Persoalan Hotel, Jemaah Haji atau Umroh

Jemaah Haji atau Umroh Keluarga Yang Tak Mau Dipisahkan

Jemaah Haji atau Umroh untuk rombongan kadang ada beberapa persoalan yang berkaitan dengan hotel. Misalnya, menurut ketentuan pihak perusahaan travel umroh, setiap kamar hotel diisi oleh empat orang jemaah atau sekamar berempat. Namun, di antara jemaah mereka bisa saja satu keluarga terdiri atas 6 orang, keluarga lain terdiri atas 5 orang, dan keluarga lainnya terdiri atas 3 orang.

Ketika masih di Indonesia, mereka tidak pernah membicarakan apa pun berkaitan dengan jumlah anggota per kamar ini. Pihak travel umrah sudah mengatur susunan daftar kamar (roomlist) berdasarkan komposisi berempat, bertiga, dan berdua sesuai ketentuan pendaftaran jamaah. Akan tetapi, begitu sampai Arab Saudi dan mengetahui bahwa mereka ditempatkan di kamar yang terpisah dengan sanak saudaranya, mereka protes.

Kadang mereka bersikeras tidak mau ditempatkan di kamar terpisah. Dengan demikian, tentu saja perlu di lakukan penyesuaian. Artinya, akan ada kamar yang diisi oleh 6 orang, 5 orang, dan ada yang hanya diisi oleh 3 orang. Padahal, ranjang yang sudah disediakan di tiap kamar masing-masing untuk 4 orang. Untuk memindahkan ranjang jemaah Haji atau Umroh. ini tentu bukan perkara mudah. Oleh sebab itu, pihak muthowwif harus bekerja sama dengan ketua rombongan untuk memberi tahu pihak hotel.

Kelas Hotel Yang Tidak Sama

Ketika jemaah haji atau umrah tiba di Mekah atau Madinah, masalah hotel yang tidak sesuai dengan yang di janjikan pihak travel sering sekali terjadi. Apakah ini akibat kenakalan pihak travel? Menurut saya tentu saja tidak. Penyebab masalahnya tergolong complicated. Misalnya, di Indonesia pihak travel menjanjikan hotel bintang 4. Begitu sampai Arab Saudi, ternyata hotelnya bintang 3. Bisa jadi perubahan kelas ini terjadi biasanya karena semua hotel telah penuh. Atau, bisa juga karena hotel bintang 4 yang tersedia saat jemaah haji atau umroh tiba hanya ada yang letaknya jauh dari masjid. Kalau di Mekah, misalnya jauh dari masjidil Haram. Kalau di Madinah, jauh dari masjid Nabawi. Tentu saja pihak travel umroh akan mempertimbangkannya, manakah yang lebih penting: hotelnya atau jarakanya dari masjid-masjid tersebut.

Dalam hal ini, pihak perusahaan travel umrah sebenarnya dihadapkan pada kondisi dan situasi yang dilematis juga. Jika Jemaah Haji atau Umroh ditempatkan di hotel bintang 3, maka tidak sesuai dengan janji. Ditempatkan di hotel bintang 4, jemaah protes karena jauh dari masjidil Haram atau masjid Nabawi. Karena dalam hal ini segala sesuatu harus diputuskan dalam tempo yang cepat, pihak travel umroh akan memutuskan untuk memilih kebaikan bagi sebagian besar jemaah, walaupun ada sebagian kecil yang protes.

Ternyata, persoalan tidak hanya sebatas itu. Terkadang, jumlah kamar yang dipesan tidak sesuai dengan jumlah kamar yang tersedia. Kalau jumlah kamar yang tersedia lebih banyak daripada yang dipesan, tentu saja ini menguntungkan pihak jemaah. Akan tetapi, kalau kurang, inilah yang jadi sumber kecurigaan dan masalah. Misalnya, pihak travel memesan 20 kamar karena jumlah jemaahnya Haji atau Umroh 60 orang. Dengan kata lain, kepada jemaah dijanjikan bahwa mereka akan ditempatkan bertiga dalam satu kamar. Namun, dalam kenyataannya kamar yang tersedia hanya 15.

Akibatnya, satu kamar diisi oleh 4 orang. Kalaupun harus dipaksakan satu kamar diisi oleh 3 orang. Sisa jemaah yang 15 orang lagi terpaksa menginap di hotel lain. Kalau hotelnya berdekatan, tentu tidak masalah. Kalau berjauhan tentu akan menimbulkan masalah besar, baik dalam hal kelancaran pengontrolan, koordinasi, akomodasi, maupun transportasi. Selain itu, jika kelas hotelnya berbeda, tentu bisa menimbulkan kecemburuan sosial pada para jemaah. Tentu saja jemaah, yang umumnya tidak mengerti persoalan ini, akan mengatakan pihak travel telah berbuat nakal.

Lho, bukankah sebelum keberangkatan pihak travel sudah membooking hotel terlebih dahulu? Sebaiknya memang begitu. Pihak travel umroh pun biasanya sudah menugaskan perwakilannya di Arab Saudi, atau muthawwif Indonesia yang tinggal disana, untuk melakukannnya. Namun, karena seringnya kasus keterlambatan pengeluaran visa, jadwal keberangkatan sejumlah jemaah Haji atau Umroh terkadang tertunda. Maka, kalau tadinya pihak travel menginformasikan jumlah jemaahnya 60 orang, berarti terjadi kelebihan pemesanan kamar sebanyak untuk 20 orang.

Bila terjadi kasus seperti ini, pihak hotel tentu tidak mau ambil pusing. Sementara, melalui mutha\owwif, pihak travel telah melunasi pembayarannya. Kalaupun pihak hotel membolehkan pembayaran uang muka, setidaknya mereka meminta deposit yang juga tidak sedikit kepada pihak travel. Dengan begitu, pihak travel tentu saja rugi. Kalaupun kerugian bisa ditekan, yang dapat dilakukan pihak travel adalah menjual tiket yang batal itu ke travel lain. Akan tetapi, terkadang travel yang lain juga mengalami masalah yang sama. Inilah yang membuat pihak travel tidak bisa membooking hotel untuk jemaah Haji atau Umroh jauh-jauh hari sebelumnya.

Meskipun demikian, karena menyangkut kredibilitas perusahaan, pihak travel biasanya tidak berani mencairkan hotel yang kelasnya jauh berbeda dengan yang dijanjikan. Dalam ibadah haji, khususnya visa kuota pemerintah, kendala hotel ini tidak terlalu banyak karena ada garansi dari pemerintah bahwa visa haji akan didapatkan travel. Namun untuk paket umroh biasanya ada saja kenadal tersebut. Haji atau Umroh

 

Similar Posts:

By |2015-06-19T10:26:23+00:00June 19th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment