Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah

Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah
Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah

Ayo Bisnis Umroh. Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan  jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk.”

 (QS. Al-Baqarah: 45)

Paket umroh bulan Desember
Paket umroh bulan Desember
  1. PILIHAN SULIT PADA MASA SULIT

Saya adalah pria kelahiran Makassar, 12 April 1982 yang nekat memilih bisnis jasa Biro Perjalanan Wisata Rohani yaitu umroh, pada tahun 2009. Usaha travel umroh merupakan usaha bidang jasa yang tidak memiliki wujud sehingga membutuhkan tenaga ekstra dalam memulai usaha tersebut. Saya dan istri harus bekerja keras untuk mendirikan bisnis tersebut aga dapat berjalan dan berkembang hingga saat ini.

Saya dan istri pada awalnya mendapatkan “surat cinta” dari salah satu bank pemberi kredit karena rumah tempat tinggal kami adalah rumah KPR yang berasal dari bank pemerintah tersebut. Kami tidak dapat melakukan pembayaran angsuran selama enam bulan, sehingga pihak perbankan menyarankan agar aset kami dijual atau dengan kata lain dilelang. Pihak perbankan memberitahu kami bahwa rumah tersebut harus dikosongkan dalam waktu satu bulan. Saya dan istri sangat kebingungan. Saya tidak tahu tindakan yang harus saya ambil karena kondisi usaha yang saya tekuni mengalami gulung tikar dan terlilit banyak hutang.

Cobaan selanjutnya kembali datang ketika keesokan harinya saya mendapat surat pemberitahuan dari PLN yang berisi tunggakan pembayaran listrik selama tiga bulan. Kami hanya pasrah dengan konsekuensi yang ada karena kami dalam kondisi hampir tidak punya uang. Alhasil, listrik rumah saya dipadamkan dan beberapa hari kemudian para petugas datang ke rumah kami untuk mencabut meteran. Ekspresi yang ditunjukkan oleh para petugas tersebut hanyalah senyum basa-basi yang saya balas dengan senyuman kecut.

Hidup kami menjadi lengkap dalam penderitaan. Kami dapat bernasib sama seperti sepasang kekasih pada lagu Gubuk Bambu, tetapi kami lebih menderita karena terancam kehilangan tempat tingga dan tidak memiliki gubuk bambu. Hidup tanpa penerangan cahaya membuat kami menderita. Saya benar-benar bingung untuk mengambil tindakan apa selama tiga hari tersebut.

Istriku yang manis tiba di rumah dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya setelah tiga hari kemudian. Ia mulai menceritakan apa yang ia lakukan setelah menarik apas panjang dan menenangkan diri di atas sofa. Ia mencertiakan bahwa ia telah pergi menuju Pegadaian untuk menggadaikan emas miliknya. Hasil penggadaian emas tersebut istri saya mendapatkan uang sejumlah 7 juta dan langsung diberikan kepada saya. Istri saya memberikan uang tersebut dan berkata dengan penuh keyakinan, “Kak, ini uang dari hasil menggadaikan emas. Mungkin ini bisa membantu”. Saya terdiam dan terharu saat menerima uang tersebut. Istri saya rela berkorban demi keluarga dengan melakukan hal yang baik dan membanggakan. Uang yang diberikan oleh istri saya sejujurnya tidak cukup untuk membayar salah satu tagihan. Pasalnya tagihan listrik kami yang tertunggak selama tiga bulan telah menembus angka Rp. 9.300.000,00 dan tagihan kredit rumah yang tertunggak selama enam bulan lebih fantastis lagi mencapai Rp. 63.600.000,00.

Saya pun terduduk di sebelah istri saya. Saya hanya terdiam, sementara istri sata terus menatap saya menunggu keputusan terbaik dari saya. Saya tak tahu mana yan harus saya dahulukan, apakah pembayaran listrik terlebih dahulu atau membayar tagihan dari pihak bank. Uang 7 juta rupiah pada kenyataannya juga kami butuhkan untuk dapat bertahan hidup karena saya belum memiliki penghasilan. Istri saya tahu bahwa saya butuh waktu untuk menyendiri. Ia berlalu meninggalkan saya dan biasanya ia langsung menyalakan televisi. Ia tidak dapat menyalakan televisi seperti biasanya karena meteran listrik di rumah kami telah dicabut oleh pihak PLN.

Istiqomah Mantapkan Niat Pergi Umroh Saat Sulit

Istiqomah Mantapkan niat pergi umroh meski kondisi sulit
Istiqomah Mantapkan niat pergi umroh meski kondisi sulit

           Saya mencoba dengan tenang dan terfokus pada solusi, bukan masalah. Seperti kata ayah saya, “Jika kamu punya persoalan dan terus kamu pikirkan persoalan itu akan membesar seperti balon.” Saya percaya itu dan mencoba memikirkan alternatif penyelesaian. Mendadak perhatian saya terarah pada brosur yang tergeletak dengan rapi di atas meja yang bertuliskan “Tawaran Paket Umroh Munajat”. Tiba-tiba dalam benak saya muncul sebuah pikiran yang mungkin bagi Anda janggal. Saya terus memandangi brosur tersebut dan muncul pemikiran yang entah kreatif atau putus asa, apakah ini jawabannya? Mengapa mata saya begitu terikat dengan brosur umroh itu? Apakah ini berarti bahwa saya harus minta langsung kepada-Nya?

Saya tidak menganggap bahwa ide tersebut adalah hasil dari jiwa yang penuh dengan tekanan. Tanpa banyak bertanya saya mendekati istri yang sedang mencorat-coret kertas, ia sedang menghitung. Sepertinya ia juga tengah berpikir keras bagaimana cara menuntaskan semua hutang-hutang kami. Lalu, saya memintanya berkemas dan meninggalkan rumah. Ia merasa aneh ketika melihat saya begitu semangat lalu bertanya, “Ada apa, Kak?”. Saya tidak segera menjawab karena jika saya sampaikan, ia akan menganggap ide ini janggal dan tidak akan pergi dengan saya.

Saya mengarahkan motor saya menuju lokasi biro travel seperti yang tertera pada brosur tersebut. Lokasi yang ditunjukkan berada di Jakarta Barat, di daerah Kebon Jeruk. Akhirnya saya tiba di sebuah ruko dengan banner umroh terpampang jelas di depan pintunya. Saya segera melangkahkan kaki dengan cepat ke dalam ruko sambil menuntun istri saya yang terlihat ragu-ragu. Begitu masuk, kami merasakan udara yang lebih sejuk daripada di luar. Kami disambut dengan ramah oleh karyawan yang bekerja di tempat itu.

Ustaz Agung, sang pemiliki travel, berada di sana dan tengah duduk di tempat salah satu stafnya. Sang pemilik melayani saya secara langsung seperti layaknya seorang pelanggan VIP. “Apa yang dapat kami bantu, Pak?”, tanya sang ustaz sambil tersenyum memamerkan giginya yang tidak sepenuhnya putih. Dengan suara sedikit bergetar saya berusaha menjawab, “Saya ingin mendaftar umroh.” Mendengar perkataan saya, istri saya kaget dan hampir menjatuhkan gelas air mineral yang ada di tangannya. Ia terlihat tidak percaya dengan apa yang saya lakukan dan mungkin ia menganggap saya sediit gila. Ia menatap saya dengan tatapan yang tajam. Dengan suara setengah berbisik dan wajah memerah ia berusaha menyampaikan protesnya, “Kak, aku nggak percaya Kakak melakukan ini. Kita butuh dana untuk melunasi tagihan-tagihan kita. Kok malah Kakak gunakan untuk umroh?” katanya dengan mata yang dipicing. Sekiranya di rumah mungkin suaranya akan menembus langit-langit rumah.

Saya menatapnya dan memegang jemarinya. Saya berusaha menenangkannya dan berjanji akan menjelaskannya nanti. Suara saya yang lembut dan agak parau selalu mampu menenangkan kegelisahan istri. Wajahnya kembali terlihat datar. Kali ini saya harus mengucap syukur karena memiliki istri yang baik dan sabar. Padahal tindakan saya itu memang tidak masuk akal dan janggal. Bahkan sampai sekarang, ketika mengingat hal itu saya sering tersenyum sendiri membayangkan betapa konyolnya saya waktu itu.

Saya kembali mengarahkan pandangan saya kepada ustaz yang sedari tadi mengamati pembicaraan saya kepada istri dengan jemarinya memainkan tasbih. “Maaf ustaz, sekiranya boleh, saya bisa bayar DP dulu?” tanya saya seketika. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang,”Tetapi kami tidak ada sistem seperti itu Pak.” jawabnya sembari melihatku dari ujung rambut hingga ujung tubuhku yang tidak terhalang meja. Sepertinya ia hendak menganalisis siapa sebenarnya saya ini yang penampilannya seperti seorang karyawan rendahan, tapi menginginkan umroh. Lalu, dengan sabar dan tenang saya memberikan penjelasan dan meyakinkan beliau bahwa saya akan membayar sisanya.

Ia terlihat berpikir sejenak dengan melirik ke atas, memainkan bibirnya dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan hingga akhirnya ia mengangguk. “Oke, Pak. Kami terima DP-nya, tapi sesuai janji Bapak, sisanya Bapak lunasi besok.” ucapnya. Mendengar hal itu saya gembira sekali. Saya melirik istri sata dengan wajah berseri meskipun ia tetap saja datar dan merasa aneh dengan kegembiraan saya. Kami pun meninggalkan ruko itu dan kembali pulang ke rumah.

Saya segera mengganti pakaian rumah yang membuat saya nyaman ketika sampai di rumah. Saya kemudian mengajak istri saya yang telah mengganti pakaiannya untuk berbicara di ruang tengah dengan ditemanni sebuah lilin. Sayangnya, saya tidak dapat menghidupkan radio untuk memasang lagu yag lembut. Ini saatnya saya menjelaskan tindakan gila yang telah saya lakukan, ”Dik, ini adalah pilihan yang sulit. Tetapi, entah mengapa saya begitu yakin jika Allah tidak akan membebani umatnya melebihi kesanggupannya”. Saya membuka pembicaraan dengan ucapan yang sangat bijak bak seorang motivator.

Istri saya membalas dengan tarikan napas dalam lalu menghembuskannya untuk membuang beban yang ada dalam dadanya,”Tetapi Kak, uang Rp 7.000.000,00 itu adalah uang terakhir yang kita miliki. Kita sudah tidak punya barang lagi yang bisa dijual untuk mendapatkan uang.”

“Ya, Dik. Saya juga tahu itu. Tetapi saya yakin ini pilihan yang tepat menurut saya.”

Semakin saya menjelaskan, wajah istri saya semakin terlihat bingung. Dahinya mengerut. Saya sadar bahwa alasan yang saya sampaikan tidak begitu meyakinkan. Saya terpaksa memikirkan sebuah alasan yang 100% tidak benar, “Saya ada alasan lainnya, Dik”. Ia mulai merasa bahwa ini adalah maksud sebenarnya dari niat saya pergi umroh. Ia terlihat begitu serius memandang saya dan mencondongkan wajahnya yang manis ke arah saya, “Sebenarnya saya hendak berangkat ke Tanah Suci untuk meminta bantuan kepada seseorang. Ia kemungkinan besar mau meminjamkan uangnya kepada saya yang dapat kita gunakan untuk membayar tagihan-tagihan.”

“Begitukah, Kak?”

Saya mengangguk dengan tatapan teduh dan sikap yang sangat meyakinkan. Ia pun menampilkan senyumannya yang indah dan menyejukkan hati saya. Lalu, ia kembali bertanya, “Tetapi Kak, kita kan baru bayar DP di travel sebesar Rp 5.000.000,00 dan harus membayar sisanya Rp 12.000.000,00 lagi. Bagaimana itu?” Mendengar komentar ringan itu saya tertohok, pendapatnya ada benarnya juga. Semangat saya yang menggebu-gebu membuat saya lupa bahwa kami tidak memiliki dana atau barang yang siap dilego untuk menutupi kekurangan tersebut.

Saya berusaha menenangkan diri. Pada titik ini yang dapat saya lakukan adalah pasrah. Lalu saya berkata kepada istri saya, “Tahu nggak arti dari bacaan talbiah Labbaikallahumma labbaik, labaikka la syarika laka labbaik?” Ia menatapku teduh dan menunggu jawabanku. “Artinya, ya Allah aku datang memenuhi panggilanmu,” jelasku. “Dan tahu nggak Dik artinya? Siapa yang memanggil maka Dia juga yang mencukupkan atau yang membayarkan. Saya sangat yakin Allah akan mencukupkan uang tadi apabila Allah memanggil saya untuk datang ke Mekkah dan Madinah di Saudi Arabia”. Mendengar penjelasan yang meneduhkan itu, mendadak wajah istri saya memerah, jemarinya saling mencubit dan menari-nari dengan cepat. Ini menandakan bahwa ia sedang gelisah. “Kakak ini sudah gila, ya?” tanyanya dengan suara yang lebih keras dari intonasi biasanya.

“Belum,” jawabku datar.

“Astaghfirullah, Kakak,” jawabnya dengan wajah terlihat memilukan. Ia hampir saja menangis.”

Kali ini saya tidak mempunyai penjelasan lain untuk menenangkannya. Saya piker ucapan saya yang terakhir itu akan menjadi pamungkas, ternyata tidak.

Kami diam beberapa saat hingga istri saya kembali bersuara, “Kak, terus terang saya tidak tahu harus ngomong apa lagi. Saya tahu kita telag kehabisan akal untuk menyelesaikan masalah kita. Jadi, terserah Kakak. Saya hanya berharap semoga Allah memudahkan Kakak ya”. Mendengar itu saya merasa lega. Istri saya memberikan restu dan dukungan. Saya lalu mengenggam jemarinya yang halus dan mengucapkan terima kasih.

Apa yang dikhawatirkan istri saya mulai menunjukkan wujudnya. Satu, dua, hingga tiga hari berlalu belum ada tanda-tanda saya dapat melunasi tagihan saya bahkan untuk melunasinya pun belum tahu harus bagaimana. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Saya tatap layar di ponsel, ternyata dari sahabat saya yang bernama Mas Tomi. Saya langsung mengangkat telepon dan terjadilan dialog yang berakhir dengan sebuah kejutan.

“Abu, kamu lagi ngapain?”

“Ya lagi di rumah….lagi nganggur,” jawab saya jujur.

“Saya mau minta tolong boleh nggak?”

“Minta tolong apa, Tom?” tanya saya penasaran..

“Saya mau minta tolong supaya kamu bantuin kakak saya di Jogja, beliau hendak buka kafe.”

“Kafe apaan…..?”

“Ya, kafe biasa kan kamu jagonya. Bisa nggak? Daripada saya cari orang lain, mendingan kamu yang nolong kakak saya, kan?”

“Nanti saya kabari ya, soalnya saya mau berangkat umroh tanggal 17.”

“Kan masih lama, masih sempatlah. Tolong banget, Bu,” ungkapnya dengan nada memelas.

“Oke deh. Kapan mulainya?”

“Kalau bisa besok ya. Berangkat saja ke Jogja, saya tunggu ya. Nanti saya transfer biayanya, oke?”

“Oke, sip…”

Saat itu masih tanggal 3 dan saya sanggupi. Dalam pikiran saya, kafe yang akan dibuat sudah dalam bentuk ruko. Namun, ketika saya sampai di Jogja dan mengunjungi tempat didirikannya kafe tersebut, yang saya temukan adalah sebuah tanah kosong yang mesti dibuatkan desain. Saya tidak kehabisan akal. Saya berusaha membangunnya tepat waktu. Saya membangun kafe tersebut dengan materi besi hollow dan akhirnya selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Ternyata hasil kerja saya cukup memuaskan saudara sahabat saya. Sebuah momen luar biasa ketika kakak Mas Tomi menyerahkan amplop kepada saya sebagai fee atas kerja keras saya. Cukup tebal dan agak berat amplop itu, tetapi saya tidak tahu apakah ini uang 50 ribuan atau 100 ribuan, dugaan saya ada sekitar 8 jutaan.

Sesampainya saya di penginapan, dengan penasaran saya langsung mengoyak bagian ujung amplop dan menarik uang berwarna merah. Saya terkejut, ini lebih dari perkiraan saya. Setelah saya hitung, ternyata isi amplop itu Rp 14.000.000,00! Alhamdulillah. Saya begitu senang dan segera menghubungi istri saya. Ini berarti Allah telah mencukupkan uang pendaftaran umroh saya dan memanggil saya agar berangkat ke Tanah Suci. Setibanya di Jakarta saya segera pergi ke kantor travel dan membayarkan sisa pembayaran yang tertunggak. Uang sisa pembayaran sebanyak 2 juta saya berikan kepada istri saya sebagai uang saku.

Hari itu pun akhirnya tiba, tanggal 17 saya bersiap-siap pergi ke Tanah Suci. Sebelum berpisah, istri saya masih mengingat kata-kata saya perihal alasan saya ingin berumroh, “Kak, ingat! Kita harus mendapatkan pinjaman uang setidaknya 100 juta agar bisa membayar semua tagihan kita”. Istri saya hanya tahu bahwa saya pergi ke Tanah Suci tidak semata-mata untuk beribadah, tetapi juga meminta bantuan dari salah seorang teman. Saya menanggapi kata-kata istri saya dengan senyuman, namun dalam hati berkata, “Astaghfirullah, ampuni saya, ya Allah. Saya tidak ada niatan untuk membohongi istri saya, tapi mungkin dengan cara seperti inilah saya dapat berangkat ke rumah-Mu.

Akhirnya, saya tiba di Tanah Suci. Pada hari pertama saya menghirup udara Jazirah Arab yang hangat, istri saya langsung menelepon. Istri saya tidak menanyakan bagaimana rencana ibadah dan persiapan yang telah saya lakukan, melainkan, “Apakah Kakak sudah bicara sama teman Kakak?”. Saya terbatuk kecil mendengar pertanyaan yang tidak terduga itu. Dengan mengatur suara saya menjawab, “Sabar ya Dik. Saya kan baru sampai, masa langsung minta-minta uang”. Saya pun terpaksa tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Oh begitu ya, Kak”. Syukurlah ia juga ikut tertawa ringan. Padahal, faktanya saya tidak akan bertemu sahabat saya di sini dan tidak akan ada uang yang saya bawa.

Saat itu saya masuk Mekkah terlebih dahulu sehingga saya langsung umroh, miqatnya di atas pesawat. Setelah melaksanakan umroh, saya langsung berdoa di depan multazam seusai melaksanakan tawaf. Doa yang paling saya utamakan kemudian terlintas dalam benak saya, “Ya Allah, ampuni kami sebagai anak, ayah, bahkan sebagai suami. Saya mohon berikan kami jalan yang terbaik agar kami keluar dari semua permasalahan hidup ini. Saya mohon diberikan 100 juta rupiah. Pertemukan saya dengan siapa saja yang bisa membantu saya dan bisa memberikan pinjaman agar saya bisa membayar tagihan saya, menyelamatkan keluarga saya, dan bisa memulai lagi usaha kami”. Benar-benar pekikan orang yang penuh penderitaan. Setelah menyampaikan keluh kesah dan harapan kepada Allah, seketika itu air mata saya mengalir deras.

Dalam situasi yang paling sulit pun saya sulit menangis, tetapi kali ini saya gagal membendungnya, “Berikan petunjuk-Mu ya Allah”. Doa ini kemudian saya akhiri dengan Al-Fatihah. Setelah merasa lega, saya lanjutkan kembali umroh saya dengan melaksanakan sa’i dan tahalul. Setelah semuanya selesai, saya kembali ke hotel dan beristirahat.

Hampir setiap hari, selama di Tanah Suci saya tidak pernah lupa berdoa dan meminta hal yang kurang lebih sama, “Ya Allah, beri saya uang 100 juta”. Kadang saya berpikir, jangan-jangan Allah bosan mendengar doa saya. Namun, saya percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar. Dia pasti akan memberikan pertolongan saat kita membutuhkannya.

Tak terasa akhirnya saya bersama rombongan bertolak ke Madinah al Munawwaroh. Di sana pun saya berusaha berdoa di tempat-tempat yang mustajab, seperti di Raudah dan di dalam Masjid Nabawi. Tidak terasa saya telah berada pada akhir perjalanan umroh dan akan kembali ke Indonesia. Saat akan meninggalkan Tanah Suci telepon saya kembali berdering. Ternyata telepon tersebut berasal dari istri saya. Suaranya yang lembut terdengar menanyakan keadaan saya. Hal yang membuat saya bercerita penuh semangat tentang pengalaman saya. Di tengah-tengah istri saya memotong ucapan saya, “Lalu Kak, apakah teman Kakak yang di sana bersedia membantu kita?” nada suaranya tetap halus, tapi cukup menusuk.

Meskipun saya baru menjalankan ibadah yang khusyuk dan memohon agar dosa-dosa saya diampuni, kali ini saya harus membuat dosa baru lagi. Saya kembali berbohong, “Sabar ya Dik. Saya sudah sampaikan tapi ia masih mempertimbangkan. Namanya meminta ya kalau dikasih Alhamdulillah, kalau nggak ya harus bersabar”.

Akhirnya saya pun sampai di Indonesia. Buah tangan pertama yang saya bawa adalah oleh-oleh wajib yaitu satu galon air zamzam yang berisi 10 liter. Buah tangan kedua adalah pakaian yang kotor yang baunya cukup menyengat. Jadi, saat saya tiba di rumah dan istri saya bertanya saya bawa oleh-oleh apa, ya yang dua itu tadi.

Keajaiban Terjadi, Panggilan Berangkat Umroh

Keajaiban Allah bisa terjadi, memanggil hambanya yang berangkat umroh
Keajaiban Allah bisa terjadi, memanggil hambanya yang berangkat umroh

Setiba di Indonesia, perhatian saya kembali pada masalah dan masalah. Tidak terasa 5 hari lagi kami wajib mengosongkan rumah kami. Kami pun masih hidup dalam kegelapan. Saya berharap bawha habis gelap terbitlah terang juga terjadi pada keluarga kami. Setelah kepulangan saya dari Tanah Suci, saya sempatkan shalat tahajud dan berdoa, “Ya Allah berikan jalan yang terbaik buat kami. Apabila sudah tidak ada jalan buat kami, beri kami kekuatan untuk ikhlas menyerahkan rumah ini kepada bank untuk dilelang.”

Keesokan paginya ponsel saya berdering dengan kencang. Seketika itu saya terbangun dan melihat ada tiga panggilan tidak terjawab. Ponsel saya berdering kembali, dengan cepat saya angkat. Dari seberang terdengar suara perempuan, “Ini Ibu Rosi, apakah saya berbicara dengan Abu?” Saya mengiyakan. Ternyata itu adalah Ibu Rosi yang pernah menjadi klien saya. Lalu, ia bertanya lebih jauh lagi, “Apakah benar kamu baru pulang umroh?”

“Benar sekali, Bu,” jawab saya sembari tertawa ringan meskipun dalam hati saya bertanya-tanya, kok Bu Rosi tahu saya pulang umroh? Siapa yang memberitahunya? Namun saya tidak mau menanyakan itu. Saya tidak habis piker kok tumben Ibu Rosi menelepon saya.

Lalu si ibu mendadak bertanya, “Apakah kamu ada air zamzam?”

“Ada, Bu,” jawab saya cepat.

“Apakah saya boleh meminta sebotol?”

“Boleh, Bu. Dengan senang hati saya memberikannya untuk Ibu,” jawab saya.

Saat itu masih ada air zamzam di dalam galon 10 liter. Awalnya saya bermaksud membuka dan memindahkannya ke botol. Tetapi, kalau saya buka nanti Ibu Rosi tidak akan percaya bahwa itu air zamzam. Saya kemudian memutuskan untuk tidak membukanya dan bergegas mengantarkan 1 galon yang berisi 10 liter air zamzam. Sesampainya di rumah Ibu Rosi, saya langsung berikan air zamzam tersebut.

“Kalau begitu, tolong tuangkan air zamzamnya ke dalam baskom.”

Saya melakukannya sambil bertanya-tanya dalam hati. Daripada penasaran, saya pun menanyakan langsung kepada Ibu Rosi untuk apa air zamzam dalam baskom tersebut.

“Oh, ingin saya pakai mandi,” katanya sembari tersenyum dan membuat saya sedikit kaget. Hal yang menurut saya agak ganjajl. “Saya baru saja dioperasi. Jadi dengan mandi air zamzam ini semoga bisa mempercepat kesembuhan saya,” terangnya lagi.

Saya menunggu hingga beliau selesai mandi. Kami sempat berbincang-bincang dan saya curhat tentang kondisi saya. Ia terlihat iba dengan nasib malang yang saya alami. Saat akan pulang ke rumah, Ibu Rosi meminta saya untuk menunggu sebentar, lalu ia beranjak ke kamarnya. “Mas Abu, ini saya serahkan cek buat Mas. Anggaplah ini bantuan dari saya dan semoga ini bermanfaat,” kata Ibu Rosi sambil menyerahkan selembar cek.

Saat menerima cek itu, jemari saya sampai bergetar dan saya hampir menjatuhkan kertas berharga itu saat meninggalkan ruang tengah rumah Ibu Rosi. Selanjutnya, saya mendorong motor saya meninggalkan rumahnya. Saya penasaran untuk melirik nilai yang beliau tuliskan. Angka yang tertera di sana adalah angka satu dengan nol sebanyak delapan digit! Saya kaget dan hampir tidak percaya. Saya putar-putar ceknya. Saya coba lihat dari berbagai sisi, tapi memang nilainya tidak berubah. Ibu Rosi menuliskan angka Rp 100.000.000,00. Saya langsung memacu kendaraan dengan cepat agar bisa segera tiba di rumah.

Sesampainya di rumah saya langsung sujud syukur dan berucap, “Engkau Maha Kaya ya Allah”. Saya kemudian mencoba menghubungi Ibu Rosi untuk mengonfirmasi ulang. Barangkali ia telah melakukan kesalahan. Ia mungkin hanya ingin memberi saya 10 juta, tetapi kelebihan menuliskan nolnya. Namun dari balik telepon, Ibu Rosi malah balik menantang, “Kamu tidak percaya saya mau memberi kamu uang sebanyak itu? Atau kamu mau uang itu saya tarik kembali?”

“Oh tidak, Bu. Maaf, saya hanya kaget. Kalau begitu saya benar-benar mengucapkan terima kasih banyak.”

Ketika istri sata tiba di rumah, saya menceritakan kepada istri saya apa yang baru saja terjadi. Ia kaget, “Kakak tidak melakukan………”

“Lho, maksud kamu apa, Dik?” Ternyata istri saya tidak percaya jika saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dengan begitu mudahnya, sehingga ia menduga-duga jika saya telah melakukan tindak kriminal. “Ini halal Dik. Jadi, sekarang kita harus segera ke bank.”

Kami berkemas dan bergegas ke bank untuk mencairkan cek tersebut. Pada awalnya proses itu tampak akan berlangsung dengan mudah, namun ada sedikit masalah. Saat pihak bank ingin mengonfirmasi kepada Ibu Rosi apakah cek tersebut bisa dicairkan, ternyata telepon Ibu Rosi susah untuk dihubungi. Berulang kali selalu gagal. Istri saya bahkan mulai gelisah hingga tidak mampu menahan diri untuk tidak berkomentar, “Kakak nggak mencuri cek ini, kan?”. Saya menjawab, “Tenang, Dik. Uang itu saya peroleh dari Ibu Rosi, bukan mencuri. Mungkin Ibu Rosi lagi sibuk, jadi tidak bisa angkat telepon”.

Kami menunggu dan menunggu hingga tidak terasa beberapa saat lagi waktu transaksi di bank akan ditutup. Saya memutuskan mengirimkan SMS ke Ibu Rosi karena tidak ada jawaban, “Maaf Bu, ceknya tidak bisa dicairkan”. Saya pun mengatakan kepada pihak bank bahwa mungkin pencairannya ditunda sampai besok dengan wajah menahan malu. Namun, saat akan melangkah keluar dari bank, tiba-tiba ponsel saya berdering. Ada panggilan masuk dari Ibu Rosi. Saya kemudian menjawabnya dan menyampaikan kepada Ibu Rosi bahwa ceknya tidak bisa dicairkan. “Siapa yang bilang?” jawab Ibu Rosi dengan nada suara agak tinggi.

“Pihak bank, Bu. Karena belum mendapatkan konfirmasi dari Ibu.”

“Coba kamu berikan telepon kamu kepada orang bank, biar saya yang bicara,” kata Ibu Rosi.

Setelah berbicara langsung dengan Ibu Rosi, akhirnya pihak bank mencairkan dana tersebut. Kami meninggalkan bank dengan wajah gembira dan belum sepenuhnya tersadar, karena kami seperti bermimpi. Kami pun menyelesaikan semua tagihan kami yaitu angsuran rumah yang tertunggak selama enam bulan dan tagihan listrik yang tertunggak selama tiga bulan. Sisa dari uang yang telah dicairkan tersebut sekitar 27 juta rupiah.

Lalu, saya bertanya kepada istri saya, “Kira-kira uang ini akan kita apakan ya, Dik? Bagaimana kalau kita pakai untuk usaha?” Suasana mendadak hening. Kami sama-sama berpikir keras dan menggali ide. Saya kemudian mendapatkan sesuatu, “Dik, saya ada ide”. “Saya juga, Kak,” jawabnya sambil melempar senyuman yang penuh kelegaan yang sudah sebulan ini tidak pernah saya lihat. “Bagaimana kalau kita sebutkan ide yang ada di benak kita secara bersamaan?” usul saya penuh semangat. “Bisa aja, Kak. Seperti sedang main tebak-tebakan,” jawabnya masih dengan tersenyum. “Oke saya hitung, kita ucapkan bersama-sama. Satu, dua, tiga…..”

Kami menyebutkan dua kata yang persis sama hanya nada suara kami saja yang berbeda: “travel umroh”. Kami tidak percaya jika memiliki ide yang sama. Saat itulah saya dan istri sepakat menjalankan bisnis umroh. Itulah proses awal bagaimana kami akhirnya memulai bisnis umroh pada 2011 silam dan masih berjalan hingga hari ini. Dengan modal kecil yang kami miliki, kami mulai mengumrohkan 20 orang Jemaah pada pengiriman pertama. Berlanjut pada pengiriman kedua, ketiga, dan selanjutnya hingga berkembang pesat.

Saat ini kami sudah mengumrohkan kurang lebih 2500 orang setiap tahunnya, telah memiliki enam cabang di beberapa provinsi, dan melahirkan travel-travel baru, yaitu Al Haram Wisata, Cinema Tours, dan unit-unit bisnis lainnya. Inilah yang disebut bisnis dunia dan akhirat berladang amal dan rezeki. Saya dan istri sangat bersyukur atas rezeki yang telah Allah berikan kepada keluarga kami. Saya ingin berbagi pengalaman dan ilmu kepada pembaca tentang suka duka merintis usaha travel agar dapat berkembang pesat dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Oleh : Abu Hamzah

========================================================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH DESEMBER – RAMADHAN

HUBUNGI: H SUDJONO AF – 081388097656  WA

========================================================================

 

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Tayamum adalah “bersuci” menggunakan debu tayamum adalah pengganti wudhuk tanpa air yang dibenarkan oleh ajaran
Umroh Murah 2020 Januari Februari Maret April Mulai Rp19,9 Jt. Umrah Murah 2020 2021 2022
Travel Umroh Murah 2019-2020-2021-2022  Bila Anda sudah berniat untuk beribadah umroh bersama keluarga, maka perhatikanlah