Tafsir Surah Al Falaq dan Keutamaan Membacanya

Tafsir Surah Al Falaq dan Keutamaan Membacanya

Surah Al Falaq adalah surah ke-113 dalam Al-Qur’an. Nama Al-Falaq diambil dari kata Al-Falaq yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya waktu subuh. Surat ini tergolong surah Makkiyah. Surah Al Falaq terdiri dari 5 ayat.

=================================================================

PAKET UMROH JANUARI FEBRUARI MARET 2016

BIAYA $1.500 + Rp1 Juta Perlengkapan

INFO ; H SUDJONO AF 081388097656 | BB 2315A7C3

=======================================================================

Keutamaan membaca Surah Al Falaq

Aisyah menerangkan: bahwa Rasulullah s.a.w. pada setiap malam apabila hendak tidur, Dia membaca Surat Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, ditiupkan pada kedua telapak tangan kemudian disapukan ke seluruh tubuh dan kepala.

‘Uqbah bin’ Amir menerangkan, ketika saya sesat jalan dalam suatu perjalanan bersama dengan Rasulullah s.a.w., Dia membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas dan akupun disuruh Dia juga untuk membacanya.

Hubungan Surat Al Falaq dengan Surat An Naas

  1. Kedua-duanya sama-sama mengajarkan kepada manusia, hanya kepadaAllah-lah menyerahkan perlindungan diri dari segala kejahatan.
  2. Surat Al Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari keburukan yang samar, sedang Surat An Naas memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala kejahatan setan dari kaum jin dan manusia.

 

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Falaq (Waktu Shubuh)
Surah Makkiyyah; Surah ke 113: 5 ayat

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِِ
Bismillahirrahmaanirrahiim

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Ayat (1)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Ayat (2)
dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Ayat (3)
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Ayat (4)
dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Ayat (5)
dan dari kejahatan orang yang dengki bila ia dengki”

 

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Jabir, dia mengatakan: “Al-Falaq berarti waktu Shubuh. Yaitu demikian itu seperti firman-Nya yang lain: faaliqul ashbaah (Dia menyingsingkan pagi).

Firman Allah Ta’ala: ming syarri maa kholaq (dari kejahatan makhluk-Nya). Yakni dari kejahatan semua makhluk. Wa ming syarri ghoosiqin idzaa waqab (dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita). Mujahid mengatakan: “Kejahatan malam jika telah gelap gulita, yaitu saat matahari telah terbenam.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari darinya. Demikian pula yang diriwayatkan Ibnu Abi Najih darinya. Dan seperti itu juga Ibnu ‘Abbas, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, adl-Dlahhak, Khashif, al-Hasan, dan Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya ia adalah waktu malam jika telah datang gelapnya.” Ibnu Jarir dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu bulan”

Dapat saya katakan, dan pijakan orang-orang yang berpegang pada pendapat tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; Abu Dawud al-Hafri memberi tahu kami, dari Ibnu Dzi’b, dari al-Harits bin Abi Salamah, dia berkata: “’Aisyah berkata: ‘Rasulullah saw. pernah memegang tanganku dan memperlihatkan bulan kepadaku pada saat terbit dan beliau bersabda: ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzal ghaasiqi idzaa waqab (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan bulan ini jika terbenam).

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i di dalam kedua kitab tafsir dan Sunan keduanya. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan shahih.” Dan lafazhnya sebagai berikut: ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzaa, fa-inna haadzal ghaasiqa idzaa waqaba (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan ini, karena sesungguhnya ini adalah bulan jika terbenam).

Sedangkan lafazh an-Nasa-i berbunyi:
ta’awwadzii billaahi ming syarri haadzaa, fa-inna haadzal ghaasiqa idzaa waqaba (berlindunglah kepada Allah dari kejahatan ini, karena sesungguhnya ini adalah bulan jika terbenam).

Pemegang pendapat pertama menyatakan bahwa bulan merupakan satu tanda malam jika telah masuk. Dan itu tidak bertentangan dengan pendapat kami, karena bulan merupakan tanda malam dan tidak memiliki kekuasaan kecuali pada malam hari. Demikian juga bintang-bintang yang tidak akan bersinar kecuali pada malam hari, dan ia kembali kepada apa yang telah kami kemukakan. Wallaahu a’lam.

Dan firman Allah Ta’ala: waming syarrin naf-faa-tsaati fil’uqad (dan dari kejahatan wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul). Muhahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, dan adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni tukang sihir.” Mujahid mengatakan: “Yaitu ketika wanita-wanita itu membaca mantra dan menghembuskan pada buhul.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dia berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih dekat dengan kemusyrikan melebihi jampi ular dan orang gila.”

Di dalam hadits lain disebutkan bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi saw., lalu bertanya: “Apakah engkau merasa sakit hai Muhammad?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu Jibril mengucapkan: bismillaahi arqiika ming kulli daa-in yu’dziika wa ming syarri haasidin wa ‘ainin, allaahu yasyfiik (dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang dengki dan mata yang hasad. Dan Allah akan menyembuhkanmu).

Mungkin yang demikian itu akibat keluhan yang dirasakan oleh Rasulullah saw.. Ketika beliau terkena sihir, Allah Ta’ala dengan segera menyehatkan dan menyembuhkan beliau serta menyerang balik tipu muslihat para penyihir yang dengki dari kalangan orang-orang Yahudi kepada tokoh-tokoh mereka semua. Dan Dia jadikan kehancuran mereka melalui perbuatan mereka itu sekaligus mempermalukan mereka. Tetapi dengan demikian, Rasulullah saw. tidak bersikap buruk terhadap orang tersebut suatu waktu, tetapi cukuplah Allah yang menjadi pelindung, menyembuhkan sekaligus menyehatkan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab ath-Thibb dalam Shahih-nya, dari ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah kena disihir, dimana beliau melihat seakan-akan mendatangi beberapa orang istri padahal beliau tidak mendatangi mereka. Sufyan mengatakan: ‘Ini merupakan sihir yang paling parah, jika keadaannya seperti itu.’ Kemudian Beliau bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memfatwakan kepadaku mengenai sesuatu yang dulu engkau pernah meminta fatwa tentangnya? Aku telah didatangi oleh dua orang [malaikat], lalu salah seorang di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya dekat kakiku. Kemudian yang duduk dekat kepalaku berkata: ‘Apa yang dialami oleh orang ini?’ Yang lainnya menjawab: ‘Dia terkena sihir.’ ‘Lalu siapa yang menyihirnya?’ tanyanya lebih lenjut. Dia menjawab: ‘Labid bin A’sham, seorang dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi, yang dia seorang munafik.’ Dia bertanya: ‘Dalam wujud apa sihir itu?’ Dia menjawab: ‘Pada sisir dan bekas rontokan rambut.’ ‘Lalu dimana semuanya itu berada?’ tanya temannya. Dia menjawab: ‘Di kulit mayang kurma jantan di bawah dasar sumur Dzarwan.’” ‘Aisyah berkata melanjutkan perkataannya: “Kemudian Rasulullah saw. mendatangi sumur itu dan mengeluarkan sihir tersebut. Selanjutnya beliau bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, inilah sumur yang pernah diperlihatkan kepadaku, seakan-akan airnya adalah celupan pacar, dan pohon kurmanya seperti kepala syaitan.’” Dan perawi hadits ini berkata: “Kemudian beliau mengeluarkannya.” Dan diriwayatkan pula oleh Muslim

 

TAFSIR SURAT AL-FALAQ Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Firman Allah.

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِِ
Bismillahirrahmaanirrahiim

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Ayat (1)

Artinya : Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh” [Al-Falaq : 1]

Rabb Falaq adalah Allah. Al-Falaq maknanya subuh. Boleh juga dengan makna lebih umum, yaitu setiap apa yang dimunculkan Allah pada pagi hari, seperti subuh, biji buah-buahan dan biji tumbuh-tumbuhan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan” [Al-An’am : 95]

Dan firmanNya.

“Artinya : Dia menyingsingkan pagi” [Al-An’am : 96]

 

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Ayat (2)
Artinya : Dari kejahatan makhluknya” [Al-Falaq : 2]

Yaitu dari kejahatan seluruh makhlukNya hingga kejahatan dirinya sendiri. Karena nafsu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat. Jika engkau katakan, dari kajahatan makhluk-Nya, maka engkau adalah orang pertama yang termasuk di dalamnya. Sebagaimana yang tertera dalam khutbah hajah.

“Artinya : Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami” [1]

FirmanNya “ Min syarri maa kholaq” mencakup setan dari golongan jin dan manusia dan kejahatan lain-lain.

 

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Ayat (3)
Artinya : Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita” [Al-Falaq : 3]

Dikatakan arti ‘al-ghasiq’ ialah malam, dan dikatakan juga artinya bulan. Yang shahih adalah bahwa ‘al-ghasiq’ mencakup kedua makna. Adapun ‘al-ghasiq’ artinya malam karena Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dirikan shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” [Al-Israa : 78]

Pada malam hari banyak kejahatan dan binatang buas berkeliaran. Oleh karena itu, dipinta perlindungan dari kejahatan al-ghasiq, yaitu malam.

Al-ghasiq dengan arti bulan terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu ketika beliau menunjukkan bulan kepada ‘Aisyah seraya bersabda.

“Artinya : Inilah yang disebut al-ghasiq” [2]

Bulan dikatakan ghasiq karena cahayanya muncul di malam hari.

“Wa min syarri ghasiqin idzaa wa qab” athaf kepada “ min syarri maa kholaq” yang termasuk dalam bab, athaf khusus kepada yang umum. Karena ghasiq termasuk makhluk Allah Azza wa Jalla. Adapun firman Allah “ Idza wa qab” yakni, jika menjelang. Malam jika datang menjelang disebut ghasiq begitu juga bulan jika bersinar cerah disebut ghasiq. Ini semua terjadi pada malam hari.

 

 

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Ayat (4)
Artinya : Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” [Al-Falaq : 4]

“An-Naffaatsaati fii al-uqad” yaitu para tukang sihir yang mangikat tali dan lain-lain, kemudian menghembusnya sambil membacakan mantera-mantera yang terdiri dari nama-nama syetan. Ia menghembus setiap buhul yang ia ikat. Demikianlah ia lakukan berulang-ulang. Tukang sihir yang tercela ini menginginkan orang tertentu agar sihirnya mengenai orang tersebut. Allah menyebut ‘naffaatsaat’ (bentuk perempuan) tidak ‘naffaatsiin’ (bentuk lelaki). Karena kebanyakan yang melakukan jenis sihir ini adalah wanita. Oleh karena itu, Allah menyebutkan“An-Naffaatsaati fii al-uqad” . Dan kemungkinan juga maksud dari An-Naffaatsat ialah hembusannya, yang berarti mencakup pria dan wanita.

 

 

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Ayat (5)

Artinya : Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” [Al-Falaq : 5]

Al-Hasid ialah seorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah. Jika seseorang mendapat nikmat berupa harta, kedudukan, ilmu dan lain-lain, dada mereka terasa sesak sehingga muncul sikap iri tersebut. Al-Hassad (orang-orang yang mempunyai sifat dengki) ini terbagi menjadi dua :

Seseorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah, tetapi ia tidak berbuat apa-apa terhadap orang tersebut. Kamu akan lihat dia seperti orang yang terkena demam panas jika melihat orang lain mendapat nikmat, tetapi ia tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap orang tersebut.

Kejahatan dan bala’ ada pada orang yang dengki bila ia bertindak. Oleh karena itu, Allah berfirman “idzaa hasad” artinya jika ia dengki.

Di antara tindakan orang yang dengki ialah ‘Ain yang mengenai seseorang . yaitu, orang ini benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah, ia merasakan sesuatu terjadi pada dirinya jika si fulan mendapat nikmat, pada saat itu keluar dari dirinya sesuatu yang jelek (yang sulit untuk diungkapkan), kemudian ia kenai si fulan dengan ‘ain tersebut. Akibatnya, bisa menyebabkan kematian, sakit atau gila. Terkadang orang hasid ini dapat menghentikan mesin, atau merusak kendaraan atau tiba-tiba mogok, dapat merusak pompa air atau penjaga kebun. ‘Ain itu benar adanya dapat menimpa orang lain dengan izin Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla menyebutkan : Jika malam telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul, orang yang dengki apabila ia dengki, katiga bencana ini terjadi secara tersembunyi.

Malam adalah tirai atau penutup ‘wa al-alayli idzaa yagsyaa”., “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”. Kejahatan yang tidak diketahui terjadi pada saat ini.

“An-naffaatsaati fii al-uqad” ialah sihir yang tersembunyi yang tidak diketahui. “haasidin idzaa hasad” ialah ‘ain yang juga tersembunyi. Boleh jadi ‘ain itu berasal dari orang yang menurut perkiraanmu dialah orang yang paling kamu cintai dan kamulah orang yang paling kamu cintai. Namun ternyata, ia sendiri yang telah menimpakan ‘ain kepadamu. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan tiga hal ini, mala jika telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul dan orang yang dengki apabila ia dengki. Kesemuanya itu termasuk dalam firmanNya “ min syarri maa kholaq”. “dari kejahatan makhlukNya”.

Jika seseorang berkata : Bagaimana cara menanggulangi tiga kejahatan tersebut ? Kita katakana : Cara menanggulanginya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah Ta’ala. Menyerahkan semua perkara kepadaNya, bertawakkal kepadaNya, selalu membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk membentengi dan menjaga dirinya dari kejahatan mereka.

Akhir-akhir ini, banyak yang menjadi korban ilmu-ilmu sihir, pendengki-pendengki dan yang semisalnya. Karena manusia lalai dari mengingat Allah, melemahnya rasa tawakkal, terlalu sedikit membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagai pembenteng diri. Sementara kita sudah ketahui bahwa dzikir tersebut merupakan benteng diri yang sangat kokoh, lebih kokoh dari tembok Ya’juj dan Ma’juj. Akan tetapi sangat disayangkan, banyak yang tidak mengetahui dzikir tersebut ; ada yang mengetahuinya tetapi tidak melaksanakannya, dan ada yang membaca tetapi dengan hati yang lalai. Semua ini adalah suatu kekurangan. Jika orang-orang membaca dzikir-dzikir yang ada dasarnya di dalam syari’at, niscaya akan selamat dari kejahatan tersebut. Kita memohon kepada Allah agar diberi kesehatan dan keselamatan.

 

Tafsir Surah Al-Falaq Dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir, karya Musthafa Al-Adawi hafizhahullah

Sejumlah ulama mengatakan, “Al-falaq” adalah subuh, ini seperti firman Allah Ta’ala, “Dia menyingsingkan waktu subuh.” (Al-An’am: 96) Ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah makhluk,” dan ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah sebuah rumah di dalam Jahannam. Jika pintu rumah ini dibuka, maka semua penghuni neraka akan berteriak karena sangat panasnya.” Ibnu Jarir berkata, “Yang paling benar adalah pendapat yang pertama, bahwa al-falaq adalah subuh.”Inilah pendapat yang paling benar.

Firman Allah Ta’ala, “Dari kejahatan makhluk-Nya,” yakni: Dari kejelekan seluruh makhluk.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Ada yang mengatakan, “Kejahatan malam jika telah gelap gulita.” Az-Zuhri berkata, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” yaitu matahari jika dia tenggelam.

Dari Abu Salamah dia berkata, “Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memegang tanganku, lalu beliau memperlihatkan kepadaku bulan ketika munculnya. Kemudian beliau bersabda, “Berlindunglah kamu kepada Allah dari kejelekan bulan ini jika dia terbenam.”

Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama mengatakan,“Yaitu tanda masuknya malam adalah jika bulan sudah muncul.”Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat kami, karena bulan adalah tanda masuknya malam. Bulan tidak mempunyai peranan apa-apa kecuali di malam hari, sebagaimana bintang-bintang juga tidak bisa bersinar kecuali di malam hari, sehingga hal ini kembalinya kepada apa yang telah kami jelaskan, wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” yakni: Para penyihir wanita jika mereka membaca mantra dan meniup pada buhul-buhul. Dalam sebuah hadits, bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata, “Apakah kamu merasa sakit ya Muhammad?” beliau menjawab, “Ya.” Maka Jibril berkata, “Bismillah, aku meruqyah kamu dari setiap penyakit yang mengganggumu, serta dari kejelekan semua orang yang hasad dan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu.” Mungkin saja hal ini akibat dari keluhan yang beliau u rasakan tatkala beliau disihir, kemudian Allah Ta’ala memberikan kesehatan dan menyembuhkan beliau, dan mempermalukan mereka (orang-orang Yahudi). Akan tetapi bersamaan dengan itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah sekali pun menghardiknya, bahkan cukuplah Allah yang menyembuhkan dan yang memberikan kesehatan.

Dari Aisyah dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah tersihir sampai-sampai beliau mengira diri beliau mendatangi istri-istri beliau padahal beliau tidak pernah mendatangi mereka. Maka beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberitahuku apa yang saya bertanya tentangnya kepada-Nya? Ada dua orang yang mendatangiku, lalu salah satunya duduk di atas kepalaku dan yang lainnya duduk di kakiku. Maka yang berada di atas kepalaku berkata kepada yang lainnya, “Ada apa dengan laki-laki ini?” dia menjawab, “Terkena sihir.” Dia berkata, “Siapa yang menyihirnya?” dia menjawab, “Labid bin A’sham -salah seorang dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi, dia adalah seorang munafiq- Dia berkata, “Dengan apa?” dia menjawab, “Pada sihir dan rambut yang rontok.” Dia berkata, “Dimana?” dia menjawab, “Di dalam kulit mayang korma jantan di dalam sumur Dzarwan.” Aisyah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian mendatangi sumur tersebut sampai akhirnya beliau mengeluarkannya dari sumur. Beliau berkata, “Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku. Airnya seperti celupan pacar, dan kormanya seperti kepala-kepala setan.” Aisyah berkata, “Maka benda itupun dikeluarkan.” Saya (Aisyah) berkata, “Tidakkah engkau …?”maksudnya: Apakah engkau melakukan nusyrah? Beliau menjawab,“Sungguh Allah telah menyembuhkan aku, dan saya tidak senang untuk memberikan kejelekan kepada seorang pun dari manusia.”

 

Keutamaan Membaca Surah Al-Falaq

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidakkah engkau melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak diketahui ada ayat-ayat yang semisal ini sama sekali. “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.[1]“

Dari Uqbah bin Amir[2] dia berkata:

“Suatu ketika saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pada sebuah rombongan dari rombongan-rombongan yang ada. Tiba-tiba beliau bersabda kepadaku, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” akan tetapi saya menghormati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga saya tidak naik ke tunggangan beliau. Beliau kembali berkata, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” Maka akhirnya saya khawatir kalau-kalau penolakan saya ini merupakan maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian turun dan saya yang menaiki tunggangan beliau ???, kemudian beliau menaiki tunggangannya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Uqbah, maukah kamu saya ajarkan dua surah di antara dua surah terbaik yang dibaca oleh manusia?” Saya menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau membacakan kepadaku “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.” Kemudian shalat ditegakkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju mengimami kami dan membaca kedua surah ini. Setelah selesai, beliau melewatiku seraya bersabda, “Bagaimana pendapatmu wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap kali kamu mau tidur dan setiap kali kamu bangun dari tidur.”

Dari Uqbah bin Amir dia berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan saya untuk membaca surah-surah perlindungan di akhir setiap shalat.[3]“

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu beliau bersabda, “Wahai Uqbah, bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang saya baca?” lalu beliau diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian beliau bersabda, “Bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang harus saya baca, wahai Rasulullah?” lalu beliau diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Saya berkata, “Ya Allah, buatlah beliau mengulang pertanyaanya kepadaku.” Maka beliau bersabda, “Wahai Uqbah, bacalah!” Saya bertanya, “Apa yang harus saya baca, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” maka saya pun membacanya sampai akhir surah. Kemudian beliau berkata lagi, “Bacalah,” saya bertanya, “Apa yang harus saya baca wahai Rasulullah?” beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia,” maka saya pun membacanya sampai akhir surah. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang yang meminta pernah meminta dengan permintaan yang semisalnya, dan tidaklah seorang yang meminta perlindungan pernah meminta perlindungan dengan yang semisalnya.[4]“

Hadist Aisyah[5] telah berlalu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering membaca ketiga surah ini, meniupkannya ke kedua telapak tangan beliau, lalu beliau mengusap kepala, wajah, dan apa yang dia sanggupi dari bagian tubuhnya dengannya.

Juga dari Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika beliau merasa sakit, beliau meruqyah diri beliau sendiri dengan membaca kedua surah perlindungan ini, lalu beliau meniupkannya. Tatkala penyakit beliau bertambah parah, saya yang meruqyah beliau dengan kedua surah perlindungan ini, lalu saya mengusapkan kedua tangan beliau padanya untuk mengharap berkahnya.

[Shahih Tafsir Ibni Katsir karya Musthafa Al-Adawi hafizhahullah]

[1] HR. Muslim (814)

[2] Shahih dengan seluruh pendukungnya. Lihat Sunan An-Nasa`i(8/250, 251, 252)

[3] Hasan. HR. Abu Daud (2/181) dan An-Nasa`i (3/69)

[4] Sanadnya hasan. HR. An-Nasa`i (8/253)

[5] Shahih, dan haditsnya telah berlalu.

 

Surah al falaq, tafsir surah al falaq, surat al falaq, tafsir surat al falaq, surah al falaq dan artinya, surat al falaq latin dan artinya, surah al falaq dan terjemahannya, surat al falaq dan an nas, surat al falaq diturunkan di kota, surat al falaq dan artinya per kata, surat al falaq beserta tahwidnya, surat al falaq diturunkan di, tafsir surat al falaq ibnu katsir, tafsir al qur’an surat al falaq, tafsir quran surat al falaq, tafsir jalalain surat al falaq, tafsir surat al falaq dan annas

=======================================================================

PAKET UMROH PROMO JANUARI MARET 2016

BIAYA $1.500 + Rp1 Juta Perlengkapan

INFO ; H SUDJONO AF 081388097656 | BB 2315A7C3

=======================================================================

Paket Umroh Murah Januari 2016, Paket Umroh Murah Februari 2016, Paket Umroh Murah Maret 2016, Umroh Januari, Umroh Februari, Umroh Maret

Similar Posts:

By |2015-11-24T10:18:44+00:00November 24th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment