Tahun Baru Hijriah dan Anjuran Shaum Tanggal 9,10,11 Bulan Muharram

Tahun Baru Hijriah dan Anjuran Shaum Tanggal 9,10,11 Bulan Muharram

Puasa atau shaum tanggal 9 dan 10 Muharram disebut juga Shaum Tasu’a ‘Asyura. Shaum Tasu’a ‘Asyura adalah sunnah yang tidak boleh diabaikan, sebab sabda Nabi saw: Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan umatku.

======================================================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH DESEMBER 2015 BIAYA $1.580

UMROH MURAH JANUARI – MARET 2016 BIAYA $1.550

HUBUNGI: H SUDJONO AF 0813 88097656 | bb 2315A7C3

=====================================================================

Uniknya sabda Nabi saw diatas ditunjukan kepada tiga orang sahabat yang berencana menambah ibadah; shalat tahajjud semalam suntuk, shaum berhari-hari tanpa sahur-buka, dan hidup tidak membujang tidak menikah. Lalu Nabi saw melarangnya dengan bersabda:

                          Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan umatku.

Sebab Nabi saw shalat tahajjud dan tidur, shaum dan buka, juga menikah (shahih al-Bukhari bab at-targhib fin-nikah no.5063). Artinya, mereka yang terlalu kreatif menambah ibadah, pasti abai dari sunnah Nabi saw yang sebenarnya. Tengok saja misalnya di setiap awal muharram; ada suroan di jawa, tabut di sumatera, asyura di Iran dan komunitas Syi’ah lainya, dzikir berjamaah di berbagai tempat, mabit, jalan sehat, pawai muharram, dan lainnya. Tetapi sunnah Nabi saw yang sebenarnya dalam muharram; shaum Tasu’a ‘Asyura, nyaris diabaikan.

Tasu’a artinya sembilan, sementara ‘Asyura artinya sepuluh. Maksudnya, shaum pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Pahala shaum ini akan mengahapus dosa setahun yang lalu. Sabda Nabi saw:

Shaum ‘Asyura yang diniatkan mengharap ridha Allah akan menghapus dosa setahun yang lalu (Shahih Muslim kitab as-shiyam no. 2803).

Meski dalam hadits diatas hanya disebutkan ‘asyura (10 Muharram), tetapi tasu’a (9 Muharram) pun termasuk, karena pengamalannya satu paket. Al-Hakam ibn al-A’raj pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas:

Beritahukanlah kepadaku tentang shaum ‘Asyura.” Ibn ‘Abbas menjawab: “Jika kamu melihat hilal Muharram, maka bersiaplah, dan bershaumlah di waktu subuh hari kesembilan.” Aku bertanya: “Seperti itukah Rasulullah saw melaksanakan shaumnya?” Ibn ‘Abbas menjawab: “Ya.” (Shahih Muslim bab ayyi yaum yushamu fi’asyura no. 2720).

Petunjuk amaliah shaum Tasu’a-‘Asyura seperti diberitahukan Ibn ‘Abbas ini bukan berarti pernah dilaksanakan Rasul saw secara langsung, melainkan hanya diperintahkan dan dianjurkan, karena beliau saw terlebih dahulu wafat. Ibn ‘Abbas dalam Riwayat lain menjelaskan: Ketika Rasulullah saw shaum pada hati ‘Asyura dan memerintahkan shaum tersebut, para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura itu hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani!?” Rasul saaw menjawab: “Jika datang tahun depan, insyaallah kita akan shaum dari sejak hari ke-9(tasu’a).” Kata Ibn ‘Abbas: Belum juga tahun depan datang, Rasulullah saw sudah wafat terlebih dahulu (Shahih Muslim no. 2722).

Berdasarkan hadits ini maka para ulama mengategorikan shaum Tasu’a pada sunnah hammiyyah; sunnah yang baru ditekadkan. Artinya walau belum pernah dilaksanakan oleh Nabi saw, tapi karena sudah di tekadkan (hamm) dan seandainya tidak wafat akan dilaksanakan, maka kedudukan sebagai sunnah yang harus diteladani. Jadi jangan hanya tanggal 10-nya saja, tetapi juga dengan tanggal 9-nya. Kecuali jika ada halangan seperti sakit, boleh tanggal 9-nya saja, 10-nya saja, atau tidak dua-duanya. Dan kalau sengaja meninggalkan kedua-duanya meski mampu, berarti itu orang sakit (sakit imannya)

Dalam Musnad Ahmad terdapat riwayat yang menegaskan  agar shaum ‘Asyura itu disertai shaum sehari sebelumnya (tanggal 9) atau sehari sesudahnya(tanggal 11) demi menyalahi orang yahudi:

Shaumlah pada hari ‘Asyura, dan berbedalah dengan Yahudi. Shaulah kalian sebelumnya satu hari atau sesudahnya satu hari. (Musnad Ahmad, musnad ‘Abdillah Ibn ‘Abbas no. 2191).

                Akan tetapi menurut al-Hafizh al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz-Zawa’id, Hadits ini dalam sanadnya terdapat rawi bernama Muhammad Ibn Abi Laila yang fihi kalam; statusnya dipersonalkan (bab as-shaum qabla yaum ‘Asyura wa ba’dahu). Atau dengan kata lain dla’if. Jadi yang sunnah hanya 9 dan 10 Muharram.

Larangan Ber-Tasyabuh Dalam Peringatan Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram.

 

Pengajian Memperingati 1 Muharram

Pengajian Memperingati 1 Muharram

           Tasyabbuh artinya menyerupai. Maksudnya menyerupai, menandingi atau mengekor ritual, perayaan, dan hal-hal terkait ajaran kaum selain islam. Umat Islam hari ini banyak yang menyakini bahwa untuk meninggikan derajat Islam, ritual-ritual tertentu harus diselenggarakan demi menandingi umat non-Islam. padahal nyatanya, Nabi saw justru melarang keras umatnya untuk melakukan hal tersebut karena termasuk tasyabbuh.

Sebuah hadits yang cukup populer di telinga masyarakat muslim sebenarnya telah mengingatkan kita semua tentang larangan Tasyabbuh ini. Nabi saw bersabda:

Siapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum mereka (Sunan Abi Dawud kitab al-libas bab fi labsis-syuhrah no. 4033. Al-Hafizh Ibn Hajar dan al-Albani menilai hadits ini hasan)

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah dalam kitabnya, Iqtidla’us-Shirathil-Mustaqim, sebagaimana dikutip Imam al-‘Azhim Abadi dalam kitab ‘Aunul-Ma’bud menjelaskan bahwa hadits ini menyiratkan haramnya tasyabbuh dengan orang kafir. Imam Ahmad Ibn Taimiyyah semakna dengan firman Allah swt:

Hai orang-orang yang beriman, jangalah jadikan orang-orang yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali (orang yang dekat dan dicintai); sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang0orang zhalim (QS. al-Ma’idah [5] : 51).

Shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr, dalam hal ini juga memberikan penjelasan sebagai berikut:

Siapa yang membangun rumah di negeri orang-orang musyrik, turut terlibat dalam perayaan Nairuz dan Mihrajan mereka, dan bertasyabbuh dengan mereka sampai ia meninggal, maka kelak akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat (‘Aunul-Ma’bud kitab al-libas bab fi labsis-syuhrah).

Penilaian ‘Abdullah ibn ‘Amr diatas  menyiratkan disamakannya orang muslim yang tasyabbuh dengan orang kafir sebagai bagian dari orang kafir di hari kiamat nanti. Tentunya jika tasyabbuh tersebut menyeluruh sehingga berstatus kafir mutlak. Jika hanya sebagian, maka berarti kekufurannya pun hanya sebagian, dan tidak sampai kafir mutlak.

Peryataan ibn Taimiyyah “menyiaratkan” (terjemah dari aqallu ahwalihi) terkait hadits diatas dilatari pemahaman bahwa memang tidak mutlak hadits ini berlaku hanya pada yang tasyabbuh dengan orang kafir saja. Maknanya tetap umum, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama syarah hadits. Termasuk orang yang menyerupai orang shalih, maka ia termasuk orang shalih. Atau lelaki yang menyerupai wanita, atau sebaliknya, berarti ia termasuk bagian dari mereka. dalam hal ini Nabi saw bersabda:

Tidak termasuk golongan kami (muslim) wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita (Musnad Ahmad bab Musnad ‘Abdillah ibn ‘Amr no. 6785. Syu’aib al-Arnauth: hadits shahih).

Hanya terkait tasyabbuh dengan orang kafir, Nabi saw lebih tegas lagi mengingatkan:

Tidak termasuk bagian umat kami orang yang tasyabbuh dengan umat selain kamu. Maka dari itu janganlah kalian tasyabbuh dengan Yahudi dan Nashara/Kristen. Sungguh salamnya yahudi itu dengan isyiarat jari, sedang salamnya orang nashara/kristen dengan isyarat telapak tangan (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja’afi karahiyah isyaratil-yad bis-salam no.2695.

Maksud hadits ini salam harus diucapkan jangan hanya isyarat tangan atau telunjuk, sebab itu tasyabbuh dengan yahudi dan kristen. Secara umum di bagian awal hadits ini Nabi saw mengancam siapa saja yang menyerupai yahudi-kristen sebagai bukan bagian umat Nabi saw).

“Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelummu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga walau mereka masuk lubang biawak sekalinyapun kamu akan mengikutinya juga.” Kemudian Rasulullah saw ditanya: “Apakah yang dimaksud itu jalan kaum Yahudi dan  Nashrani?” Jawab Rasul: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiyylatattabi’unna sanana man kana qablakum no. 7320; Shahih Muslim bab ittiba’sunan al-yahud wan-nashara no. 6952. Maksud hadits ini, jika umat islam mengikuti ritual, peribadatan, dan cara hidup yang berdasarkan ajaran Yahudi-Kristen, maka pasti umat Islam akan sesat dan binasa seperti Yahudi-Kristen).

Dari hadits-hadits diatas bisa diketahui juga bahwa tasyabbuh itu dalam hal yang terkait ajaran, aqidah dan peribadatan Yahudi dan Kristen. Jadi kalu seorang muslim menyerupai orang barat dalam hal memakai HP, komputer, mobil, pakaian kemeja, jas berdasi, dan semacamnya, itu tidak termasuk tasyabbuh, sebab yang disebutkan tersebut tidak ada kaitannya dengan aqidah dan peribadatan Yahudi-Kristen. Itu murni duniawi yang netral dari aqidah dan peribadatan. Sementara perayaan tahun baru, kelahiran tokoh, ulang tahun, dan semacamnya itu termasuk tasyabbuh sebab perayaan tersebut terkait ajaran dan aqidah.

Perihal Nairuz dan Mihrajan yang disebutkan shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr diatas, maksudnya adalah perayaan jahiliyyah. Hari Nairuz adalah hari pertama dalam perhitungan tahun bangsa arab yang diukurkan ketika matahari berada pada titik bintang haml/aries. Hari Nairuz dalam perhitungan tahun Matahari versi bangsa arab sama dengan hari pertama muharram dalam tahun berdasarkan bulan (Hijriah). Merayakan hari Nairuz artinya merayakan tahun baru matahari (Masehi).

Sementara hari mihrajan adalah hari pertengahan tahun, tepatnya ketika matahari berada pada titik bintang mizan/gemini diawal musim semi, pertengahan antara musim dingin dan panas(‘Aunul-Ma’bud bab shalatil-‘idain). Dua hari raya inilah yang dijelaskan oleh para ulama syarah hadits yang dilarang keras oleh Nabi Muhammad saw dalam hadits berikut ini:

Dari Anas, ia berkata: ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, penduduknya mempunyai dua hari yang biasa dirayakan (Nairuz dan Mihrajan). Tanya Rasul saw: “Ada apa dengan dua hari itu?” Mereka menjawab “Kami sudah biasa merayakannya sejak zaman jahiliyyah.” Sabda Rasul saw: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari Adlha dan hari Fithri.” (Sunan Abi Dawud kitab shalat al-‘idain no.1136 dan Sunan an-Nasa ‘i kitab shalat al-‘idain no.1567).

Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa perayaan tahun baru masehi adalah perayaan jahiliyyah yang harus  ditinggalkan, bukan diikuti meski dengan kemasan yang agak berbeda. Hadits ini juga hanya membatasi dua hari yang boleh dirayakan hanya pada ‘Idul-Fithri dan ‘Idul Adlha saja. Jika dikaitkan dengan hadits tasyabbuh dan penjelasan dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr sebagaimana telah dikutip diatas, maka segala bentuk upaya yang faktanya tasyabbuh dengan perayaan tahun baru masehi tersebut hukumnya berarti haram, dan status keberagamaan mereka sudah sama dengan orang-orang non-Muslim, meski tidak sampai kafir mutlak.

Sebab faktanya, meski niatnya meninggalkan syi’ar Islam melalui perayaan tahun baru Islam, caranya jelas salah ditinjau dari dua hal: Pertama, perayaan tahun baru Hijriah tersebut murni perayaan tahun baru, dan dan tidak ada kaitannya dengan hijrah. Sebab hijrah Rasulullah saw terjadi pada tanggal 22-12 Rabi’ul-Awwal tahun 13 bi’tsah//kenabian, bukan pada awal bulan Muharram (Ramadlan al-Buthi, Fiqhus-Sirah, hlm. 176). Jadi seandainya dibolehkan, merayakan hijrah nanti di bulan Rabi’ul-Awwal, bukan Muharram. Maka dari itu merayakan tahun baru Hijriah motifnya pasti murni merayakan tahun baru, bukan mengagungkan ajaran hijrahnya.

Kedua, tahun baru hijriah tidak tepat disebut tahun baru Islam, sebab sebelum Islam datang pun tahun yang berdasarkan perhitungan bulan tersebut sudah digunakan oleh masyarakat jahiliyyah. Kalaupun umat Islam memakainya, itu berdasarkan titah Allah swt dalam QS. at-Taubah [9] :36-37 untuk merujukkan tahun pada peredaran bulan juga hadits-hadits Nabi saw yang memerintahkan ibadah dirujukkan pada hilal (bulan sabit).

Akan tetapi penentuan Muharram sebagai bulan yang pertama dalam satu tahun kalender, itu tidak ada ajarannya dari Nabi saw. Muharram sebagai bulan pertama dari satu tahun kalender itu sudah ada sejak dari zaman jahiliyyah yang kemudian diresmikan penggunaannya oleh Khalifah ‘Umar ibn al-Khathab pasca wafatnya Nabi saw(Tarikh at-Thabari 2: 569).

Jadi pastinya tidak ada tuntunan dari Nabi saw bahwa awal muharram harus diistimewakan sebagai hari pertama tahun baru. Dalam ajaran Islam, hari pertama bulan Muharram sama saja dengan hari pertama bulan shafar, Rabi’ul Awwal, dan bulan lainnya yang tidak ada tuntunan perayaan atau ibadah, selain awal bulan Ramadhan dan Syawwal.

Melalui hadits larangan tasyabbuhdiatas, Nabi saw sebenarnya sudah mengajarkan umatnya agar tidak mempunyai mental pengekor dan inferior yang selalu merasa minder, terbelakang, dan kalah jika tidak bisa menyamai orang-orang  non-Islam. untuk menjadikan Islam lebih tinggi diatas non-Islam tidak perlu menempuh cara-cara yang sama (tasyabbuh) dengan yang telah ditempuh oleh non-Islam.

Bahkan semestinya, hadits Nabi saw di atas yang ketika hijrah ke madinah melarang umat Islam merayakan perayaan jahiliyyah Nairuz dan Mihrajan, dijadikan pedoman oleh umat Islam untuk berhijrah secara paripurna dengan melepaskan semua atribut budaya non-Islam yang jahiliyyah, seperti dicontohkan Nabi saw di atas, bukan malah mentrasfernya pada agama Islam alias Tasyabbuh.

Wal-‘Llahu a’alam.

(Nashruddin Syarief, Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor)

======================================================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH DESEMBER 2015 BIAYA $1.580

UMROH MURAH JANUARI – MARET 2016 BIAYA $1.550

HUBUNGI: H SUDJONO AF 0813 88097656 | bb 2315A7C3

=====================================================================

Similar Posts:

By |2015-10-21T11:36:51+00:00October 21st, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment