi roda dan yang lainnya.

  1. Rohani

Mengetahui hukum dan manasik haji/umrah. Berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk melakukan ibadah haji/umrah dengan perjalanan yang jauh.

  1. Ekonomi

Mempu membayar biaya umroh atau Ongkos Naik Haji (ONH) yang kini disebut Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dengan uang yang halal bukan hasil pinjaman, bukan hasil penjualan rumah tempat tinggal satu-satunya atau lahan sawah yang menjadi satu-satunya sumber kehidupan. Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang menjadi tanggungan meliputi sandang dan pangan.

  1. Keamanan

Aman di perjalanan dan aman pada waktu melaksanakan ibadah haji/umrah, serta keamanan keluarga dan harta yang ditinggalkan.

Namun begitu, seorang muslim wajib berusaha sekuat tenaga untuk bisa berangkat umroh haji. Karena haji adalah salah satu pilar dalam rukun Islam. Sebaiknya seorang muslim bisa menyempurnakan kelima rukun Islamnya, dengan berbagai upaya yang halal. Sudah banyak bukti mereka yang gigih menabung setiap hari atau setiap bulan dengan hasil usahanya, mampu berangkat haji dan umroh setelah setelah menabung selama 10 tahun, atau 20 tahun atau bahkan 30 tahun.

Niat dan berangkat  haji umroh selayaknya juga menjadi proposal dalam hidup seorang muslim. Sebagai kepala keluarga selayaknya kita sudah menyiapkan segala keperluan untuk berangkat haji umroh bagi keluarga kita. Kita melihat banyak keluarga muslim yang sanggup mengkuliahkan putra-putrinya hingga ke jenjang tinggi, yaitu sarjana, master hingga doktor. Bahkan ada yang kuliah di luar negeri. Tentu saja biaya semua itu bisa dibilang cukup besar. Namun sangat disayangkan bila belum ada proposal kehidupan untuk mencukupi biaya berangkat umroh dan haji, yang sebenarnya lebih mulia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan ibadah umroh dan haji sebagai satu proposal hidup keluarga kita. Saat ini kita sebagai kepala keluarga menyiapkan semua keperluan untuk keberangkat umroh haji putra putri kita. Sehingga kelak mereka akan menyiapkan keperluan tersebut untuk anak-anak mereka atau cucu-cucu kita, dan seterusnya. Sehingga semoga hal ini juga menjadi amal jariyah kita telah mendidik putra putri kita dengan baik sesuai dinul Islam.

Janganlah kita berlindung dari kata istitha’ah, bagi yang mampu untuk ibadah umroh haji. Dan kita merasa diri kita tidak mampu karena hanya berpenghasilan pas-pasan. Ingatlah rahmat Allah SWT sangat besar dan rejeki Allah SWT sangat luas. Insya Allah bila kita bertaqwa kepada Allah SWT dalam arti yang sebenar-benarnya taqwa, maka rejeki akan dijamin Allah SWT dari tempat yang tidak terduga-duga dan besarnya tanpa dihisab.

 

Inilah 10 Keistimewaan Ibadah Umroh

 

Ibadah Umroh sholat di halaman masjid

Ibadah Umroh sholat di halaman masjid

Setiap ibadah yang susuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung keistimewaan. Shalat ada keistimewaannya. Zakat ada keistimewaannya. Puasa memiliki keistimewaan tersendiri. Allah SWT menyebutkan keistimewaan ibadah-ibadah tersebut secara khusus. Termasuk ibadah umroh dan haji, yang bagi kaum muslim di tanah air membutuhkan usaha yang cukup berat. Dari mulai biaya sampai kepada faktor fisik yang harus dijalaninya.

Ibadah umroh disyariatkan oleh Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad shalallaahu alaihi wasalam karena memiliki keistimewaan dan fadillah yang sangat besar bagi kita. Inilah keutamaan dan fadilah ibadah umroh.

  1. Ibadah umroh yang satu kepada umroh berikutnya adalah kaffaroh, penghapus dosa.

Allah SWT akan menghapus dosa-dosa kita  diantara pelaksanaan umroh yang satu dengan umroh berikutnya. Sederhananya begini, bila lima atau 10 tahun lalu kita sudah melaksanakan umroh, selanjutnya tahun ini alhamdulillah kita bisa berangkat umroh lagi maka dosa-dosa diantara kedua umroh tersebut akan diampuni oleh Allah SWT.

Hal ini berdasarkan penuturan Rasulullah Muhammad shalallaahu alaihi wasalam sebagai berikut:

“Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (penghapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.” ( HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )

  1. Haji dan umroh adalah jihad bagi para wanita dan orang yang lemah.

 

Jamaah Umroh Risalah Madina usai sai

Jamaah Umroh Risalah Madina usai sai

Para ibu-ibu dan kaum wanita umumnya serta mereka yang lemah secara phisik, yang dalam hal ini tidak bisa berjihad  atau berperang di masa Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, mereka masih mendapatkan fadillah pahala jihad dengan cara melaksanakan ibadah umroh.

Hal ini berdasarkan penuturan Rasulullah Muhammad shalallaahu alaihi wasalam sebagai berikut:
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, ‘Aisyah berkata: “Aku bertutur: ‘Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?’ Beliau berkata: ‘Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.'” (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).

Dan dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, dari Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam, beliau bersabda: “Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.”

Kalau dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah jihad maka sekali lagi hal ini tergantung kepada siapa beliau waktu itu berbicara. Oleh karena itu, kondisi tersebut sangat tepat bagi kaum muslimin dibeberapa tempat saat ini yang dapat menunaikan ibadah haji secara benar dan ikhlas. Maka pahalanya setara dengan berjihad dijalan Allah.

Pertanyaanya tentu saja, karena saat ini tidak ada lagi peperangan atau berjihad dalam peperangan, apakah hadits ini tetap berlaku. Jawabannya tegas, tetap berlaku. Oleh karena ajaran Islam yang disampaiakan Rasulullah Muhammad shalallaahu alaihi wasalam adalah universal, rahmatan lil alamin dan berlaku sampai akhir jaman.

  1. Jamaah umroh adalah tamu-tamu Allah SWT yang doanya dikabulkan.

Ibadah Haji dan umroh menjadi istimewa karena orang yang datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan umroh adalah tamu Allah SWT. Begitulah biasa disebut dan memang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkannya demikian. Haji dan umrah adalah tamu Allah SWT sehingga apa yang diminta sang tamu akan dikabulkan oleh-Nya. Ini adalah bentuk keistimewaan yang istimewa.

 

Jamaah Umroh Risalah Madina Berfoto di Halaman Masjid Nabawi

Jamaah Umroh Risalah Madina Berfoto di Halaman Masjid Nabawi

Seperti siswa-siswi sekolah datang melakukan kunjungan wisata ilmiah ke taman buah. Setelah melakukan penelitian ditempat tersebut mereka dipersilakan untuk memetik buah sesuka mereka. Mereka boleh membawa pulang beberapa buah untuk dimakan sendiri maupun oleh-oleh saudaranya. Demikian pula ibadah haji. Allah SWT mempersilakan mereka yang datang untuk meminta apa saja dan ia akan mengabulkannya. Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya,

“Orang yang mengerjakan haji dan umroh merupakan tamu Allah, maka jika mereka bermohon kepadanya, pastilah dikabulkan-Nya, dan jika mereka memohon ampunan pasti diampuni-Nya”. (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

            Apalagi yang diinginkan oleh seorang manusia kecuali doanya dikabul dan dosanya diampuni. Dalam riwayat yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Orang-orang yang sedang berhaji atau berumroh, adalah tamu-tamu Allah dan para peziarah rumah-Nya. Jika mereka meminta dari-Nya sesuatu, niscaya ia akan memberi kepada mereka. Dan jika mereka memohon ampunan dari-Nya, niscaya ia akan mengampuni mereka. Dan jika mereka berdoa kepada-Nya, niscaya ia akan mengabulkannya. Dan jika mereka bersyafaat (memintakan sesuatu untuk orang lain) kepada-Nya, niscaya ia akan menerima syafaatnya” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dengan beberapa perbedaan susunan redaksinya).

“Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.”

            Sebagai tamu Allah SWT, jamaah haji dan umroh diterima oleh shahibul bait (tuan rumah) yaitu Allah SWT. Mereka akan mendapatkan hidangan dari Allah SWT berupa rahmat Allah, berkah Allah dan maghfirah dari Allah SWT.

Jamaah haji dan umroh yang berdoa di Tanah Suci yakni di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, maka doa-doa tersebut akan dikabulkan Allah SWT. Karena memang tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang mustajab. Di Masjid Nabawi ada raudhoh atau bagian dari taman surga. Di Masjidil Haram ada Maqom Ibrahim, Multazam, Hijr Ismail, Hajar Aswat, Bukit Shofa dan Bukit Marwah, dimana di tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang mustajab. Baik doa untuk keselamatan dan kesejahteraan kampung akhirat maupun keselamatan dan kesejahteraan dunia. Tentunya kecukupan harta dan kebarokahan selama hidup di dunia bersama keluarga dan saudara-saudara kita.

  1. Wafat dalam menjalankan ibadah umroh pahalanya dicatat sampai hari kiamat.
Jamaah umrah Risalah Madinah mendengarkan tausiah di Masjid Nabawi

Jamaah umrah Risalah Madinah mendengarkan tausiah di Masjid Nabawi

Keutamaan orang-orang yang wafat dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, serta keutamaan orang yang wafat dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan umrah) adalah mendapatkan anugerah pahalanya dicatat sampai hari kiamat. Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:

  1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau mengangkatnya satu derajat.”

b.Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Barangsiapa keluar dalam melaksanakan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari kiamat.”

  1. Ibadah umroh bisa mengilangkan kefakiran.

Bila kita melihat saudara kita yang setelah pulang dari haji atau umroh maka terlihat kehidupannya semakin baik, rejekinya mengalir terus dan keluarganya bertambah barokah, itulah salah satu fadilah ibadah tersebut. Haji dan umroh insya Allah mabrur dan makbulan, diterima oleh Allah SWT. Seluruh biaya yang digunakan untu berangkat haji dan umroh telah diganti oleh Allah SWT dengan berlipat-lipat.

“Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keadaan ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.”

Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji dan umroh yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam:

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan jasadnya dan Ku-lapangkan penghi-dupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent). (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya’la dan al-Bai-haqi).

“Bahwasanya Allah berfirman: ‘Sesungguh-nya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih).

  1. Fadillah pahala satu kali umroh dengan sholat dua rakaat di Masjid Quba.

           

Jamaah Umroh Murah Risalah Madina Sholat di Masjid Quba

Jamaah Umroh Murah Risalah Madina Sholat di Masjid Quba

“….Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (Mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS At Taubah: 108)

“Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.”( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478)

Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmizi no. 298. Ibnu Majah no. 1401)

Masjid Quba ini terletak di luar kota Madinah. Jadi mengingat fadilah sholat di Masjid Quba yang sangat besar, maka bila kita sudah berada di Madinah dalam rangka menjalankan ibadah umroh atau haji, jangan sampai lupa melakukan sholat di Masjid Quba.

  1. Selama umroh bisa mendapatkan pahala sholat sangat luar biasa, hingga 100.000 kali.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil haram lebih utama Seratus Ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).

Ini sungguh luar biasa. Fadhilah (keutamaan) Sholat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi merupakan bukti Allah SWT Maha Pemurah terhadap hambanya yang bersungguh sungguh mencari ridho dan ampunannya.

Kalau kita hitung secara matematika maka 1 kali sholat di Masjidil Haram setara dengan 54,5 tahun sholat di masjid lain (100.000 : (5×365 hari)). Nah bila kita berjamaah selama 5 kali sehari, dan selama ibadah umroh adalah 3 hari di Makkah, maka fadilah pahala sholat di Masjidil Haram tambah berlipat-lipat lagi. Ditambah lagi sholat sunnah yang juga kita kerjakan serta ditambah sholat fardlu dan sholat sunah yang kita kerjakan di Masjid Nabawi yang memiliki keistimewaan pahala 1000 kali sholat di masjid lain, maka sungguh sangat luar biasa fadillah dan keutamaanya. Maha suci Allah, Maha Agung dan Maha Pemurah.

  1. Fadillah umroh Ramadhan adalah haji bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Ibadah Umroh di Masjid Nabawi

Ibadah Umroh di Masjid Nabawi

Siapa yang tidak ingin mendapat fadillah haji bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Pasti semua kaum muslimin mengharapkan meraih fadillah tersebut. Caranya adalah melaksanakan ibadah umroh pada bulan Ramadhan.

Dari Ibnu abbas radhiallaahu anhu meriwayatkan bahwa Ummu Salaim radhiallaahu anhu pernah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, dan berkata: “Ya Rasulullah (suamiku) Abu Thalhah dan puteranya telah pergi menunaikan haji dan meninggalkan aku di rumah. “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, menjawab “Wahai Umu Sulaim, melakukan satu umrah di dalam bulan Ramadhan adalah sama ganjarannya dengan haji yang dilakukan bersamaku.”

“Umrah pada bulan Ramadhan itu bagaikan haji bersamaku (Nabi saw).” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 4098).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1117).

Itulah sebabnya mengapa pada bulan Ramadhan mereka berbondong-bondong menunaikan ibadah umroh. Suasana ibadah umroh sendiri di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada bulan Ramadhan layaknya musim haji. Ramai dan penuh sesak. Apalagi pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Di Indonesia, saat ini untuk berangkat haji harus antri bertahun-tahun, bahkan hingga 15 tahun lebih. Begitupun yang sudah berhaji, dihimbau untuk tidak berhaji lagi (paket haji reguler) untuk memberi kesempatan porsi bagi mereka yang belum berangkat haji. Jadilah ada paket haji plus yang dikelola biro travel dengan biaya bisa tiga sampai empat kali lipat haji reguler.

Oleh karena itu mereka memilih untuk berangkat umroh Ramadhan, meskipun biayanya juga relatif mahal. Namun mereka berharap bisa meraih fadillah haji bersama Rasulullah, khususnya umroh pada 10 hari terakhir Ramadhan sekaligus berharap fadillah malam lailatul qadar.

  1. Bisa melakukan badal umroh bagi keluarga.
Jamaah Umroh Murah Risalah Madina Ziarah ke Roudhoh

Jamaah Umroh Murah Risalah Madina Ziarah ke Roudhoh

Badal umroh atau mengumrohkan seseorang, khususnya orang tua atau keluarga, dibolehkan dengan syarat tertentu.  Sebagian ulama berpendapat bahwa umrah hukumnya sunnah, sehingga tidak ada kewajiban bagi seseorang atau ahli waris untuk mengumrahkan orang tuanya yang sudah udzur atau meninggal dunia. Kecuali jika orang tuanya pernah berniat atau bernazar untuk melaksanakan umrah, maka anaknya (ahli warisnya) yang memiliki kemampuan harus menunaikan nazar kedua orang tuanya.

Hal tersebut didasarkan pada hadits-hadits tersebut di atas dan hadits berikut ini: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa  yang bernazar untuk mentaati Allah maka hendaknya ditaati (ditunaikan), dan barangsiapa bernazar untuk bermaksiat ke pada Allah maka janganlah la (tunaikan nazarnya) untuk berbuat maksiat.” ( H R . al-Bukhari dan jamaah ahli Hadits).

Menurut sebagian ulama yang lain, seseorang boleh melakukan umrah untuk orang lain (badal umrah), baik orang yang dibadalkan itu masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Mereka menganalogikannya dengan ibadah haji yang sama-sama ibadah badaniyyah maliyyah. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut:

Seorang wanita mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu bertanya, “Ibuku meninggal dunia dalam kondisi belum berhaji. Bolehkah aku berhaji untuknya?” Rasul saw menjawab, “Boleh. berhajilah untuknya!” (HR at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain Abu Razin al-Uqayli juga mendatangi Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam seraya mengadukan kondisi ayahnya yang sudah tua yang tidak bisa berhaji dan berumrah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Tunaikanlah haji dan umrah untuknya.” (HR at-Tirmidzi).

Jadi ahli waris hendaknya melakukan badal umroh bagi orangtuanya, apabila dirinya sendiri sudah berumroh. Kedua, orangtuanya pernah berniat atau bernazar untuk melaksanakan ibadah umroh, dan ketiga, kondisi orang tuanya sudah meninggal dunia atau dalam keadaan sudah tua atau sakit sehingga tidak memungkinkan untuk berangkat umroh.

Ibadah umroh yang dilakukan ahli warisnya dengan membadalkan umroh orang tuanya, juga merupakan kegiatan birrul walidain. Yaitu  bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Yang mana berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.

  1. Bisa memperoleh fadillah pahala umroh berkali-kali.

Para jamaah umroh selama mukim di Madinah maupun Makkah, maka tidak ada kegiatan lain kecuali tiga hal. Yaitu, sholat berjamaah ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, berzikir-berdoa-dan tadarus Al Qur’an serta makan dan tidur. Kegiatan plusnya adalah jalan-jalan atau ziarah dan belanja he..he..

Dengan begitu sebenarnya banyak waktu luang bagi jamaah karena tidak ada kegiatan bekerja dan urusan keluarga sebagaimana di tanah air. Selain ibadah wajib, jamaah umroh bisa lebih bebas melakukan ibadah sunah, baik di malam hari maupun di waktu dhuha. Namun ada satu ibadah yang kadang sulit dilakukan di tanah air karena kesibukan pekerjaan, yaitu ibadah seusai sholat subuh hingga waktu matahari terbit tiba dengan dilanjutkan ibadah sholat dua rakaat.

“Barang siapa shalat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6346).

“Barang siapa berjalan untuk shalat wajib berjamaah maka itu pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dan ihram. Barang siapa berjalan untuk shalat sunnah maka itu seperti pahala umrah.” (Hasan; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6556).

“Barang siapa berjalan untuk shalat wajib dalam keadaan sudah suci (berwudhu di rumah), maka ia seperti mendapatkan pahala orang yang berhaji dan ihram….” (Shahih; HR Ahmad).

Nah apabila ibadah tersebut kita lakukan setiap hari selama 7-10 hari di Tanah Suci, sesuai paket umroh yang kita ikuti, berarti kita bisa meraih pahala umrah berkali-kali, tanpa melakukan ibadah umroh sendiri.

Demikian istimewanya ibadah umroh yang diberikan Allah SWT kepada umat islam. Mengapa kita masih berdiam diri tidak mau melakukannya padahal kita telah mampu? Bayangkan keuntungan dan keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada kita yang menunaikan umroh. Tidak ada yang dapat menilainya di dunia ini. Semoga dengan jelasnya ganjaran yang diterima bagi mereka yang menunaikan ibadah umroh, hati kita menjadi tergerak untuk menunaikannya, terutama bagi yang sudah mampu tetapi belum ada niatan untuk pergi.

 

Mantapkan Niat Ibadah Umroh Karena Allah SWT Semata

           

Jamaah Umroh Risalah Madina selesai tahalul

Jamaah Umroh Risalah Madina selesai tahalul

Kun! Saya berniat umroh tahun 2016, 2017 atau 2018! Saudaraku, semoga kalimat tersebut bisa dijadikan sebagai tonggak dalam hati bahwa kita berniat sungguh-sungguh untuk melaksanakan umroh di tahun 2016, 2017 atau 2017 mendatang. Selanjutnya kita setia memelihara niat tersebut dengan berbagai action agar Allah Yang Maha Kaya, segera memberangkatkan kita berumrah ke Tanah Suci, aamiin.

 

Labbaik

Allahumma Labbaik

Labbaika

Laa syariika laka labbaik

Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka

Laa syarii ka laka.

 

Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Tidak ada sekutu bagi-MU, aku datang memenuhi panggilan-Mu

Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu

Tidak ada sekutu bagi-Mu

 

Itulah kalimat talbiyah yang perlu kita gemakan di hati kita agar niat berangkat umroh bisa terus menggelora. Kalimat tersebut juga selalu kita dengar di tanah air apabila kita menghadiri walimatussafar saudara atau tetangga yang akan berangkat ibadah umroh dan haji. Bagi mereka yang segera berangkat ke Tanah Suci, tentunya merasakan kesyahduan  tersendiri saat mengumandangkannya. Hatinya akan bergetar penuh kerinduan dan syukur. Sudah terbayang di benak mereka perjalanan yang penuh nikmat ke Baitullah.

Lantas apa yang terlintas di benak kita yang baru berniat di hati dan belum bisa berangkat? Hambar? Biasa-biasa saja? Atau ada perasaan lain? Ingin menyusul mereka segera? Semoga yang terakhir adalah jaawabannya. Semoga segera bias menyusul mereka.

Bagi saya sendiri, dengan latar belakang pemahaman keislaman keluarga yang pas-pasan, krenteg ingin naik haji atau berumroh baru terbersit saat ikut ngaji di kampus Universitas Brawijaya Malang. Itu pun cuma letupan-letupan kecil yang timbul tenggelam. Hingga saya mulai bekerja keinginan itu masih redup tak terpelihara. Bahkan sering hilang dan tidak terpikir lagi sama sekali. Tertutupi oleh kesibukan mencari rejeki dunia. Ya…saya memang baru sekedar ingin. Sebuah bersitan sekedar ingin naik haji dam umroh saja. Belum menuju kata “ingin” sesungguhnya, “ingin sekali” atau “cita-cita” mau naik haji atau umroh. Apalagi menuju berniat naik haji, masih sangat jauh.

Keinginan untuk naik haji atau berangkat umroh, seberapapun kecilnya, saya kira sudah menjadi fitrah manusia. Khususnya umat muslim yang taat di seluruh planet bumi ini. Karena keinginan naik haji atau berangkat umroh merupakan panggilan hati nurani dalam upaya mendekatkan diri kepada Rabbi pemilik jiwa dan raga ini. Namun keinginan naik haji atau berangkat umroh, meski hanya sebesar biji zarrah atau sekecil atom adalah modal yang sangat berharga. Bisa dibayangkan bila kita sebagai muslim, tak secuil atom pun memiliki keinginan naik haji atau berangkat umroh. Sungguh nestapa dan mengenaskan.

Ingin berangkat umroh dalam kontek umum, memang agak beda dengan kontek judul film Emak Ingin Naik Haji. Yang pertama adalah hanya sekedar ingin. Sementara dalam film tersebut, Emak sudah memiliki keinginan yang besar. Emak sudah bercita-cita dan mematri di hatinya untuk bisa naik haji. Bahkan Emak sudah berniat naik haji, bukan sekedar ingin naik haji. Menurut saya sih…ingin berangkat umroh berbeda dengan berniat umroh. Banyak diantara kita mencampur-adukkan keduanya.

Misalnya kita ditanya seorang teman atau ustadz, “Ingin berangkat umroh, enggak?”

Jawabnya pasti kor. “Ingiiin!”

Namun saat ditanya, “Sudah berniat berangkat umroh?” Jawabnya tidak jelas, dengan beragam alasan sebagai ganti kata “belum” atau “nanti dulu”.

Ungkapan “ingin” (sekedar lamis, cuma di bibir, sebuah ungkapan datar-datar saja) berangkat umroh, menurut saya, hanya sekedar angan-angan bolong. Terwujud syukur, tidak terwujud juga tak bersedih. Tidak ada action apa-apa. Ya, mirip-mirip dengan nato (not action talk only) atau omdo (omong doang). Keinginan itu dibiarkan saja apa adanya, tanpa dirawat atau dilanjutkan dengan tindakan apapun. Meski ini pun patut disyukuri daripada hampa tak memiliki harapan sama sekali. Sementara niat, sudah masuk ke relung hati dan terpahat. Selanjutnya diikuti sebuah action. Suatu rencana tahap demi tahap sesuai kemampuannya, lahiriyah dan bathiniyah.

Langkah sederhana misalnya, ya membuka tabungan haji dan umrah. Menghadiri undangan walimatussafar tetangga, sahabat dan kolega, atau pengajian seputar haji dan umroh. Membaca buku-buku haji umroh dan mengikuti berita-berita umrah. Juga ikut (bukan ikut-ikutan) manasik haji dan umrah.

Ada yang lebih mudah lagi. Beli poster gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, lalu pasang di tempat yang mudah dipandangi, biar kerinduan hati menggelora. Biar rasa ingin tadi berubah jadi ingin banget sehingga menggedor-gedor hati untuk mulai melangkah. Mengalami metamorphosa menjadi niat yang menggebu-gebu. Tips satu ini Anda boleh tersenyum (aneh) alias tak percaya. Tapi saran saya, coba saja lakukan! Insya Allah Anda akan memetik keajaiban.

Namun tentu saja niat ibadah umroh selalu disandarkan kepada Allah SWT semata, bukan kepada yang lain. Bukan karena hati merasa panas, ada seorang bawahan dan tetangga yang berangkat umroh. Bukan juga karena merasa malu disebabkan seluruh keluarga sudah berumroh. Atau karena ingin mendapat kedudukan di lingkungan tempat kerja, tempat dinas atau di lingkungan tempat tinggal.

Apakah ada orang berangkat umroh dan haji, karena salah satu faktor diatas? Jawabnya, selalu ada. Karena itulah tugas syaitan, untuk selalu menggoda manusia agar niat-niat mulia menjadi terbelok. Misalnya, seseorang yang mau berangkat umroh atau haji, menggelar acara walimatussafar besar-besaran. Memasang tenda dan mengundang semua tetangga dan majelis taklimnya. Nah, pada saat hari H berangkat ternyata Allah SWT menetapkan lain. Rombongan umrohnya tidak berangkat karena satu dan lain hal.

Orang tersebut merasa malu luar biasa. Sehingga beberapa hari tidak mau keluar rumah, tidak mengikuti sholat berjamaah dan selalu marah-marah kepada keluarga. Inilah salah satu ujian Allah SWT, benarkah niat kita berangkat umroh hanya karena Allah SWT? Bukan karena ingin mendapat pujian para tetangga? Niat baik memang selalau dihadang oleh pasukan syaiton.

Bagaimana, apakah Anda sudah menancapkan niat naik haji atau berangkat umroh karean Alloh SWT? Bila sudah alhamdulillah. Mari kita jaga niat tersebut dengan action nyata, sesuai kemampuan kita. Minimal seperti apa yang saya lakukan diatas. Bila untuk naik haji masih terbayang jauh, setidaknya mari kita niatkan untuk bisa berangkat umroh secepatnya.

“Ya Allah, ijinkan hambamu bisa melaksanakan ibadah umroh tahun 2016, 2017 atau 2018 mendatang. Aamiin”.

 

Wajib dan Rukun Ibadah Umroh

Jamaah umroh Risalah Madina Miqot di Masjid Ja'ronah

Jamaah umroh Risalah Madina Miqot di Masjid Ja’ronah

Berbeda dengan ibadah lain, iabdah umrah mengenal dan membedakan istilah wajib dan rukun. Rukun umrah adalah rangkaian perbuatan yang harus dilakukan dalam ibadah umrah dan tidak dapat diganti dengan yang lain walaupun dengan membayar denda (dam). Jika ditinggalkan maka umrahnya tidak sah.

Apa saja rukun ibadah umroh? Didalam buku-buku fiqih kita dapatkan rukun umrah adalah:

  1. Ihram yaitu memakai baju ihram dan berniat miqat yang ditentukan.
  2. Thawaf yaitu berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran yang dimulai dan diakhiri pada sudut Hajar Aswad.
  3. Sa’i yaitu berjalan dari bukit Shofa ke bukit Marwa bolik,balik sebanyak 7 kali. Diawali dari bukit Shofa dan berakhir di bukit Marwa yang disertai dengan berlari-lari kecil diantara lampu hijau.
  4. Tahallul atau bercukur (memotong rambut).
  5. Artinya jika urutannya tidak seperti itu maka umrohnya tidak sah alias harus mengulang lagi. Pelanggaran untuk rukun umroh ini, maka kita harus mengulang dari awal, yaitu  berihram di miqat yang telah ditentukan.

 

Sementara wajib umrah adalah:

  1. Ihram Ihram yaitu memakai baju ihram dan berniat miqat yang ditentukan.
  2. Menjauhkan diri dari larangan dalam ibadah umrah. Pelanggaran untuk satu wajib umroh adalah membayar dam yang telah ditentukan, misalnya seekor kambing. Harganya sekitar 250 Real. Jadi untuk wajib umrah jangan sampai terlewatkan agar kita tidak banyak mengeluarkan dam.

 

Istilah-istilah Dalam Ibadah Umroh yang Wajib Dipahami Jamaah.

Jamaah umroh Risalah Madina mendengarkan tausiah di Masjid Nabawi

Jamaah umroh Risalah Madina mendengarkan tausiah di Masjid Nabawi

Ada beberapa istilah dalam ibadah umrah yang wajib dipahami oleh jamaah. Memang tidak perlu khawatir meski tidak hafal. Sebab, ketika sering didengar dan diamalkan (jika istilah tersebut berupa amalan) di Tanah Suci maka istilah-istilah tersebut akan terbiasa. Namun alangkah baiknya jika jamaah umroh sejak di tanah air sudah memahami artinya.

Istilah-istilah dalam ibadah umroh tersebut diantaranya sebagai berikut:

  1. Ihram

Ihram ialah berniat untuk memulai mengerjakan ibadah umrah dengan mengucapkan lafadz niat dan memakai kain ihram. Lafadz niat umrah adalah “Labbaika allahumma ‘umratan”. Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk ibadah umrah.

Niat memang tempatnya ada di dalam hati, bukan di lisan. Namun khusus untuk ibadah umrah niat tersebut disunnahkan untuk dilafadzkan/diucapkan dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melafadzkan umrah dengan mengeraskan suara mereka. Namun demikian jika seseorang tidak melafadzkannya dan cukup niat di dalam hati berarti ia telah berniat. Ini dilakukan ketika berada di miqat setelah mandi, shalat sunnah dua rakaat dan mengenakan pakaian ihram.

  1. Pakaian ihram,

Pakaian ihram adalah pakaian yang wajib dikenakan pada saat akan memulai ihram. Untuk laki-laki berupa dua lembar kain tanpa berjahit. Satu lembar untuk menutupi badan bagian bawah dan satu lembar untuk menutupi badan bagian atas. Agar nyaman dan aman masih diperbolehkan menggunakan sabuk yang tidak berjahit untuk mengencangkan kain ihrom bagian bawah. Warna kain ihrom disunahkan putih dan tidak boleh diseprotkan wangi-wangian apapun. Termasuk pada saat mencuci dan mensetrika tidak boleh menggunakan wangi-wangian apapun. Kecuali terpaksa tentu saja.

Sedang untuk pakaian ihrom wanita, adalah baju kurung yang benar yang menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali telapak tangan dan muka. Jadi mulai dari ujung rambut sampai ujung jari kaki harus tertutupi semua. Bahan baju harus diperhatikan jangan tipis dan harus longgar. Beda dengan kain ihrom untuk pria, baju ihrom untuk wanita boleh dijahit sebagaimana baju pada umumnya. Juga disunahkan menggunakan warna putih.

 

  1. Miqat

Miqat atau miqot adalah tempat atau waktu untuk memulai berniat ihram. Miqat ada dua macam. Pertama miqat zamani, yaitu waktu/bulan-bulan dilaksanakannya ibadah tersebut. Umumnya miqat zamani berhubungan dengan ibadah haji, yaitu bulan Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah sebagaimana disebut di dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 189 dan 197. Khusus untuk ibadah haji miqat zamani ini tidak boleh dilanggar. Sementara waktu untuk ibadah umroh kapan saja, kecuali tanggal dan bulan tersebut.

Kedua adalah miqat makani yaitu tempat-tempat yang ditentukan untuk memulai berniat melaksanakan ibadah umrah. Tempat-tempat tersebut berbeda sesuai dengan darimana datangnya jamaah umroh. Secara keseluruhan, miqat tersebut ditentukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam didalam haditsnya,

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menentukan miqah bagi penduduk Madinah di Dzulhulaifa, bagi penduduk syam di Juhfah, bagi penduduk Najd di Qarnul Manazil, bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Dan beliau saw berkata, tempat-tempat miqat ini bagi masing-masing penduduk tersebut dan bagi orang-orang yang melewatinya dari selain penduduknya, yaitu bagi orang-orang yang berhaji dan umrah. Barangsiapa yang lebih dekat (ke Mekah) dari tempat-tempat (miqat) tersebut maka (miqatnya) darimana dia berada hingga bagi penduduk Mekah (maka miqatnya) dari Mekah”. (HR Bukhari dan Muslim)

            Semua tempat itu adalah tempat ihram bagi penduduk tempat tersebut dan bagi penduduk lain yang datang ke tempat-tempat itu dan bermaksud untuk mengerjakan ibadah umrah. Berdasarkan dari hadits diatas dan beberapa hadist lain maka ihram tersebut dapat dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut:

  1. Dzul Hulaifah (lebih populer disebut dengan Bi’r Ali) untuk jamaah yang berangkat dari arah Madinah.
  2. Juhfah untuk jamaah yang datang dari arah Mesir dan Syria.
  3. Qarnul Manazil untuk jamaah haji yang berasal dari arah Najd.
  4. Yalamlam untuk jamaah yang datang dari arah Yaman.
  5. Dzatu ‘Irqin untuk jamaah dari arah Irak dan Makkah untuk jamaah haji yang sudah berada di Mekah.

Semua jamaah umroh harus ihram di miqat-miqat yang telah ditentukan tersebut. Bagaimana dengan jamaah umroh Indonesia? Bagi jamaah yang berangkat dari Indonesia dengan menggunakan pesawat terbang (karena sekarang sudah tidak ada lagi yang naik kapal laut) dapat mengambil miqat dari Dzul Hulaifah / Bi’r’Ali. Tempat miqat ini adalah bagi jamaah yang ketika datang ke tanah suci langsung berziarah ke Madinah. Mereka biasanya adalah jamaah umroh yang berangkat umroh dengan rute ke Madinah dahulu. Mereka selama 3-6 hari berada di Madinah (sesuai paket umrohnnya) untuk beribadah dan berziarah ke makam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat. Kemudian jika waktunya telah tiba untuk ibadah umroh, jamaah pergi ke Mekah untuk umrah dengan mengendarai bus. Lalu berhenti di Bi’r Ali untuk ihram dan berniat umroh.

Jamaah umroh Indonesia yang berangkat ibadah umroh dengan rute langsung ke Mekkah, dengan landing di Bandara King Abdul Azis Jeddah, maka jamaah umroh melakukan ihram diatas pesawat terbang, saat melintasi Qarnul Manazil, sekitar setengah jam sebelum pesawat terbang mendarat. Sedangkan menurut beberapa pendapat, boleh berihram di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, berdasarkan pada “hadwa miqat” (searah dengan miqat), sebagaimana dicontohkan oleh ‘Umar bin Khatab dalam menetapkan Dzatu ‘Irqin. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memfatwakan dibolehkannya ihrom dari bandara King Abdul Aziz Jeddah.

  1. Thawaf

Thawaf atau tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran. Dimulai dari arah garis Hajar Aswad dan berakhir di arah garis Hajar Aswad pula dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri (berlawanan dengan arah jarum jam). Garis Hajar Aswad bisa ditandai dengan garis lurus dari Hajar Aswad menuju dinding Masjidil Haram yang ditandai dengan lampu hijau. Thawaf harus dilakukan dalam keadaan suci dari hadats dan najis.

Jamaah umroh Risalah Madina melakukan Thawaf

Jamaah umroh Risalah Madina melakukan Thawaf

Pada saat memulai thawaf di garis sejajar Hajar Aswad, jamaah disunahkan menengokkan pundak dan kepalannya ke arah Hajar Aswad. Bersamaan dengan itu mengangkat atau melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad lalu menciumnya. Pada saat melambaikan atau mengangkat tangan tersebut disertai mengucapkan lafadz: “Bismillahi Allahu Akbar” lalu mencium tangannya. Gerakan ini disebut dengan isti’lam. Kegiatan tersebut dilakukan jamaah umroh setiap kali melewati Hajar Aswad.

Jamaah umroh dari Indonesia biasanya berombongan dan dipimpin seorang muthowif. Saat memulai thawaf umumnya berbaris 3-4 baris ke belakang. Muthowif biasanya di depan dan memulai thawaf dengan setelah sampai garis Hajar Aswad. Nah jamaah yang berada di barisan belakang tentunya belum searah dengan garis Hajar Aswad. Oleh karean itu harus nenunggu dulu sampai dirinya berada tepat segaris dengan Hajar Aswad, kemudian baru memulai thawaf. Begitu seterusnya setiap selesai satu putaran dan memulai putaran berikutnya.

Sebenarnya disunnahkan untuk menyentuh Hajar Aswad setiap kali memulai putaran thawaf. Namun karena banyaknya jamaah yang melakukan thawaf maka hal tersebut akan sulit dilakukan seluruh jamaah. Oleh karena itu, diperbolehkan melakukan isti’lam.

Ketika putaran thawaf sampai pada rukun (sudut) Yamani, juga disunahkan untuk mengusap dinding Ka’bah. Namun juga karena banyaknya jamaah umroh yang berthawaf maka diperbolehkan melakukan isti’lam.

Selama melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah tidak ada doa atau dzikir yang ditetapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, jadi kita boleh berdoa dan berdzikir apapun. Tentunya doa yang baik-baik dan banyak istigfar. Mengingat doa-doa kita besar peluannya terkabul maka berdoalah yang besar-besar dan berat-berat.

Misalnya berdoa untuk meraih khusnul khotimah, dimudahkan pada saat sakaratul maut, diringankan dalam siksa kubur, dan meraih surga firdaus. Selanjutnya berdoa untuk kesejahteraan hidup di dunia, dihindarkan dari fitnah dunia, diberikan rejeki yang cukup, halal dan thoyibah, serta dikaruniakan kesehatan dan umur panjang yang bermanfaat penuh barokah. Selanjutnya berdoa untuk suami atau isteri, orang tua, anak-anak, dan keluarga dengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Jangan lupa mendoakan tetangga, sahabat, teman sekantor, temen sepermainan, para guru, dosen dan ustadz yang telah membimbing kita, dan siapapun yang pernah berhubungan dengan kita. Doakan juga orang-orang yang mungkin pernah menyakiti dan mendzolimi kita supaya diampuni dan mendapat hidayah.

Meski diperbolehkan ngobrol selayaknya tidak dilakukan kecuali yang perlu. Misalnya perintah-perintah atau pertanyaan-pertanyaan penting dari pembimbing. Doa yang disunnahkan adalah ketika jamaah umroh melewati rukun Yamani menuju rukun Hajar Aswad. Jamaah disunnahkan membaca doa sapu jagat.

 

Thawaf ada beberapa macam yaitu:

  1. Thawaf Qudum adalah ibadah thawaf ketika pertama kali datang, sebagai pengganti shalat tahiyatul masjid di Masjidil Haram. Bagi jamaah umroh dan yang melaksanakan haji Tamattu’ tidak perlu thawaf qudum karena sudah termasuk dalam thawaf umrah.
  2. Thawaf Ifadhah yaitu ibadah thawaf sebagai rukun haji yang wajib dilaksanakan. Thawaf ifadhah dilanjutkan dengan sa’i dan tahallul. Dalam rangkaian ibadah umroh tidak ada thawaf ifadhah.
  3. Thawaf Wada yaitu ibadah thawaf yang dilakukan ketika jamaah hendak meninggalkan Baitullah, Masjidil Haram maupun kota Makkah, untuk kembali pulang ke tanah air atau meneruskan ziarah ke Madinah. Hal ini sebagai penghormatan terakhir. Hukumnya adalah sunah. Thawaf wada tidak diikuti dengan sa’i.
  4. Thawaf Sunnah adalah ibadah thawaf yang dapat dikerjakan setiap saat. Thawaf sunnah tidak perlu diiringi dengan sa’i.

 

  1. Sa’i

Sa’i adalah berjalan dari bukit Shafa ke Marwa, kemudian sebaliknya dari Marwa ke Shafa sebanyak 7 kali. Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa (berjalan dari bukit Shafa ke Marwa dihitung 1x putaran). Sa’i harus didahului dengan thawaf namun tidak disyaratkan suci. Meski begitu sebaiknya dilakaukan dalam keadaan suci karena sedang beribadah.

Diantara bukit Shofa dan bukit Marwa ada lampu hijau, dimana lampu tersebut sebagai tanda kepada jamaah untuk melakukan lari-lari kecil, khusus untuk jamaah umroh laki-laki. Jadi setiap jamaah umroh melewati batas lampu hijau tersebut maka hendaknya melakukan lari-lari kecil.

Ada doa yang disunnahkan ketika jamaah berada di bukit Shofa dan bukit Marwa. Hendaknya tidak dilewatkan karena di kedua bukit ini merupakan tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa.

  1. Tahallul
Ibadah umroh melakukan tahalul

Ibadah umroh melakukan tahalul

Tahallul ialah dihalalkannya larangan-larangan ihram ibadah umrah dengan cara mencukur sebagian rambut atau seluruhnya alias cukur gundul khususnya bagi pria. Untuk wanita cukup memotong sebagian kecil rambut saja. Bagi jamaah umroh, dengan melakukan tahallul ini berarti selesai sudah seluruh rangkaian ibadah umroh dan hal-hal yang dilarang selama ihrom kembali dihalalkan.

Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam. berdoa untuk memintakan ampun bagi mereka yang mencukur gundul rambutnya sampai tiga kali. Pada kali keempat, barulah beliau mendoakan orang yang hanya menggunting sebagian rambutnya. Pada upacara aqiqah, Rasulullah pun menyuruh umatnya uuntuk cukur habis rambut bayi berumur tujuh hari. Selain sebagai ekspresi taat kepada Rasulullah Saw., mungkin ada hikmah lain dari perintah mencukur rambut ini.

Demikian persiapan ibadah umroh sesuai dengan sunnah Rasulullah Muhammad shalallaahu alaihi wasalam, semoga bermafaat dalam memantapkan niat kita untuk berangkat umroh, aamiin.

Untuk Informasi Paket Umroh Murah $ 1.550.

Hubungi H. Sudjono AF – 081388097656 | BB 2315A7C3

Risalah Madinah, Ruko Prasasti lantai 2, Saladin Squer B-12, Jl. Margonda Raya No.39. seberang Terminal ITC Depok, Kota Depok, Jawa Barat.

Similar Posts:

By |2017-12-23T04:54:20+00:00October 13th, 2015|Uncategorized|

4 Comments

  1. arti kata hari tasyrik | 9637 Rangkaian Nama Bayi Perempuan 2016 June 10, 2016 at 2:27 pm - Reply

    Persiapan Ibadah Umroh Sesuai Sunnah Rasulullah

  2. Tips Kesehatan Ala Rasulullah Saw | ENGGANG PASSION December 11, 2016 at 11:23 am - Reply

    […] ibadah umroh (bahasa arab: عمرة) berkunjung kota suci makkah khususnya masjidil haram . Persiapan Ibadah Umroh Sesuai Sunnah Rasulullah Fadhilah sholawat munjiyat – isdaryanto., Dalam keadaan syech musa terasa ngantuk berat […]

  3. see this February 8, 2017 at 12:31 am - Reply

    Spot on with this write-up, I absolutely believe this site needs far more attention. I’ll probably be returning to read more, thanks for the info!

  4. Perlengkapan Umroh Musim Panas | Grosir busana muslim - 082216669400 February 17, 2017 at 6:51 pm - Reply

    […] Persiapan Ibadah Umroh Sesuai Sunnah Rasulullah […]

Leave A Comment