Categories: Khasanah Islam

Kisah Abu Lahab Paman Rasulullah SAW yang Dilaknat dan Masuk Neraka

Kisah Abu Lahab Paman Rasulullah SAW yang Dilaknat dan Masuk Neraka. Kisah Abu Lahab bin ‘Abdul Muttalib  sayangnya blum ada catatan tentang kapan lahirnya, namun Abu Lahab meninggal 624M. Sementara Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi tahun 610M atau 611M. Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atas Abu Lahab dan Isterinya sebagai salah satu musuh Islam. Keduanya tetap musrik hingga akhir hayat dan dilaknat masuk neraka.

Kisah Keluarga Rasulullah SAW #15 Abu Lahab Paman Rasulullah SAW yang Dilaknat dan Masuk Neraka

Kisah Abu Lahab Paman Rasulullah SAW yang Dilaknat dan Masuk Neraka (muslim.okezone.com)

Kisah Abu Lahab Di Dalam Al Qu’an, Surah Al Lahab @Pakdedjon #keluargarasul #syamailrasul #abutholib #pamannabi #pamanrasul #surahallahab

Nama lengkapnya adalah Abdul Uzza bin ‘Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar. Istrinya adalah Ummu Jamil binti Harb (berarti Ummu Jamil ini saudara dari Abu Sofyan bin Harb salah seorang tokoh Quraish penentang Risalah Nabi Muhammad SAW).

Keluarga Abdul Uzza ini termasuk orang kaya dan sukses di antara keluarga pedagang Makkah. Dia menginginkan sekali untuk mengelola sumur zamzam dan memimpin jamuan bagi para peziarah dan jamaah haji yang ke Makkah.

Akan tetapi oleh ayahnya, Abdul Mutholibm jabatan tersebut justru diberikan kepada Abu Tholib yang dinilai memiliki perangai yang lebih sopan santun, berbudi luhur dan dermawan. Oleh karena itu Abu Lahab sangat iri dandengki kepada keluarga Abu Tholib.

Padahal awalnya, Abu Lahab juga ikut bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sehingga ia memberikan budaknya Tsuwaibah untuk menyusui Nabi. Ia juga memotong kambing dan mengirimkan kepada Ayahnya Adbul Mutholib yang mengadakan jamuan acara selamatan kelahiran Nabi.

Abu Lahab memiliki Enam anak. Yaitu: Utbah bin Abu Lahab, Utaibah bin Abu Lahab, Mu’tib bin Abu Lahab, Durrah Bin Abu Lahab, Khalidah Binti Abu Lahab dan Izza Binti Abu Lahab.

Alhamdulillah, 4 anak Abu Lahab masuk Islam pada hari penaklukan Mekah dan mereka ikut menyaksikan dan berperang bersama Rasulullah SAW dalam pertempuran Hunain dan Thaif, Sementara Utaibah, dia menjadi penentang Rasulullah SAW dan Ia tewas dimakan oleh singa atas doa Rasulullah SAW. Begitu pun Utbah tetap musrik hingga meninggal.

Abu Lahab adalah kakak Se-Ayah Abdullah (ayah Nabi Muhammad SAW). Nama kecilnya adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib. ‘Uzza merupakan nama sebuah berhala yang dipuja orang Quraisy. Dia dipanggil dengan sebutan “Abu Lahab” yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia seperti “Pak Menyala”, karena mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan.[2] Ayahnya Adalah Abdul Muthalib Bin Hasyim Dan Ibunya Bernama Lubna Binti Hajir Bin Abd Manaf Bin Dhatar Bin Habashiyah Bin Salul, Istri Abu Lahab bernama Arwa, saudara perempuan Abu Sufyan Sakhar bin Harb, khalah (bibi dari ibu) dari Muawiyah. Arwa bergelar “Ummu Jamil”, yang berarti “Ibu dari kecantikan”, karena ia memiliki wajah yang cantik.

Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, hubungan Muhammad dengan Abu Lahab sangat baik. Dalam suatu riwayat, Abu Lahab sangat senang ketika menyambut kelahiran Muhammad. Ia memandangnya sebagai ganti adiknya yang meninggal di waktu muda, Abdullah (ayah Muhammad). Abu Lahab sampai mengirimkan seorang budak perempuannya yang muda, bernama Tsuaibah, untuk menyusui Muhammad, sebelum datang Halimatus Sa’diyah dari desa Bani Sa’ad. Bahkan dua putri Nabi Muhammad, Ruqaiyah, dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Dan Ummu Kaltsum yang juga putri Rasulullah dinikahkan dengan Utaibah bin Abu Lahab.

Pertentangan dengan Nabi Muhammad

Video Youtube: Kisah Abu Lahab Paman Rasulullah SAW yang Dilaknat dan Masuk Neraka

Setelah Nabi Muhammad memulai dakwahnya menjadi Utusan Allah, mulailah Abu Lahab dan kedua anak laki-lakinya menjadi penentang keras dakwah Rasulullah SAW.

Seruan di Bukit Shafa

Ketika turun surat Al Qur’an dalam Asy-Syuara  ayat 214,

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ ۝٢

wa andzir ‘asyîratakal-aqrabîn

“Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat”,

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah secara terang-terangan kepada keluarga dan kerabatnya. Dalam tafsir ringkas Kementerian Agama dijelaskan bahwa ayat tersebut bermakna:

Dan berilah peringatan, wahai rasul, kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, janganlah mereka menyekutukan Allah, dan ajaklah mereka ke jalan yang benar. Keluarga adalah lingkaran pertama yang harus menjadi prioritas dakwah. Mengandalkan unsur kekerabatan tidak bisa menolong dari siksa Allah jika mereka masih tetap berbuat syirik.

Nabi Muhammad SAW pun segera keluar dari rumahnya menuju bukit Shafa untuk menyampaikan risalah Islam. Dia berdiri diatas Bukit Shofa dan menyeru orang-orang untuk berkumpul. Bagi Bapak dan Ibu yang sudah berangkat Haji dan Umroh tentu paham bahwa posisi bukit Shofa itu tidak jauh dari Ka’bah, mungkin sekitar 200-300 an meter. Ka’bah dan pelatarannya adalah tempat favorit bagi orang-orang Makkah untuk berkumpul. Mereka menyembah berhala-berhala mereka dan kongko-kongko bisnis bersama sahabat-sahabatnya.

Setelah banyak kerabat dan orang-orang Makkah berkumpul, Rasulullah SAW mulai berdakwah dan mengucapkan, “Kalau aku katakan kepada kamu bahwa musuh dengan kuda perangnya ada di balik bukit ini, adakah di antara kamu yang percaya?”. Semua orang menjawab “ Ya, kami percaya”, jawabnya. Hal ini bisa terjadi, karena Nabi Muhammad dikenal jujur dan tidak pernah berdusta di kalangan masyarakat Makkah sejak beliau kecil.

Rasulullah SAW pun teruskan perkataannya, “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwa di hadapan saya ini azab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu.” Seluruh orang terdiam mendengarnya dan berusaha memahami apa yang disampaikan Nami Muhammad SAW.

Namun tiba-tiba Abu Lahab berteriak dengan lantang penuh amarah, “Apa kamu mengumpulkan kami hanya untuk mengatakan itu hai Muhammad? Celakalah engkau!”.

Abu Lahab pun terus mencela Nabi Muhammad SAW dengan kata-kata kasar, Bahkan akan melempari Nabi Muhammad SAW dengan batu dan menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang keji.

Mendengar cacian dan hinaan Abu Lahab yang kasar tersebut Nabi Muhammad SAW hanya diam. Dan selanjutnya turunlah Surah Al Lahab ayat 1-5 sebagai jawaban atas cercaan Abu Lahab. Maka Rasulullah SAW pun mebacakan surat tersebut di hadapan merka yang hadir.

Surat  Surah Al-Lahab yang juga disebut Surat Al Masad.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

Tabbat yadā abī lahabiw wa tabb(a).

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.763)

Catatan Kaki 763) Yang dimaksud dengan kedua tangan Abu Lahab adalah Abu Lahab itu sendiri.

مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ

Mā agnā ‘anhu māluhū wa mā kasab(a).

Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.

سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ

Sayaṣlā nāran żāta lahab(in).

Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka),

وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ

Wamra’atuh(ū), ḥammālatal-ḥaṭab(i).

(begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ ࣖ

Fī jīdihā ḥablum mim masad(in).

Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.

Mendengar jawaban Rasulullah SAW yang menyampaikan Surat Al Lahab tersebut tentu saja Abu Lahab tambah marah dan murka. Dia terus berteriak-teriak dengan sumpah serapah kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga pertemuan pun menjadi kacau dan bubar.

Rasulullah SAW pun mengadakan pertemuan berikutnya, yang sebenarnya tidak mengundang Abu Lahab, Namun ia mendengar berita tersebut dan mendatangi acara dakwah Rasulullah SAW dengan masih mendemdam penuh kemarahan. Abu Lahab pun kembali mencela dan menghina Nabi Muhammad SAW.

Bibi Rasulullah SAW, yaitu Shofiyah binti Abdul Mutholib pun menegur Abu Lahab. “Wahai saudaraku, apa sangkaanmu kepada laki-laki itu (maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW)? Sudah sepantasnya dia begitu. Demi Allah, tidakkah para kepala agama dulu telah memberitahukan kepada kita dari keturunan Abdul Mutholib yang bergelar Nabi dan Rasul Allah? Dan orang itu tidak lain adalah Muhammad.

Akan tetapi Abu Lahab tak bergeming. Ia tetap marah dan memusuhi risalah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Ia berteriak: Demi berhala latta dan uzza,itu adalah dongeng dusta. Itu adalah cerita bohong!

Abu Lahab pulang dan menemui Istrinya dengan perasaan kesal penuh amarah kepada Rasulullah SAW, kemudian ia memanggil kedua putranya Utbah dan Utaibah dan menyuruh kedua anaknya tersebut untuk menceraikan istri-istrinya, yakni Rokaiyah dan Ummu Kaltsum yang keduanya adalah putri Rasulullah SAW.

Utbah dan Utaibah pun memulangkan istri-istri mereka kepada Rasulullah SAW dengan kata-kata kasar. Utaibah mencela Rasulullah SAW dan putri-putrinya. Sementara Utbah hanya diam saja.

Dalam kisah selanjutnya, nanti Rukaiyah dinikahi oleh sahabat Utsman bin Affan dan ketika Rukaiyah wafat, Usman pun menikahi Ummi Kaltsum.

Rasulullah SAW yang menerima kembali kedua putrinya dengan perasaan  sedih  dan berlinang air mata. Beliau pun lalu berdoa: Ya Allah kirimkanlah kepada mereka anjing-anjing penjaga.

Mendengar doa Nabi Muhammad SAW tersebut, kedua putra Abu Lahab ini ketakutan dan segera pergi. Dalam kisah selanjutnya Allah SWT mengirim seokor singa besar untuk mencegat rombongan dagang Utbah dan Utaibah di wilayah padang pasir Az Zarqah daerah Syam. Utaibah pun tewas diterkam singa tersebut sementara angota rombongan yang lain selamat termasuk Utbah.

Seruan di Dzil Majaz

Abu Lahab, istrinya dan kedua anak  laki-lakinya menjadi penentang dakwah Rasulullah SAW. Ia menggunakan sebagain besar hartanya termasuk kalung kesayangan istrinya, untuk menentang risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Abu Lahab sering menguntit atau mengikuti kemana pun Nabi Muhammad pergi, untuk mencegah dan memberitahu kepada orang-orang yang didakwahi Rasulullah SAW,bahwa apa yang diserukan Muhammad adalah bohong semuanya.

Istrinya sering menaburkan kotoran unta dan duri di depan rumah Nabi Muhammad SAW dengan harapan agar Nabi Muhammad SAW tidak bisa pergi berdakwah.

Suatu hari Ummu Jamil istri Abu Lahab ini berangkat ke Ka’bah sambil membawa batu. Ia ingin melempari Nabi Muhammad SAW dengan batu-batu yang dibawanya. Pada saat itu di halaman Ka’bah nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk dengan sahabatnya Abu Bakar, namun Ummu Jamil celingak celinguk tidak melihat Rasulullah SAW ada di samping Abu Bakar. Ia pun jengkel dan berteriak kepada Abu Bakar: Hai Abu Bakar, dimana temenmu itu?

Abu Bakar yang kebingungan, hanya diam dan tertegun, tidak menjawab pertanyaan Ummu Jamil.

Setelah istri Abu Lahab pergi, Abu Bakar bertanya: Ya Rasulullah apakah dia tidak melihat Engkau?

Rasulullah SAW pun mejawab: Allah SWT telah menutup penglihatan dia, sehingga tidak melihat keberadaanku disini.

Ketika Nabi Muhammad SAW sedang berdakwah di Pasar Dzil Majaz, beliau berkata : “Hai sekalian manusia! Katakanlah La Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan mendapat kemenangan.” Banyak orang berkumpul mendengarkan Nabi Muhammad. Kemudian, datanglah Abu Lahab dengan berkata : “Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat dengan agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta!”.

Utusan Kabilah Arab

Utusan kabilah-kabilah Arab hendak menemui Nabi Muhammad SAW di Makkah untuk meminta keterangan mengenai Islam. Merekapun ditemui oleh Abu Lahab. Kalau orang itu bertanya tentang keponakannya itu, ia berkata “Dia itu Penipu, tukang sihir”.

Kematian Abu Lahab Paman Rasulullah SAW

Dalam Perang Badar Abu Lahab tidak ikut berangkat. Ia mewakilkan dan membayar Al Ashi bin Hisyam untuk menggantikannya. Ia juga menyumbangkan hartanya sebanyak 4 ribu dirham atau sekitar 280 juta kalau dirupiahkan sekarang.

Setelah Perang Badar selesai, Abu Lahab mendapat berita bahwa pasukan Makkah telah kalah dalam Perang Badar, 70 orang tewas dan puluhan orang tertawan. Ia pun jatuh sakit hingga meninggal setelah peristiwa tersebut.

Ada beberapa riwayat seputar kematian Abu Lahab ini. Abu Lahab bertengkar dengan orang quraisy, Ia didorong hingga jatuh dan kepalanya dipukul dengan batu dengan kerasnya sehingga terluka parah berdarah. Lukanya tak sembuh-sembuh dan menyebabkan infeksi hingga dia tewas.

Riwayat lain menyebutkan, ia menderita sakit kulit yang parah,penuh bisul dan nanah sehingga baunya sudah tercium dari bebrapa meter,hingga ia mati. Hingga 3 hari kematiannya, tidak ada orang yang menjamahnya sehingga berbau busuk. Akhirnya jasadnya dikuburkan dengan cara hina. Dimasukkan ke dalam peti dan didorong le luar kota Makkah dengan gerobak lalu dimasukkan ke dalam liang kubur dan ditimbun dengan kerikil dan pasir.

Saat ini ada bukit dengan nama bukit Abu Lahab di pinggiran kota Makkah yang diperkirakan sebagai lokasi kuburan Abu Lahab. Wallahu ‘alam.

Putra Abu Lahab, Utbah, akhirnya memeluk Islam setelah Fathul Makkah bersama saudaranya Mu’atab setelah disadarkan oleh pamannya yaitu Abbas bin Adul Mutholib. Keduanya saat itu sedang bersembunyi di Arofah. Sementara putrinya Barrah sudah masuk Islam lebih dahulu saat masih di Makkah dan ikut rombongan hijrah ke Madinah.

Kedatangan kedua saudara sepupu, Utbah dan Mu’atab ini untuk masuk Islam, Rasulullah SAW sangat gembira dan menyambutnya dengan suka cita. Rasulullah SAW lalu membawa keduanya ke Multazam (sebuah tempat diantara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad),lalu berdoa agar Allah SWT ridlo atas keislamannya. Merekapunberbahagia dan wajahnya berseri-seri karena keislamannya diterima Allah SWT.

Bapak Ibu sekaliyan yang dirahmati Allah SWT, inilah salah satu hukum yang membolehkan dan mendorong para jamaah yang sedang di sekitar Ka’bah untuk bisa berdoa di Multazam,yaitu lokasi di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang mustajab dari 18 tempat mustajab di sekitar Masjidil Haram.

Selanjutnya mereka ikut berdakwah mendampingi Rasulullah SAW dan ikut berperang. Di perang Hunain Utbah selalu mendampingi dan bersama Rasulullah SAW. Utbah tetap tinggal di Makkah hingga wafat.

Bapak Ibu sekaliyan yang dirahmati Allah SWT, surat Al Lahab juga memberikan sudut pandang bagi kita tentang takdir ketetapan Allah SWT. Dimana Abu Lahab dan Istrinya atas kesombongannya yang selalu merendahkan Rasulullah SAW dan menolak kebenaran risalah yang disampaikan Rasulullah SAW, sudah ditetapkan oleh allah SWT sebagai orang terhina, terlaknat dan masuk neraka. Ketetapan ini faktanya tidak bisa diubah meski antara turunya Surah Al Lahab dan kematian Abu Lahab berselang waktu sekitar 14-15 tahun. Peristiwa ini juga menunjukkan akan kebenaran Al Qur’an sebagai firmanAllah SWT, bukan buatan atau karangan Rasulullah SAW sebagaimana dituduhkan kalangan musrikin Makkah waktu itu dan kalangan orientalis saat ini.

Weda Gin

Recent Posts

Umrah Itu Cuma Gaya Hidup Orang Kaya

Umrah Itu Cuma Gaya Hidup Orang Kaya. Kalau semua yang kaya pergi Umrah, apakah yang…

1 day ago

Saya Takut Umrah, Takut Nggak Diterima Allah

Saya Takut Umrah, Takut Nggak Diterima Allah. Kadang kita terlalu takut ditolak, padahal Allah sudah lama…

3 days ago

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum. Kadang bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita…

4 days ago

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa. “Kadang bukan dosamu yang menghalangimu ke Baitullah, tapi…

4 days ago

Sejarah Singkat Ibadah Haji

Sejarah Singkat Ibadah Haji. Ketika jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah setiap…

1 week ago

Hakekat Umrah Haji: Sebuah Panggilan Jiwa

Hakikat Ibadah Umrah Haji adalah Sebuah Panggilan Jiwa. Pagi itu, di sebuah sudut masjid yang…

1 week ago