Sejarah Kain Kiswah Hitam Penutup Ka’bah

Sejarah Kain Kiswah Hitam Penutup Ka’bah

Kain Kiswah. Sebelum islam datang, Ka’bah ditutup dengan kain biasa. Rasulullah dan Abu Bakar al-Shiddiq kemudian menutupnya dengan kain dai Yaman. “Umar dan Utsman ibn Affan lalu menutupnya dengan kain qubati dari Mesir. Utsmanlah orang pertama yang menutup Ka’bah dengan dua lembar kain penutup.
Pada 160 H, al-Mahdi al-Abbasi pergi menunaikan haji ke Makkah. Setiba di Makkah, ia mengeluhkan bangunan Ka’bah yang terlihat rapuh dan juga semerawut karena banyaknya kain yang menutupinya (kiswah). Ia pun memerintahkan untuk melepas semua kain itu dan menyisakan satu kain saja sebagai penutupnya.

=================================================================

INFORMASI PAKET UMROH PROMO $ 1.500 JANUARI — MARET 2016

HUBUNGI: H SUDJONO AF – 0813 88097656 | BB 2315A7C3

GABUNG DAN LIKE : https://www.facebook.com/perjalananumrohmurah

=================================================================

Setelah itu, para raja dan khalifah datang silih berganti untuk menutup Ka’bah dengan kain yang berbeda-beda sesuai dengan selera mereka. Tapi, semenjak kekhalifahan al-Nashir al-Abbasi, Ka’bah ditutup dengan kain berwarna hijau, lalu diganti dengan kain berwarna hitam yang bertahan hingga saat ini.

Mengunjungi pabrik pembuat kiswah

Mengunjungi pabrik pembuat kiswah

Pada 751 H, la-Mujahid hendak melepas kain penutup Ka’bah yang bertuliskan nama-nama orang Mesir untuk kemudian diganti dengan namanya. Hanya saja, upayanya ini gagal.
Pada 810 H, kain penutup Ka’bah disisi sebelah timur diganti dengan kain sutra berwarna putih-yang terus dipakai selama hampir tahun. Pada tahun 819 H, kain penutup Ka’bah disisi sebelah timur ini kemudian dibuat dari kain sutra asli berwarna putih bertuliskan kalimat tauhid, la ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah, dengan bentuk bulat-yang sekarang ditulis dengan benang emas.
Raja Shahih Ismail ibn al-Nasir Qalawun secara rutin mewakafkan kain kiswah Ka’bah dan kain penutup kamar Nabi setiap setahun sekali, serta mimbar Nabi setiap lima tahun. Wakaf ini juga termasuk pembebasan kampung Basus, Sandabis, dan Abi al-Ghayzh.
Sultan Sulayman ibn Sulayman Salim juga membebaskan sejumlah kampung lain, yaitu Salikah, Quraysy al-Hijr, Manayil, Kumruhun, Bijam, Minyah al-Nashara, dan Bithaliya.
Pada masa pemerintahan Muhammad Ali Basya (awal abad ke-13 H), wakaf seperti ini sudah tidak diberlakukan lagi. Pemerintah setempat memutuskan bahwa dana pembuatan dan kepengurusan kain kiswah Ka’bah akan diambilkan dari uang kas negara. Keputusan seperti ini tetap diberlakukan sampai saat ini. Makkah sekarang telah berubah menjadi kota yang sangat indah berkat kebaikan berlimpah yang diberikan Allah Swt. Ka’bah dan Masjidil Haram pun semakin terawat dengan baik ditangan para pakar dibidangnya masing-masing.
Nama kiswah dalam bahasa Arab berarti ‘selubung’ (kain yang dikenakan pada peti) dan seasal dengan kata kisui dalam bahasa Ibrani.

Pembuatan Kain Kiswah Sangat Teliti dan Biaya Mahal

Pembuatan kain kiswah

Pembuatan kain kiswah

Kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah ini ternyata pembuatannya sangat teliti. Oleh karean itu biayanya pun juga cukup mahal. Biaya pembuatan kain penutup Ka’bah atau Kiswah itu mencapai 20 juta real atau sekitar Rp 50 milyar.
Kain penutup Ka’bah itu terbuat dari sutera murni berwarna hitam pekat. Kiswah dihiasi benang berlapis emas dan perak untuk membuat sulaman kaligrafi berupa ayat-ayat Al-Qur’an dan ornamen-ornamen bernuansa Islam.
Tulisan itu membentuk angka V (angka tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di Kiswah Ka’bah adalah “Allah Jalla Jalalah, Laailaahaillallah, Muhammad Rasulullah”.
Terdapat lima bagian Kiswah yang menutupi Ka’bah. Empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka’bah, termasuk bagian atasnya. Sedangkan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu Ka’bah yang dibelah.
Ka’bah telah dipilih Allah SWT sebagai Baitullah atau rumah Allah yang menjadi pusat kiblat bagi seluruh umat Islam di dunia untuk melakukan shalat lima waktu.

Kain Kiswah Pertama Kali

Kain kiswah dibuat dengan rajutan benang emas

Kain kiswah dibuat dengan rajutan benang emas

Kiswah pertama kali dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin ‘Ad dengan bahan baku kulit unta. Namun dalam perkembangannya, Kiswah dibuat dari kain sutera. Untuk membuat sebuah Kiswah diperlukan 670 Kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain. Masing-masing potongan tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm.
Ukuran itu sudah disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Ka’bah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 Kg emas dan beberapa puluh kilogram perak. Sejak 1931, Kiswah untuk menutupi Ka’bah diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah. Dalam pabrik tersebut, pembuatan Kiswah dilakukan secara modern dengan menggunakan mesin tenun modern pula. Di pabrik Kiswah yang areanya seluas 10 hektare itu dipekerjakan sekitar 240 pengrajin Kiswah.
Di balik Kiswah hitam, ada kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu berfungsi untuk menyerap uap dari dinding Ka’bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain Kiswah yang hitam. Kian ini mengandung daya serap tinggi untuk menghindarkan panas yang berlebihan dan mencegah dinding Ka’bah retak.

Kapan Kain Kiswah Diganti?
Kain kiswah penutup dirajut dengan tangan secara detail

Kain kiswah penutup dirajut dengan tangan secara detail

Pada era Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak mengganti kiswah ka’bah sampai beliau menaklukan kota Makkah. Kerena orang kafir Quraisy tidak mengizinkan mereka melakukan hal tersebut. Ketika Rasulullah SAW masuk ke Makkah, beliau pun tidak mengganti kiswah secara langsung, hingga kiswah terbakar disebabkan oleh seorang wanita yang mengukup kelambu Ka’bah dengan wewangian lalu terbakar kena percikan api kukupan (dupa).
Setelah itu Rasulullah SAW memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad SAW memerintahkan pembuatan kiswah dari Qubathi, dengan kain benang kapas berwarna putih halus buatan Mesir. Pada masa Mu’awiyah, kiswah Ka’bah diganti dua kali setahun, yaitu di hari Asyura’ dengan kain sutera dan di akhir bulan Ramadhan dengan kain Qubathi.
Begitu seterusnya sampai datang masa Yazid bin Mu’awiyah, Abdullah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan kiswah diganti dua kali setahun. Pada masa kekuasan al-Ma’mun, kiswah Ka’bah diganti tiga kali setahun, yaitu pada hari tarwiyah kiswah dikelambui dengan kain sutera berwara merah, di bulan Rajab dipasang kiswah dari kain qubathi, dan tanggal 27 Ramadhan Ka’bah diberi kiswah dari kain sutera berwarna putih.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya membuat pemikiran baru Kalifah al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.

Dulu setelah runtuhnya kekuasaan Abbasiyah, tanggung jawab pembuatan kiswah selalu dipikul oleh setiap khalifah yang berkuasa di Hijaz. Beberapa raja di luar tanah Hijaz pernah menghadiahkan kiswah kepada pemerintah Hijaz, diantaranya adalah raja al-Muzhaffar yang berkedudukan di Yaman tahun 659 H, juga penguasa Mesir pertama, raja Az-Zhahir Baybaras al-Bunduqdari tahun 661 H. Dan kemudian raja Mesir, Shalih Ismail, menetapkan wakaf khusus untuk kiswah Ka’bah bagian luar yang berwarna hitam satu kali setahun, dan berwarna hijau untuk makam Rasulullah saw setiap 5 tahun sekali.

Proses pembuatan kain kiswah penutup Ka'bah

Proses pembuatan kain kiswah penutup Ka’bah

Tradisi pengiriman kiswah dari Mesir ini berlangsung sampai masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya sekitar akhir tahun 1920-an. Setiap tahun, kiswah-kiswah indah yang dibuat di Mesir itu diantar ke Makkah melewati jalan darat menggunakan tandu indah yang disebut mahmal. Kiswah beserta hadiah-hadiah lain di dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dikepalai oleh seorang amirul hajj.
Amirul hajj itu ditunjuk secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Mesir. Dari Mesir, setelah upacara serah terima, mahmal yang dikawal tentara Mesir berangkat ke terusan Suez dengan kapal khusus hingga ke pelabuhan Jeddah. Setibanya di Hijaz, mahmal tersebut diarak dengan upacara sangat meriah menuju ke Mekkah. Pengiriman kiswah dari Mesir pernah terlambat hingga awal bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi beberapa waktu setelah meletusnya Perang Dunia I. Keterlambatan pengiriman kiswah terjadi akibat suasana yang tidak aman akibat Perang Dunia I
Sekarang kain Kiswah diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah, hari ketika jamaah haji berjalan ke Padang Arafah pada musim Haji. Jadi kain Kiswah diganti pada saat kegiatan ibadah di Masjidil Haram sangat-sangat lenggang, karean semua jamaah haji bertolak ke Padang Arofah untuk melaksanakan inti ibadah haji yaitu wukuf di Arofa. Jamaah yang tinggal hanya warga Mekkah dan sekitarnya yang sholat berjamaah di Masjidil Haram.
Setiap tahun, kiswah lama diangkat, dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil dan dihadiahkan kepada beberapa orang, pejabat Muslim asing yang berkunjung dan organisasi asing. Beberapa di antara mereka turut bertukar suvenir Haji. Pada saat kain kiswa diangkat, sekaligus Ka’bah dicuci dengan dibaluri dengan minyak wangi yang khas.
Pembuat kiswah yang terkenal pada masa Jahiliah adalah ad-Dibaj Natilah binti Hibban, ibu dariAbbas bin Abdul Muthalib. Pada masa-masa sebelumnya Umar bin Khattab memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada para jamaah yang hendak menggunakannya sebagai pelindung dari panasnya suhu kota Makkah.
Biaya pembuatan kiswah saat ini mencapai SR 17.000.000. Ya sekitar Rp50 Miliar. Kain ini memiliki luas 658m2 dan terbuat dari sutera seberat 670kg. Jahitannya terdiri dari benang emas seberat 15 kg. Kain ini terdiri dari 47 bagian kain dan masing-masing kain memiliki panjang 14m dan lebar 101m. Kiswah dipasang mengitari Kakbah dan direkatkan ke tanah menggunakan cincin tembaga Jahitan ayat-ayat Quran yang biasanya dirancang secara manual sekarang dibantu oleh komputer yang mempercepat masa pembuatan kain ini.

Hukum Mencuri Kain Kiswah Untuk Jimat

Kain kiswah dirajut dengan teliti dan tekun

Kain kiswah dirajut dengan teliti dan tekun

Beberapa waktu lalu ada jamaah umroh yang tertangkap sedang menggunting kain kiswah. Pelakunya langsung ditangkap dan dipenjara. Perusakan kain kiswah di Saudi Arabia merupakan kejahatan berat dan akan dihukum berat.
Kasus menggunting kain kiswah termasuk bentuk perusakan terhadap fasilitas umum, dan ini termasuk tindak kriminal. Hanya saja, bukan termasuk perbuatan pencurian yang menyebabkan hukuman had, berupa potong tangan. Sehingga hukuman masalah ini dikembalikan kepada keputusan hakim, yang dalam istilah fikih disebut hukuman ta’zir.
Sebenarnya untuk apa sih jamaah umroh mencuri karin kiswah. Banyak motif dan yang paling populer adalah untuk jimat. Naudzubillah…. Beribadah ke Tanah Suci untuk menghapuskan dosa justru membuat dosa besar dengan syirik. Semoga kita terlepas dari tipuan dan bisikan syaitan laknatullah aamiin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk menjadikan benda-benda di situs-situs ibadah untuk dijadikan jimat atau benda keramat. Bahkan beliau melarang keras umatnya, untuk menjadikan benda-benda itu sebagai jimat. Sekalipun hanya untuk tujuan pengobatan.
Zainab istri Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan,
Suamiku, Ibnu Mas’ud memiliki kebiasaan, setiap kali masuk rumah, beliau selalu berdehem, karena beliau tidak ingin kami melakukan sesuatu yang membuat beliau tidak suka.
Suatu ketika Zainab sakit mata, banyak mengeluarkan kotoran mata. Akupun mendatangi orang yahudi. Setiap kali dia meruqyahnya, kotorannya berhenti keluar. Akhirnya Zainab diberi buntalan yang dikalungkan.
Ketika Ibnu Mas’ud menemuinya, beliau langsung tanya, ’Ini buntalan apa?’
’Ini buntalan isinya ruqyah untuk pengobatanku.’ Jawab Zainab.
Ibnu Mas’ud menasehatkan,
“Sesungguhnya keluarga Ibnu Mas’ud gak butuh melakukan kesyirikan. Saya mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan tiwalah adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad 3615, Abu Daud 3883, Ibn Majah 3530, dan yang lainnya).

=================================================================

INFORMASI PAKET UMROH PROMO $ 1.500 JANUARI — MARET 2016

HUBUNGI: H SUDJONO AF – 0813 88097656 | BB 2315A7C3

=================================================================

Sumber:

1. Dr. ‘Abdah Muhammad al-Kahlawi , Rujukan Utama haji & Umroh Untuk Wanita, Zaman, 2015

2. https:// www.facebook com/ KabahKiblatkuHajiMabrurImpianku

3. news.detik. com/ internasional

4. www.konsultasisyariah.com

5. www. picipici. com

6. darussholihinattaufiqi. weebly. com

7. https:// id.wikipedia. org/wiki/Kiswah

kain kiswah, kiswah, selimut ka’bah, kain penutup ka’bah, pembuatan kain kiswah, biaya pembautan kain kiswah, kapan kain kiswah diganti, sejarah kain kiswah, kain kiswah pertama kali, fakta dibalik kain kisawh, biaya kain kiswah, warna kain kiswah, pemasangan kain kiswah, mencuri kain kiswah

Similar Posts:

By |2015-10-28T20:01:25+00:00October 28th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment