Umroh Murah November Desember Bogor 2017

Umroh Murah  November Desember Bogor 2017. Biaya hanya Rp18,5 Juta saja, Dengan Pembayaran Lunas Mei 2017. Nyaman dan Terpercaya Bersama Risalah Madina Travel. Info lengkap H. Sudjono AF – 081388097656 WA.

Umroh Murah  November Desember Bogor 2017 Fasilitasnya adalah:

Hotel *3 Firdaus Al Umrah / Al Firaz II jarak sekitar 350-400m dari Masjidil Haram, dan Roudhah Suite jarak sekitar 200m dari Masjid Nabawi. Paekt umroh murah ini menggunakan pesawat Air Asia via Kuala Lumpur atau Mihin Lanka via Colombo.

Jadwal pembarangkan dimulai 20 Nopember hingga 31 Desember 2017, yang akan berangkat setiap 3 hari sekali. in syaa Allah. Biaya Rp18,5 juta adalah start Jakarta. Untuk pemberangkatan dari daerah disesuaikan dengan biaya tiket lokal.

Biaya daftar Paket Umroh Murah Bogor November Desember 2017 ini tidak termasuk:

  1. Biaya untuk pembuatan paspor
  2. Biaya untuk suntik meningitis
  3. Biaya untuk pembuatan surat mahrom jika diperlukan.
  4. Biaya transpor daerah ke Jakarta dan penginapan di Jakarta jika diperlukan.

Program Paket Umroh Murah  November Desember Bogor 2017

Inpirasi Haji

Kepada si Ustad, ibu penjual nasi uduk itu — sebut sajalah namanya Ibu Siti — mengutarakan keinganannya yang teramat sangat untuk menunaikan ibadah haji. Sudah bertahun-tahun ia merindukan tanah suci. Ia ingin sujud di hadapan Ka’bah yang selama ini hanya dilihatnya lewat pesawat televisi. Saking rindunya hampir setiap malam Ibu Siti membayangkan mencium Hajar Aswad. Tapi sampai saat ini semuanya masih sebatas angan-angan. Bagai pungguk merindukan bulan, katannya. Sebab ia mengaku cuma seorang janda yang tak punya apa-apa. ” Dengan apa saya akan naik haji,” ujarnya sedih.
“Pekerjaan Ibu, apa?” tanya sang Ustad.
“Ibu setiap pagi hanya berjualan nasi uduk, yang hasilnya tak seberapa,” jelas Ibu Siti.

Pak Ustad lalu menyarankan kepadanya agar sebagian dari hasil penjualan nasi uduknya ditabung setiap hari semampunya.”Bila Ibu rajin dan tekun menabung sembari diiringi doa, mudah-mudahan Allah akan mencukupinya. Dan doa Ibu akan diijabahNYa,” tutur Pak Ustad menyemangati Ibu Siti. “Dan barang siapa yang sudah mulai menabung sesuai dengan kemampuannya untuk biaya perjalanan haji, maka dia bukan cuma telah berniat, tapi ia telah mulai melangkahkan kakinya di Mekah. Bila kemudian ia meninggal, maka insyaAllah ia telah mendapat pahala hajinya, sekalipun ia belum sempat menginjakkan kakinya di Padang Arafah,” lanjut Pak Ustad menjelaskan.

Ibu Siti makin bersemangat mendengar penjelasan Pak Ustad. Ia berjanji akan mulai menabung. Kalau toh nanti uangnya tak mencukupi juga untuk naik haji, bukankan kata Pak Ustad ia telah mendapat pahalanya.

Ia berjualan nasi uduk di pinggir jalan di seberang komplek perumahan mewah dekat tempat tinggalnya. Nasi uduk Ibu Siti memang laris karena terkenal enak. Setiap dagangannya habis langsung ia tabungkan. Jumlahnya tidak tentu, kadang-kadang cuma Rp.5000,-. Kalau hasil penjualannya lumayan, ia bisa menabung Rp.10.000,- sampai Rp.20.000,- setiap harinya. Uang itu dimasukkannya ke dalam celengannya dengan sambil beredoa, bahwa akan digunakannya untuk biaya naik haji. Kadangkala sembari berdoa uang itu dijunjungnya ke kepala baru dimasukkannya ke celengan. Bahkan bila ia sholat malam uang itu diletakkan di atas sajadah. Demikianlah begitu berharapnya Ibu Siti agar niatnya dikabulkan oleh Allah.

SUATU pagi, Ibu Siti kedatangan seorang Bapak yang akan membeli nasi uduknya. Tapi Bapak setengah baya yang kelihatan perlente dan kaya itu tiba-tiba tertegun dan sedih. Ia tertegun bukan karena nasi uduk Ibu Siti sudah habis, melainkan karena ia lihat Ibu Siti sedang mengangkat uang recehan kekepalanya sembari berdoa dengan khusuk dan berharap bisa naik haji dengan uang itu.

Bapak itu betul-betul terharu melihatnya. Begitu terharunya ia sampai berlinang air mata. Ia merasa telah ditampar keras oleh sikap Ibu Siti. Bagaimana tidak; ia yang merasa sudah lebih dari berkecukupan,namun selama ini belum terbuka hatinya untuk menunaikan ibadah haji, sementara Ibu Siti yang cuma tukang nasi uduk sangat mendambakannya walau kesulitan biaya.

Malu pada dirinya sendiri, orang kaya itu berlalu dan langsung pulang. Setiba di rumah ia panggil istrinya. Dan tanpa banyak kata ia langsung mengajak istrinya untuk segera menunaikan ibadah haji. “Tolong Ibu daftarkan untuk tiga orang,” perintahnya. Belum habis kagetnya atas rencana suaminya yang mendadak itu, si istri semakin heran;” Kenapa tiga orang . Untuk siapa satu lagi?” tanyanya.

Suaminya kemudian menjelaskan bahwa niatnya itu timbul berkat ibu tukang nasi uduk yang berjualan di seberang komplek perumahannya. “Kalau bukan karena dia, entah kapan Bapak berniat untuk naik haji,” katanya. Ia lalu menyuruh istrinya untuk memberitahukan kepada penjual nasi uduk itu, sekaligus diminta data-datanya untuk pendaftaran. Dan supaya bisa berangkat pada tahun itu juga, suaminya minta didaftarkan pada paket perjalanan “haji plus”.

Mendapat kabar bahagia yang sangat mengejutkan itu, Ibu Siti langsung sholat sujud syukur. Betapa tidak, mimpinya untuk menempuh Padang Arafah, sholat di hadapan Ka’bah, dan mencium Hajar Aswad, tak lama lagi akan menjadi kenyataan. Benar juga yang dikatakan Pak Ustad, katanya dalam hati, bahwa siapa yang rajin menabung sambil berdoa maka Tuhan akan mencukupinya. Walaupun belum cukup setahun ia menabung — itupun jumlah perharinya sangat kecil –sehingga jumlahnya belum seberapa, tapi orang kaya yang hatinya tersentuh itu telah mencukupinya. Bahkan ia akan menunaikan ibadah haji itu dengan fasilitas yang cukup mewah, dan tak perlu menunggu lama.

“Subhanalah… Maha suci Allah…” cuma itu yang bisa diucapkan Pak Ustad ketika Ibu Siti menyampaikan kabar gembira itu. Pak Ustad mengaku merasa takjub. Takjub karena begitu tulus dan ikhlasnya niat tukang nasi uduk ini, Tuhan tidak perlu menunggu lama untuk mengabulkannya.

“Mudah-mudahan ibu bertiga menjadi haji yang mabrur,” doa Pak Ustad.

Semoga ada yang dapat dipetik dari kisah penjual nasi uduk ini. Paling tidak kita menjadi paham bahwa setiap orang bebeda-beda cara untuk merespon panggilan melaksanakan ibadah haji itu. Bagi Ibu Siti misalnya, walaupun tidak mampu, tapi ia sangat mendambakannya. Untuk itu ia kemudian bekerja keras sambil berdoa demi mewujudkan mimpinya. Tapi, sementara orang lain yang sudah mampu malah mengabaikan dan mengingkarinya. Bahkan tak jarang diantara mereka menyadari bahwa untuk mengamalkan Rukun Islam yang ke-5 itu sudah wajib baginya.

Padahal peringatan Allah cukup keras bagi mereka yang sudah mampu tapi masih juga mengingkari panggilan haji. Pada salah satu ayat yang mewajibkan ibadah haji Allah telah berfirman : “ Dan bagi mereka yang mengingkari (perintah haji ini) sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” ( Ali Imron 3.97).

Memang sebuah sindiran, bahkan ancaman yang amat tajam dari Allah Swt untuk mereka yang sudah mampu. Semoga!!!

Similar Posts:

By |2017-03-10T04:34:42+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment