Ziarah Ke Makam Rasulullah SAW di Madinah. Pada saat berziarah ke makam Muhammad SAW ada sebuah getaran kuat yang kita rasakan. Getaran tersebut menyerupai saat kita berada didepan Multazam, pintu Ka’bah. Di bagian awal bab sudah kuceritakan, bahwa kita tidak kuasa menahan haru dan gembira. Tanpa terasa air mata membasahi pipi sebagai tanda bangga dan bahagia. Mimpi untuk berziarah ke makam Nabi sudah tersampaikan. Shalawat dan salam kuhaturkan kepada baginda Muhammad SAW.

Setiap muslim yang berziarah ke makam beliau hampir bisa dipastikan juga merasakan hal yang sama. Sebuah perjumpaan yang dapat mengisi ruang batin yang haus akan sentuhan ruhani dalam rangka memperbarui Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiga ajaran tersebut merupakan inti dari tuntunan yang dibawa Muhammad SAW. Ketika berziarah ke makam beliau, semuanya hadir dalam waktu bersamaan.

Berziarah ke makam Nabi mempunyai kenikmatan tersendiri. Utamanya kenikmatan batin, yang tidak mudah didapatkan ditempat lain, kecuali di Ka’bah. Sebab itu, barangsiapa mendapat “panggilan” untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, Nabi juga mengundang agar berziarah ke Masjid Nabawi, yang dulunya juga menjadi tempat tinggal Nabii selama di Madinah. Jika dulu, rumah Nabi terpisah dengan Masjid Nabawi, sekarang rumah tersebut sudah menjadi satu dalam area Masjid Nabi. Makam Nabi terdapat didalam lingkungan masjid.

Sebab itu, berziarah ke Masjid Nabawi diantara daya tariknya adalah berziarah ke makam Nabi. Apalagi kalangan Sunni yang meyakini ziarah makam Nabi sebagai sebuah keutamaan, ada sentuhan batin dan pengalaman spiritual yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berziarah ke makam para ulama saleh adalah keutamaan, apalagi ke makam Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Islam dengan segala perjuangan dan pengorbanannya.

Di pesantren, pelajaran tentang perjalanan hidup Nabi (al-sirah al-nabawiyyah) merupakan pelajaran utama. Sejak tahun-tahun pertama, kita dikenalkan dengan perjalanan hidup Nabi sejak sebelum lahir hingga meninggal dunia di Madinah. Kiai Idris Jauhari adalah kiai yang kita banggakan, karena dari buku beliaulah kita mengerti secara detail tentang perjalanan hidup Nabi.

Intinya, mengenal perjalanan hidup Nabi merupakan sebuah petualangan intelektual yang mencerahkan. Setiap gerak, ucapan, dan kebijakan Nabi merupakan teladan yang sangat baik, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, Sungguh bagi kalian dalam diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Sembilan tahun kemudian kita mendapatkan panggilan untuk berziarah ke makam Nabi. Sebuah kesempatan emas yang harus digunakan sebaik mungkin agar pengenalan dan pemahaman yang menghujam kuat dalam sanubariku menjelma sebagai tuntunan hidup dan sumber inspirasi. Bagiku yang dibesarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ziarah ke makam Nabi akan memberikan tambahan nilai yang sangat berharga untuk senantiasa mengikuti ajarannya yang lurus dan toleran (al-hanifiyyah al-samhah).

Berziarah ke makam Nabi hakikatnya dalam rangka menghadirkan kembali makna-makna yang dapat mengisi kehidupan pada kedamaian dan keadaban publik. Salah satu makna tersebut adalah pentingnya ilmu. Saat berziarah ke makam Nabi, posisiku sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, yang sedang terhanyut dalam lautan ilmu merupakan fondasi yang sangat penting untuk mengayuh perahu di samudera peradaban yang amat luas. Apalagi pada masa modern yang salah satu ukurannya adalah ilmu pengetahuan.

Berziarah ke makam Nabi dengan subyektivitas personal yang terlibat langsung dengan sejarah dan ajarannya memberikan harapan yang sangat berarti. Pengalaman berziarah telah menyisakan sebuah kenangan indah, yaitu perjumpaan batin yang tidak akan pernah terlupakan.

Apakah berziarah ke makam Muhammad SAW sudah disepakati oleh semua pihak sebagai sebuah anjuran dalam islam?

Pertanyaan ini penting sekali, karena faktanya tidak semua pihak memandang ziarah ke makam, terutama ke makam Nabi sebagai sebuah anjuran dalam agama. Ada sebuah kelompok yang menganggap, bahwa berziarah ke makam merupakan sebuah tindakan yang menyimpang, sesat, dan kekufuran. Tindakan tersebut dianggap sebagai bid’ah yang dilarang oleh agama. Menurut kelompok tersebut, seorang muslim sejatinya tidak melaksanakan ritual ziarah ke makam, terutama ke makam Muhammad SAW.

Sayyed Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani dalam al-syari’iyyah, sangat menyayangkan pandangan tersebut. Apalagi berziarah ke makam Nabi, yang merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap muslim yang mampu melaksanakannya. Meskipun harus digaris bawahi, bahwa berziarah ke makam Nabi bukanlah bagian dari manasik haji.

Ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah jawaban atas panggilan Nabi yang meminta kepada setiap muslim yang melaksanakan umrah dan haji di Mekkah agar mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah. Mekkah dan Madinah merupakan dua kota suci yang identik, yang mesti diziarahi oleh setiap muslim.

Secara normatif, perintah untuk berziarah ke makam Nabi berlandaskan pada ayat Al Quran dan hadis Nabi. Didalam Al Quran disebutkan, Dan jikalau mereka berbuat zalim terhadap diri mereka, mereka mendatangimu sembari memohon kepada Allah SWT, dan Rasul juga meminta ampunan untuk mereka, maka mereka akan menemukan Allah SWT Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih (QS. Al-Nisa [4]: 64).

Menurut Sayyed Muhammad bin Alawi, kata mendatangimu, dalam ayat tersebut dapat dipahami sebagai kehadiran, baik pada masa Nabi masih hidup atau setelah beliau meninggal dunia. Didalam ayat lain disebutkan, Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka mengunjungi Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian ia meninggal dunia, maka Allah SWT akan memberikan pahala baginya (QS. Al-Nisa [4]: 100).

Pandangan ini semakin mengukuhkan, bahwa berziarah ke makam Nabi bukanlah ziarah biasa. Ziarah tersebut mengandung misi yang sangat mulia, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT dengan harapan agar Nabi juga mendoakan kita agar apa yang menjadi keinginan kita dikabulkan oleh Allah SWT. Muhammad SAW tidak hanya peduli kepada umatnya di saat beliau masih hidup, tetapi di alam kubur pun beliau masih memberikan pertolongan kepada umatnya. Itulah hubungan batin yang begitu kuat antara Nabi dengan umat Islam.

Dalam kitab-kitan tafsir perihal surat al-Nisa ayat 62, ada sebuah kisah unik yang dapat memperkuat keutamaan berziarah ke makam Nabi. Peristiwa tersebut direkam dengan sangat baik oleh para ulama tafsir. Diantaranya al-Qurthubi dalam al-jami li ahkam al-Quran, mengisahkan sebuah riwayat perihal seseorang yang pernah mendatangi makam Nabi tidak lama setelah dikuburkan. Orang tersebut memegang tanah sembari berkata, “Wahai Rasulullah SAW, kita telah mendengarkan pesanmu dan mengikuti perintah Allah SWT. Kita telah berbuat zalim kepada diriku”. Tidak lama setelah itu terdengar suara dari kuburan, “Allah SWT telah mengampunimu”.

 Rasulullah SWA selalau ramai

Rasulullah SWA selalau ramai

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa menunaikan haji, tetapi tidak berziarah kepadkita (di Madinah), maka ia telah menjauhiku”.

Ibnu Katsir didalam Tafsir al-Quran al-Adzim juga meneguhkan pandangan Imam al-Qurthubi. Yang berbeda hanya riwayatnya, jika yang tadi diriwayatkan oleh Abu Shadiq dari Imam Ali, sedangkan Ibnu Katsir mengetengahkan kisah yang dipopulerkan oleh al-Utbi. Ketika Utbi duduk di makam Nabi, kemudian datang seseorang sembari berkata, “Salam perdamaian bagimu wahai Rasulullah SAW, kita telah mendengarkan firman Allah yang berbunyi: Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka mengunjungi Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian ia meninggal dunia, maka Allah SWT akan memberikan pahalanya baginya (QS. Al-Nisa [4]: 100). Maka dari itu, kita datang kepadamu memohon ampunan atas doskita dengan harapan untuk mendapatkan syafaat darimu”.

Lalu, orang tersebut membaca sebuah syair yang berbunyi: Wahai seseorang yang dikuburkan di bumi yang paling mulia, maka mulialah orang yang memuliakan bumi tersebut. Diriku mendatangi makam yang kamu tempati. Didalamnya terdapat kebajikan dan kemuliaan. Setelah membaca syair, orang tersebut meninggalkan makam. Kemudian Utbi tertidur, dan bermimpi bertemu dengan Nabi. Beliau berkata, “Orang tersebut benar, maka kabarkan kepada dia, bahwa Allah SWT telah mengampuninya”.

Kisah ini dijadikan sebagai landasan normatif oleh sejumlah ulama, diantaranya oleh Imam al-Nawawi dalam al-idhah, Abu Muhammad bin Qudahah dalam al-Mughni, Abu al-Farj bin Qudamah dalam al-Syarh al-Kabir dan Manshur bin Yunus bin Bahwati dalam Kasysyaf al-Qanna.

READ :  Travel Umroh Murah Harga Mulai Rp19,9 Juta All in

Riwayat tersebut secara eksplisit menegaskan, bahwa tradisi berziarah ke makam Nabi merupakan sebuah tradisi yang menyejarah. Orang-orang dahulu sudah melkitakan hal tersebut sebagai manifestasi dari ayat tersebut diatas. Mendatangi Nabi tidak hanya tatkala beliau hidup di Madinah, tetapi juga dapat dimaknai setelah beliau meninggal dunia. Sebab kata idz yang digunakan dalam ayat tersebut tidak hanya bermakna masa lalu, tetapi juga bermakna masa depan.

Ada alasan lain yang dapat memperkuat perlunya berziarah ke makam Nabi, karena jasad beliau diyakini tidak akan pernah ditelan bumi, sebagaimana jasad orang-orang biasa. Nabi bersabda, Kita telah melihat Musa berdiri dan melaksanakan shalat diatas kuburannya. Didalam hadis lain disebutkan, bahwa di saat Nabi melaksanakan perjalanan spiritual dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Jerusalem, Nabi melaksanakan shalat berjamaah dengan Nabi Musa dan Nabi Isa.

Fakta ini menunjukkan, bahwa seorang Nabi akan senantiasa hidup di hati setiap umatnya. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang mendedikasikan hidupnya untuk umat. Didalam riwayat lain disebutkan, Jika kita mati, maka kematianku akan menjadi kebajikan bagi kalian. Kalian juga menyampaikan amal perbuatan kalian kepadkita. Jika kita melihat ada kebajikan, maka kita akan mengirimkan pujian kepada Allah SWT, dan sebaliknya, jika kita melihat keburukan, maka kita akan memohon ampunan untuk kalian.

Ayat diatas secara eksplisit memuat tiga pesan penting: Pertama, seorang muslim sebisa mungkin mendatangi Muhammad SAW, baik di masa hidup beliau ataupu setelah meninggalkan dunia. Yang dimaksud dengan berziarah setelah meninggal dunia adalah berziarah ke makam Nabi di Madinah. Hal tersebut menjadi sebuah keniscayaan, karena setiap muslim pasti melkitakan kekeliruan dan kezaliman. Dan salah satu cara untuk meminta ampunan agar dosa-dosa tersebut diampuni, yaitu mendatangi Nabi melalui ziarah ke makamnya.

Kedua, selama datang ke makam Nabi sejatinya berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT. Tidak lupa shalawat dan salam juga dihaturkan kepada Nabi yang telah mengisi setiap hati dengan kebajikan yang tak ternilai harganya. Doa tersebut juga sejatinya berisi komitmen untuk menegakkan ajarannya dalam rangka menebarkan kedamaian dan kemaslahatan di muka bumi.

Ketiga, Nabi akan memohon ampunan agar doa setiap umat yang berziarah kepadanya diampuni oleh Allah SWT. Tentu, doa Nabi mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan doa hamba-hamba lainnya. Doa Nabi akan dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana terjadi pada seorang yang berdoa di makam Nabi.

Disamping ayat Al Quran, terdapat beberapa hadis Nabi yang secara eksplisit menganjurkan kepada setiap muslim untuk berziarah ke makamnya. Nabi bersabda, Barangsiapa berziarah ke kuburanku, niscaya akan mendapatkan syafaatku. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Daruquthni dalam kitabnya. Selain itu, juga dikukuhkan oleh Qadhi Iyadh dalam al-Syifa, Hakim dan Turmudzi dalam al-Nawadir, Uqayli dalam al-Dhu’afa, Dulabi dalam al-Kuna, Imam al-Suyuthi dalam al-Manahil, al-Muqaddisi dalam Fadhail al-A’mal, Imam Syafii dalam al-Manasik, dan Imam Nawawi dalam al-Idhah. Sedangkan kedudukan hadisnya adalah hasan.

Didalam hadis lain disebutkan, Barangsiapa mendatangiku untuk berziarah kepadkita, maka kita akan menjadi penolong baginya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Daruquthni dalam kitabnya, Ibnu Asakir, Thabrani dalam al-Kabir, dan Dzahabi dalam al-Mizan. Kedudukan hadis ini juga hasan.

Landasan teologis diatas, baik landasan Al Quran maupun hadis, semakin mengukuhkan pentingnya ziarah ke makam Nabi. Penjelasan tersebut secara eksplisit mematahkan pandangan mereka yang mengharamkan ziarah ke makam Nabi. Sebab di masa Nabi sudah ada orang-orang yang berziarah ke makamnya, yang disaksikan oleh para sahabat. Lebih dari itu, Nabi memberikan jaminan syafaat bagi siapapun yang berziarah ke makamnya.

Selain kisah seorang tadi, ada sebuah kisah yang menarik untuk diangkat ke permukaan. Setelah Umar bin Khattab berhasil membebaskan Jerusalem. Bilal bin Rabah melihat dalam mimpi bertemu dengan Nab sembari mendengarkan ungkapan beliau, “Tidakkah kamu berziarah kepadkita?” Setelah terbangun, Bilal menangis sedih dan beranjak untuk mengunjungi makam Nabi. Hasan dan Husein terlihat menghibur Bilal yang tidak tahan mendengarkan kerinduan Nabi kepadanya. Bilal adalah seorang budak yang kemudian menjadi seorang sahabat yang berdedikasi tinggi terhadap Nabi sebagai seorang juru azan.

Mimpi Bilal tersebut menjadi sebuah kisah yang semakin memperkuat, bahwa sahabat dan umatnya harus meluangkan waktu untuk berziarah ke makam Nabi. Apapun kesibukan mereka dalam mengurus pemerintahan Islam pada zaman itu. Setiap muslim harus membangun hubungan batin yang intim dengan Nabi. Sebab, hubungan tersebut memuat ikatan yang kuat agar spirit dalam menebarkan nilai-nilai keislaman selalu tumbuh subur dalam diri setiap muslim.

Tidak diragukan lagi, berziarah ke makam Nabi merupakan sebuah ritual yang tidak bertentangan dengan hakikat iman, islam, dan ihsan, sebagaimana dilancarkan oleh sebagian kalangan. Berziarah ke makam Nabi justru dapat meneguhkan keimanan seorang muslim, karena dalam perjumpaan batin akan lahir kesadaran dan pencerahan yang mahadahsyat agar senantiasa menjadikan ajaran dan pesannya sebagai tuntunan hidup.

Pihak yang menganggap keimanan seseorang akan terganggu jika melaksanakan ziarah ke makam Nabi merupakan sikap yang sama sekali bertentangan dengan realitas normatif dan historis, sebagaimana dijelaskan diatas. Berziarah ke makam Nabi justru dapat menumbuhkan keinginan kuat agar berpegang teguh pada ajarannya. Dan ketika berpegang teguh pada ajarannya akan mendapatkan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan, karena ajarannya berupa kebajikan yang dapat menginspirasikan seluruh umat manusia untuk menjadikan bumi ini sebagai tempat saling berbagi dan membangun toleransi.

Dalam mengingat Nabi dan berziarah ke makamnya akan muncul pembelajaran yang sangat berharga, bahwa setiap muslim terikat dan terkait dengan seluruh ajaran yang telah diwariskan Nabi kepada ulama. Membutuhkan kesengajaan dan keseriusan untuk mempelajari, menebarkan dan menerjemahkannya dalam kehidupan nyata. Ziarah ke makam beliau akan memberikan motivasi yang sangat besar agar jiwa-jiwa yang selama ini mengalami degradasi dari segi spirit tergerak untuk bangkit kembali.

Spiritualitas yang selalu terbarui akan menjadi modal sosial bagi setiap muslim untuk menjadikan nilai-nilai universalitas Islam sebagai salah satu bagian terpenting dalam membangun peradaban. Di masa lalu, Nabi telah berhasil membangkitkan spiritualitas kolektif umat islam dalam rangka menciptakan komunitas yang solid dan produktif. Islam menjadi faktor determinan dalam membangun gairah kolektivitas tersebut.

Di era modern, spirit tersebut harus direkonstruksi dalam konteks membangun kebersamaan dan kesejatian nilai. Dan sumbernya adalah keimanan yang tulus dan total. Berziarah ke makam Nabi bukan dalam rangka mengikis iman, sebagaimana dipersepsikan oleh kalangan salafi dalam pandangan teologisnya. Berziarah ke makam Nabi justru menambah keimanan setiap muslim, karena dalam ziarah timbul komunikasi spiritual dua arah antara seorang muslim dengan Nabi. Komunikasi tersebut melampaui komunikasi yang bersifat verbal. Lokus komunikasi adalah hati, karenanya mempunyai jejak-jejak pengaruh yang sangat kuat. Dari komunikasi tersebut, Nabi akan menyambungkan seluruh permohonan dan keinginan kita dengan Allah SWT. Di situlah iman akan menemukan momentumnya.

Pengalamanku saat berziarah ke makam Nabi mengkonfirmasi semua itu. Ada sebuah kepuasan batin yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kasih Tuhan dan kasih Muhammad SAW telah membuatku terhanyut dalam lautan doa untuk senantiasa berada di atas jalan-Nya, yaitu jalan yang kuyakini akan membawa kebajikan dan kemaslahatan bagi segenap makhluk-Nya.

Keadaan di dalam ruang Makam Raasulullah SAW

Keadaan di dalam ruang Makam Raasulullah SAW

Tradisi Ulama menjadikan ziarah ke makam Nabi dan orang-orang saleh

Kalangan Sunni merupakan komunitas yang menjadikan ziarah ke makam Nabi dan orang-orang saleh merupakan tradisi yang turun-temurun dilaksanakan. Jumlah kelompok ini jauh lebih besar daripada mereka yang menolak ziarah makam, sebagai ziarah memberikan kepuasan batin tersebut. Apalagi bagi kalangan Nahdlatul Ulama yang menjadikan ziarah makam sebagai salah satu ritual rutin.

READ :  Sejarah Masjid Nabawi Di Masa Rasulullah SAW dan Khalifah Al-Rasyid

Bagi kalangan sunni, ziarah ke makam Nabi merupakan puncak dari ziarah yang tidak tergantikan dengan ziarah ke makam mana pun. Jika ada kesempatan untuk berziarah ke makam Nabi, kesempatan tersebut akan digunakan sebaik-baiknya, terutama dalam rangka mengais makna iman, islam dan ihsan.

Imam Malik bin Anas, ulama terkemuka kelahiran Madinah dan penulis al-Muwaththa, mengisahkan tentang kegemarannya berziarah ke makam Nabi. Tidak hanya itu, seluru hsudut dari kota Madinah menyimpan makna tersendiri. Masjid Nabawi yang didalamnya terdapat makam Nabi menyimpan kenangan tersendiri. Bahkan, saat berjalan menuju Masjid Nabawi, ia menolak untuk mengendarai unta, karena tempat yang dituju adalah tempat suci.

Begitu pula, ia menekankan pentingnya menjaga ketenangan selama berada di Masjid Nabawi. Mendatangi Masjid Nabawi pada hakikatnya mendatangi Nabi. Suasana batin harus dijaga sedemikian rupa agar tidak terkontaminasi dari berbagai hal yang kotor. Ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah anjuran, yang mana tidak seperti ziarah pada umumnya. Sebuah perjalanan yang mengandung kekuatan batin, yang akan mengetuk hati setiap muslim untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Nabi.

Sikap Imam Malik tersebut juga dilanjutkan oleh para pengikutnya. Ada beberapa ulama dari kalangan mazhab Maliki, diantaranya Qadhi Iyadh dalam kitab al-Syifa. Ia mengatakan, bahwa ziarah ke makam Nabi merupakan sunnah yang didalamnya terdapat keutamaan, dan juga dianjurkan oleh agama. Hal tersebut mengacu pada sebuah hadis, Keimanan akan selalu ditarik ke Madinah.

Maksud dari hadis tersebut, menurut Qadhi Iyadh, bahwa setiap pmuslim yang mempunyai iman tertanam kuat dalam batinnya hampir bisa dipastikan selalu mendambakan untuk bisa berziarah ke Madinah, terutama berziarah ke makam Nabi dan mengenang keutamaan kota suci tersebut. Hanya orang-orang yang berimanlah yang akan merasakan betapa Madinah merupakan kota iman.

Imam Abu Hanifah juga menggarisbawahi pentingnya ziarah ke makam Nabi. Ibadah haji merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim, khususnya bagi mereka yang mampu. Dan akan lebih utama, jika ibadah tersebut dilanjutkan dengan ziarah ke Madinah. Menurut, Imam Abu Hanifah, jika ziarah ke Madinah didahulukan daripada ibadah haji juga tidak apa-apa. Artinya, diperkenankan untuk melkitakan hal tersebut, sebagaimana dilkitakan oleh sebagian jemaah haji Indonesia. Jemaah haji pada kloter pertama berziarah ke Madinah terlebih dahulu, kemudian melaksanakan ibadah haji. Sedangkan jemaah haji kloter kedua langsung ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan ziarah ke Madinah., di saat Imam Abu Hanifah berziarah ke makam Nabi, ia menulis:

 

Wahai sosok yang paling mulia dan khazanah yang tak terkira

Jadikanlah kita baik atas kebaikanmu

Jadikanlah kita rela dengan kerelaanmu

Kita rkitas untuk mendapatkan kebaikan darimu

Dan Abu Hanifah tidak memiliki apa-apa di dunia, kecuali kamu

 

Syair ini hendak membuktikkan, bahwa Imam Abu Hanifah mempunyai kedekatan batin dengan Nabi. Setiap kali bertandang ke Madinah dan berziarah ke makam Nabi, ia menegaskan komitmennya untuk senantiasa meneruskan panji-panji kebajikan yang telah diwariskan beliau kepada umatnya.

Kamal Hammam, ulama pengikut Mazhab Hanafi menggarisbawahi, bahwa ziarah ke makam Nabi merupakan paling utamanya sesuatu yang dianjurkan oleh Nabi. Seorang yang datang ke Madinah hendaknya berniat berziarah ke makam Nabi, lalu tempat-tempat lainnya. Makam Nabi merupakan salah satu tempat yang mempunyai keutamaan yang mulia. Setiap muslim harus memprioritaskan agar dapat berziarah ke makam Nabi.

Sedangkan Kasymiri dalam Fayd al-Bari ala Shahih al-Bukhari menegaskan, bahwa ribuan ulama terdahulu telah melkitakan ziarah ke makam Nabi. Mereka berpandangan, ziarah tersebut merupakan salah satu ibadah yang dapat membangkitkan kedekatan kepada Allah SWT. Sebagaimana berniat untuk dapat berdoa di Raudha, berniat untuk berziarah ke makam Nabi merupakan sebuah keniscayaan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, Barangsiapa menginginkan kemuliaan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan kemuliaan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan kemuliaan dunia dan akhirat sekaligus, hendaklah dengan ilmu.

Para ulama dari mazhab Syafii juga memandang ziarah ke makam Nabi sebagai sebuah anjuran yang dapat dijadikan sebagai syafaat di hari kemudian nanti. Menurut Abu Ishaq al-Syairazi dalam al-Muhadzdzab, hal tersebut mengacu pada hadis diatas, Barangsiapa berziarah ke makamku, maka ia akan mendapatkan syafaatku. Jaminan yang diberikan Nabi merupakan salah satu pertanda yang kuat perihal pentingnya berziarah ke makam Nabi.

Sedangkan Imam Nawawi memandang ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah ritual yang sangat penting dilkitakan, terutama bagi mereka yang berkesempatan melaksanakan ibadah haji dan umraj. Disamping melaksanakan shalat di Masjid Nabawi dan berdoa di Raudha. Menurut Imam Nawawi, ada dua hal yang disunnahkan setelah menunaikan ibadah umrah dan haji, yaitu minum air zamzam dan berziarah ke kuburan Nabi di Madinah. Tidak hanya itu saja, selama didalam perjalanan menuju Madinah hendaknya memperbanyak shalawat kepada Nabi sambil berdoa agar perjalanan spiritual tersebut dapat membawa manfaat yang besar bagi pengalaman hidup setiap muslim.

Sedangkan para ulama dari mazhab Hanbali juga mempunyai perhatian yang sagat besar terhadap ziarah ke makam Nabi. Abu Muhammad bin Qudama berpandangan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Daruquthni, Barangsiapa melaksanakan haji, kemudian berziarah kemakamku setelah kematianku, maka seakan-akan ia berziarah padkita di masa hidupku.

Sedangkan Abu al-Farj bin Qudama memandang ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah anjuran yang sejatinya dilkitakan bagi mereka yang telah dan akan melaksanakan ibadah haji. Alasannya mengacu pada sejumlah ayat diatas, khususnya surat al-Nisa ayat 64 dan beberapa hadis yang telah disepakati kedudukannya oleh para ulama sunni. Hanya saja Abu al-Farj bin Qudama memberikan catatan khusus, yaitu saat berziarah kemakam Nabi memaksimalkan doa dan ampunan. Tidak dianjurkan untuk memeluk dan mencium tembok yang didalamnya terdapat makam Nabi. Para ulama terdahulu tidak melkitakan hal itu, kecuali menyentuh mimbar Nabi. Ibnu Qudama melkitakan hal tersebut.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, bahwa hampir tidak ada perbedaan dari para ulama mazhab perihal kedudukan ziarah ke makam Nabi. Mereka mempunyai pandangan yang hampir sama, bahwa setiap muslim yang mampu melaksanakan umrah dan haji agar meluangkan waktunya untuk berziarah ke Madinah, terutama Masjid Nabawi untuk berdoa di Raudha dan berziarah di makam Nabi, dan para sahabat.

Diantara mereka hanya berbeda pendapat soal kedudukan hukum ziarah tersebut. Mazhab Hanafi memandang ziarah Nabi adalah sunnah yang mendekati wajib. Sebagian mazhab Maliki berpendapat, bahwa ziarah tersebut merupakan sunnah yang kedudukannya wajib (min al-sunan al-wajibah). Sedangkan bagi mazhab Syafii dan Hanbali, ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah anjuran yang mendatangkan manfaat luar biasa bagi siapapun yang melkitakannya.

Pendapat tersebut telah menjadikan ziarah ke makam Nabi dari sebelumnya sebagai ritual keagamaan menjadi “tradisi”. Yaitu ritual keagamaan yang kerapkali dilkitakan oleh para ulama dari masa ke masa. Kita tahu, bahwa para ulama hukum islam pada umumnya berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi istimewanya dalam hal ziarah ke makam Nabi mereka tidak terlibat dalam perbedaan pendapat.

Mereka semuanya terhanyut dalam ritual ini, karena ziarah ke makam Nabi meninggalkan sebuah kesan dan pengalaman tersendiri bagi siapapun yang melaksanakannya. Didalam beberapa hadis disebutkan, bahwa Nabi pernah mengisahkan perihal kedatangan Isa al-Masih untuk berziarah ke makamnya.

Hal tersebut terkait dengan kedudukan Muhammad SAW sebagai Nabi dan utusan Tuhan, yang telah berperan besar dalam membawa syariat bagi kehidupan umat yang mulia dan adiluhung (khayr ummah). Nabi di masa hidup telah mendedikasikan hidupnya bagi kemaslahatan umat dan mereka yang membangun persaudaraan dengannya. Sebab itu, Nabi tidak hanya disayangi oleh mereka yang hidup semasa dengannya atau mereka yang hidup setelahnya, tetapi juga disayangi oleh Isa al-masih.

READ :  Ziarah Kota Madinah Saat Ibadah Haji dan Umroh

Tradisi ulama dalam berziarah ke makam Nabi harus menjadi salah satu tuntunan yang akan mengingatkan setiap muslim pada ajarannya yang mengutamakan kearifan, nasihat yang santun dan dialog yang konstruktif. Islam adalah aagama yang mengajak setiap pemeluknya untuk menggunakan akal budi untuk mencapai kebenaran.

Tidak seperti pandangan sebagian kalangan yang cenderung melihat persoalan secara hitam putih. Atas nama pemurnian iman, mereka melarang ziarah ke makam Nabi sambil melkitakan tindakan-tindakan ekstrem yang sama sekali tidak sejalan dengan garis-garis besar ajaran islam. Maka, barziarah ke makam Nabi merupakan salah satu solusi yang tepat agar sikap keberagaman yang ekstrem tersebut menjadi lebih lentur dan lembut.

Mentradisikan ziarah ke makam Nabi akan menyisakan sebuah kesan yang sangat baik, bahwa beragama yang baik adalah beragama dengan menggunakan intuisi dan hati nurani. Beragama membutuhkan permenungan yang mendalam, terutama dalam rangka mengasah kepekaan spiritual. Perjumpaan batin dengan Nabi dalam ziarah ke makamnya akan memberikan kesan yang amat mendalam untuk menemukan makna-makna yang akan menjadikan hidup semakin nikmat dan berkualitas untuk kemanusiaan universal.

Raudah yang berdekatan dengan makam Rasulullah

Raudah yang berdekatan dengan makam Rasulullah

Ziarah Cinta ke Makam Rasulullah SAW

Dalam sejarah dikisahkan, Umar bin Abdul Aziz mengirimkan surat dari Damaskus ke Madinah. Isi surat tersebut adalah mengirimkan salam kepada Muhammad SAW. Salam tersebut agar disampaikan dim akam Nabi saat melaksanakan ziarah. Tradisi ini dilkitakan oleh para ulama dan mereka yang tidak berkesempatan untuk melaksanakan ziarah secara langsung ke makam Nabi. Mereka menitipkan kepada orang yang sedang berziarah ke Madinah untuk mengucapkan salam.

Umar bin Khattab di saat kembali dari Jerusalem setelah menguasai kota suci tersebut langsung menuju makam Nabi. Umar sepertinya ingin mengabarkan kepada Nabi perihal pencapaian spektkitaler yang telah diraihnya sebagai penerus dan pemimpin besar setelah Nabi. Jerusalem yang pada saat itu berada dibawah kekuasaan Romawi Byzantium menerima kehadiran islam untuk menguasai Jerusalem tanpa tetesan darah sedikitpun. Umar diterima dengan lapang dada oleh kalangan Kristen, bahkan membuat nota perdamaian di antara mereka sebagai manifestasi dari ajaran agama-agama samawi yang cinta perdamaian.

Ziarah Umar bin Khattab ke makam Nabi meneguhkan sebuah tradisi yang sangat panjang perihal ziarah tersebut. Sumbernya tidak lain adalah cinta yang menghujam dalam sanubari setiap muslim. Tuhan saja mencintai Muhammad SAW sepenuh hati, apalagi pengikut Nabi yang telah mendapatkan petunjuk, bahkan syafaat di akhirat kelak. Didalam Al Quran disebut, Sesungguhnnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah dan kirimkanlah salam damai kepadanya.

Ziarah ke makam Nabi pada hakikatnya adalah ziarah cinta yang lahir dari sebuah iman dan komitmen untuk melaksanakan syariatnya. Spirit yang seperti ini amat penting bagi setiap muslim, terutama dalam rangka memahami dasar dan fondasi syariat yang diusung oleh Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan, Sesungguhnya kita adalah Nabi penebar kasih sayang.

Setiap berziarah Nabi nuansa tersebut sangat terasa, karena ziarah cinta akan melahirkan cinta. Yaitu cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada Nabi. Kedua cinta tersebut akan melahirkan cinta yang lain, yaitu cinta kepada sesama manusia, baik kepada sesama muslim maupun kepada non muslim. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda, Tidak ada seseorang yang menyampaikan salam kepadkita kecuali Allah SWT mengembalikan salam tersebut kepada jiwkita, sehingga kita menjawab salam tersebut kepada orang tersebut.

Menurut Imam Nawawi dan Muhammad Faqi al-Mishri, bahwa jaminan balasan Nabi terhadap siapa pun yang menyampaikan salam kepadanya karena hubungan antara Nabi dan umatnya dibangun diatas dasar cinta sejati. Mereka yang datang ke makam Nabi juga didasarkan cinta yang kuat kepada pujaannya, Muhammad SAW. Meskipun perjalanan jauh dilalui dan tidak sedikit harta yang dikeluarkan untuk misi ziarah tersebut, tetapi ketika sampai di Madinah rasa penat hilang seketika, karena salam dan doa yang diucapkan kepada Nabi akan dijawab, sebagaimana terjadi pada seseorang yang dulu berdoa di makam Nabi.

Kecintaan umat islam dari masa ke masa terhadap Nabi merupakan sebuah kekuatan yang mahadahsyat, yang akan menjelma sebagai harapan untuk membangun peradaban kasih sayang. Setidaknya, masih ada kasih yang terus dan akan selalu hidup dalam diri setiap muslim, yaitu kasih yang diekspresikan dalam ziarah ke makamnya. Sebab itu, para ulama telah mencapai konsensus agar setiap muslim yang mampu menunaikan ibadah umrah dan haji dapat melanjutkan perjalanan spiritual ke Madinah dalam rangka menunaikan shalat di Masjid Nabawi dan berziarah ke makam Nabi.

Tentu, cinta membutuhkan pengorbanan dan totalitas. Tidak semua orang mampu melkitakannya. Tetapi mereka yang mempunyai niat dan komitmen akan senantiasa melkitakan itu sebagai manifestasi dari cinta yang membumbung tinggi dalam sanubarinya. Memang, amat disayangkan jika masih ada pandangan dan anggapan bahwa berziarah ke makam Nabi dan makam orang-orang saleh lainnya sebagai sebuah penyimpangan dari agama. Pandangan seperti ini merupakan sebuah wujud hilangnya spiritualitas dalam beragama. Seolah-olah agama hanya mengajarkan dimensi legal formal, sedangkan dimensi spiritual tidak pernah terpikirkan.

Ajaran cinta yang terkandung dalam islam diharapkan agar setiap muslim dapat menggali nilai-nilai yang telah merekatkan hubungan diantara kelompok yang dulunya berbeda, lalu terikat dalam solidaritas bersama. Hubungan antara kalangan Anshar dan Muhajirin merupakan bukti yang sangat kuat, bahwa ajaran fundamen ajaran Nabi adalah cinta. Yaitu cinta yang makin mempererat hubungan batin serta menghilangkan kebencian diantara mereka.

Ziarah ke makam Nabi harus mampu membangun cinta tersebut untuk kemuliaan hidup setiap umat islam. Apalagi ditengah hilangnya spiritualitas dan moralitas publik agama yang mencerminkan persaudaraan dan solidaritas tersebut. Diperlukan sebuah pendekatan yang mengedepankan intuisi yang semakin mengasah dimensi kemanusiaan.

Setiap muslim harus menjadikan Nabi sebagai teladan dan panutan, baik dalam hal ritual maupun dalam ranah sosial. Melihat sebuah persoalan dengan menggunakan mata hati yang dilandasi cinta akan menjadikan setiap muslim dapat membangun hubungan yang harmonis dan toleran di tengah kemajemukan.

Dengan demikian, setelah melkitakan ziarah ke makam Nabi saatnya untuk memahami kembali ajaran Nabi dengan sebaik-baiknya. Spiritualitas dan moralitas harus disertai dengan intelektualitas dan rasionalitas. Yaitu pemahaman yang sebaik-baiknya dan seluas-luasnya terhadap ajaran Nabi. Ibarat samudera, ajaran Nabi merupakan samudera yang kedalamannya tidak selalu kering. Alangkah indahnya jika kedalaman ajaran tersebut disertai dengan pembelajaran yang intensif untuk sebuah keberislaman yang rahmatan lil alamin.

Sumber:

MADINAH, KOTA SUCI, PIAGAM MADINAH, DAN TELADAN MUHAMMAD SAW

Similar Posts:

Incoming search terms:

  • ziarah madinah
  • makam rosulullo
  • syair untuk rasulullah saw ketika umroh
  • makam Rasulullah di Madinah
  • umroh ke makam nabi muhamad
  • mimpi ziarah makam rasulullah
  • syair wahai nabi yang tertanam di tanah madinah
  • tempat ziarah di madinah
  • umrohh zuarah ke makam pra rosul
  • umrah adalah ziarah ke makam nabi
  • umrah dan ziarah ke makam nabi saw
  • mimpi ziarah makam nabi muhammad
  • Mimpi ziarah ke makan rasulullah
  • mimpi ziarah ke makam nabi
  • Bermimpi ziarah makam nabi
  • doa untuk bisa berkunjung ke makam Rasulullah SAW
  • foto pintu emas makam Nabi Muhammad SAW
  • makam bilal bin rabah
  • Maqam rasul
  • melakukan umroh kapan k makam rosululloh
  • Mimpi ke makam rasu
  • mimpi ke makam rasulullah
  • apakah umroh bisa ziarah ke makam rasulullah