Apakah tanda-tanda bahwa kita telah menjadi budak harta atau budak dunia? Nabi Semoga Allahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita untuk berpaling dari menjadi budak dunia.
Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani
Bab tentang asketisme dan kesalehan
Bab Asketisme dan Wara’
Hadits #1478
Atas otoritas Abu Hurairah (dia berkata: Utusan Allah berkata) Itu diberikan kepadanya tanpa puas} Bukhari membawanya keluar.
Dari Abu Hurairah Tuhan memberkati, Rasulullah Semoga Allahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celakalah hamba dinar, dirham dan qathifah (sejenis kain beludru atau wol). Jika diberi, ia senang dan jika tidak diberi, ia tidak senang.(HR. Bukhari) (HR. Bukhari, no. 6435)
manfaat hadits
- Arti ta’isa dalam hadits itu adalah kalimat yang menyedihkan, itu menunjukkan jelek, jauh.
- Yang dimaksud budak dinar dan dirham adalah ruh dalam mencari dunia dan merendahkan diri, sehingga yang menjadi budak ruh dalam mengumpulkan harta hanya mementingkan mengurusnya. Orang-orang seperti ini dianggap sebagai hamba dan budak harta. Ia tenggelam dalam nafsu dunia dan mencarinya.
- Penyebutan dinar, dirham dan qathifah (pakaian) hanyalah sebuah contoh. Ada juga gila kekuasaan, gila foto, faja rumah dan hal-hal lain di dunia. Intinya, segala sesuatu di dunia yang menyimpang dari perintah Tuhan dianggap sebagai budak dunia itu. Tandanya adalah jika dunia dimenangkan, ia direnggut. Sedangkan jika tidak mendapatkan dunia, maka kamu akan marah. dia tidak bahagia takdir tuhan.
- Fakta memiliki dan mengumpulkan dunia semata tidak patut dicela. Yang memalukan adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari yang dibutuhkan lalu memalingkan seseorang dari Allah, berpaling dari berbuat kebaikan. Jika kekayaan masih mengarah pada perbuatan baik, tentu tidak tercela.
- Arti “Jika diberi, ia senang dan jika tidak diberi, ia tidak senang. Memiliki dua arti. Makna pertama, terkait dengan tujuan yang telah ditetapkan Tuhan. Jika ditujukan untuk rezeki, puaslah. Jika tidak ditakdirkan, itu adalah kemarahan. Makna kedua, dia puas jika dia diberikan kepemilikan syariah yang menjadi haknya. Jika dia tidak diberi harta yang menjadi haknya, dia menjadi marah. Kedua makna ini menunjukkan bahwa kesenangan dan kemarahan Anda bergantung pada kekayaan.
- Hadits ini menunjukkan teguran bagi mereka yang terlalu bergantung pada dunia. Dunia hanya menjadi tujuan utama. Tandanya adalah hatimu menolak untuk mengingat dan menyembah Tuhan.
- Ada harta yang dibutuhkan manusia dan ada harta yang tidak dibutuhkan manusia. Jangan biarkan hati bergantung pada dunia yang bukan merupakan kebutuhan hidup sehingga pada akhirnya hati bergantung pada selain Allah. percaya kepada selain Allah.
Portaequipajes juga:
Referensi:
- Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syekh ‘Abdullah bin Salih Al-Fauzan. Redaksi Dar Ibnul Jauzi. 10:149-151.
- Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syekh Dr. Muhammad Mustafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 5:78-79.
—
Rabu pagi, 12 Syawal 1444 H (3 Mei 2023)
Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com