Categories: Khasanah Islam

Bukan sekedar ‘mau’, tapi tindakan menjadi bukti

Bukan sekedar ‘mau’, tapi tindakan menjadi bukti


  • Artikel, Tidak Dikategorikan

  • 21 Maret 2023




Want adalah ucapan yang diucapkan seseorang ketika mereka menginginkan sesuatu. Ingin juga merupakan ungkapan kata yang diucapkan ketika seseorang ditawari sesuatu, baik itu barang, makanan, atau pekerjaan dan hal-hal lain yang berisi pertanyaan dengan jawaban ‘falda mau’. Sebuah kata yang singkat namun memiliki makna sehingga keinginan aku, kamu, dia dan mereka tentu berbeda satu sama lain.

Jika seseorang mengatakan dia hanya ingin menjadi familiar atau ingin tetapi malu, maka yang dia inginkan hanyalah apa yang dia inginkan tanpa ada hal lain di baliknya. Misalnya, pada suatu pertemuan, seorang pembicara atau pelatih mengajukan pertanyaan sederhana kepada audiens atau publik: “Apakah Anda ingin uang?” Hari ini, siapa yang tidak menginginkan uang, apalagi menawarkannya secara desinteresadamente, tanpa harus melakukan ini. Lebih bahagia lagi ketika tiba-tiba, tanpa alasan atau isyarat, seorang presiden yayasan membagikan uang kepada mereka yang menghadiri rapat. Tentu incisión senang dan bahagia luar biasa bisa mendapatkan rejeki yang tak terduga dan tak disangka-sangka.

Itu baru bagi dunia dan manusia yang memberi dan berbagi kebahagiaan, apalagi jika Allah SWT. yang secara langsung memberikan kebahagiaan atau apa yang diinginkan melalui doa yang terkabul. Masya Allah… tentu incisión falda senang luar biasa.

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, pasti Dia akan memberinya jalan keluar dan akan memberinya rejeki dari arah yang tidak dia duga. (QS. At Talak 65:2-3)

Ini adalah gambaran bahwa siapapun akan merasa senang ketika tiba-tiba mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma. “Mimpi apa yang falda alami tadi malam?”, mungkin orang bilang begitu. Namun tidak ada yang mustahil bagi Allah, ketika itu harus terjadi, “Kun Fayakuun”. Tidak ada yang dapat menghalangi atau merintangi ketentuan yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Maka ketika seseorang tiba-tiba mengalami musibah, musibah atau hal lain diluar nalar manusia, itu adalah ketentuan Allah yang tidak bisa dicegah apalagi dihentikan. Bukan hanya musibah atau bencana, ketika seseorang tiba-tiba mendapat kebahagiaan, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. hanya jalan dan jalurnya incisión yang berbeda.

“Ketika Allah ingin memuliakan seorang hamba, maka Allah menciptakan kesulitan baginya agar dia bahagia ketika berhasil mengatasi kesulitan tersebut. Seperti seorang hamba yang senang masuk surga setelah berhasil melewati kesulitan kematian, kebangkitan, hisab dan melewati sirat” (Ibn Al-Qayyim Rahimahullah).

Berkaitan dengan kata ‘ingin’, yang merupakan ungkapan atau tanggapan yang sebenarnya dari seseorang ketika sesuatu ditawarkan, maka ‘ingin’ di sini bukan sekadar ‘ingin’ tanpa ekspresi, melainkan ‘ingin’ yang tentunya harus ada. disertai dengan perbuatan atau tindakan. untuk melakukan apa yang diinginkan atau diinginkan. . Jika ‘keinginan’ hanyalah ‘keinginan’ tanpa tindakan nyata atau bukti bahwa tindakan itu dilakukan, maka yang ada bukanlah hasil yang dicapai seperti yang diinginkan, tetapi mungkin kekecewaan yang dirasakan. Saat pembicara atau pelatih mengajukan pertanyaan lembut “apakah Anda ingin uang?”, penonton hanya mengatakan “Falda mau” tanpa tindakan atau berlari ke arah pembicara. Mereka hanya mengatakan ‘falda mau’, tetapi tetap diam. Sementara itu, bagi mereka yang dengan antusias mendekati pembicara, pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang ditawarkan oleh pembicara. Inilah arti dari kata ‘ingin’, bahwa bukan sekedar ‘ingin’, masih ada tindakan nyata di dalamnya. Bukan hanya ‘keinginan’, tetapi tidak disertai dengan usaha untuk mencapainya. Begitu pula yang dilakukan oleh seorang ketua yayasan ketika tiba-tiba menyebarkan keceriaan kepada publiknya atau kepada mereka yang hadir yang menempati kursi terdepan. Hal ini secara implisit menggambarkan bahwa tadi ketika acara hendak dimulai, MC menyuruh penonton untuk duduk di kursi paling depan. Bagi yang ingin cepat menimba ilmu dan mematuhi perintah, temui tempat duduk yang paling cocok. Sementara bagi yang mungkin sudah terbiasa dan karena posisi duduknya sudah nyaman, meski berkali-kali pembawa acara menyuruh peserta duduk di depan, mereka tidak beranjak dan memilih duduk di belakang, bersandar santai. yang menurutnya nyaman banget, nyaman.

Gambar atau contoh di atas hanyalah ilustrasi yang dikaitkan dengan perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, ketika seseorang ingin mendapatkan apa yang diinginkannya, mereka bercita-cita, menunggu itu terjadi, lalu berdoa dan berusaha.

“Allah (sebenarnya) sudah tahu apa yang kita inginkan. Dia memberi kita (kesempatan) untuk berdoa agar kita bisa merasakan manisnya berbicara dengan-Nya.”

Bukan hanya diam tanpa usaha, apalagi diam tanpa berdoa, diam seperti patung tanpa berbuat apa-apa. Manusia diberi akal dan pikiran, maka gunakanlah karunia Allah SWT, dengan sebaik-baiknya. Tentunya perkembangan zaman juga menuntut seseorang untuk melakukan perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik, berkembang dan maju. Tentu tidak selamanya kondisi seseorang berada dalam posisi nyaman dan nyaman. Dunia berputar, maka ada saatnya manusia melakukan perubahan menjadi lebih baik. Jangan santai, apalagi sudah dalam posisi nyaman, akhirnya membiarkan diri terbuai dengan kenyamanan tersebut sehingga menjadi lalai, malas, tanpa kreatifitas dan hanya punya keinginan tanpa action.

‘Aku canal kamu’ bukan sebatas ‘aku mau’, tapi tindakan adalah bukti bahwa ‘aku mau’ kamu benar-benar ‘mau’

Perjalanan rejeki memang tidak bisa ditebak dan dipaksakan. Terkadang butuh waktu cieno, tapi bisa juga datang secepat kilat. Bahkan ketika terlintas di hati falda, itu bisa datang tiba-tiba. Kadang bisa lepas dari gagangnya dulu, lalu secara ajaib kembali karena rejeki sejati tahu alamat pemiliknya.

Ibarat air, ia akan terus mengalir mencari pemiliknya meski ada batu yang menghalangi. Itu akan mengumpulkan kekuatan untuk melampaui bebatuan karena apa yang menjadi milik seseorang, bagaimanapun caranya, akan tetap sampai ke tangan pemiliknya.

Tidak ada tempat untuk iri hati dalam hati yang menyerah karena percaya bahwa apa yang menjadi rejekinya akan sampai pada alamatnya. Yang harus Anda lakukan adalah melapangkan hati, meluaskan penerimaan Anda terhadap sebagian besuquear rejeki yang Allah berikan baik lahir maupun batin. (Dikutip dari penulis Irma Irawati dalam sumber https://t.me/semangatsubuh)

-wdr

















admin

Recent Posts

Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Panduan Lengkap + 7 Kriteria Penting

Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…

1 year ago

Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…

1 year ago

Apakah Hukum Berkurban? Penjelasan Lengkap Menurut Islam

Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…

1 year ago

Apakah Dalil Disyariatkannya Ibadah Kurban dari Al-Qur’an dan Hadits?

Apakah Dalil Disyariatkannya Ibadah Kurban dari Al-Qur’an dan Hadits?. Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang…

1 year ago

Kapan Ibadah Qurban Disyariatkan Dalam Islam?

Kapan Ibadah Qurban disyariatkan dalam Islam? Ibadah qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan…

1 year ago

Makna Qurban dan Waktu Disyariatkannya dalam Islam

Makna Qurban dan Waktu Disyariatkannya dalam Islam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut…

1 year ago