Umrah Itu Cuma Gaya Hidup Orang Kaya. Kalau semua yang kaya pergi Umrah, apakah yang miskin dilarang bermimpi menuju Baitullah?
Fajar baru saja meneteskan cahaya lembut di balik menara Masjid Asy Syahid. Aroma kopi hitam dan roti bakar masih samar-samar terasa di udara. Jamaah mulai memenuhi saf kajian subuh, sebagian dengan sarung, sebagian masih mengenakan jaket kerja, bahkan ada yang bersandar di tiang masjid sambil menyeruput teh panas.
Di depan, Pakde Djon—dengan gaya khasnya yang agak nyinyir tapi jujur—angkat tangan.
“, saya mau nanya lagi nih…” katanya sambil tersenyum kecut.
“Boleh,” jawab Kyai Endang Madali, menatapnya ramah tapi tajam.
“Begini, … saya sering lihat orang-orang pamer di media sosial. Foto-foto di depan Ka‘bah, caption-nya ‘Masya Allah, akhirnya bisa ke Baitullah.’ Tapi kok ya kelihatannya kayak gaya hidup aja. Jadi, buat apa Umrah kalau cuma buat pamer? Umrah itu kan sekarang kayak simbol status sosial. Umrah itu cuma buat orang kaya, !”
Beberapa jamaah mengangguk pelan. Suara motor ojek lewat di depan masjid. Suasana makin terasa hidup.
Kyai Endang menarik napas panjang.
“ Pakde Djon… kalimatmu itu jujur, tapi tajam. Dan di situlah letak masalah kita hari ini.”
Kyai Endang memulai dengan nada lembut.
“ Pakde Djon, memang ada sebagian orang yang menjadikan Umrah sebagai simbol gaya hidup. Tapi, kesalahan satu orang tidak bisa menodai kesucian ibadah. Kalau ada orang sedekah tapi niatnya ria, apakah berarti sedekah jadi perbuatan buruk?”
Pakde Djon diam. Jamaah mulai memperhatikan.
“Yang salah bukan Umrahnya, Pakde Djon. Yang salah itu niatnya. Niat itu tempatnya di hati, bukan di tiket pesawat.”
Beberapa jamaah tertawa kecil, suasana mencair.
“Masalahnya,” lanjut Kyai Endang, “kita sering terjebak pada dua ekstrem: ada yang Umrah demi gengsi, dan ada yang tidak mau Umrah karena sinis pada yang Umrah. Dua-duanya sama-sama terperangkap ego.”
Wa adzdzin fin-nāsi bil-ḥajji ya’tūka rijālan wa ‘alā kulli ḍāmirin ya’tīna min kulli fajjin ‘amīq.
“Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Tafsir Ibnu Katsir:
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru seluruh umat manusia agar menunaikan haji. Siapa pun yang mendengar panggilan ini — baik miskin, kaya, tua, muda — akan datang bila hatinya tergerak. Maka, panggilan ke Baitullah bukanlah panggilan kelas ekonomi, tapi panggilan hati yang beriman.
Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab):
Seruan ini bersifat universal, melampaui batas geografis dan sosial. Ayat ini mengandung makna bahwa perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar ritual fisik, tetapi simbol penyerahan diri total kepada Allah. Siapa pun yang datang — dengan unta kurus atau pesawat mahal — tetap setara di hadapan Allah.
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min dzakarin wa untsā wa ja‘alnākum syu‘ūban wa qabā’ila lita‘ārafū. Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu bersa-sa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Tafsir Ibnu Katsir:
Kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan, asal suku, atau status sosialnya, melainkan dari kadar ketakwaannya kepada Allah.
Tafsir Al-Misbah:
Ayat ini menegaskan bahwa nilai sejati manusia di hadapan Allah tidak diukur dari “siapa dia di dunia”, tetapi “seberapa tunduk dia pada kehendak Allah.”
(al-‘Umratu ilal-‘umrati kaffāratun limā bainahumā, wal-ḥajju al-mabrūru laisa lahu jazā’un illal-jannah).
“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari, no. 1773; Muslim, no. 1349)
Makna:
Rasulullah ﷺ tidak membedakan antara si kaya atau si miskin dalam keutamaan umrah. Yang Allah lihat bukan saldo rekening, tapi niat hati dan keikhlasan.
Kyai Endang menatap Pakde Djon penuh empati.
“ Pakde Djon, coba kita pikir… kalau ada orang kaya Umrah, jangan buru-buru menuduh dia pamer. Bisa jadi dia memang sedang bersyukur. Dan kalau ada orang miskin yang Umrah, jangan juga dikasihani, karena bisa jadi dialah yang paling dicintai Allah.”
Pakde Djon mengangguk pelan.
“Tapi … gimana kalau memang ada yang sengaja pamer?”
“Biarkan Allah yang menilai niatnya. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memperbaiki niat kita sendiri. Kalau terus sibuk menuduh, kapan hati kita sempat berangkat?”
Kyai Endang tersenyum sambil membuka kitab kecilnya.
“ Pakde Djon, dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah Ummu Ma‘qil — seorang perempuan dari kalangan sederhana yang bernazar untuk berhaji. Ketika suaminya meninggal, ia tak punya kendaraan dan tak tahu cara berangkat. Rasulullah ﷺ menenangkannya, dan berkata agar ia tetap menunaikan nadzarnya sesuai kemampuannya. Akhirnya, Ummu Ma‘qil pun berangkat dengan susah payah — dan Rasul menyebutnya haji yang penuh pahala besar.”
(Rujukan: Shahih Bukhari, Kitab an-Nadhr, no. 6696.)
Kyai Endang melanjutkan, “Dan sekarang , lihatlah media sosial. Ada kisah viral seorang tukang becak di Jom — ditulis di laman NU Online (2023) — yang berangkat Umrah hasil menabung receh dan sedekah pelanggan selama 8 tahun. Orang-orang menertawakan di awal, tapi akhirnya mereka yang menangis di depan Ka‘bah melihatnya thawaf.”
“Masya Allah…” desis Pakde Djon lirih.
“ Pakde Djon,” ujar Kyai Endang lembut, “daripada menilai niat orang, lebih baik kita luruskan niat sendiri.”
Langkah Nyata:
Allāhumma urzuqnī ziyārata baitikal-ḥarām fī ‘āmī hādzā wa fī kulli ‘ām.
“Ya Allah, berilah aku rezeki untuk menziarahi Rumah-Mu yang suci, tahun ini dan setiap tahun.”
Kyai Endang menatap jamaah.
“ Pakde Djon, tahu nggak… yang membuat Umrah indah bukanlah harga tiketnya, tapi niat tulusnya. Umrah bukan gaya hidup orang kaya — Umrah itu gaya hidup orang yang percaya pada janji Tuhannya.”
Masjid hening. Hanya terdengar bisikan dzikir pelan.
Pakde Djon menunduk, matanya berkaca.
“… mungkin selama ini saya salah lihat. Ternyata, yang mahal bukan biaya Umrah… yang mahal itu hati yang ikhlas.”
Catatan Hikmah:
💡 “Kekayaan sejati bukan banyaknya uang di tangan, tapi lapangnya hati untuk menjawab panggilan Tuhan.”
Ngapain Umrah, Toh Dosa Masih Banyak. Kalau menunggu suci untuk datang ke Baitullah, mungkin kita…
Umrah Itu Buang-Buang Uang, Lebih Baik Sedekah Saja. Jika semua harus diukur dengan logika ekonomi,…
Saya Takut Umrah, Takut Nggak Diterima Allah. Kadang kita terlalu takut ditolak, padahal Allah sudah lama…
Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum. Kadang bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita…
Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa. “Kadang bukan dosamu yang menghalangimu ke Baitullah, tapi…
Sejarah Singkat Ibadah Haji. Ketika jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah setiap…