Talbiyah Mengangungkan Asma Allah Selama Umroh

 

Talbiyah, perkataan itulah yang menjadi syiar para jamaah haji dan mu’tamirin saat datang ke kota Makkah. Kata “talbiyah” diambil dari kata “alabba bil makaani”, yang berarti menetap di suatu tempat. Jadi, seorang mulabbi (orang yang bertalbiyah) ketika ia melantunkan lafad talbiyah ini, seakan-akan ia menampakkan keteguhannya dalam berbuat ketaatan kepada Allah. Tetapi, benarkah setiap mulabbi mengerjakan ketaatan kepadaNya?!

Inilah Lafad Talbiyah: Labbaik Allahumma Labbaik (Ya Allah Saya Penuhi  PanggilanMu)

Talbiyah, perkataan itulah yang menjadi syiar para jamaah haji dan mu’tamirin saat datang ke kota Makkah. Kata “talbiyah” diambil dari kata “alabba bil makaani”, yang berarti menetap di suatu tempat. Jadi, seorang mulabbi (orang yang bertalbiyah) ketika ia melantunkan lafad talbiyah ini, seakan-akan ia menampakkan keteguhannya dalam berbuat ketaatan kepada Allah. Tetapi, benarkah setiap mulabbi mengerjakan ketaatan kepadaNya?!

Apakah mulabbi tadi seorang senantiasa menjalankan tauhid, menjauhi segala bentuk syirik, selalu berpegang kepada sunah Nabi, meninggalkan segala macam kebid’ahan, selalu mengerjakan ketaatan dan meninggalkan maksiat…?

Ataukah talbiyah yang ia ucapkan hanya sekedar omong kosong yang seluruh anggota tubuh menyalahi ucapan tersebut, atau bahkan merusakkannya dengan noda dan kotoran?!

Ketauhilah! Seorang jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah, sebenarnya ia telah menyambut dengan penuh lapang dada segala perintah Allah dan Rasul yang dibebankan padanya. Hal ini sesuai firman Allah yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.” (QS. Al-Anfal: 24)

Wahai jamaah haji! Apakah anda sudah memenuhi panggilan Allah dalam segala urusan anda?

Apakah anda telah menjawab seruan Allah dengan mengikhlaskan ibadah semata kepada Allah dan tidak menyekutukanNya? Apakah anda sudah memenuhi segala seruan Allah, berupa shalat, zakat, puasa sebagaimana anda telah memenuhi haji dan umrah kepadaNya?!

Sesungguhnya talbiyah adalah syiar dan lambang khas para muwahhid, yang benar-benar jujur dalam perkataannya. Mereka menyatakan tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, Dzat yang tiada sekutu bagiNya. Labbaik laa syariika laka labbaik….” Aku memenuhi panggilanMu, wahai Allah. Tiada sekutu bagiMu…”

Mestinya setiap yang melantunkan talbiyah ini, hati mereka tidak bergantung kecuali kepada Allah. Tidak memohon, selain kepada Allah. Tidak meminta keperluannya, kecuali kepada Allah. Tidak beristighasah, kecuali kepada Allah. Tidak bernadzar dan tidak berdoa, kecuali hanya kepada Allah.

Juga tidak bertawassul, kecuali dengan cara yang disyariatkan kepada mereka. Bertawassul dengan nama-nama Allah yang mulia (Asma’ul Husna) dan sifat-sifatNya yang agung, atau dengan amal-amal shalih, atau dengan doa seorang shalih yang masih hidup. Mereka tidak datang ke kuburan, ke para wali, atau kepada orang-orang shalih yang sudah mati untuk bertawwassul kepada mereka dan menjadikannya sebagai perantara. Itulah yang dimaksud dengan ‘at-tauhid al-khalish’, tauhid murni yang tidak dicampuri dengan noda syirik sedikitpun.

Memang, talbiyah adalah syiar setiap mukmin yang shadiq (jujur) dalam perkataan, kemudian mempraktikannya dalam amalan seperti yang ia katakan. Dialah yang tak menyambut panggilan apapun kecuali panggilan Allah dan RasulNya. Yang tidak mengarahkan bepergian (untuk beribadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Ia tak pernah mendatangi kubur-kubur, makam-makam, atau tempat-tempat keramat. Dan ia hanya menunjukkan segala amal perbuatannya untuk Allah semesta.

Apakah mulabbi tadi seorang senantiasa menjalankan tauhid, menjauhi segala bentuk syirik, selalu berpegang kepada sunah Nabi, meninggalkan segala macam kebid’ahan, selalu mengerjakan ketaatan dan meninggalkan maksiat…?

Ataukah talbiyah yang ia ucapkan hanya sekedar omong kosong yang seluruh anggota tubuh menyalahi ucapan tersebut, atau bahkan merusakkannya dengan noda dan kotoran?!

Ketauhilah! Seorang jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah, sebenarnya ia telah menyambut dengan penuh lapang dada segala perintah Allah dan Rasul yang dibebankan padanya. Hal ini sesuai firman Allah yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.” (QS. Al-Anfal: 24)

Wahai jamaah haji! Apakah anda sudah memenuhi panggilan Allah dalam segala urusan anda?

Apakah anda telah menjawab seruan Allah dengan mengikhlaskan ibadah semata kepada Allah dan tidak menyekutukanNya? Apakah anda sudah memenuhi segala seruan Allah, berupa shalat, zakat, puasa sebagaimana anda telah memenuhi haji dan umrah kepadaNya?!

Sesungguhnya talbiyah adalah syiar dan lambang khas para muwahhid, yang benar-benar jujur dalam perkataannya. Mereka menyatakan tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, Dzat yang tiada sekutu bagiNya. Labbaik laa syariika laka labbaik….” Aku memenuhi panggilanMu, wahai Allah. Tiada sekutu bagiMu…”

Mestinya setiap yang melantunkan talbiyah ini, hati mereka tidak bergantung kecuali kepada Allah. Tidak memohon, selain kepada Allah. Tidak meminta keperluannya, kecuali kepada Allah. Tidak beristighasah, kecuali kepada Allah. Tidak bernadzar dan tidak berdoa, kecuali hanya kepada Allah.

Juga tidak bertawassul, kecuali dengan cara yang disyariatkan kepada mereka. Bertawassul dengan nama-nama Allah yang mulia (Asma’ul Husna) dan sifat-sifatNya yang agung, atau dengan amal-amal shalih, atau dengan doa seorang shalih yang masih hidup. Mereka tidak datang ke kuburan, ke para wali, atau kepada orang-orang shalih yang sudah mati untuk bertawwassul kepada mereka dan menjadikannya sebagai perantara. Itulah yang dimaksud dengan ‘at-tauhid al-khalish’, tauhid murni yang tidak dicampuri dengan noda syirik sedikitpun.

Memang, talbiyah adalah syiar setiap mukmin yang shadiq (jujur) dalam perkataan, kemudian mempraktikannya dalam amalan seperti yang ia katakan. Dialah yang tak menyambut panggilan apapun kecuali panggilan Allah dan RasulNya. Yang tidak mengarahkan bepergian (untuk beribadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Ia tak pernah mendatangi kubur-kubur, makam-makam, atau tempat-tempat keramat. Dan ia hanya menunjukkan segala amal perbuatannya untuk Allah semesta.

Similar Posts:

By |2017-04-21T08:29:25+00:00April 26th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment