Sejarah Singkat Ibadah Haji: Akar Tauhid dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad ﷺ
“Pak Kyai, ibadah haji ini sudah ada sejak kapan?” tanya Amir, matanya berbinar, tertarik pada akar sejarah.
“Ah, pertanyaan bagus, Nak,” Pak Haji Abdullah tersenyum. “Ibadah haji ini memiliki akar yang sangat dalam, jauh sebelum masa Rasulullah Muhammad ﷺ. Ia adalah warisan tauhid yang agung, berawal dari kisah seorang bapak para nabi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.”
Kisah ini bermula ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk membangun sebuah rumah ibadah di lembah yang tandus dan tidak berpenghuni, di tempat yang kini kita kenal sebagai Makkah. Bersama putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam, mereka berdua mendirikan Ka’bah, Baitullah, rumah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Setelah selesai membangunnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyeru manusia agar datang berhaji. Dalam QS. Al-Hajj 22: 26-27:
Wa idz bawwa’nâ li’ibrâhîma makânal-baiti al lâ tusyrik bî syai’aw wa thahhir baitiya lith-thâ’ifîna wal-qâ’imîna war-rukka‘is-sujûd
Terjemah: (Ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, mukim (di sekitarnya), serta rukuk (dan) sujud.
Wa adzdzin fin-nâsi bil-ḫajji ya’tûka rijâlaw wa ‘alâ kulli dlâmiriy ya’tîna ming kulli fajjin ‘amîq
Terjemah: (Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk membangun Ka’bah sebagai pusat ibadah tauhid, dan kemudian menyeru seluruh umat manusia untuk datang ke sana menunaikan haji. Beliau menafsirkan bahwa seruan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu didengar oleh seluruh jiwa yang akan lahir hingga hari kiamat, dan setiap jiwa yang menjawab seruan itu, kelak akan berkesempatan menunaikan haji.
Tafsir Al-Misbah (Prof. Quraish Shihab): Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manifestasi dari tauhid murni. Perintah untuk menyeru manusia berhaji menunjukkan universalitas ibadah ini, melintasi batas waktu dan geografis. Ini adalah panggilan untuk kembali kepada fitrah, kepada satu Tuhan.
Tafsir Al-Qurtubi: Imam Al-Qurtubi menguraikan bahwa seruan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ini adalah mukjizat, karena suaranya mampu menjangkau seluruh penjuru bumi. Beliau juga menyoroti bahwa haji adalah ibadah yang mengumpulkan manusia dari berbagai latar belakang, menunjukkan kesetaraan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Sejak saat itu,” Pak Haji melanjutkan, “ibadah haji terus berlangsung, meskipun dalam perjalanannya sempat mengalami penyimpangan pada masa Jahiliyah. Ka’bah yang seharusnya menjadi pusat tauhid, dipenuhi berhala. Ritual-ritual haji dicampuri dengan tradisi-tradisi syirik dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.”
Kemudian, datanglah Rasulullah Muhammad ﷺ, membawa risalah Islam yang menyempurnakan dan memurnikan kembali ajaran tauhid. Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah Muhammad ﷺ menunaikan haji terakhirnya, yang dikenal sebagai Haji Wada’. Dalam haji ini, beliau ﷺ mengajarkan tata cara haji yang benar, menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah, dan mengembalikan ibadah haji pada kemurniannya, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Haji Wada’ ini menjadi pedoman utama bagi umat Islam dalam menunaikan ibadah haji hingga hari kiamat.
Tadabbur: Sejarah haji mengajarkan kita tentang kontinuitas tauhid. Dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad ﷺ, esensi ibadah ini tetap sama: mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan sejarah panjang para nabi, mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari mata rantai umat yang besar, yang semuanya bersatu dalam menyembah Tuhan Yang Esa. Setiap kali kita berhaji atau berumrah, kita tidak hanya meneladani Rasulullah Muhammad ﷺ, tetapi juga menelusuri jejak langkah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merasakan kembali seruan agung yang pernah beliau ‘alaihissalam kumandangkan.
Aplikasi dalam Kehidupan Modern: Di era modern ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai ideologi dan gaya hidup yang mencoba menggeser nilai-nilai keimanan. Memahami sejarah haji mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada akar tauhid yang murni. Ini berarti menjaga kemurnian akidah kita, tidak mencampuradukkan ajaran Islam dengan hal-hal yang bertentangan dengannya. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap perbuatan, menjauhi segala bentuk syirik, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi (seperti riya’ atau terlalu bergantung pada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala). Ini adalah pengingat bahwa fondasi hidup kita haruslah kokoh di atas tauhid, sebagaimana Ka’bah yang kokoh sebagai pusat ibadah.
Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum. Kadang bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita…
Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa. “Kadang bukan dosamu yang menghalangimu ke Baitullah, tapi…
Hakikat Ibadah Umrah Haji adalah Sebuah Panggilan Jiwa. Pagi itu, di sebuah sudut masjid yang…
Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…
Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…
Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…