Rukun Haji Pertama Adalah Ihrom

Rukun haji pertama, yaitu ihram adalah fondasi pertama dalam pelaksanaan haji, yaitu niat atau kesengajaan yang tulus untuk beribadah pada Allah SWT.

Pada ritual ihram, semua identitas diri terutama yang melekat di badan harus ditanggalkan dan harus diganti dengan lembaran kain putih yang dipasang menutupi tubuh. Ihram adalah simbol kesucian, bahwa dihadapan Allah diri bukanlah siapa-siapa, melainkan makhluk lemah yang sama kedudukannya di mata Tuhan. Segala kesenangan dunia dan kepemilikan tidak berlaku lagi pada saat ihram. Semua harus dilepaskan dan dikembalikan pada Tuhan.

Selama menjalankan ritual haji, seluruh pikiran, keinginan, dan perbuatan harus dilemparkan ke dalam keihklasan dan dibersihkan dengan ketulusan beribadah. Pikiran yang masih larut dalam delusi, keinginan yang masih tertarik dengan materi, dan perbuatan yang jauh dari kewaspadaan hanya akan menyisakan haji yang sia-sia atau mardud karena esensi haji masih jauh dari harapan. Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Bagi Syari’ati niat ini merupakan awal perubahan dan revolusi besar; niat “perpindahan” dari rumahmu ke rumah umat manusia, dari kehidupan kepada cinta, dari sang diri kepada Allah, dari penghambaan kepada kemerdekaan, dari diskriminasi rasial kepada persamaan, ketulusan dan kebenaran, dari kehidupan sehari-hari kepada kehidupan abadi dan dari egoisme dan  ketidakjujuran kepada ketaatan dan tanggug jawab. Ringkasnya, niat ini merupakan suatu perpindahan ke dalam keadaan ‘ihram’.

Rukun Haji Pertama Adalah Ihrom

Niat yang kemudian diikuti dengan menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram ini sangat penting karena, tidak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga menurut Al-Qur’an berfungsi, antara lain, sebagai pembeda antara seseorang atau kelompok dengan lainnya. Perbedaan tersebut, menurut Quraish shihab, dapat membawa antara lain, kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis kepada pemakainya. Di Miqat Makani, tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan, sehingga semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian pun harus ditanggalkan sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Semua umat Islam menyaksikan pergantian pakaian pada saat Miqat sebagai sumber kesetaraan manusia di mata Tuhan, tetapi implikasinya dijabarkan lebih jauh oleh Syari’ati: Di Miqat ini, apa pun ras dan sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari baik sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan); tikus (yang melambangkan kelicikan); anjing (yang melambangkan tipu daya); atau domba (yang melambangkan penghambaan).

Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1998), Tanggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya. Menanggalkan pakaian biasa berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapuskan keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menimbulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan, pada saat kematiannya. Pada hakikatnya, semua yang ada ini bukanlah milik kita. Nyawa dan tubuh kita sendiri pun tidak bisa kita kuasai, tidak bisa kita pertahankan dari mati, sakit, tua dan sebagainya. Demikian juga harta, tidak bisa kita pertahankan keutuhannya, tidak bisa dipastikan jumlahnya, tidak bisa diketahui secara pasti sampai kapan adanya, bisakah kita memanfaatkannya atau tidak. Berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengusai semua itu dengan sepenuhnya. Ini sebagai bukti kepemilikan Allah SWT, sedang kita tidak lebih hanyalah tempat penitipan belaka, atau hanya peminjam. Untuk lebih menghayati keberadaan nikmat-nikmat itu dan kepemilikan Allah, maka ketika ihram diperintahkan untuk menanggalkan semuanya secara simbolis, lalu dikembalikan kepada Pemiliknya yang hakiki, yaitu Allah. Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih sebagaimana yang akan membalut tubuh ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia.

Rukun Haji Pertama Adalah Ihrom

Menurut Ali Syari’ati, seseorang yang melaksanakan ibadah haji akan dan seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak dihadapan Tuhan Yang Mahakuasa, yang disisi-Nya tiada perbedaaan antara seseorang dengan yang lain kecuali atas dasar pengabdiannya kepada-Nya. Berihram membuat sadar bahwa sebenarnya apa yang ada pada diri kita ini tidaklah milik hakiki kita. Kita diajak untuk melepaskan semua atribut, semua kekuasaan, dan sebagainya. Tidak ubahnya nanti, saat kita meninggal dunia, semua akan lepas dan tanggal dari kita, kecuali amal kita. Tidak ada satupun yang kita bawa. Berbagai materi dunia yang ada di seputar kita semua akan berpisah dan yang menempel di tubuh kita, hanyalah kain putih (kafan). Dalam hal ini, Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M.) menyatakan, sesungguhnya urusan haji dari satu sisi seimbang dengan urusan perjalanan ke akhirat. Sebagaimana orang yang mati bertemu Allah dimasukan ke dalam kain kafan. Sedangkan pakaian ihram ini sedekat-dekat pakaian karena padanya tidak ada jahitan sebagaimana kain kafan.

Dengan menghayati pelaksanaan ihram, perlakuan, dan pernyataan ketika berihram, akan menimbulkan kesadaran dalam diri tentang hakikat jati diri, hakikat perjalanan hidup, dan tujuan hidup ini. Bagi Syari’ati, ibadah haji merupakan sebuah gerakan. Manusia memutuskan untuk kembali kepada Allah. Semua ego dan kecenderungan yang mementingkan diri sendiri dikubur di Miqat. Ia menyaksikan Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, (Semarang: Toha Putera, tth), mayatnya sendiri dan menziarahi kuburnya sendiri. Dengan peristiwa ini ia diingatkan kepada tujuan akhir kehidupannya yang sejati. Ia mengalami kematian dan kebangkitan kembali di Miqat. Dengan mengenakan pakaian ihram yang polos tak berwarna, engkau mengalami suatu kelahiran baru, suatu kebangkitan kembali.

Simbol ihram dengan kain kafan yang menandakan sebuah kematian, bagi Syari’ati merupakan simbol dikuburkannya sifat individual dan yang akan membangkitkan sebuah ummah. Ia menegaskan, haji dimulai dengan menghimpun kesadaran individual menjadi kesadaran kelompok di Miqat: Setiap orang “meleburkan” dirinya dan mengambil bentuk baru sebagai “manusia”. Semua ego dan kecenderungan individual telah terkubur. Semua orang telah menjadi satu “bangsa” atau satu “ummah”. Semua keakuan telah mati di Miqat dan yang ada kini hanyalah “kita”.

Di sini terlihat masyarakat politiesme diseru ke dalam sebuah masyarakat monoteisme atau ummat tauhid. Inilah ummah atau masyarakat yang berada di atas jalan yang benar. Inilah ummah yang sempurna, aktif, dan berada di bawah kepemimpinan Islam. Dalam pembahasannya tentang istilah ummah, Syari’ati merasa perlu berbicara dalam konteks dan spektrum pengertian-pengertian yang berlaku tentang Haji. Istilah-istilah yang baku misalnya nation, people, Grace, mass,dan (social) class. Ummah adalah pengganti dari semua kata itu. Nation umpamanya, berasal dari kata naitre yang berarti lahir. Jadi, istilah itu mengandung pengertian tentang ikatan alami, disucikan dan nyata kehadirannya, seperti ikatan kekerabatan, kesatuan darah atau keturunan dan ras.

Implikasinya, menurut Syari’ati, paham kebangsaan di Eropa sebenarnya berdasarkan diri pada kesamaan primordial ini. Nasionalisme erat hubungannya dengan kesatuan ras, dengan ciri-ciri jasmaniah seperti warna kulit dan keturunan. Pengertian people berkaitan dengan kesamaan-kawasan tempat tinggal tetap. Sedangkan kelas sosial diikat oleh kepentingan yang sama, karena kesamaan pekerjaan, tingkat pendapatan, gaya hidup dan posisi kelas tersebut dalam masyarakat. Ummah, bagi Syari’ati, mengandung berbagai pengertian baru. Ia berasal dari kata amma yang berarti “berniat” dan “menuju.” Ini berkaitan juga dengan kata ama m yang artinya di muka, sebagai lawan dari kata wara-’ atau khalf, artinya belakang. Dari situ ia menarik tiga arti: gerakan, tujuan dan ketetapan kesadaran. Dalam amma, tercakup pengertian taqaddum atau kemajuan, sehingga ia menarik 4 makna lagi yaitu: ikhtiar, gerakan, kemajuan, dan tujuan. Atas dasar itu dan melalui perbandingan dengan istilah-istilah lain, Syari’ati menyimpulkan bahwa “Islam tidak mengangap hubungan darah, tanah, perkumpulan atau kesamaan tujuan, pekerjaan Ummah dan Imamah; Suatu tinjauan Sosiologis, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h.Lihat juga M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 2002), dan alat produksi, ras, indikator sosial, jalan hidup, sebagai ikatan dasar yang suci antara individu-individu manusia.”

Rukun Haji Pertama Adalah Ihrom

Lalu tali apa yang dipandang oleh Islam sebagai ikatan yang paling suci? Bagi Syari’ati, yang menyatukan ummah adalah “perjalanan” yang bersama-sama ditempuh oleh sekelompok manusia. Atau, dalam definisinya, ummah adalah ungkapan pengertian tentang “kumpulan orang, di mana setiap individu sepakat dalam tujuan yang sama dan masing-masing saling membantu agar bergerak ke arah tujuan yang diharapkan, atas dasar kepemimpinan yang sama.”24 Dari sini dapat dipahami mengapa Syari’ati mengaitkan berihram di Miqat yang merupakan awal dari pelaksanaan haji dengan terbentuknya ummah, karena haji adalah bergerak dengan niat yang sama, dengan arah yang sama dan dengan tujuan yang sama, dan itulah pengertian kata ummah menurut Syari’ati.

Tawaf, Simbol Rotasi Lingkaran Tuhan Salah satu awal sentral kegiatan haji adalah tawaf di Ka’bah dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Haji : 29)

Similar Posts:

By |2017-07-26T08:57:15+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment