Wanita Sholihah Di Masa Rasulullah

Wanita Sholihah Di Masa Rasulullah. Sebuah cerita salah satu wanita sholihah pada jaman Rosulullah, mungkin dengan membaca ceritanya kita dapat termotivasi untuk terus dekat dengan Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Ummu Sulaim, istri dari Abu Thalhah. Ada yang menyebut dengan Gumaysho dan ada pula yang menyebutnya dengan Rumaysa. Ia seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.

Allah berkehendak menguji keduanya ( pasangan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim ) dengan seorang anak yang rupawan dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu mi’minah yang sabar ini ( Ummu Sulaim ) musibah dengan jiwa yang ridha dan baik. Sang ibu membaringkannya di tempat tidur sambil senantiasa mengulangi, ” inna lillahi wa inna ‘ilaihi raji’un.” Beliau berpesan kepada anggota keluarganya ” jangan kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya”

Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaan seperti biasanya,” Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab,” Dia dalam keadaan tenang”

Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat sehingga Abu Thalhah berembira dangan ketenangan dan kesehataannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari – hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi – wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagaimana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena beliau tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, ” Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah keluarga tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab,” Tentu saja tidak boleh” Kemudian Ummu Sulaim Berkata lagi ,” Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah berkata,” Berarti mereka tidak adil” Ummu Sulaim berkata,” Sesungguhnya anakmu adalah titipan Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalhnya anakmu”.

Abu Thalhah tak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah,” Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”

Beliau ulang – ulang kata – kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ ( inna lillahi wa inna ‘laihi ra ji’un ) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur – angsur jiwanya tenang.
Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan mengabarkan kepada Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wa sallam- tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda yang artinya:

” Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua ”

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wa sallam- selanjutnya Anas berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam” Maka Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wa sallam- mengunyah kurma dan mentahnik ( yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit – langit mulut si bayi). Anas berkata,” Berikanlah nama baginya ya Rasulullah!” Beliau – shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,” Namanya Abdullah”[1]

Usabah, salah seorang rijal sanad berkata,” Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur’an”[2]

Similar Posts:

By |2017-03-10T06:31:33+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment