Categories: Ibadah HajiManasik

Sejarah Singkat Ibadah Haji

Sejarah Singkat Ibadah Haji. Ketika jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah setiap musim haji, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan sebuah ibadah yang memiliki akar sejarah yang sangat panjang.

Haji yang kita kenal sekarang memang disempurnakan tata caranya melalui syariat Nabi Muhammad ﷺ. Namun akar tauhidnya telah jauh lebih tua. Ia berkaitan erat dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan pembangunan Baitullah di Makkah.

Karena itu, memahami sejarah haji bukan sekadar mempelajari kronologi sebuah ibadah. Ia adalah cara untuk memahami bagaimana tauhid diwariskan, diuji, mengalami penyimpangan, kemudian dikembalikan kepada kemurniannya oleh Rasulullah ﷺ.

Bahasan Menarik Artikel Ini:

Toggle

Sejarah Singkat Ibadah Haji bukanlah ritual yang lahir pada abad ketujuh

Sejarah Singkat Ibadah Haji

1. Sebelum Haji: Perintah Allah kepada Ibrahim ‘Alaihissalam

Allah SWT mengisahkan ketika Dia menempatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di tempat Baitullah:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا

“Dan ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah, Kami berfirman: Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.”

QS. Al-Hajj: 26

Perhatikan baik-baik.

Sebelum berbicara tentang thawaf, sa’i, wukuf, atau berbagai manasik lainnya, Allah terlebih dahulu menegaskan:

أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا

“Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.”

Inilah fondasi Baitullah.

Ka’bah sejak awal bukan dibangun untuk menjadi objek penyembahan. Ka’bah adalah pusat ibadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Karena itu, sejarah haji pada hakikatnya adalah sejarah tauhid.

2. Ibrahim dan Ismail Membangun Baitullah

Allah berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ

“Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…”

QS. Al-Baqarah: 127

Keduanya membangun atau meninggikan fondasi Baitullah.

Tetapi ada pemandangan yang sangat indah setelah pekerjaan itu selesai.

Ibrahim dan Ismail tidak membanggakan karya mereka.

Tidak berkata:

“Lihatlah apa yang telah kami bangun.”

Sebaliknya, mereka berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Rabb kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 127

Inilah adab luar biasa para nabi.

Setelah beramal, mereka takut amalnya tidak diterima.

Ini pelajaran penting bagi setiap jamaah haji.

Selesai thawaf jangan merasa:

“Saya sudah hebat.”

Selesai haji jangan merasa:

“Saya sudah pasti menjadi orang saleh.”

Sebaliknya:

“Ya Allah, terimalah amal kami.”


3. Ibrahim Berdoa agar Makkah Menjadi Pusat Tauhid

Setelah pembangunan Baitullah, Ibrahim ‘alaihissalam berdoa:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.”

QS. Al-Baqarah: 128

Perhatikan orientasi doa Ibrahim.

Bukan:

“Ya Allah, jadikanlah Makkah kota terkaya.”

Bukan pula:

“Jadikan keturunanku semuanya orang terkenal.”

Tetapi:

“Jadikan kami orang yang berserah diri kepada-Mu.”

Itulah tujuan utama Baitullah.


4. Ibrahim Mengajarkan Manusia Tata Cara Mengagungkan Baitullah

Allah kemudian memerintahkan Ibrahim:

وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang yang beribadah, orang yang rukuk dan orang yang sujud.”

QS. Al-Hajj: 26

Baitullah dipersiapkan sebagai tempat ibadah.

Kemudian Allah memberikan perintah yang sangat penting:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji.”

QS. Al-Hajj: 27

Ibrahim diperintahkan menyeru manusia untuk berhaji.

Kemudian Allah berfirman:

يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”

QS. Al-Hajj: 27

Dan apa yang kita saksikan hari ini?

Manusia datang dari:

Indonesia, Malaysia, Afrika, Eropa, Amerika, Asia Tengah, Timur Tengah dan berbagai penjuru dunia.

Dengan pesawat modern, kendaraan, bus, kereta, dan berbagai sarana transportasi.

Tetapi hakikatnya sama:

mereka sedang menjawab panggilan Ibrahim yang diperintahkan Allah.


5. Hajar dan Ismail: Awal Kehidupan di Lembah Makkah

Sejarah Makkah juga tidak dapat dipisahkan dari Hajar dan Ismail.

Dalam hadits panjang riwayat Muhammad ﷺ yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dijelaskan kisah ketika Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail, ke sebuah lembah yang ketika itu belum memiliki kehidupan seperti sekarang.

Ibrahim meninggalkan keduanya di sana atas perintah Allah.

Hajar bertanya kepada Ibrahim mengapa ia meninggalkan mereka di tempat tersebut.

Ketika Hajar mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah, ia berkata dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka. HR. Bukhari.

Kemudian terjadi peristiwa yang menjadi bagian penting dari sejarah haji:

Hajar mencari air untuk Ismail.

Ia berlari antara Shafa dan Marwah.

Tujuh kali.

Dari sinilah kita mengenal sa’i sebagai salah satu rangkaian ibadah haji dan umrah.

Allah kemudian mengabadikan Shafa dan Marwah:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syiar-syiar Allah.”

QS. Al-Baqarah: 158


6. Zamzam: Pertolongan Allah Setelah Ikhtiar

Ketika usaha Hajar mencapai puncaknya, Allah memberikan pertolongan.

Air Zamzam memancar di dekat Ismail.

Makkah kemudian menjadi tempat kehidupan.

Kabilah-kabilah mulai datang dan menetap.

Dengan demikian, sejarah Makkah tidak dapat dipisahkan dari tiga unsur:

Tauhid.

Keluarga.

Tawakkal.

Hajar berusaha.

Hajar berlari.

Hajar mencari.

Tetapi pertolongan datang dari Allah.

Maka sa’i mengajarkan sebuah prinsip penting:

Tawakkal bukan meninggalkan ikhtiar.

Hajar bertawakkal kepada Allah sambil melakukan usaha maksimal.


7. Haji Mengabadikan Perjuangan Sebuah Keluarga

Ini salah satu keunikan haji.

Allah mengabadikan perjalanan sebuah keluarga:

Ibrahim — Hajar — Ismail.

Sampai hari ini jutaan manusia melakukan sebagian manasik yang memiliki hubungan dengan sejarah mereka.

Thawaf berkaitan dengan Baitullah yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail.

Sa’i mengingatkan perjuangan Hajar.

Kurban mengingatkan pengorbanan Ibrahim dan Ismail.

Makkah mengingatkan perjalanan keluarga Ibrahim.

Dengan demikian, haji bukan hanya sejarah seorang nabi.

Ia adalah sejarah sebuah keluarga yang seluruh anggotanya tunduk kepada Allah.


8. Dari Tauhid Menuju Penyimpangan

Namun perjalanan sejarah manusia tidak selalu lurus.

Seiring berlalunya generasi, tauhid yang diwariskan oleh Ibrahim dan Ismail mengalami perubahan dalam praktik masyarakat Arab.

Ka’bah yang dibangun sebagai pusat tauhid akhirnya dikelilingi oleh berbagai berhala.

Salah satu nama yang paling dikenal dalam sejarah penyembahan berhala Arab adalah Hubal.

Masyarakat Arab jahiliah juga mengenal berbagai berhala lainnya.

Allah menggambarkan keadaan mereka:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ

“Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka.”

QS. Yunus: 18

Dengan demikian, masalah utama masyarakat jahiliah bukan karena mereka tidak mengenal Allah sama sekali.

Tetapi mereka telah mencampurkan pengakuan terhadap Allah dengan kesyirikan dalam ibadah.


9. Ka’bah Tetap Ada, Tetapi Tauhidnya Terkontaminasi

Ini pelajaran sejarah yang sangat penting.

Sebuah ritual dapat bertahan sementara makna tauhidnya hilang.

Baitullah tetap berdiri.

Thawaf tetap dilakukan.

Haji tetap dikenal.

Tetapi praktiknya tercampur dengan berbagai bentuk kesyirikan dan tradisi jahiliah.

Allah menggambarkan sebagian perilaku mereka:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً

“Shalat mereka di sekitar Baitullah tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan.”

QS. Al-Anfal: 35

Ini menunjukkan bahwa keberadaan sebuah ritual tidak otomatis berarti ritual tersebut masih berada dalam bentuk yang diridhai Allah.


10. Kemudian Allah Mengutus Rasulullah Muhammad ﷺ

Berabad-abad kemudian, Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ.

Misi beliau bukan membuat agama baru.

Beliau datang untuk mengembalikan manusia kepada tauhid Ibrahim.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Katakanlah: sesungguhnya Rabb-ku telah memberiku petunjuk kepada jalan yang lurus, agama yang benar, yaitu agama Ibrahim yang lurus.”

QS. Al-An’am: 161

Jadi Islam yang dibawa Muhammad ﷺ bukan pemutusan sejarah tauhid.

Ia adalah kelanjutan dan penyempurnaan risalah tauhid para nabi.


11. Rasulullah ﷺ Membersihkan Ka’bah dari Berhala

Setelah Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Haram.

Beliau menghancurkan berhala-berhala yang berada di sekitar Ka’bah.

Allah berfirman:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”

QS. Al-Isra’: 81

Dengan demikian, Ka’bah dikembalikan kepada fungsi asalnya:

Pusat ibadah kepada Allah Yang Maha Esa.


12. Rasulullah ﷺ Mengembalikan Haji kepada Tauhid

Allah berfirman:

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Dan suatu pengumuman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”

QS. At-Taubah: 3

Haji kemudian dibersihkan dari berbagai praktik kesyirikan.

Ka’bah kembali menjadi pusat tauhid.

Talbiyah kembali menegaskan:

لَا شَرِيكَ لَكَ

“Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Inilah inti reformasi haji yang dibawa Rasulullah ﷺ.


13. Haji Wada’: Rasulullah ﷺ Mengajarkan Manasik

Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ melaksanakan Haji Wada’, haji terakhir beliau.

Beliau bersabda:

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”

HR. Muslim

Kalimat ini sangat penting.

Artinya, setelah haji kembali kepada tauhid, Rasulullah ﷺ juga memberikan pedoman praktis pelaksanaan manasik.

Karena itu, tata cara haji tidak boleh hanya berdasarkan kebiasaan masyarakat.

Ia harus mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.


14. Haji Wada’ Menjadi Warisan bagi Umat

Pada Haji Wada’, Rasulullah ﷺ juga menyampaikan khutbah yang sangat agung.

Beliau menegaskan berbagai prinsip penting tentang:

  • kehormatan darah manusia,
  • kehormatan harta,
  • kehormatan manusia,
  • amanah,
  • hubungan antara laki-laki dan perempuan,
  • persaudaraan kaum muslimin.

Kemudian beliau menyampaikan pesan yang sangat terkenal:

فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

“Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

HR. Bukhari dan Muslim

Seolah-olah Rasulullah ﷺ sedang menyerahkan amanah risalah kepada generasi setelah beliau.


15. Dari Ibrahim kepada Muhammad ﷺ: Satu Mata Rantai Tauhid

Jika kita tarik garis sejarahnya, kita menemukan sebuah mata rantai yang sangat indah:

Ibrahim ‘alaihissalam

Membangun/meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail

Menyeru manusia kepada haji

Tauhid diwariskan

Generasi berganti

Terjadi penyimpangan dan kesyirikan

Allah mengutus Muhammad ﷺ

Ka’bah dibersihkan dari berhala

Haji dimurnikan kembali

Rasulullah ﷺ mengajarkan manasik

Umat Islam meneruskannya hingga hari ini.

Dengan demikian:

Haji adalah warisan tauhid Ibrahim yang dimurnikan dan disempurnakan dalam syariat Muhammad ﷺ.


16. Mengapa Haji Harus Berakhir pada Tauhid?

Karena dari awal hingga akhir, haji selalu mengarah kepada Allah.

Ibrahim berkata:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif.”

QS. Al-An’am: 79

Talbiyah berbunyi:

لَا شَرِيكَ لَكَ

“Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Thawaf dilakukan mengelilingi Baitullah.

Sa’i menghidupkan perjuangan Hajar.

Wukuf adalah kesempatan memperbanyak doa dan dzikir.

Kurban mengingatkan pengorbanan Ibrahim.

Dan semuanya diarahkan kepada:

Allah Rabbul ‘Alamin.


17. Sejarah Haji Sebenarnya adalah Sejarah Perjuangan Melawan Syirik

Kalau kita melihat sejarahnya secara lebih mendalam, kita menemukan pola yang sangat kuat:

Ibrahim membangun Baitullah untuk tauhid.

Manusia kemudian menyimpangkan tujuan ibadah.

Berhala masuk ke sekitar Ka’bah.

Rasulullah ﷺ datang.

Berhala dihancurkan.

Tauhid dikembalikan.

Maka haji juga mengandung sebuah pesan peradaban:

Bangunan suci saja tidak cukup jika hati manusia dipenuhi kesyirikan.

Yang harus dibersihkan bukan hanya lingkungan Ka’bah.

Tetapi juga:

Ka’bah hati manusia.


18. Ada Ka’bah yang Kita Thawafi, Ada “Berhala” yang Harus Kita Tinggalkan

Ini adalah renungan spiritual.

Kita mungkin tidak menyembah patung.

Tetapi manusia modern bisa memiliki “berhala” dalam bentuk lain.

Harta bisa menjadi berhala.

Jabatan bisa menjadi berhala.

Popularitas bisa menjadi berhala.

Pujian manusia bisa menjadi berhala.

Hawa nafsu bisa menjadi berhala.

Bahkan ego bisa menjadi berhala.

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

QS. Al-Jatsiyah: 23

Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ membersihkan Ka’bah dari berhala, kita perlu bertanya:

“Berhala apa yang masih saya simpan di dalam hati?”


19. Haji Bukan Sekadar Melanjutkan Tradisi Ibrahim

Ada perbedaan besar antara:

mengikuti sebuah tradisi

dan

menghidupkan sebuah tauhid.

Seorang jamaah tidak seharusnya berkata:

“Saya berhaji karena orang tua saya berhaji.”

atau:

“Karena semua orang di keluarga saya berhaji.”

atau:

“Karena sudah waktunya.”

Tetapi:

“Saya memenuhi panggilan Allah.”

Itulah ruh:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ


20. Sebuah Renungan: Kita Datang sebagai “Anak Cucu Ibrahim”

Secara spiritual, setiap jamaah yang mengucapkan talbiyah sedang memasuki sebuah arus sejarah yang sangat panjang.

Ada jejak Ibrahim.

Ada jejak Ismail.

Ada jejak Hajar.

Ada jejak Rasulullah ﷺ.

Ada jejak para sahabat.

Ada jejak generasi-generasi kaum muslimin setelahnya.

Dan sekarang kita berdiri di dalam mata rantai itu.

Maka pertanyaannya bukan sekadar:

“Kapan saya pergi haji?”

Tetapi:

“Apakah saya masih membawa tauhid yang diperjuangkan Ibrahim?”


21. Dari Ibrahim hingga Muhammad ﷺ: Pesannya Sama

Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

QS. Al-Bayyinah: 5

Inilah benang merah seluruh risalah para nabi.

Bukan:

“Sembahlah banyak kekuatan.”

Tetapi:

Sembahlah Allah semata.

Haji menjadi salah satu manifestasi paling besar dari pesan tersebut.


22. Dari Baitullah Menuju Tauhidullah

Sejarah haji akhirnya membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang sangat indah.

Ibrahim membangun Baitullah.

Hajar mengajarkan perjuangan.

Ismail mengajarkan ketundukan.

Generasi setelahnya mengalami penyimpangan.

Muhammad ﷺ mengembalikan Baitullah kepada tauhid.

Dan umat Islam meneruskan perjalanan itu hingga hari ini.

Karena itu, ketika seorang muslim berdiri di hadapan Ka’bah dan mengucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

sesungguhnya ia sedang mengatakan:

“Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Aku datang meninggalkan sementara dunia yang selama ini menyibukkanku.
Aku datang sebagai hamba-Mu.
Aku datang membawa dosa, kelemahan, harapan dan penyesalan.
Dan aku ingin kembali kepada-Mu dengan tauhid yang lebih bersih.”

Maka sejarah haji bukan hanya sejarah tentang Ka’bah.

Bukan hanya sejarah tentang Makkah.

Bukan hanya sejarah tentang Ibrahim.

Dan bukan hanya sejarah tentang Muhammad ﷺ.

Lebih dalam dari itu, sejarah haji adalah sejarah tentang:

PERJALANAN TAUHID MANUSIA MENUJU ALLAH.

Dan selama manusia masih mengucapkan:

لَا شَرِيكَ لَكَ

“Tidak ada sekutu bagi-Mu,”

maka gema tauhid Ibrahim ‘alaihissalam masih terus hidup di muka bumi.

Jembatan menuju bahasan berikutnya

Setelah memahami dari mana haji berasal dan bagaimana Rasulullah ﷺ mengembalikannya kepada tauhid, pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting:

Mengapa Allah memilih Makkah sebagai pusat ibadah? Mengapa Ka’bah menjadi kiblat umat Islam? Dan apa sebenarnya makna Baitullah bagi perjalanan spiritual seorang hamba?

Dari sinilah kita bisa masuk ke bahasan berikutnya:

“Ka’bah dan Baitullah: Mengapa Allah Memilih Rumah Ini sebagai Pusat Tauhid Dunia?”

Bahasan tersebut akan menjadi jembatan yang sangat kuat sebelum kita masuk satu per satu ke makna spiritual setiap manasik: ihram, miqat, talbiyah, thawaf, sa’i, wukuf, mabit, jumrah, kurban, dan tahallul.

Sejarah Singkat Ibadah Haji: Akar Tauhid dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad ﷺ

“Pak Kyai, ibadah haji ini sudah ada sejak kapan?” tanya Amir, matanya berbinar, tertarik pada akar sejarah.

“Ah, pertanyaan bagus, Nak,” Pak Haji Abdullah tersenyum. “Ibadah haji ini memiliki akar yang sangat dalam, jauh sebelum masa Rasulullah Muhammad ﷺ. Ia adalah warisan tauhid yang agung, berawal dari kisah seorang bapak para nabi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.”

Kisah ini bermula ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk membangun sebuah rumah ibadah di lembah yang tandus dan tidak berpenghuni, di tempat yang kini kita kenal sebagai Makkah. Bersama putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam, mereka berdua mendirikan Ka’bah, Baitullah, rumah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Setelah selesai membangunnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyeru manusia agar datang berhaji. Dalam QS. Al-Hajj 22: 26-27:

وَاِذْ بَوَّأْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْـًٔا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Wa idz bawwa’nâ li’ibrâhîma makânal-baiti al lâ tusyrik bî syai’aw wa thahhir baitiya lith-thâ’ifîna wal-qâ’imîna war-rukka‘is-sujûd

Terjemah: (Ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, mukim (di sekitarnya), serta rukuk (dan) sujud.

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ

Wa adzdzin fin-nâsi bil-ḫajji ya’tûka rijâlaw wa ‘alâ kulli dlâmiriy ya’tîna ming kulli fajjin ‘amîq

Terjemah: (Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk membangun Ka’bah sebagai pusat ibadah tauhid, dan kemudian menyeru seluruh umat manusia untuk datang ke sana menunaikan haji. Beliau menafsirkan bahwa seruan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu didengar oleh seluruh jiwa yang akan lahir hingga hari kiamat, dan setiap jiwa yang menjawab seruan itu, kelak akan berkesempatan menunaikan haji.

Tafsir Al-Misbah (Prof. Quraish Shihab): Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manifestasi dari tauhid murni. Perintah untuk menyeru manusia berhaji menunjukkan universalitas ibadah ini, melintasi batas waktu dan geografis. Ini adalah panggilan untuk kembali kepada fitrah, kepada satu Tuhan.

Tafsir Al-Qurtubi: Imam Al-Qurtubi menguraikan bahwa seruan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ini adalah mukjizat, karena suaranya mampu menjangkau seluruh penjuru bumi. Beliau juga menyoroti bahwa haji adalah ibadah yang mengumpulkan manusia dari berbagai latar belakang, menunjukkan kesetaraan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sejak saat itu,” Pak Haji melanjutkan, “ibadah haji terus berlangsung, meskipun dalam perjalanannya sempat mengalami penyimpangan pada masa Jahiliyah. Ka’bah yang seharusnya menjadi pusat tauhid, dipenuhi berhala. Ritual-ritual haji dicampuri dengan tradisi-tradisi syirik dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.”

Kemudian, datanglah Rasulullah Muhammad ﷺ, membawa risalah Islam yang menyempurnakan dan memurnikan kembali ajaran tauhid. Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah Muhammad ﷺ menunaikan haji terakhirnya, yang dikenal sebagai Haji Wada’. Dalam haji ini, beliau ﷺ mengajarkan tata cara haji yang benar, menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah, dan mengembalikan ibadah haji pada kemurniannya, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Haji Wada’ ini menjadi pedoman utama bagi umat Islam dalam menunaikan ibadah haji hingga hari kiamat.

Tadabbur: Sejarah haji mengajarkan kita tentang kontinuitas tauhid. Dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad ﷺ, esensi ibadah ini tetap sama: mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan sejarah panjang para nabi, mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari mata rantai umat yang besar, yang semuanya bersatu dalam menyembah Tuhan Yang Esa. Setiap kali kita berhaji atau berumrah, kita tidak hanya meneladani Rasulullah Muhammad ﷺ, tetapi juga menelusuri jejak langkah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merasakan kembali seruan agung yang pernah beliau ‘alaihissalam kumandangkan.

Aplikasi dalam Kehidupan Modern: Di era modern ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai ideologi dan gaya hidup yang mencoba menggeser nilai-nilai keimanan. Memahami sejarah haji mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada akar tauhid yang murni. Ini berarti menjaga kemurnian akidah kita, tidak mencampuradukkan ajaran Islam dengan hal-hal yang bertentangan dengannya. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap perbuatan, menjauhi segala bentuk syirik, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi (seperti riya’ atau terlalu bergantung pada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala). Ini adalah pengingat bahwa fondasi hidup kita haruslah kokoh di atas tauhid, sebagaimana Ka’bah yang kokoh sebagai pusat ibadah.

admin

Recent Posts

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum. Kadang bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita…

2 hours ago

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa. “Kadang bukan dosamu yang menghalangimu ke Baitullah, tapi…

3 hours ago

Hakekat Umrah Haji: Sebuah Panggilan Jiwa

Hakikat Ibadah Umrah Haji adalah Sebuah Panggilan Jiwa. Pagi itu, di sebuah sudut masjid yang…

6 days ago

Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Panduan Lengkap + 7 Kriteria Penting

Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…

1 year ago

Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…

1 year ago

Apakah Hukum Berkurban? Penjelasan Lengkap Menurut Islam

Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…

1 year ago