Kalimat tauhid ini selama menjalankan ibadah haji selalu dikumandangkan. Kita menyebutnya sebagai talbiyah. Inilah kalimat tauhid yang perlu para jamaah haji resapi.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ. لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan ni’mat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu”
Kalimat-kalimat yang menggetarkan hati sanubari, tak henti jamaah haji malantunkannya mulai ihram sampai melempar jumroh Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah. Semoga lafadz berenergi tinggi ini tidak begitu saja diucapkan, namun dibaca dengan penuh penjiwaan, pemaknaan, dan perenungan. Dari maknanya kita mengecap cita rasa tauhid yang sangat kuat; pengesaan Allah dalam beribadah dan menanggalkan segala bentuk syirik (penyekutuan Allah).
===============================================
=====================================================
Kalimat “La ilaha illallah” berarti: tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Kalimat tauhid ini menuntut seorang muslim untuk memenuhi dua syarat; menafikan semua sesembahan dan menetapkan penyembahan hanya untuk Allah.
Penyembahan yang dimaksud meliputi ibadah lahiriyah dengan anggota badan dan ibadah batiniyah yang dilakukan dengan hati. Manusia hendaknya melakukan shalat, zakat, puasa, haji, berdoa, berbuat baik, dan ibadah lahiriyah lainnya hanya untuk Allah semata. Sebagaimana ia juga harus niat, berharap, takut, cinta, pasrah (tawakal), dan amalan hati lainnya murni untuk Allah Yang Maha Esa.
Allah Esa dalam ketuhananNya, Esa dalam hak ibadah, dan Esa dalam nama dan sifat yang mulia, tidak ada sekutu bagiNya.
Tauhid selalu menjadi misi risalah para Nabi bahkan inti dari risalah itu sendiri. Tidak berlebihan, karena Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan keagungan masalah ini. Di antara keutamaan yang dijanjikan untuk orang yang tulus dalam kalimatul ikhlash ini ialah:
…يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.
“…Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sedikit pun juga, pasti Aku akan memberikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi).
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’aam: 82).
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ
“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ secara tulus dari dalam jiwanya”. (HR. Bukhari).
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia masuk Surga”. (HR. Muslim).
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sembahan kalian adalah sembahan Yang Esa’. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110).
Syirik adalah lawan tauhid yang berarti menyukutukan atau menduakan Allah. Dosa terbesar yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala ini bisa berbentuk memalingkan Allah sama sekali, tidak menyembahNya dan menyembah yang lain, bisa juga berbentuk menyembah Allah dan lainNya secara bersamaan.
Allah mensifati syirik dengan kezaliman yang besar (QS. Luqman: 13), karena meletakkan ibadah tidak pada tempat yang semestinya. Para ulama membagi syirik menjadi dua, yaitu:
Syirik ini bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menyebabkannya kekal di dalam neraka jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat.
Syirik besar adalah memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdoa kepada selain Allah, atau mendekatkan diri kepadaNya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin, atau syetan. Termasuk syirik ini pula meminta kesembuhan kepada dukun atau paranormal melalui ritual syetan, memohon kekayaan atau penglarisan kepada makhluk melalui rajah, jimat, dan semisalnya. Atau melakukan praktik guna-guna untuk mencelakakan orang lain, seperti teluh, santet, sihir, pelet, kekebalan, dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan sihir atau pelet adalah syirik”. (HR. Abu Daud).
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar. Syirik ini ada dua macam:
Orang-orang jahiliyah dahulu melepas/menggertak burung apabila mereka hendak bepergian, jika ia terbang di sebelah kanan, maka mereka menganggapnya sebagai tanda kebaikan, sehingga mereka akan melanjutkan perjalanan, dan apabila mereka melihat burung terbang di sebelah kiri, mereka menganggap tanda kesialan, sehingga mereka akan membatalkan perjalanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
“Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik”. (HR. Tirmidzi).
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tiga kali, dan tidaklah masing-masing kita kecuali (merasakan itu), namun Allah menyingkirkannya dengan tawakkal”. (HR. Abu Daud).
Para ulama menyimpulkan dari beberapa hadits bahwa kekufuran atau kesyirikan dalam hadits ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Syirik kecil dalam bentuk ucapan misalnya, perkataan “Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan, maka …”. Ibnu Abbas menceritakan bahwa datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “ini adalah kehendak Allah dan kehendakmu”, beliau menyahut:
جَعَلْتَ لِلَّهِ نِدًّا، مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ
“Engkau telah mengangkat sekutu bagi Allah, ini adalah kehendak Allah semata”. (HR. Bukhari dalam Al-Adabul mufrad).
Allah melarang hambaNya untuk berbuat syirik karena bahaya dan akibat fatal yang dibawanya. Selain pelakunya tidak akan mendapat keutamaan tauhid ia akan ditimpa bahaya dari sikap menyekutukan Allah ini, antara lain:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al-Maa’idah: 72).
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’aam: 88).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisaa’: 48).
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekat ke Masjidil haram setelah tahun ini”. (QS. At-Taubah: 28).
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir itu rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali-Imran: 151).
Demikian bahaya yang ditimbulkan oleh syirik baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang berakal dan mau menggunakan akalnya pasti akan berfikir sekian kali untuk mempertaruhkan kebahagiaannya dengan kesyirikan. Oleh karenanya dalam ibadah haji ini, kita diingatkan untuk memurnikan tauhid dan membersihkan diri dari noda-noda syirik.
Karena kebodohan, tidak jarang kita mendapati jamaah haji yang meyakini bahwa ka’bah, hajar aswad, maqam Ibrahim, hijr Ismail, atau lainnya memiliki manfaat dan madharat, sehingga mereka usapkan pakaian mereka ke tempat-tempat itu dengan anggapan dapat memberi sesuatu untuknya. Ada pula yang menulis nama di atas Jabal Rahmah karena ingin ini dan itu. Padahal itu semua adalah makhluk ciptaan Allah, tidak mampu mendatangkan manfaat atau menangkal madharat sedikitpun.
Hanya kepada Allah kita memohon agar dihindarkan dari perbuatan syirik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa agar terhindar dari sedikit dan banyaknya syirik:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMU dari menyekutukanMu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepadaMu dari syirik yang aku tidak mengetahuinya”. (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).
Penulis: Salahudin Guntung, Lc., MA. . Tim Ilmiah Indonesian Community Care Center, 2014. www. Markazinayah .com
kalimat tauhid, ibadah haji, tauhid, syirik, syirik kecil, syirik besar, bahaya syirik, haji dan tauhid, lafadz kalimat tauhid, kalimat tauhid arab, kalimat tauhid latin, pengertian kalimat tauhid, makna kalimat tauhid lailahaillallah, kalimat tauhid dalam bahasa arab, bunyi kalimat tauhid, kalimat tauhid beserta dalilnya
Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…
Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…
Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…
Apakah Dalil Disyariatkannya Ibadah Kurban dari Al-Qur’an dan Hadits?. Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang…
Kapan Ibadah Qurban disyariatkan dalam Islam? Ibadah qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan…
Makna Qurban dan Waktu Disyariatkannya dalam Islam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut…