Sejarah Masjid Nabawi Di Masa Rasulullah SAW dan Khalifah Al-Rasyid

Sejarah Masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW dan Khalifah al-Rasyid. Masjid Nabawi dibangun pertama kali pada tahun 622 M. Mulanya, masjid tersebut dibangun oleh Nabi bersama pengikutnya, baik kalangan Anshar dan Muhajirin dengan sesederhana mungkin. Disebutkan dalam banyak riwayat, bahwa para sahabat sudah menyumbang harta mereka untuk merenovasi masjid agar menjadi layak, terutama kalangan Anshar yang sudah mengumpulkan uang untuk pembangunan masjid yang mentereng.

Tetapi Nabi menolak dengan halus untuk membuat bangunan masjid yang megah. Awalnya, masjid tersebut mempunyai tiga pintu, yaitu Pintu Kasih (Bab al-Rahmah), Pintu Jibril (Bab Jibril) dan Pintu Belakang Masjid, yang sekarang dijadikan tempat untuk menghadap kiblat.

Paket umroh murah 2019  2020 Cirebon
Paket umroh murah 2019 2020 Cirebon

Nabi secara implisit ingin menyatakan, bahwa yang membuat hati tenang dalam beribadah bukanlah megahnya bangunan, tetapi komitmen dan konsistensi untuk menjadikan agama sebagai elan konstruktif dalam kehidupan nyata. Keteladanan seperti ini sangat penting, terutama ditengah maraknya perlombaan mereka yang ingin membangun masjid semegah mungkin, bahkan menggunakan kubah dengan berlapis emas. Masjid harus dikembalikan kepada misi awalnya untuk meningkatkan kualitas iman dan kepedulian terhadap sesam yang diharapkan dapat memperkokoh solidaritas diantara umat.

Salah satu ciri dari masjid yang dibangun Nabi adalah adanya tempat penampungan bagi mereka yang tidak mampu, kalangan fakir miskin. Tempat ini dikenal dengan al-shuffah. Meskipun tempat ini sangat sederhana, tetapi maknanya sangat luar biasa karena ada misi kemanusiaan yang sangat mulia, yaitu komitmen islam terhadap kalangan fakir miskin.

Didalam Al Quran disebutkan, bahwa mereka yang menodai dan mendustai agama adalah mereka yang tidak peduli terhadap anak-anak yatim dan kalangan fakir miskin. Allah berfirman, Tidakkah kamu tahu, siapakah sebenarnya orang yang mendustai agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tidak menyantuni fakir miskin. Dan celakalah bagi mereka yang melaksanakan shalat, tetapi lalai dan mereka yang sering memperlihatkan harta dan melarang untuk mendermakannya kepada orang lain (QS. Al-Ma’un [107]: 1-5).

Muhammad Thahir bin Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, bahwa ayat ini merupakan peringatan yang sangat keras agar setiap umat yang mengkita patuh terhadap agama agar senantiasa menumbuhkan kepedulian terhadap orang-orang fakir miskin dan anak yatim.

Nabi Muhammad SAW bersabda, Tidak ada mimpi yang disukai Allah daripada mimpi seorang pemimpin dan kelembutannya, dan tidak ada kebodohan yang paling dibenci Allah daripada kebodohan seorang pemimpin dan kediktatorannya.

READ :  Piagam Madinah

Kepedulian tersebut harus ditunjukkan dengan cara menyelamatkan mereka dari kubangan keterpurukan.

Nabi Muhammad SAW telah mempelopori sebuah pendasaran yang sangat baik agar umat Islam menjadikan masjid sebagai tempat untuk menggugah kesadaran kolektif umat Islam dalam rangka membela mereka yang lemah dan tidak mampu. Dibeberapa masjid di Negara-negara Arab lainnya, seperti Kairo, pemandangan seperti itu masih terlihat dengan jelas. Masjid memberikan santunan makanan dan uang bulanan kepada para fakir miskin, tak terkecuali kalangan mahasiswa yang sedang belajar di Universitas al-Azhar.

Tentu saja, pemandangan seperti ini berbeda dengan masjid-masjid di Tanah Air yang masih kesulitan untuk membiayai dirinya. Masjid pada umumnya mengeluhkan perihal biaya untuk pemeliharaan dan perbaikan. Jika pun ada masjid yang terlihat mewah, masjid tersebut berubah menjadi obyek wisata.

Pada tahun 628 M setelah kembali dari Perang Khaybar, Nabi melkitakan perluasan Masjid Nabawi. Hal tersebut terkait dengan makin bertambahnya pemeluk Islam. Sebab itu, lebarnya ditambah sekitar 20 meter, sedangkan panjangnya ditambah menjadi 15 meter. Konon, Utsman bin Affan adalah dermawan yang menghibahkan hartanya untuk membeli tanah dalam rangka perluasan area Masjid Nabawi. Batas masjid Nabi hingga sekarang masih diabadikan dengan diberi tanda, hadd masjid al-nabi. Artinya, batas masjid yang dibangun Nabi setelah masa perluasan.

Masjid Nabawi pada periode awal, khususnya pada masa Nabi telah memainkan peran yang sangat penting untuk penanaman nilai-nilai keislaman yang luhur, di samping untuk konsolidasi sosial politik umat Islam. Dari tempat inilah Nabi juga membangun generasi penerus yang kelak menyebarluaskan ajaran Islam melalui kodifikasi wahyu yang diterima Nabi dan pesan-pesan moral yang terdapat dalam sunnahnya.

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq tidak terdengar langkah-langkah perluasan dan renovasi Masjid Nabawi. Hal tersebut terkait dengan konteks sosial pada masa itu. Muncul gerakan-gerakan konversi dari para pemeluk Islam setelah kematian Nabi, disamping krisis keuangan yang dialami pada masa kepemimpinannya. Abu Bakar memandang perlunya menata kembali manajemen pemerintahan umat Islam, disamping mencari jalan untuk stabilitas keuangan melalui zakat.

Sebuah peristiwa yang dicatat dalam sejarah, bahwa tiang-tiang yang menjadi penyangga dari Masjid Nabawi mulai kropos. Maklum, karena tiang-tiangnya berasal dari batang pohon kurma. Abu Bakar menggantinya dengan tiang-tiang yang baru dari pohon kurma pula agar bangunan masjid tidak ambruk.

READ :  Travel Umroh Murah Harga Mulai Rp23,5 Juta Sudah Termasuk Perlengkapan

Sedangkan perluasan pasca Nabi dilkitakan oleh Umar bin Khattab. Hal tersebut juga disebabkan makin besarnya populasi mereka yang memeluk Islam. Umar melkitakan perluasan pada tahun 638 M. ia juga membangun kembali dengan menggunakan batu, dan menambah arah kiblat sekitar 5 meter. Dari arah utara, ia menambahkan sekitar 10 meter. Sedangkan arah barat menambah dua tiang dan lebarnya sekitar 10 meter. Dan arah timur tidak diperluas. Umar juga membuat pintu khusus untuk kalangan perempuan dan meletakkan sejumlah kerikil.

Salah satu terobosan yang dibuat Umar bin Khattab, yaitu membuat serambi disebelah timur Masjid Nabawi. Serambi tersebut dikenal dengan nama al-buthayha. Tempat tersebut khusus bagi mereka yang ingin berbicara dengan suara lantang atau membaca syair. Sejak masa Nabi tidak diperkenankan untuk bersuara lantang didalam Masjid Nabawi. Umar diantara para sahabat Nabi yang sangat perhatian dengan etika didalam masjid. Hal tersebut dilkitakan agar mereka yang sedang melaksanakan shalat dan ibadah lainnya tidak terganggu oleh suara gaduh.

Umar adalah seorang pemimpin yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap masjid dan situs bersejarah. Di Mekkah, Umar bin Khattab juga melkitakan terobosan-terobosan untuk membuat area khusus bagi mereka yang hendak melaksanakan thawaf di Ka’bah, sehingga tidak berbaur dengan mereka yang hendak melaksanakan shalat.

Pada tahun 649 M, Utsman bin Affan sebagai amirul mu’minin juga melkitakan perluasan dan renovasi terhadap Masjid Nabawi. Bahkan, renovasi yang dilkitakan oleh Utsman relatif bersifat komprehensif dari masa-masa sebelumnya. Utsman dikenal sebagai sahabat Nabi yang mempunyai harta lebih, sehingga ia dengan mudah mengambil kebijakan untuk melkitakan perluasan. Ia memperluas area masjid hingga beberapa meter dari beberapa arah.

Ia membangun perluasan tersebut dengan batu yang diwarnai, menutup atap dengan kayu jati dan membuat tiang penyangga dari batu beton. Sedangkan ruang imam dibuat agak melengkung, sebagaimana terlihat seperti sekarang ini. Konon, Utsman yang memimpin langsung langkah perluasan dan renovasi masjid, hingga ia terbunuh oleh lawan politiknya.

Sedangkan pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib tidak ada langkah-langkah perluasan yang diambil. Situasi politik yang bergejolak pada masa itu tidak memungkinkan Ali untuk melkitakan renovasi, hingga masa akhir kepemimpinan Ali bangunan Masjid Nabawi identik dengan bangunan paling mutakhir yang direnovasi oleh Utsman bin Affan.

READ :  Dajjal Tidak Bisa Masuk Kota Madinah Karena Keutamaan Kota Nabi Ini

Salah satu karakter yang menonjol dari perluasan pada masa ini, yaitu mempertahankan bangunan masjid, sebagaimana dibangun Nabi. Yang mereka lkitakan adalah memperluas area masjid dalam rangka menampung para jamaah yang ingin melaksanakan shalat. Sedangkan kamar-kamar yang merupakan tempat tinggal Nabi, yang berada dibagian timur masjid dibiarkan sebagaimana adanya. Pada masa itu, ada beberapa istri Nabi yang masih hidup dan tinggal di tempat itu.

Secara umum, Masjid Nabawi pada periode awal identik dengan kesederhanaa, sebagaimana diinisiasikan oleh Nabi pada awal pembangunannya. Yang lebih dominan dari masjid tersebut adalah spirit untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan peradaban manusia. Masjid berperan untuk membangkitkan spiritualitas dan kepedulian terhadap umat, terutama dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat mereka.

Masjid Nabawi mempunyai sejarah yang sangat berharga, karena 30 tahun setelah kedatangan Nabi ke Madinah telah memberikan dampak yang sangat luar biasa. Peradaban Islam yang memilih masjid sebagai pusatnya semakin meyakinkan mereka, bahwa peradaban apapun harus dimulai dari ketulusan hati dalam melkitakan misi pencerahan, perubahan dan pemberdayaan.

Misalnya, di masjid inilah umat Islam dilatih sejak awal untuk tidak meninggikan suara. Tatkala masuk ke masjid, mereka diminta untuk tenggelam dalam ibadah dan permenungan batin, sehingga dapat menjalin komunikasi dengan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan umatnya agar masjid menjadi starting point dalam melkitakan perubahan untuk skala besar. Mulanya adalah memperbaiki diri, lalu memperbaiki orang lain. Masjid Nabawi berfungsi untuk membentuk kepribadian yang tangguh, terutama dalam konteks memancangkan pilar-pilar ketauhidan dan kemanusiaan yang merupakan fondasi utama Islam.

Similar Posts:

Keutamaan-keutamaan kota Madinah tertuang dalam Kitab Shoheh Bukhori. Kota Madinah sebagai kota Nabi Muhammad shallallahu
WhatsApp chat