Prosedur Perjalanan Ibadah Haji dan Umroh

Prosedur Perjalanan Ibadah Haji dan Umroh dimulai dari rangkaian persiapan jamaah haji dan umroh di Tanah Air, pemberangkatan jamaah dari bandara di tanah air, setibanya jamaah di bandara di Tanah Suci, ketentuan di pemondokan atau hotel di Makkan dan Madinah, pelaksanaan dan ketentuan ibadah haji dan umroh hingga pemulangan kembali jamaah ke Tanah Air.

Kita akan menguraiakan Prosedur Perjalanan Ibadah Haji dan Umroh ini dengan lebih lengkap sebagai berikut:

PERSIAPAN

  1. Mental dan Fisik
  2. Material (Bekal)
  3. Kiat Meraih Haji Mabrur
  4. Bimbingan Manasik Haji
  5. Pemeliharaan Kesehatan dan Kebugaran Pengelompokan

PEMBERANGKATAN

  1. Kegiatan Menjelang Berangkat
  2. Selama Perjalanan dari Rumah Kediaman sampai ke Asrama Haji Embarkasi
  3. Di Asrama Haji Embarkasi
  4. Berangkat Menuju Bandara Embarkasi
  5. Di Bandara Embarkasi
  6. Di Pesawat

DI BANDAR UDARA ARAB SAUDI (KEDATANGAN)

  1. Bandara King Abdul Aziz Jeddah
  2. Berangkat Menuju Madinah/Makkah
  3. Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah

DI PEMONDOKAN

  1. Di Pemondokan Madinah
  2. Di Pemondokan Makkah

DI ARMINA

  1. Padang Arafat
  2. Muzdalifah
  3. Mina

KEGIATAN SETELAH ARMINA

DI BANDAR UDARA ARAB SAUDI (KEPULANGAN)

DI BANDAR UDARA DEBARKASI (DI TANAH AIR)

DI ASRAMA HAJI

DI KAMPUNG HALAMAN

 

PERSIAPAN

1. Mental dan Fisik

  1. Bertaubat kepada  Allah Swt., memperbanyak dzikir dan mohon bimbingan dari Allah Swt.
  2. Menyelesaikan masalah- masalah yang berkenaan dengan tanggung jawabnya, meliputi tanggungjawab keluarga, pekerjaan dan utang-piutang.
  3. Silaturahmi dengan sanak keluarga, kawan, dan masyarakat dengan mohon maaf dan doa restu.
  4. Membiasakan pola hidup sehat agar tidak sulit melakukan ibadah haji/umrah.
  5. Mempelajari manasik atau tatacara ibadah haji sesuai ketentuan hukum Islam.

2. Material (Bekal)

  1. Mempersiapkan bekal secukupnya selama dalam perjalanan dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan.
  2. Dibolehkan melaksanakan wali- matus safar bagi yang mampu dengan niat mensyukuri nikmat dan menghindari sifat riya.
  3. Membawa perlengkapn ke tanah suci seperti: pakaian sekitar lima setel termasuk pakaian seragam bermotif batik yang sudah ditetapkan sebagai identitas nasional, dikarenakan lebih praktis. Pakaian perempuan tidak transparan (tidak tipis dan tidak ketat). Jemaah haji tidak boleh membawa atau menerima titipan barang-barang seperti: dokumen negara (selain paspor), benda tajam (pisau, gunting, dan lain- lain), dan tidak boleh membawa kompor, minyak goreng, barang yang mudah meledak, cetakan yang bergambar/VCD porno dan lain-lain yang dapat mengganggu kelancaran dan keselamatan penerbangan.

3. Kiat Meraih Haji Mabrur

  1. Niat yang tulus (ikhlas semata-mata karena Allah) dan sebaik-baik bekal adalah takwa kepada Allah.
  2. Biaya yang digunakan berasal dari usaha/harta yang halal.
  3. Pelaksanaan hajinya baik rukun, wajib, dan sunahnya sesuai tuntunan ketentuan syariat.
  4. Selama dalam perjalanan dan ibadah haji tidak melakukan rafas (ucapan/ perbuatan yang bersifat pornogra¿ ), fasiq (perbuatan maksiat/dosa), dan jidal (berbantah-bantahan dan pertengkaran).
  5. Setelah kembali dari ibadah haji meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial yang ditandai dengan:
  • 1). Perilaku dan tutur katanya lebih baik.
  • 2). Menebarkan kedamaian dan kesejahteraan.
  • 3). Senang memberi dan membantu kepentingan ummat.

4. Bimbingan Manasik Haji

  1. Jemaah haji yang telah mendapatkan kuota tahun berjalan akan mendapatkan Buku Paket Bim- bingan Manasik Haji, terdiri dari: 1) Tuntunan Manasik Haji dan Umrah. 2) Do’a dan Dzikir Manasik Haji dan Umrah.
  2. Bentuk bimbingan diberikan dalam 2 sistem yaitu kelompok dan massal.
  3. Sistem bimbingan kelompok dilaksanakan di Kecamatan oleh KUA Kecamatan.
  4. Sistem bimbingan massal dilaksanakan di Kabupaten/Kota oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.

5. Pemeliharaan Kesehatan dan Kebugaran

Jemaah haji yang telah terdaftar dan kuotanya masuk dalam urutan berangkat pada tahun berjalan, diberikan pem- binaan   kesehatan,   tuntunan   menjaga dan meningkatkan kebugaran sebagai persiapan pelaksanaan haji di Arab Saudi yang   sangat   membutuhkan   kesehatan dan kebugaran yang prima. Pembinaan kesehatan ini diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan.

6. Pengelompokan

  1. Pengelompokan bimbingan jemaah haji diatur berdasarkan pertimbangan domisili jemaah dan keluarga.
  2. Setiap 11 orang jemaah haji dikelompokkan dalam 1  regu dan setiap  4  regu   (45 orang) dikelompokkan dalam satu rombongan.
  3. Penugasan pembimbing diatur oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
  4. Jadwal dan tempat bimbingan diatur oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
  5. Jemaah haji  akan  diberangkatkan dalam satu kelompok terbang (Kloter) dengan kapasitas pesawat bervariasi yaitu: 325 orang, 360 orang,  405  orang,  450  orang  dan 455 orang.

Dalam Kloter tersebut terdapat petugas operasional yang menyertai jemaah haji terdiri dari:

  • 1). Tim  Pemandu  Haji  Indonesia (TPHI) sebagai Ketua Kloter.
  • 2). Tim  Pembimbing  Ibadah  Haji Indonesia (TPIHI).
  • 3). Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebagai pelayan kesehatan.
  • 4). Ketua Rombongan.
  • 5). Ketua Regu.

 

PEMBERANGKATAN

1. Kegiatan Menjelang Berangkat

  1. Menjaga kondisi kesehatan dengan makan makanan yang bergizi dan menjaga kebugaran/ kesehatan secara teratur.
  2. Menyelesaikan urusan pribadi,  dinas, dan sosial kemasyarakatan.
  3. Menyiapkan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan.
  4. Menyiapkan barang-barang bawaan, yaitu dokumen (Surat Panggilan Masuk Asrama/ SPMA,       bukti setor  warna biru, buku kesehatan), bekal, pakaian, dan obat-obatan.
  5. Dianjurkan shalat  sunat  dua rakaat dan dianjurkan pula berdo’a untuk keselamatan diri dan keluarga yang ditinggalkan.

 

2. Selama Perjalanan dari  Rumah Kediaman sampai ke Asrama Haji Embarkasi.

  1. Dianjurkan memperbanyak  do’a dan dzikir.
  2. Pada dasarnya talbiyah dibaca dalam keadaan berihram, namun dapat saja dilakukan pada saat-saat tertentu guna pemantapan seperti   ketika berangkat dari rumah menuju asrama (tanpa disertai niat ihram, semata- mata sebagai dzikir biasa).
  3. Selama dalam perjalanan sudah berlaku hukum  musafir, dengan demikian       boleh    menjama’   dan meng-qasar shalat, kecuali setelah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebaiknya tidak diqasar dan dijama’.

 

3. Di Asrama Haji Embarkasi

A. Pada saat Kedatangan di Asrama Haji Embarkasi.

  1. Menyerahkan Surat Panggilan Masuk Asrama  (SPMA) dan  bukti  setor lunas  BPIH warna biru.
  2. Menerima kartu makan dan akomodasi selama di Asrama Haji.
  3. Memeriksakan kesehatan fisik (pemeriksaan akhir).
  4. Menimbang dan memeriksa- kan barang bawaan (koper).

 

B. Selama di Asrama Haji Embarkasi.

  1. Menempati kamar yang telah disediakan.
  2. Dianjurkan mengikuti pem-binaan manasik haji.
  3. Mendapatkan  pemeriksaan atau pelayanan kesehatan.
  4.  Menerima  paspor,  gelang identitas dan living cost (biaya hidup selama di Arab Saudi) sebesar 1.500 Riyal Saudi.
  5. Untuk  kelancaran  proses keberangkatan, jemaah haji tidak diperkenankan keluar masuk Asrama Haji dan mengutamakan istirahat.
  6.  Masing-masing jemaah haji menjaga barang bawaan yang berharga.
  7.  Menjaga   ketertiban   dan kebersihan.

 

C. Berangkat Menuju Bandara Embarkasi

  1. Menaiki bus   dengan   tertib   dan teratur           sesuai   dengan   regu   dan rombongannya.
  2. Dilarang membawa benda-benda tajam, barang yang     mudah meledak, majalah/rekaman porno, tulisan-tulisan   yang      bersifat provokatif, narkoba, rokok, dan jamu yang berlebihan.
  3. Tidak diperbolehkan   menerima titipan barang dari siapapun.
  4. Tas tentengan   dan   tas   paspor jangan sampai tertinggal.
  5. Berangkat menuju  Bandara  dan berdo’a.

 

D. Di Bandara Embarkasi

  1. Turun dari bus dengan tertib dan teratur.
  2. Tas tentengan dan tas paspor jangan tertinggal dalam bus.
  3. Menaiki pesawat  dengan  tertib, menunjukkan paspor dan boarding pass.

 

E. Di Pesawat

Selama di  dalam  pesawat  jemaah haji agar mematuhi:

  1. Petunjuk yang disampaikan awak kabin (pramugara/i) atau petugas kloter.
  2. Simpan  tas  tentengan  di tempat yang telah disediakan (kabin).
  3.  Duduk tenang dan gunakan sabuk  pengaman, jangan berjalan hilir mudik selama dalam  perjalanan,  kecuali ada keperluan.
  4.  Selama  dalam  perjalanan tidak  diperkenankan merokok dan mengaktifkan HP.
  5. Memperbanyak dzikir dan do’a serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.
  6. Perhatikan  tata cara penggunaan WC, hati- hati dalam penggunaan air jangan      sampai   tercecer   di lantai pesawat karena bisa membahayakan keselamatan penerbangan.
  7. Apabila akan buang airkecil/ besar agar ke kamar kecil/WC dengan cara duduk di atas kloset dan untuk mensucikannya meng- gunakan tissue yang ada, setelah tissue dibasahi dengan air kran yang tersedia. Apabila masih ragu jangan segan   meminta   tolong kepada petugas.
  8.  Perhatikan  ceramah,  pemutaran film manasik haji yang di pertunjukkan dalam perjalanan.
  9. Apabila jemaah haji sakit, agar segera menghubungi  petugas kesehatan.

 

F. SHOLAT DI PERJALANAN

Shalat di perjalanan dapat dilaksanakan dengan cara Jama’ dan Qashar. Shalat ini merupakan rukhshah (keringanan) sejak meninggalkan rumah kediaman sampai kembali lagi ke Tanah Air.

1).   Pengertian shalat Jama’ Qashar:

a).   Shalat   Jama’:   Jama’  artinya mengumpulkan,yaitu mengum- pulkan 2 (dua) shalat wajib maktubah yang dikerjakan dalam satu waktu yang  sama.Shalat   yang dapat dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya.

b). Shalat  Qashar:  Qashar  artinya memendekkan shalat  yang 4 (empat) raka’at menjadi 2 (dua) raka’at (Zhuhur, Ashar dan Isya).

c).   Shalat  Jama’  Qashar  adalah  dua shalat wajib maktubah dikerjakan bersamaan dengan memendekkan raka’at shalat yang 4 (empat) raka’at menjadi 2 (dua) raka’at. Zhuhur dengan Ashar,   Maghrib   dengan Isya. Shalat Jama’ Qashar dapat saja menjadi taqdim atau ta’khir.

2).   Shalat  Jama’  terbagi  menjadi  2  (dua) cara:

a).   Jama’ Taqdim yaitu mengumpulkan 2 (dua) shalat yang dilaksanakan pada waktu shalat yang pertama, seperti shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Zhuhur dan shalat Maghrib dengan shalat Isya dikerjakan pada waktu shalat Maghrib.

b).   Jama’ Ta’khir yaitu mengumpulkan 2 (dua) shalat yang dilaksanakan pada waktu shalat yang belakangan, seperti shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya dikerjakan pada waktu shalat Isya.

3).   Tata  cara  melaksanakan  shalat  Jama’ Qashar

a).   Jama’ Qashar Taqdim

(1)  Jika jama’ qashar Zhuhur dan Ashar maka dimulai dengan shalat Zhuhur  lebih dulu kemudian shalat Ashar dan jika jama’ qashar Maghrib dan Isya maka yang didahulukan adalah shalat Maghrib baru shalat Isya.

(2)  Niat   jama’   ketika   takbiratul ihram shalat pertama.

(3) Dilaksanakan bergabung tanpa diselingi dengan  waktu  dan amalan lain kecuali iqamat.

READ :  Program Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Cikampek Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

b).   Jama’ Qashar Ta’khir.

(1) Berniat  jama’ takhir  pada saat masih di waktu awal.

(2)  Tidak  harus berurutan di antara   kedua   shalat. Misalnya, jama’   qashar ta’khir antara Zhuhur dan Ashar dapat dilaksanakan Zhuhurdulu    kemudian Ashar atau sebaliknya.

(3)  Niat jama’ ketika takbiratul Ihram dilakukan pada shalat pertama.

(4)  Tidak perlu niat jama’ pada saat akan   melaksanakan shalat yang kedua (menurut pendapat yang shahih).

4). Tata cara tayamum di pesawat.

  • Tayamum di pesawat dapat dilakukan dengan memilih salah satu cara sebagai berikut:

1).   Cara pertama

Tayamum dengan satu kali tepukan yaitu menepukkan kedua telapak tangan ke dinding pesawat atau sandaran  kursi,  lalu  kedua  telapak

tangan diusapkan ke muka langsung diusapkan kedua tangan mulai dari ujung jari sampai ke pergelangan tangan (punggung dan telapak tangan) secara merata. Dan tidak terputus antara usapan muka dengan usapan kedua tangan.

2).   Cara kedua

Tayamum dengan dua kali tepukan yaitu menepukkan kedua telapak tangan ke dinding pesawat atau sandaran kursi, lalu kedua telapak tangan disapukan ke muka kemudian tangan ditepukkan kembali ke tempat yang lain dari tepukan pertama lalu mengusapkan kedua telapak tangan kepada kedua tangan dari ujung jari sampai siku (luar dan dalam).

5). Shalat di pesawat

1).   Hukum shalat di pesawat.

  • Hukum shalat dalam pesawat selama perjalanan terbagi kepada 2 (dua) pendapat:

a).    Pendapat  pertama  mengatakan tidak sah shalat di pesawat yang sedang terbang dengan alasan:

  • (1)  Sulit  mendapatkan  (tidak  tersedia) air untuk wudhu maupun debu yang memenuhi syarat untuk tayamum (di atas pesawat)
  • (2) Shalatnya  tidak menapak  bu mi (di atas pesawat) karena pesawat terbang tidak menyentuh bumi. Ulama yang mengatakan tidak sah shalat adalah Imam Hanafi dan Imam Malik walaupun bagi Imam Hanafi  di qadha setelah sampai di darat. Bagi yang sama sekali tidak melaksanakan shalat dianjurkan berdzikir.

b).   Pendapat kedua mengatakan sah shalat dalam pesawat yang sedang terbang, dengan alasan:

(1)  Kewajiban shalat dibebankan sesuai dengan ketentuan waktu dan di mana saja berdasarkan   Al-Qur’an   dan Hadits sebagai berikut:

Artinya:

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. Al- Nisa’: 103).

Artinya:

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa dia meminjam kepada Asma’ sebuah kalung lalu kalung itu rusak. Maka  Rasulullah perintahkan orang-orang dari para shahabat beliau untuk mencarinya. Kemudian waktu shalat tiba dan akhirnya mereka shalat tanpa berwudlu’ (HR. al-Bukhari).

(2) Keadaan  darurat tidak meng- hilangkan kewajiban shalat sesuai kemampuan.

Ulama yang mengatakan sah shalatnya dengan kedua alasan tersebut  di  atas  adalah  Imam Ahmad dan Imam Syafi ’i, walaupun Imam   Syafi ’i   mewajibkan   i’adah (mengulang) setibanya di darat karena shalatnya di pesawat hanya untuk menghormati waktu shalat (lihurmatil wakti). Dengan cara dilaksanakan sebagai berikut:

  • Dilaksanakan segera setelah sampai di tempat tujuan.
  • Dilaksanakan sebagaimana shalat biasa, yaitu dengan gerak shalat sempurna (kamilah) bukan ima’ah (isyarat).

2).   Tata cara pelaksanaan shalat di pesawat

a).    Tetap duduk di kursi pesawat dengan posisi biasa     atau    dengan melipat      kedua   kaki dalam posisi miring atau tawaruk (tahiyat).

b). Qiblatnya mengikuti arah terbangnya pesa- wat.

c).    Melaksanakan    selu- ruh     gerakan    rukun shalat   semampunya dengan ima’ah (isya- rat).

 

  1. DI BANDAR UDARA ARAB SAUDI (KEDATANGAN)
  2. Bandara King Abdul Aziz Jeddah
  3. Turun dari pesawat dengan tertib, jangan lupa tas tentengan dan paspor.
  4. Menunggu di ruang yang tersedia untuk pemeriksaan imigrasi, lama pemeriksaan ± 2 jam.
  5. Antri dengan teratur di loket yang telah ditentukan sambil menunjukkan Paspor kepada petugas imigrasi Arab Saudi, laki- laki bersama laki-laki dan perempuan bersama perempuan. Beberapa tahun terakhir pihak imigrasi Arab Saudi memberlakukan pengambilan sidik jari dan foto untuk setiap jemaah haji.
  6. Pemeriksaan badan  oleh  Petugas  Arab Saudi dalam kamar tertutup,  antara  laki- laki dan perempuan terpisah, pemeriksaan bagi laki-laki oleh petugas laki-laki dan perempuan oleh   petugas   perempuan, tidak diperkenankan memberi barang, uang dan apapun kepada petugas tersebut.
  7. Mengambil koper dengan mempersiapkan kuncinya, kemudian memeriksakan kepada Petugas Bea Cukai. Setelah selesai diperiksa dan diberi tanda kemudian keluar dengan tertib ke tempat istirahat di Bandara.
  8. Barang bawaan diserahkan kepada petugas pengangkut barang  (’ummal)  untuk diangkut dengan gerobak (troli) selanjutnya dibawa ke tempat istirahat tanpa dipungut biaya.
  9. Istirahat di tempat yang telah ditentukan.
  10. ± 35 menit, selama menunggu keberangkatan ke Makkah/Madinah, apabila akan ke  kamar  mandi  untuk buang air kecil/besar, dan wudhu jangan membawa   tas   tentengan,   tas   paspor, uang dan barang berharga, sebaiknya di- titipkan kepada teman yang di kenal dan dipercaya.
  11. Kamar mandi  laki-laki  dan  perempuan disediakan secara terpisah, kamar mandi/ WC bagi perempuan ditandai dengan gambar kepala   perempuan   berjilbab, dan kamar mandi/WC bagi laki-laki ditandai dengan gambar kepala laki-laki berjenggot, masuk keluar kamar mandi harus berpakaian yang menutup aurat. Jangan sampai ada barang-barang yang ketinggalan.
  12. Penggunaan kran  dengan  cara  cukup ditekan,  air akan  keluar  dan  otomatis akan berhenti sendiri.
  13. Bersiap-siap berangkat ke Madinah bagi jemaah haji gelombang I yang mendarat di Jeddah, dan bagi jemaah haji gelombang II berangkat ke Makkah dengan berniat ihram umrah bagi haji tamattu’, atau berniat ihram haji bagi haji ifrad, atau berniat ihram umrah dan haji bagi haji qiran.
  14. Menerima tiket bus  dari  Naqabah untuk perjalanan antar kota per- hajian selama di Arab Saudi.
  15. Meskipun regu/rombongan   sudah terbentuk dari  Tanah Air dan diharuskan  menjaga   keutuhannya di setiap tempat, namun karena kapasitas bus tidak sama, maka untuk mengisi  tempat  duduk  yang  ada, regu dan rombongan dapat dipecah untuk sementara waktu selama da- lam perjalanan.
  16. Berangkat Menuju Madinah/Makkah
  1. Naik bus dengan tertib dan teratur sesuai rombongan masing-masing dan menyerahkan paspor kepada petugas Arab Saudi (Naqabah).
  2. Sebelum bus berangkat jemaah haji menerima nasi box.
  3. Ketika bus  bergerak  dan  selama dalam perjalanan hendaknya berdo’a dan berdzikir, bagi yang ke Makkah mengucapkan talbiyah yang diawali dengan niat umrah/haji.
  4. Selama dalam  perjalanan, hendaknya selalu mengingatkan pengemudi untuk tetap berhati-hati.
  5. Ketika istirahat  di  rumah  makan, tetap memperhatikan  barang bawaannya.
  6. Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah
  7. Turun dari  pesawat  dengan  tertib, jangan lupa tas tentengan dan paspor.
  8. Menunggu di  ruang  yang  tersedia untuk pemeriksaan imigrasi.
  9. Antri dengan teratur di loket yang telah ditentukan sambil   menun jukkan paspor    kepada    petugas Imigrasi Arab  Saudi,  laki-laki ber- sama laki-laki dan perempuan ber- sama perempuan.
  10. Beberapa tahun terakhir pihak imigrasi Arab Saudi memberlakukan pengambilan sidik jari dan foto untuk setiap jemaah haji.
  11. Pemeriksaan badan  oleh  Petugas  Arab Saudi dalam kamar tertutup, antara laki- laki dan perempuan terpisah, pemeriksaan bagi laki-laki oleh petugas laki-laki dan perempuan             oleh   petugas   perempuan, tidak diperkenankan memberi barang, uang dan apapun kepada petugas tersebut.
  12. Mengambil koper masing-masing untuk diperiksa barang bawaannya oleh Petugas Bea Cukai Arab Saudi.
  13. Setelah selesai diperiksa dan diberi tanda, kemudian jemaah keluar gate dengan tertib.
  14. Barang bawaan diserahkan kepada petugas pengangkut barang (’ummal) untuk diangkut dengan troli menuju bus sesuai dengan rombongan.
  15. Kamar mandi pria dan wanita disediakan secara terpisah, kamar mandi/WC bagi wanita ditandai  dengan  gambar  kepala
  16. wanita berjilbab, dan kamar mandi/WC bagi pria ditandai dengan gambar kepala laki-laki berjenggot, masuk keluar kamar mandi harus berpakaian yang menutup aurat. Jangan sampai barang-barang ketinggalan.
  17. Penggunaan kran  dengan  cara  cukup ditekan,  air akan  keluar  dan  otomatis akan berhenti sendiri.
  18. Jemaah haji yang melalui Bandara AMAA Madinah, tidak diistirahatkan lebih dahulu di ruang khusus sehingga begitu keluar gate langsung naik bus untuk selanjutnya diberangkatkan   ke pemondokan Madinah.
  19. Meskipun regu/rombongan sudah terbentuk dari Tanah Air dan diharuskan menjaga keutuhannya di setiap tempat, namun karena kapasitas bus tidak sama, maka untuk mengisi tempat duduk yang ada, regu dan rombongan dapat dipecah untuk sementara waktu selama dalam perjalanan, dan setibanya di pemondokan anggota regu/rombongan yang terpisah dapat bersatu kembali.

 

  1. DI PEMONDOKAN

 

  1. Madinah
  2. Turun dari bus dengan teratur dan menempati pemondokan yang telah  Pemondokan di      Madinah disediakan bagi jemaah haji untuk waktu 8 hari ditambah 12 jam guna memberi kesempatan melaksanakan shalat 40 waktu (’arbain) di   Masjid   Nabawi dan ziarah. Pelaksanaan ziarah diatur waktunya oleh majmu’ah dan Ketua Kloter pada hari ke-3 (tiga) setelah kedatangan.
  3. Penempatan jemaah   haji   di- lakukan oleh majmu’ah (group). Gedung yang ditempati jemaah haji semuanya     bertingkat, gedung yang bertingkat 4 ada yang menggunakan   lift   dan ada yang menggunakan tangga, sedang gedung yang lebih dari 4   tingkat   menggunakan     Karena kapasitas lift terbatas maka peng- gunaannya perlu antri, dianjurkan bagi jemaah haji yang fisiknya kuat naik tangga supaya tidak berdesak-desakan, sebelum menggunakan  lift  pelajari  terlebih dahulu penggunaannya dan berhati-hati.
  4. Jika naik atau turun dengan menggunakan tangga berjalan (eskalator) hati-hati agar pakaian tidak tersangkut.
  5. Penempatan jemaah  di Pemondokan sesuai dengan  tasrih (pengesahan kapasitas dan kelayakan pemondokan yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi), sehingga masing-masing kamar bervariasi kapasitasnya  berdasarkan tasrih tersebut.

 

  1. Selama di   Madinah   pelayanan   yang diberikan oleh majmu’ah (group) antara lain pengaturan   penempatan   jemaah haji di kamar-kamar, penyediaan air di pemondokan, penyediaan tenaga angkut untuk mengangkut barang-barang jemaah haj serta   menyediakan   pembimbing (mursyid) dan bus untuk ziarah secara gratis.
  2. Ketua regu dan ketua  rombongan membantu   dalam penempatan   kamar agar jemaah haji laki-laki dan perempuan terpisah.
  3. Waspada terhadap  kemungkinan kehilangan  uang  dan  barang  berharga baik di pemondokan maupun di masjid/ tempat lainnya, sebaiknya dititipkan di safety box pemondokan.
  4. Kamar tidur   juga   digunakan   untuk menaruh koper, tas, dsb. di samping tempat untuk makan.
  5. Di pemondokan disediakan kamar mandi, untuk memakainya agar antri dan menjaga kebersihan serta
  6. Keluar masuk kamar  mandi harus berpakaian yang menutup aurat, demikian pula ketika dalam kamar maupun keluar kamar.
  7. Perhatikan lokasi  pemondokan  tempat tinggal, nama majmu’ah, nomor rumah dan wilayah dengan cara mengingat tanda-tanda yang mudah dikenal sebelum berangkat ke   Masjid  Nabawi, agar kembalinya tidak sesat jalan.
  8. Berangkat ke Masjid Nabawi dianjurkan secara beregu (berombongan),  dan sebelum berangkat hendaknya mematikan peralatan  elektronik,  mengunci  kopor, dan kamar.
  9. Jemaah perempuan  yang  sedang  haid/ sakit sebaiknya tinggal di pemondokan dan ditemani mahram/temannya serta mengunci pintu kamar.
  10. Selama di Madinah sebaiknya melaksanakan shalat fardhu berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 (empat puluh) waktu (arba’in) dan shalat sunat, serta  berziarah  ke  makam  Rasulullah Saw, dan dua sahabatnya (Abu Bakar Ra dan Umar Ra), serta berziarah di Baqi.
  11. Selama di  Madinah  hendaknya  tetap menjaga  kondisi kesehatan.
  12. Selama di Madinah mendapat makan 2 (dua) kali sehari, makan siang dan malam dalam bentuk box, pembagiannya diatur oleh Ketua Rombongan.
  13. Makan dan minumlah secara teratur dengan memilih makanan yang bersih dan terlindungi dari pencemaran.
  14. Gunakan pakaian yang tebal untuk mengurangi rasa dingin.
  15. Jangan sering  mandi,  cukup  sekali sehari, dan paling banyak 2 (dua) kali sehari, serta   jangan   menggunakan sabun yang mengandung soda.
  16. Gunakan masker untuk  mencegah masuknya debu dan kuman ke saluran pernafasan, ketika berada di luar masjid dan pemondokan.
  17. Jangan menerima tamu dalam kamar karena akan mengganggu orang lain.
  18. Perhatikan rambu lalu lintas, tengoklah ke kanan atau ke kiri apa- bila akan menyeberang jalan.
  19. Waspada dan  hati-hati  dengan  uang dan barang berharga yang dibawa selama berada di Masjid Nabawi dan tempat yang berdesak-desakan, seperti di Raudhah.
  20. Setelah hari ke-2 atau ke-3 kedatangan, bagi yang sehat hendaklah berziarah ke Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, Masjid Qu- ba, Masjid Khamsah yang dikoordinasikan oleh majmu’ah, tanpa dipungut biaya.
  21. Mengikuti ceramah/bimbingan yang diatur oleh Ketua Kloter (TPHI) dan TPIHI.
  22. Setelah selesai  melaksanakan shalat 40 waktu (arba’in), jemaah haji siap berangkat ke Makkah untuk melaksanakan umrah atau haji.
  23. Jemaah haji yang akan pulang ke Tanah Air hendaknya koper sudah disiapkan untuk ditimbang maksimal 32 kg / jemaah. Kelebihan barang bawaan dapat dikargokan atas biaya masing-masing jemaah.
  24. Jemaah haji yang akan meninggal-kan pemondokan menuju Makkah, hendaknya memperhatikan koper, tas tentengan dan barang-barang berharga agar tidak tertinggal.
  25. Menaiki bus dengan teratur.
  26. Berangkat dari pemondokan dengan berpakaian ihram menuju Miqat Bir Ali untuk berniat ihram umrah atau haji, bagi laki-laki hendaknya sudah tidak memakai pakaian dalam.
  27. Saat di Bir Ali, hendaknya memper- hatikan nama syarikat (perusahaan bus) dan nomor bus serta menjaga uang dan barang berharga ketika di kamar mandi dan masjid.
  28. Selama perjalanan ke Makkah hen- daklah memperbanyak talbiyah.
  29. Jemaah haji yang pulang ke Tanah Air baik melalui bandara AMAA Madinah maupun    bandara    KAIA Jeddah dilarang  membawa  tas tentengan          lebih dari satu, ben da-benda  tajam,  barang  yang  mu- dah meledak, dan juga tidak diper- kenankan membawa air zamzam karena sudah disiapkan di Tanah Air (debarkasi).
  30. Barang-barang berharga   seperti handphone, uang, emas, dan lain-lain hendaknya disimpan di tas tentengan yang dibagikan dari penerbangan.
READ :  Paket Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Batam Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

 

  1. Makkah
  2. Setibanya di Mekkah etua rombongan turun dari bus untuk mengambil kunci kamar jemaah.
  3. Jemaah haji turun dari bus dengan teratur dan menempati pemondokan, dipandu oleh petugas maktab dan dibantu PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi.
  4. Pemondokan di Makkah disediakan bagi jemaah haji untuk kurang lebih 28 hari berdasarkan hasil qur’ah (undian) di Tanah Air.
  5. Penempatan jemaah di pemondokan sesuai dengan tasrih (pengesahan kapasitas dan kelayakan pemondokan yang ditetapkan  oleh  Pemerintah Arab Saudi), sehingga masing-masing kamar bervariasi kapasitasnya berdasarkan tasrih tersebut.
  6. Ketua regu dan ketua rombongan membantu dalam penempatan kamar agar jemaah haji laki-laki dan perempuan terpisah.
  7. Gedung yang  ditempati jemaah haji semuanya bertingkat, gedung  yang bertingkat  4 ada   yang  menggunakan lift dan ada yang menggunakan tangga. Sedang gedung yang lebih 4 tingkat menggunakan lift. Karena kapasitas lift terbatas, maka penggunaannya perlu antri,
  8. dianjurkan bagi jemaah haji yang ¿ siknya kuat naik tangga supaya tidak berdesak- desakan, sebelum menggunakan   lift pelajari terlebih dahulu penggunaannya dan berhati-hati. Bagi gedung yang ber-kapasitas lebih dari 250 orang harus ada tangga darurat.
  9. Berhati-hati saat naik atau turun dengan tangga berjalan (eskalator) agar pakaian tidak tersangkut.
  10. Jangan memaksakan  ziarah apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
  11. Pemondokan jemaah yang berada pada jarak lebih dari 2.000 meter disediakan transportasi dari pemondokan ke Masjidil Haram tanpa dipungut biaya. Peng- angkutan dan   penjemputannya   diatur oleh petugas PPIH Arab Saudi.
  12. Apabila keluar dari pemondokan harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya bahaya  kecelakaan  lalu  lintas dan keamanan barang-barang bawaan termasuk uang.
  13. Penempatan jemaah   di   pemondokan sesuai tasrih (surat ijin tentang kelayakan
  14. pemondokan dan jumlah kapasitas yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi).
  15. Setiap kloter  diusahakan  menjadi  satu rumah, namun ada juga kloter yang terpecah, hal ini disebabkan kapasitas rumah tidak sama.
  16. Kondisi kota   Makkah   berbukit-bukit sehingga gedung yang disewa banyak yang mendaki. Keadaan gedung tidak semuanya sama demikian pula jarak dari Masjidil Haram.
  17. Selama di Makkah jemaah haji diurus oleh maktab dan setiap maktab menampung kurang lebih 2.500 – 3.000 jemaah haji. Pelayanan yang diberikan antara lain pengurusan administrasi, penempatan di kamar-kamar pada saat tiba, penyediaan air, penyediaan haris (penjaga gedung), tenaga angkut untuk mengangkut barang- barang, pengurusan jemaah haji tersesat jalan, sakit, dan wafat, serta bimbingan ibadah.
  18. Setelah seluruh jemaah haji satu kloter menempati kamar-kamar dan istirahat cukup, baru  melaksanakan  thawaf  dan
  19. sa’i secara beregu/berombongan dipandu oleh muthawwif/mursyid yang disediakan oleh maktab dikoordinasikan oleh Ketua Kloter.
  20. Kamar tidur   jemaah   juga   digunakan untuk menaruh koper, tas dan sebagainya.
  21. Air untuk wudhu, mandi, dan mencuci harus digunakan secara hemat.
  22. Menjemur pakaian di tempat yang telah disediakan dan jangan di lorong.
  23. Selama di Makkah, jemaah  tidak memperoleh layanan katering. Gunakanlah biaya hidup (living cost) sebesar SR 1.500,- yang diterima di Asrama Haji untuk kebutuhan makan dan minum. Apabila jemaah haji memerlukan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti: beras, gula pasir, mie instan, sayur-mayur, minyak goreng, minyak tanah, kompor, dan sebagainya, tersedia di toko-toko, kios atau warung/restoran di sekitar pemondokan.
  24. Makan dan minumlah secara teratur dengan memilih makanan yang bersih, bergizi, dan terlindungi dari pen- cemaran.
  25. Gunakan masker    untuk    mencegah masuknya  debu  dan  kuman  ke  saluran
  26. pernafasan ketika berada di luar masjid dan pemondokan.
  27. Jangan menerima tamu dalam kamar karena akan mengganggu yang lain.
  28. Jangan meninggalkan pemondokan berhari-hari karena mengunjungi keluarga.
  29. Tidak diperkenankan   merokok   di tempat-tempat yang dilarang seperti di dekat Masjidil Haram dan sekitarnya. Untuk mencegah kebakaran apabila merokok buanglah puntung rokok pada tempatnya, dan jangan memasak di kamar tidur.
  30. Untuk menghindari tersesat jalan agar memperhatikan letak pemondokan yang ditempati, nomor maktab, dan nomor rumah sebelum berangkat ke Masjidil Haram. Setiap gedung di    Makkah dipasang stiker dan neon box merah putih bertuliskan tahun dan nomor rumah.
  31. Mengikuti kegiatan  bimbingan  ibadah di pemondokan yang diatur oleh petugas kloter.
  32. Apabila pergi ke Masjidil Haram
  33. sebaiknya secara berombongan/beregu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebelum berangkat hendaknya mematikan lampu, AC, kompor gas, mengunci koper, dan kamar.
  34. Perhatikan rambu lalu lintas  dan tengoklah ke kanan dan ke kiri apabila akan menyeberang jalan.
  35. Jemaah perempuan  yang  sedang  haid/ sakit sebaiknya tinggal di pemondokan ditemani oleh mahram atau temannya yang bisa dipercaya dan mengunci kamar.
  36. Di sekitar Masjidil Haram disediakan kamar mandi/WC yang cukup banyak. Jemaah haji agar dapat memanfaatkan kamar mandi baik untuk mandi maupun wudhu.
  37. Jangan memaksakan untuk mencium Hajar Aswad dengan cara berdesak- desakan laki-laki dan perempuan, apalagi harus membayar kepada seseorang.
  38. Waspada terhadap kemungkinan kehilangan uang dan barang bawaan di tempat yang  berdesak-desakan  seperti waktu thawaf, dan sa’i, sebaiknya uang dititipkan pada safety box yang ada di Maktab.
  39. Jemaah yang akan membayar dam dianjurkan melalui bank yang ditunjuk oleh Pemerintah Arab  Saudi  (Bank Al Rajhi/Bank Pembangunan Islam).
  40. Jemaah yang   akan   melaksanakan tarwiyah, agar melapor kepada ketua kloter dan melakukan koordinasi dengan pihak sektor dan maktab.
  41. Tanggal 8 Dzulhijjah berangkat ke Padang Arafat untuk melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah dan bagi yang berhaji tamattu’ hendaklah berniat ihram haji dari pemondokan.
  42. Jemaah haji yang sakit/udzur, keberangkatan ke Padang Arafat diatur tersendiri dengan “safari wukuf” sedangkan yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) diatur sendiri oleh pihak rumah sakit yang bersangkutan.
  43. Jemaah haji yang sakit keras (dirawat di ICU) dan tidak memungkinkan secara medis untuk wukuf di Arafat, hajinya dibadalkan oleh petugas haji.
  44. Keberangkatan jemaah ke Padang Arafat menaiki bus yang telah disiapkan oleh maktab, dan diatur dengan sistem taraddudi (2 trip), jika bus yang disediakan belum mencukupi, hendaknya bersabar menunggu bus berikutnya. Disunatkan membaca talbiyah selama perjalanan ke Padang Arafat.
  45. Saat akan     meninggalkan pemondokan menuju Jeddah/ Madinah,                     hendaklah   berhati- hati                dengan   barang   bawaan jangan              sampai      tertinggal, maksimal  barang  bawaan  32 kg  dan  1  (satu)  tas  tentengan per jemaah.   Kelebihan barang bawaan dapat dikargokan atas biaya masing-masing jemaah.
READ :  Paket Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Indramayu Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

 

  1. DI ARMINA
  2. Padang Arafat
  3. Turun dari bus dan memasuki kemah.
  4. Menempati kemah  yang  telah disediakan oleh maktab, dilengkapi dengan alas tidur berupa hambal tanpa bantal.
  5. Selama di Padang Arafat jemaah haji diurus oleh maktab. Pelayanan yang diberikan antara lain penempatan jemaah di tenda pada saat tiba, pengurusan angkutan ke Mina dan pengurusan jemaah haji tersesat jalan, sakit, dan wafat, serta bimbingan ibadah.
  6. Selama di Padang Arafat   jemaah mendapat konsumsi   4 (empat) kali makan.  Dianjurkan    kepada jemaah                tetap   mengutamakan   dan memperbanyak ibadah, berdo’a, dan berdzikir.
  7. Fasilitas kamar  mandi/WC     sangat terbatas, maka penggunaannya perlu antri dan sabar.
  8. Keluar masuk kamar mandi  harus berpakaian yang menutup aurat.
  9. Sambil menunggu  saat  wukuf,  ikutilah ceramah yang disampaikan oleh petugas Kloter.
  10. Apabila ada permasalahan mengenai ibadah dan kesehatan haji hendaklah menghubungi petugas Kloter.
  11. Untuk menghindari terjadinya kebakaran dilarang menyalakan api atau membuang puntung rokok di sembarang tempat.
  12. Agar kondisi ¿ sik tetap prima selama di Padang Arafat, jagalah kesehatan, makan, dan minum yang cukup.
  13. Jangan memaksakan  diri  ke  Jabal Rahmah dan atau memaksakan wukuf di luar kemah.
  14. Apabila merasa sakit segera meng-hubungi dokter kloter atau melaporkan ke petugas kloter.
  15. Selama di  Padang  Arafat  jemaah  haji sebaiknya tetap berada di kemah.
  16. Pengangkutan jemaah haji dari Padang Arafat ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina dengan  sistem  angkutan taraddudi, yaitu sistem angkutan shuttle, di mana armada angkutan  secara berkelompok menjemput jemaah dari perkemahan sampai ke tempat tujuan dan berputar kembali menjemput jemaah lain, yang diatur oleh sebuah lembaga pengendali pada pos pusat di terminal Muhassir (antara Padang Arafat dan Muzdalifah).  Armada tersebut berputar  terus  menerus  sampai  jemaah  haji terangkut.

 

  1. Muzdalifah
  2. Penempatan jemaah  haji  di  areal Mabit Muzdalifah terbagi 2 (dua), yaitu sebagian besar berada dalam areal terbuka yang dipagar dengan besi dan sebagian lagi langsung ke kemah Muzdalifah di luar pagar.
  3. Turun dari bus dengan teratur dan memasuki ke tempat mabit sesuai dengan nomor maktab.
  4. Jemaah haji hendaknya menempati tempat yang telah disediakan secara teratur dan menjaga keutuhan regu dan rombongan (kloter).
  5. Selama mabit di Muzdalifah upayakankain ihram menutup badan.
  6. Hendaklah tetap menjaga kesehatan dengan makanan dan minuman paket makanan yang dibagikan di Arafat.
  7. Lewat tengah  malam  jemaah  haji berangkat ke Mina.
  8. Di Muzdalifah, jemaah haji  mendapat pelayanan, informasi dan penyuluhan mabit melalui pe- tugas kloter dan petugas Satgas Muzdalifah yang menempati pos Muzdalifah.
  9. Menaiki bus melalui pintu ke luar dengan nomor maktab yang sama.

 

  1. Mina

 

  1. Perkemahan di   Mina   ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi dan disediakan bagi jemaah haji untuk melaksanakan mabit. Kemah yang disediakan berupa tenda besar dilengkapi alat pendingin udara dan tahan api, setiap tendanya dilengkapi alas tidur berupa karpet tanpa bantal.
  2. Jemaah haji berada di kemah Mina sejak tanggal 10 s.d. 13 Dzulhijjah, bagi yang melaksanakan nafar awal meninggalkan Mina  pada  tanggal 12  Dzulhijjah  setelah  melontar  3
  3. Selama di Mina jemaah haji diurus oleh maktab. Pelayanan yang diberikan antara  lain: penempatan  jemaah di tenda,  pengurusan jemaah   haji   tersesat jalan,  sakit,  dan  wafat,  serta bimbingan ibadah dan pengurusan pemberangkatan ke Makkah. Dan selama di Mina mendapat pelayanan katering sebanyak 11 (sebelas) kali makan dengan menu Indonesia, jemaah antri secara berombongan dan mengambil sesuai haknya.
  4. Selama di   Mina   jemaah   dilarang mencorat-coret/menggambar pada tenda, batu, dinding jamarat, dan lain- lain.
  5. Fasilitas kamar mandi/WC sangat terbatas, maka perlu antri untuk menggunakannya.
  6. Keluar masuk    kamar    mandi    harus berpakaian yang sopan dan menutup aurat.
  7. Selama jemaah haji di Mina dianjurkan banyak istirahat dan dzikir serta tetap menjaga kesehatan sambil melaksanakan ibadah mabit dan melontar sesuai dengan ketentuan manasik.
  8. Melontar jamrah   secara   beregu   atau berombongan.
  9. Bagi jemaah   haji   yang   sakit/udzur termasuk jemaah yang  dirawat di rumah sakit, melontar jamrahnya dapat dibadalkan/diwakilkan oleh teman satu regu/rombongannya.
  10. Patuhi jadwal   melontar   dan   jangan melontar pada waktu padat walaupun afdhol/utama.
  11. Setelah selesai melontar segera kembali ke kemah.
  12. Tetap menjaga  kesehatan  dengan  cara beristirahat, makan, dan minum yang cukup.
  13. Pelayanan jemaah haji di Arafat, Muzdalifah dan Mina (Armina) disiapkan fasilitas pelayanan dikoordinasikan oleh sebuah organisasi khusus yang disebut Satuan Operasional Arafat, Muzdalifah, Mina (Satop Armina). Satop Armina dibagi menjadi 3 (tiga) Satuan Tugas (Satgas) sesuai dengan tempat kerjanya, yaitu Satgas Arafat, Satgas Muzdalifah, dan Satgas Mina. Pada masing-masing satgas mempunyai pos pelayanan yang terdiri dari pos komando, pos pelayanan, dan pos pembantu pada masing-masing kemah (Maktab). Setiap pos memiliki jenis tugas yang sama yaitu memberikan pelayanan umum, kesehatan, dan ibadah.

 

  1. KEGIATAN SETELAH ARMINA
  2. Jemaah haji gelombang I diberang- katkan dari Makkah menuju Jeddah langsung ke bandara   internasional King Abdul Aziz   tanpa melalui Hotel Transito.
  3. Jemaah haji  gelombang  II diberangkatkan dari Makkah ke Madinah untuk melaksanakan shalat sunat arba’in dan berziarah ke Masjid Nabawi dan tempat-tempat bersejarah lainnya.
  4. Proses pemulangan jemaah haji gelombang II ada yang melalui bandara internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah dan ada yang melalui bandara internasional King Abdul Aziz
  5. Jemaah haji gelombang II yang pemulangannya melalui Jeddah, diistirahatkan diHotel Transito  ± 24 jam. Pelayanan yang diberikan berupa akomodasi, konsumsi,   dan transportasi.
  6. Ketentuan barang yang boleh dibawa hanya satu koper beratnya ± 32 kg dan satu tas tentengan, selebihnya harus dikargokan dengan biaya ditanggung sendiri oleh jemaah yang bersangkutan.
  7. Delapan jam sebelum berangkat ke bandara Ketua Kloter dibantu Ketua Regu/Rombongan membagikan paspor dan boarding pass kepada jemaah haji. Sedangkan yang pulang dari Madinah paspor dan boarding pass dibagikan di bus pada saat hendak berangkat ke bandara AMAA Madinah.
  8. Ketika akan meninggalkan Hotel Tran- sito menuju bandara KAAIA Jeddah, perhatikan barang bawaannya jangan sampai tertinggal, jangan membawa benda tajam dan barang yang mudah meledak.

 

  1. DI BANDAR UDARA ARAB  SAUDI (KEPULANGAN)
  2. Jemaah haji yang kepulangannya ke Tanah Air  melalui  Jeddah  maupun  Madinah, setibanya di bandara jemaah haji istirahat di tempat yang telah disediakan.
  3. Tiga jam   sebelum   pesawat   be- rangkat, jemaah haji akan diper- silahkan masuk ke dalam gate/pintu yang ditentukan dan antri secara ter- tib dengan menyiapkan paspor untuk pemeriksaan oleh petugas Imigrasi Arab Saudi, dan pemeriksaan boar- ding pass oleh petugas penerbangan.
  4. Pihak penerbangan baik dari Garuda maupun Saudia akan membagikan air Zamzam sebanyak 5 liter tiap orang di pelabuhan Debarkasi (Indonesia).
  5. Naik pesawat  dengan  tertib  sesuai dengan petunjuk awak kabin dan sebelum naik pesawat, periksalah barang bawaan masing-masing jangan sampai tertinggal.

 

  1. DI BANDAR UDARA  DEBARKASI (DI TANAH AIR)
  2. Pesawat udara mendarat di Bandara Debarkasi.
  3. Sebelum jemaah haji turun, PPIH Embarkasi setempat menyambut di dalam pesawat dengan ucapan “selamat datang” serta memberi petunjuk-petunjuk yang diperlukan.
  4. Memeriksakan paspor  kepada  Petugas Imigrasi dan buku kesehatan kepada Petugas Kesehatan.
  5. Petugas Kesehatan  akan  menstempel Kartu Kewaspadaan  Kesehatan  jemaah Haji (K3JH) yang terdapat pada buku kesehatan.
  6. Apabila ada  jemaah  haji  sakit,  dapat menghubungi petugas kesehatan/dokter yang selalu siap melayani jemaah haji di terminal debarkasi ataupun Asrama Haji Debarkasi.
  7. Jemaah haji yang sakit hendaknya dirujuk ke rumah sakit yang telah di- tunjuk. Biaya perawatan selama 7 hari (1 minggu) ditanggung oleh pemerintah, kecuali biaya scaning dan operasi harus ditanggung sendiri.
  8. Seluruh jemaah haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci mendapat polis/tanggungan
  9. asuransi jiwa, terhitung mulai dari embarkasi sampai kembali ke Tanah Air (debarkasi).
  10. Jemaah haji   menaiki   bus   yang sudah disiapkan menuju ke Asrama Haji Debarkasi atau dari Bandara langsung ke rumah masing-masing.
  11. Barang bawaan  jemaah  haji  akan diterima di Asrama Haji Debarkasi dan  bagi  yang  langsung  pulang di terima di Bandara.

 

  1. DI ASRAMA HAJI

 

  1. Jemaah haji yang transit di Asrama Haji, barang bawaannya/kopernya diambil di Asrama Haji.
  2. Untuk menghindari   hal-hal   yang tidak diinginkan agar jemaah haji selalu menjaga barang bawaannya.
  3. Bila jemaah haji tidak menemukan barang bawaannya, harap melaporkan ke petugas penerbangan atau petugas barang tertinggal (barter).
  4. Jemaah haji  yang  dijemput  dapat langsung pulang ke rumah masing-
  5. masing, dan bagi yang transit disediakan penginapan di Asrama Haji Debarkasi.
  6. Jemaah haji yang transit diurus oleh petugas daerah yang bersangkutan di Asrama Haji Debarkasi.
  7. Biaya konsumsi    selama    transit ditanggung oleh jemaah haji.

 

  1. DI KAMPUNG HALAMAN
  2. Sebelum sampai di rumah dianjurkan shalat 2 rakaat dan sujud syukur di masjid/mushalla terdekat   dengan rumah.
  3. Sesampainya di daerah asal, bila ada jemaah haji yang sakit dalam waktu 14 hari sejak kedatangan, segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit setempat.
  4. Bila dalam waktu 14 hari jemaah haji tidak  sakit, maka  K3JH agar  dikirimkan ke puskesmas/dinas kesehatan kabu- paten/kota setempat.
  5. Dianjurkan sebelum masuk ke rumah
  6. terlebih dahulu agar memintakan ampun dan mendo’akan orang- orang yang ikut menjemput dan menyambut, karena do’a  orang yang baru melaksanakan ibadah haji dikabulkan oleh Allah Swt.
  7. Setelah melaksanakan  ibadah  haji agar meningkatkan iman, taqwa dan kepedulian sosialnya serta bergabung dengan IPHI yang ada pada masing- masing daerah.

Similar Posts:

By |2018-09-19T08:03:59+00:00February 23rd, 2018|Ibadah Haji, Umroh Murah|

Leave A Comment