Ibadah-Ibadah Agar Ibadah Haji Umroh Tambah Berkah

Ibadah-Ibadah lain Agar Ibadah Haji Umroh Tambah Berkah yaitu: Memperbanyak dzikir. Alternatif lain melakukan ibadah di tanah suci adalah dengan melakukan dzikir atau wirid yang ma’tsur (yang dicontohkan Nabi). Banyak buku-buku tentang dzikir tersebut, silakan dipersiapkan di tanah air. Kalaupun tidak ada, disanapun tidak sedikit yang menjualnya dalam bahasa Indonesia. Bahkan pemerintah Saudi membagi-bagi gratis buku tentang ibadah haji dan umrah ketika tiba di bandara. Jadi, ketika kita sedang tidak melakukan thawaf, shalat atau membaca Al-Qur’an, lebih baik berdzikir untuk mengisi waktu. Sebab, jika waktu kita pakai mengobrol bisa-bisa jatuh kepada pembicaraan menggunjing atau rafats (bercanda yang menjurus pada hal yang berbau porno).

 

=======================================================

Informasi Biaya Umroh Murah Ramadhan 2018 2019 2020 Hubungi:

H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

=======================================================

Memperbanyak doa dan tobat. Mumpung berada di tanah suci, perbanyaklah berdoa kepada Allah, memohon apapun yang kita minta. Pergunakan kesempatan ini karena tanah suci adalah salah satu tempat dimana doa kita akan dikabulkan Allah, terutama di Multazam. Sebagai insan yang lemah sudah  barang tentu kesempatan meminta sesuatu ini tidak akan kita lewatkan. Tidak lupa kita juga bertobat memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang selama ini kita lakukan. Ibaratnya, kesempatan inilah kita membersihkan diri sebersih-bersihnya. Dengan taubatan nasuha, insya Allah semua kesalahan kita selama ini akan dihapuskan-Nya.

Memperbanyak bersyukur. Allah telah memberikan kesempatan kita untuk mengunjungi rumah-Nya. Kesempatan ini adalah sebuah anugerah yang barangkali tidak semua orang mendapatkannya. Hal itu harus disyukuri. Tidak sekedar itu, namun kemudahan yang diberikan Allah kepada kita selama di tanah suci juga harus disyukuri, diantaranya ketika mendapatkan kemudahan itu kita langsung sujud syukur. Demikian pula ketika mendapatkan kenikmatan berada disana. Ketika kita mengantre segala sesuatu kemudian Allah “membuka” kerumunan tersebut untuk kita, segera setelah itu kita sujud syukur. Ketika Allah memberikan kemudahan untuk mencium Hajar Aswad tatkala orang lain bersusah payah mencapainya, kita selayaknya sujud syukur untuk hal itu.

Dan tentunya masih banyak lagi kemudahan dan kenikmatan yang kita dapatkan di tanah suci yang patut kita syukuri dengan sujud syukur. Seringkali kita merasa berat dalam beribadah, ternyata Allah mudahkan, tidak seperti yang dia kira, maka selayaknya ia segera bersyukur. Seorang anak yang mengantarkan ayahnya yang sudah tua pergi ibadah haji mula pertama merasa berat karena harus mendorong kursi roda orang tuanya ia akan menemui kesulitan. Namun kenyataannya justru mendapatkan kemudahan. Karena mulai dari bandara Cengkareng, kemudahan itu sudah didapatkan yaitu mereka diberikan perlakuan khusus, tidak perlu mengantre dan langsung masuk pesawat. Demikian pula di bandara King Abdul Aziz, pemeriksaan tidak begitu ketat karena melewati pintu khusu bagi pengendara kursi roda. Demikian pula ditempat-tempat lain, orang seakan berlomba-lomba memberikan jalan buat mereka karena menggunakan kursi roda tersebut. Walhasil, bukan orang tuanya yang membebani dia dengan kursi roda tersebut namun dirinyalah yang mendapatkan kemudahan “fasilitas” karena mendorong kursi roda ayahnya. Kemudahan-kemudahan seperti itu patut ia syukuri.

Melaksanakan shalat jenazah. Hampir setiap selesai shalat lima waktu di Masjidil Haram kita melakukan shalat jenazah. Bahkan shalat jenazah dapat dilakukan dua kali saking banyaknya jenazah yang dishalatkan. Untuk itu, di tanah air sebaiknya tata cara shalat jenazah dipelajari kembali agar disana bisa mengikutinya dengan khusyu.

Memperbanyak infaq dan sedekah. Meskipun di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram tidak ada kaleng keropak yang beredar, tidak berarti kita tidak perlu berinfaq. Di Madinah maupun Mekah masjid banyak peminta-minta. Bahkan tidak sedikit orang yang membagi-bagikan uang di dalam masjid, tidak peduli siapa yang diberinya. Orang seperti ini memanfaatkan momen Allah akan memberikan ridha-Nya dengan berbuat baik di tanah suci.

Memperbanyak perbuatan baik. Banyak hal perbuatan baik dapat kita lakukan disana. Diantaranya menolong orang, terutama jamaah ibadah haji yang tua. Kita bisa membantunya berjalan atau mendorong kursi roda, memberikan kesempatan duduk atau tempat shalat. Karena interaksi dengan jamaah lain sangat intens, apabila ada kesalahan atau menyinggung perasaan segeralah meminta maaf kepada yang bersangkutan baik kenal maupun tidak kenal. Kita pun kalau dimintai maaf sudah seharusnya segera memaafkannya. Selalulah tersenyum agar dapat memberikan iklim yang bersahabat kepada jamaah lain. Ringan tangan dan mandiri. Memenuhi amanah apabila berjanji, termasuk amanah ketika menjadi ketua kelompok atau rombongan.

Menjaga hati dan akhlak terpuji. Ibadah ibadah haji adalah ibadah ibadah haji yang banyak berhubungan dengan orang lain. Selain dengan jamaah ibadah haji diluar, kita banyak berinteraksi dengan kawan-kawan jamaah ibadah haji yang rombongan atau satu KBIH. Jika hati tidak terjaga maka akan mudah menimbulkan penyakit hati karena kebersamaan tersebut akan mudah memicu ketidakakuran. Untuk itu seseorang ketika di tanah suci harus mampu menahan emosi dan rasa marah, selalu sabar dalam menghadapi kesulitan dan kepahitan, belajar mengenal dan memahami diri sendiri dan orang lain, tawadhu (rendah hati), dan menjauhkan diri dari sikap dan sifat sombong dan takabur, membersihkan diri dari sikap dan sifat tercela, seperti: hasud, ghibah, bakhil (kikir), taskiriyyah (menghina), su’uzhan (buruk sangka), ghadhab (bermusuhan), dan lain-lain.

Pendek kata, banyak perbuatan baik yang bisa kita lakukan di tanah suci, disela-sela menunaikan ibadah ibadah haji, umrah dan ziarah. Ada baiknya seseorang mengukur kekuatan dirinya dalam menjalankan ibadah-ibadah sunah tersebut agar tidak menganggu ibadah ibadah hajinya. Namun demikian jangan sampai waktu terbuang percuma. Untuk itu, disarankan untuk menjaga diri dan kesehatan agar ibadah-ibadah tersebut dapat dilakukan dengan optimal. Salah satunya dengan makan buah sebanyak-banyaknya (kalau bisa sehari 6-8 buah).

Sementara itu memperbanyak ibadah umrah selama perjalanan ibadah ibadah haji tidak pernah dicontohkan oleh Rasul saw dan para sahabatnya. Oleh karena itu, yang terbaik adalah memperbanyak ibadah thawaf bukan menambah umrah.

Yang penting adalah mengetahui momen waktu dalam memperbanyak amal. Sebab, dengan memanfaatkan momen waktu dan tempat tersebut nilai pahala dari amal ibadah kita akan berlipat ganda. Selain tempat-tempat istimewa yang kalau beramal pahalanya dilipatgandakan, waktu-waktu berkah juga jangan ditinggalkan. Seperti waktu tanggal 1-10 Dzulhijjah, khususnya saat wukuf dan hari tasyrik. Allah berfirman didalam Al-Qur’an,

            “Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal”. (al-Fajr : 1-5)

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,

            “Tidak ada hari-hari yang amal shalih disitu lebih dicintai Allah selain 10 hari Dzulhijjah ini. “Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau saw menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak kembali dengan sesuatu pun”. (HR Tirmidzi)

            Abdullah bin Qurth ats-Tsumali ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

            “Hari yang paling utama bagi Allah adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah) lalu hari 11 – 13 Dzulhijjah”. (HR Ahmad)

Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

            “Tidak ada amal perbuatan yang lebih baik daripada amal perbuatan yang dilakukan pada hari ini. “Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad?” Nabi menjawab, “Juga tidak termasuk jihad”. Beliau saw bersabda, “Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak kembali dengan sesuatupun”. (HR Bukhari)

Yang dimaksud hari ini dalam hadits diatas adalah hari Tasyrik, yaitu tanggal 11-13 Dzulhijjah. Sedangkan mengenai saat wukuf Rasulullah saw bersabda,

            “Tidak ada suatu haripun, dimana manusia lebih banyak dibebaskan dari neraka daripada hari Arafah. Dan bahwa Allah mendekat kepada mereka lalu membangga-banggakan mereka kepada malaikat-malaikat-Nya”. (HR Muslim)

Ibadah-Ibadah Agar Ibadah Haji Umroh Tambah Berkah

Similar Posts:

By |2017-12-15T14:26:50+00:00September 22nd, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment