Kewajiban Haji Bagi Orang Yang Mampu

Kewajiban Haji adalah bagi orang yang mampu. Apa yang dimaksud dengan “mampu” disini? Yang dimaksud dengan mampu sendiri ialah mencakup kemampuan materi (al-qudrah al-maliyah), kesehatan fisik (al-qudrah al-shihhiyyah), dan terjaminnya keamanan (al-qudrah al-amniyyah) dalam mengerjakan ibadah haji, mulai dari berangkat hingga pulang.

Kewajiban haji adalah bagi orang yang mampu
Kewajiban haji adalah bagi orang yang mampu

Memiliki Kemampuan Secara Materi

Kemampuan materi berarti memiliki kekayaan yang cukup untuk digunakan sebagai biaya haji dan biaya hidup (nafkah) orang yang menjadi tanggungannya di rumah, seperti orang tua dan anak. Hal ini sangat ditekankan oleh Allah Swt agar seseorang yang hendak pergi haji tidak menelantarkan keluargnya di rumah tanpa biaya hidup mencukupi.

Rasulullah saw bersabda, “Seseorang sudah dianggap berdosa jika menelantarkan (tidak memberi makan) orang yang menjadi tanggungannya.” Oleh karena itu, seseorang yang berniat mengerjakan haji harus memiliki harta yang lebih dari cukup, tidak saja untuk biaya hajinya, tapi juga untuk biaya hidup keluarganya. Bagi orang yang diberi rezeki melimpah oleh Allah Swt dianjurkan baginya untuk membawa bekal yang banyak sehingga bisa membantu jamaah haji lain yang sangat membutuhkan dan bisa membersihkan jiwanya dengan sedekah yang dia infakkan. Allah Swt berfirman, Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dia-lah pemberi rezeki yang terbaik (Saba [34]: 39). Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memiliki bekal berlebih, hendaknya dia menyisihkannya bagi orang yang tidak mempunyai bekal.”

Perbuatan mulia seperti itu benar-benar telah diwujudkan di tanah Makkah al-Mukarramah. Tidak sedikit orang kaya nan dermawan yang menyiapkan segala kebutuhan para jamaah haji, seperti makanan dan minuman. Orang yang pergi kesana akan melihat dengan jelas bagaimana rasa persaudaraan Islam terjalin kuat diantara jamaah yang berasal dari berbagai negara yang berbeda di seluruh dunia. Mereka semua terikat dalam satu rantai kasih sayang Allah Swt yang memperlihatkan keagungan dan kemuliaan agama Islam.

Harta yang digunakan seseorang untuk pergi haji harus halal dan didapatkan dari jalan yang halal pula. Diriwayatkan dari Abu Hurayrah bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang pergi menunaikan ibadah haji dengan harta yang baik (halal, thayyibah), kemudian meletakkan kakinya di atas kendaraan, lalu berseru labbayk allahumma labbayk (Ya Tuhan, aku penuhi panggilan-Mu) maka sebuah suara dari langit akan berseru, ‘Panggilanmu telah diterima dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Bekalmu halal, perjalananmu halal, dan hajimu mabrur.’ Tapi, jika dia pergi mengerjakan haji dengan harta yang tidak baik (haram, khabitsah), kemudian meletakkan kakinya diatas kendaraan, lalu berseru labbayk allahumma labbayk maka sebuah suara dari langit akan berseru, ‘Panggilanmu tidak diterima dan tidak ada kebahagiaan untukmu. Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu di tolak.”

Memiliki Kemampuan Secara Fisik

Kemampuan fisik (al-qudrah al-shihhiyyah) berarti kemampuan seseorang untuk melaksanakan seluruh rangkaian manasik haji tanpa ada sedikit pun bahaya yang dikhawatirkan bisa menimpanya, misalnya akan jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia akibat menempuh perjalanan jauh. Apabila dia memiliki penyakit menahun atau sudah berusia lanjut sehingga tidak kuat untuk menempuh perjalanan jauh, kewajibannua untuk berhaji menjadi gugur. Dalam kondisi seperti ini, ia diwajibkan menyuruh seseorang untuk menghajikannya-yang kita kenal dengan nama haji badal.

Pertanyaannya, apakah gugurnya kewajiban haji seseorang bisa ditentukan oleh kekhawatirannya sendiri atas bahaya yang mungkin akan menimpanya, atau oleh keterangan dokter muslim yang jujur?

Untuk menyempurnakan agamanya, seorang muslim diwajibkan untuk menjalankan lima rukun Islam. Hal yang paling dikhawatirkan olehnya ialah jatuh ke jurang kemaksiatan, lebih-lebih keluar menyimpang dari garis Islam yang menjadi petunjuk jalan. Bisa dikatakan, lima rukun Islam-termasuk ibadah haji-ibarat utang yang dibebankan oleh Allah Swt diatas pundak hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, sebagai hamba-Nya, kita harus segera membayarnya sebelum ajal menjemput.

Dari sini kita dianjurkan untuk sesegera mungkin melaksanakan ibadah haji jika syarat-syaratnya sudah bisa kita penuhi. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa ingin mengerjakan ibadah haji maka bersegeralah.” Beliau juga bersabda, “Bersegeralah mengerjakan ibadah haji.” Apabila ini kita abaikan maka kita akan mati dalam keadaan beragama Nasrani atau Yahudi. Rasulullah bersabda, “Barang siapa memiliki bekal dan biaya untuk melakukan perjalanan haji ke Baitullah, tapi dia tidak melakukannya, niscaya dia boleh memilih antara mati dalam keadaan beragama Nasrani atau Yahudi.”

READ :  Kewajiban Ibadah Haji dan Umroh Bagi Setiap Muslim

Berangkat dari sini, menetapkan apakah dirinya harus berangkat sendiri untuk pergi haji atau mewakilkannya kepada orang lain bukanlah perkara mudah. Bisa jadi, seseorang yang mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan orang lain akan menyesal di kemudian hari. Oleh sebab itu, dia hendaknya meminta pertimbangan dokter muslim yang jujur mengenai kemungkinan dirinya untuk pergi haji. Jadi, dia akan terbebas dari tanggung jawab. Pandangan seperti ini dikemukakan oleh fukaha mazhab Syafi’i.

Untuk diketahui, saat ini sudah tersedia sarana-sarana transportasi modern bagi jamaah haji, di samping persiapan-persiapan medis untuk menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi. Sudah disiapkan mobil-mobil ambulans khusus untuk menangani jamah haji yang tiba-tiba jatuh sakit, selain mobil-mobil lain yang bisa digunakan untuk keadaan darurat. Disiapkan pula pusat-pusat pengobatan di semua titik yang ada, selain rumah-rumah sakit umum yang selalu siap menampung pasien yang kritis. Semua fasilitas ini selalu siap 24 jam nonstop dan ditangani oleh tenaga-tenaga ahli di bidangnya masing-masing.

Yang dimaksud al-qudrah al-amniyyah (keamanan) ialah terjaminnya keamanan seseorang dari berbagai bahaya di perjalanan. Oleh sebab itu, jamaah haji perempuan harus ditemani seorang pendamping (mahram). Jika dia tidak memiliki pendamping maka gugurlah kewajibannya untuk berhaji-tema ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

Mampu karena orang lain

Yang dimaksud dengan “mampu karena orang lain” (al-istitha’ah bi al-ghayr) ialah menghajikan orang yang benar-benar tidak bisa berhaji sendiri karena terhalang oleh factor tertentu, seperti penyakit menahun atau usia lanjut. Temasuk didalamnya adalah orang yang tidak kuat melakukan perjalanan jauh.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang perempuan dari Khats’am, pernah menghadap Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada hamba-hamba-Nya. Ayakhu sudah tua dan tidak mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Bolehkan aku menghajikannya?” Beliau menjawab, “Boleh.” Perempuan tadi bertanya lagi, “Apakah itu berarti kewajibannya untuk berhaji sudah terpenuhi?” Beliau menjawab, “Ya, sebagaimana seandainya ayahmu mempunyai utang dan kamu melunasinya/”

Akan tetapi, ada beberapa syarat bagi orang yang menghajikan orang lain.

  1. Sudah pernah mengerjakan haji untuk dirinya sendiri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki-laki berkata, “Aku telah penuhi panggilan-Mu untuk Syabramah.” Beliau bertanya, “Apakah kamu sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” Laki-laki tadi menjawab, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Berhajilah dulu untuk dirimu sendiri, baru kemudian untuk Syabramah.”
  2. Tidak disyaratkan adanya kesamaan jenis kelamin antara orang yang menghajikan dengan orang yang dihajikan. Jadi, seorang perempuan boleh menghajikan seorang laki-laki begitu juga sebaliknya.
  3. Harus dibiayai sepenuhnya oleh orang yang dihajikan, baik berupa biaya perjalanan haji maupun biaya hidupnya dan biaya hidup keluarga yang ditinggalkannya dirumah selama mengerjakan manasik di Makkah al-Mukarramah.
  4. Harus memiliki kesehatan fisik yang prima sehingga bisa menyelesaikan semua manasik.
  5. Boleh memilih antara sesegera mungkin melaksanakan haji atau menundanya.
  6. Seandainya hajinya itu batal karena-misalnya-melakukan hubungan intim dengan istrinya saat melakukan manasik maka itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Artinya, ia harus menyempurnakan hajinya dan membayar kafarat dengan hartanya sendiri, bukan harta orang yang dihajikannya. Kewajibannya untuk menghajikan tetap harus dipenuhinya pada tahun berikutnya, atau mewakilkannya kepada orang lain.

 

Demikianlah beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh orang yang mengerjakan haji badal (pengganti). Pertanyaannya kemudian, berapakah jarak minilal perjalanan haji yang membolehkan orang sakit untuk mewakilkan hajinya kepada orang lain? Perempuan yang sakit hanya boleh mewakilkan hajinya jika dia berada di negeri yang jauh dari tanah Makkah. Jadi, apabila tempat tinggalnya dekat dengan tanah Makkah atau dia merupakan penduduk Makkah, dia harus tetap berhaji sendiri.

Hanya saja, kewajibannya untuk tetap berhaji sendiri tergantung pada penyakit yang dideritanya. Apabila penyakitnya masih memungkinkan dirinya untuk mengerjakan manasik haji, dia tetap wajib berhaji sendiri. Tapi, apabila penyakitnya tidak memungkinkan dirinya untuk mengerjakan semua manasik haji, seperti sakit menahun atau usia lanjut, kewajibannya untuk berhaji sendiri menjadi gugur dan boleh diwakilkan kepada orang lain.

Bagaimana seandainya terdapat seorang perempuan yang sakit dan diperkirakan tidak akan sembuh itu tiba-tiba sembuh dan mampu untuk pergi haji, padahal dia sudah mewakilkan kewajiban hajinya kepada orang lain? Dalam kasus seperti ini, haji yang telah diwakilkannya itu tidak berlaku lagi. Artinya, dia tetap harus mengerjakan ibadah haji. Adapun haji yang telah diwakilkan itu dianggap sebagai sedekah kepada orang yang menghajikannya.

READ :  Hukum Tatacara Ibadah Haji dan Umroh Dalam Kitab Shohih Bukhori - 3

Seorang perempuan boleh mewakilkan kewajiban hajinya-baik berupa haji fardhu maupun haji nazar-dalam dua keadaan. Pertama, meninggal dunia terlebih dahulu sebelum melaksanakan kewajiban hajinya. Kedua, tidak mampu melaksanakan sendiri kewajiban hajinya karena faktor usia atau sakit.

Demikian itu didasarkan pada beberapa hadis Nabi. Diriwayatkan dari Abdullah ibn Buraydah bahwa ada seorang perempuan yang mengadu kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, ibuku pernah bernazar akan mengerjakan haji. Tapi, sebelum sempat melaksanakannya, dia telah meninggal dunia.” Beliau lalu bersabda, “Kerjakanlah haji untuk ibumu.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang perempuan dari suku Khats’am datang menemui Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada hamba-hamba-Nya. Ayahku sudah tua dan tidak mampu lagi mengadakan perjalanan ke Baitullah. Apakah aku boleh menghajikannya?” Nabi menjawab, “Boleh.” Ia kemudian bertanya lagi, “Apakah itu berarti kewajibannya sudah terpenuhi?” Beliau menjawab, “Ya, sudah, sebagaimana seandainya ayahmu mempunyai utang dan kamu melunasinya.”

Jadi, haji fardhu atau haji nazar termasuk hak yang bisa diwakilkan. Artinya, ia tetap menjadi tanggungan seseorang selama hidupnya, sebagaimana halnya utang piutang.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kewajiban haji orang yang sudah meninggal dunia itu boleh diwakilkan kepada orang lain? Dalam persoalan ini, ada dua kasus yang diperselisihkan oleh fukaha. Pertama, orang mampu yang meninggal dunia sebelum berhaji, tanpa berwasiat agar dirinya dihajikan. Menurut salah satu pendapat al-Syafi’i, kewajiban hajinya boleh diwakilkan, baik dia berwasiat maupun tidak. Artinya, ahli waris harus menanggung semua biaya haji pihak yang ditunjuk untuk menghajikannya. Biaya itu bisa diambilkan dari harta peninggalannya, yang jika tidak cukup maka diambilkan dari harta ahli waris. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ahmad, al-Hasan dan Thawus.

Menurut pendapat Abu Hanifah, Malik, dan al-Nakha’i, kewajiban hajinya boleh diwakili atau diwakilkan hanya jika dia memang mewasiatkannya sebelum meninggal dunia. Jika dia tidak berwasiat maka ahli waris tidak berkewajiban untuk menghajikannya. Seandainya pun dia berwasiat, biaya haji pihak yang menghajikannya itu tidak boleh lebih dari sepertiga harga peninggalannya.

Kedua, tempat keberangkatan haji orang yang ditunjuk untuk menghajikan. Fukaha berbeda pendapat tentang tempat keberangkatan haji (al-balad, negeri) yang harus ditempuh oleh orang yang dtunjuk untuk mewakili haji si mayit. Menurut mazhab Hanbali, dia harus berangkat dari negeri si mayit dan dari tempat keberangkatan haji yang akan ditempuh oleh si mayit seandainya belum meninggal dunia. Jika biaya haji tidak mencukupi maka dia harus menentukan sendiri keberangkatan haji yang memungkinkan tidak memakan biaya melebihi harta peninggalan si mayit. Misalnya adalah seorang perempuan yang menetap dan kemudian meninggal dunia di salah satu Negara yang jauh dari Makkah, seperti Amerika dan Negara-negara Eropa. Sebelum meninggal dunia, dia berwasiat agar dirinya dihajikan. Apabila harta peninggalannya tidak cukup digunakan untuk biaya haji maka ahli warisnya boleh meminta orang yang ditunjuk mewakili haji agar mengambil tempat keberangkatan haji yang dekat dengan tanah Makkah.

Menurut al-Syafi’i, dia boleh mengambil tempat keberangkatan haji dari salah satu miqat yang ada. Alasannya, seseorang belum diwajibkan berihram sebelum berada di miqat-miqat tersebut. Dalam hal ini, penentuan miqat tidak harus sesuai dengan wasiat si mayit.

Menurut mazhab Maliki, penentuan tempat ihram (miqat) harus sesuai dengan wasiat si mayit. Artinya, orang yang mewakili haji si mayit tidak boleh keluar dari batas-batas wasiat si mayit. Tetapi, jika si mayit berwasiat tanpa menentukan miqat, orang yang mewakili hajinya harus berihram dari tempat yang kemungkinan akan ditempuh oleh si mayit seandainya masih hidup, seperti Rabigh bagi penduduk Mesir dan Syam atau Yalamlam bagi penduduk Yaman.

Kewajiban haji kedua orangtua yang sudah meninggal dunia hendaknya ditanggung oleh anak-anaknya sebagai bentuk bakti mereka kepada keduanya. Mereka adalah orang yang paling pantas mendoakan dan memintakan ampun bagi keduanya. Apabila kedua orangtuanya sama-sama tidak bisa menunaikan ibadah haji karena terhalang oleh beberapa hal, sang anak dianjurkan agar melaksanakan haji terlebih dahulu untuk ibunya, baru kemudian ayahnya. Sang anak atau orang yang ditunjuk untuk mewakili hajinya wajib memahami seluruh manasik haji, selain bijak dalam menggunakan harta peninggalan untuk biaya haji.

READ :  Hukum Menjamak Sholat di Musdzalifaf Saat Ibadah Haji

Apa hukum orang yang sengaja menunda pelaksanaan ibadah haji sampai akhirnya meninggal dunia, padahal sebenarnya dia telah memenuhi syarat-syarat untuk berhaji?

Orang yang selalu menunda pergi haji karena sibuk menumpuk harta kekayaan, kemudian meninggal dunia, termasuk orang yang bermaksiat kepada Allah Swt. Orang yang mengabaikan dan tidak menganggap penting ibadah haji berarti telah keluar dari rel Islam dan wajib dikenai hukuman (hadd)). Allah Swt berfirman, Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji maka ketauhilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam (Al-Imran [3]: 39).

Kalangan ulama sepakat bahwa orang mampu yang enggan mengerjakan ibadah haji berarti telah melakukan dosa besar. Dia boleh memilih antara meninggal dunia dalam keadaan beragama Yahudi, Nasrani, atau agama lain selain Islam. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memiliki bekal dan biaya untuk melakukan perjalanan haji ke Baitullah, tapi tidak melakukannya, niscaya dia boleh memilih antara mati dalam keadaan beragama Nasrani atau Yahudi.

Umar ibn al-Khaththab berkata, “Aku ingin mengutus seorang laki-laki ke setiap kota di negeri ini. Mereka bertugas untuk menyelidiki siapa saja orang-orang yang memiliki keluasan rezeki yang tidak mau melaksanakan ibadah haji. Jika menemukannya, mereka boleh menarik jizyah dari orang-orang itu karena bukan termasuk orang-orang muslim.

Ibnu Abbas berkata, “Tidak seorang pun yang enggan untuk mengerjakan haji dan mengeluarkan zakat mal kecuali akan memohon kepada Allah Swt agar dirinya dihidupkan kembali saat nyawanya telah dicabut. Tapi, dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya hanya orang-orang kafir yang meminta agar dihidupkan kembali.’ Sungguh, semua itu sudah menjadi ketetapan Allah Swt di dalam kitab-Nya.

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya orang mampu yang tidak mau mengerjakan ibadah haji adalah kafir.” Sa’id ibn Jabir berkata, “Seandainya tetanggaku ada yang meninggal dunia, yang semasa hidupnya diberi keluasan rezeki tapi tidak mau mengerjakan ibadah haji, niscaya aku tidak akan melawatnya.”

Wahai saudaraku seiman, kita tidak tahu berapa lama lagi umur kita. Yang pasti, umur kita akan berkurang setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap harinya. Oleh karena itu, hendaknya kita segera menyempurnakan rukun Islam secepat mungkin. Selama Allah Swt masih menganugerahkan kelapangan rezeki dan kesehatan kepada kita. Yang harus kita lakukan hanyalah mensyukuri berbagai nikmat dan anugerah-Nya, kemudian menjumpai-Nya. Allah Swt telah memudahkan jalan bagi kita, memberi keamanan perjalanan bagi kita, dan menggelar kebaikan dan kebajikan. Ibadah haji dilaksanakan pada beberapa hari yang telah ditentukan, yang setelahnya kita akan kembali pulang ke negeri kita masing-masing dalam keadaan tanpa dosa atau maksiat, sebagaimana saat kita dilahirkan oleh ibu kita.

Jadi, kita tidak boleh mengulur-ulur waktu lagi untuk melihat cahaya di bawah naungan rumah-Nya, untuk kembali pulang dalam keadaan terampuni segala dosa dan menyandang predikat haji mabrur.

==================================================

Paket Haji Plus Langsung Berangkat Tahun Ini Biaya Mulai US$ 14.500

Hubungi: H.SUDJONO AF – 081388097656 WA

Similar Posts:

Inilah Rahmat Allah bagi kita yang melihat Ka'bah dan berdzikir di Baitullah. Semua ini masih
Keutamaan-keutamaan kota Madinah tertuang dalam Kitab Shoheh Bukhori. Kota Madinah sebagai kota Nabi Muhammad shallallahu
Keutamaan Kota Makkah Dan Bangunannya. Kota sebagai salah satu kota utama tujuan ibadah bagi umat
WhatsApp chat