Paket umroh murah 2019-2020-surabaya
Perbedaan Ibadah Haji dengan Umroh. Pada dasarnya, haji dan umroh sama-sama merupakan sebuah perjalanan mengunjungi dua kota suci, yaitu Mekkah dan Madinah. Ada beberapa ciri yang menandai perbedaan antara haji dan umroh. Perbedannya terletak pada waktu berkunjung para jemaah haji dan umroh, tempat-tempat yang dikunjungi, dan tata pelaksanaannya.
Berhaji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual yang setiap tahun dilakukan oleh kaum muslimin dan muslimat yang mampu secara materi, fisik, maupun keilmuan. Berhaji dilakukan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada suatu waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Zulhijah.
======================================================================
===================================================================
Secara etimologi (bahasa), haji berarti niat (Al-Qasdu) sedangkan menurut syara’ berarti niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus. Tempat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi di atas adalah Ka’bah dan Mas’a (tempat sai), Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jamrah). Waktu-waktu tertentu yang dimaksud adalah bulan-bulan haji, yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu adalah tawaf, sai, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jamrah, dan mabit di Mina.
Haji dapat dibagi menjadi tiga yaitu haji ifrad, haji tamatuk, dan haji qiran. Haji ifrad berarti haji yang menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad jika seseorang melaksanakan ibadah haji dan umroh secara sendiri-sendiri dengan mendahulukan ibadah haji. Haji tamatuk berarti bersenang-senang. Pelaksanaan ibadah haji dikatakan tamatuk jika seseorang melaksanakan ibadah umroh dan haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan umroh. Haji qiran berarti menggabungkan. Pelaksanaan ibadah haji dikatakan qiran jika seseorang melaksanakan ibadah haji dan umroh disatukan atau sekaligus berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh.
Umroh adalah berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Umroh disunahkan bagi muslim yang mampu. Umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah, yaitu tanggal 9-10 Zulhijah dan hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, 13 Zulhijah. Melaksanakan umroh pada bulan Ramadhan sama nilai pahalanya dengan melakukan ibadah haji (Hadits Muslim), tetapi bukan berarti kewajiban menunaikan ibadah haji tidak dilakukan. Melaksanakan ibadah haji tetaplah suatu keharusan bagi umat muslim.
“(Muslim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku haik orang-orang yang berakal.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan ibadah haji dapat ditempuh dalam tiga cara dengan perbedaan tata cara sebagai berikut.
Kini saatnya saya menjelaskan apa saja yang diperlukan atau dipersiapkan ketika Anda hendak melaksanakan ibadah haji atau umroh. Banyak orang ketika hendak melaksanakan atauu menunaikan ibadah haji dan umroh belum mempersiapkan diri sendiri dan orang yang akan ditinggal selama pelaksanaan ibadah haji. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum menunaikan ibadah haji adalah sebagai berikut.
Adapun perlengkapan yang haru dipersiapkan untuk jemaah pria adalah sebagai berikut.
Sedangkan untuk wanita yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut.
Perlengkapan yang wajib disediakan oleh pria maupun wanita selama melaksanakan ibadah ke Tanah Suci adalah sebagai berikut.
Mengenal Rukun dan Wajib Haji
Ada empat hal yang menjadi rukun haji yaitu
Apabila salah satu rukun haji di atas tidak dilaksanakan maka hajinya akan batal. Abu Hanifah berpendapat bahwa rukun haji hanya ada dua, yaitu wuquf dan tawaf. Ihram dan sai tidak dimasukkan ke dalam rukun karena menurut beliau, ihram adalah syarat sah haji dan sai adalah kegiatan yang wajib dilakukan dalam haji (wajib haji). Sementara Imam Syafii berpendapat bahwa rukun haji ada enam, yaitu ihram, tawaf, sai, wuquf, mencukur rambut, dan tertib berurutan (Kitabul Fiqh Ala Madzhabil Arba’ah 1/578).
Wajib haji terdapat tujuh hal yaitu sebagai berikut
Lokasi Utama Ibadah Haji dan Umroh
Sebagaimana disebutkan sebelumnya karena dalam pelaksanaannya tidak terdapat perbedaan yang begitu besar, tempat-tempat yang dikunjungi saat ibadah haji maupun umroh tidak jauh berbeda (lihat halaman 42-43).
Lokasi utama ibada haji dan umroh adalah sebagai berikut.
Di kota Mekkah Al Mukarromah inilah terdapat Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat ibadah umat Islam sedunia. Dalam rangkaian perjalanan ibadah haji, Mekkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah haji.
Padang Arafah terdapat di sebelah timur kota Mekkah. Padang Arafah dikenal sebagai tempat pusatnya haji, sebagai tempat pelaksanaan ibadah wukuf yang merupakan rukun haji. Di Padang Arafah juga terdapat Jabal Rahmah, tempat pertama kali pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
Kota ini tidak jauh dari kota Mina dan Arafah. Kota Muzdalifah merupakan tempat jemaah calon haji melakukan mabit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar jamrah di Kota Mina
Kota Mina merupakan tempat berdirinya tugu (jamrah), yaitu tempat melontarkan batu ke tugu (jamrah) sebagai simbolisasi tindakan Nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Di sana terdapat tiga jamrah, yaitu Jamrah Aqabah, Jamrah Ula, dan Jamrah Wustha.
Manfaat Sering Melakukan Umroh dan Haji
Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat muslim dan muslimah. Allah menjadikan ibadah haji sebagai salah satu dari kelima rukun Islam, yaitu membaca dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan pergi haji bila mampu. Kata “mampu” menyangkut finansial, fisik, dan mental kita. Apabila Anda menjalankan ibadah umroh dan haji dengan niat semata-mata karena Allah, tentu saja keikhlasan hati dalam menjalankan ibadah tersebut sesuai dengan sunahnya bukan lagi sebuah paksaan. Pahala dari Allah pun sungguh besar kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah umroh dan haji, seperti yang dikatakan dalam hadits:
“Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji, kemudian dia tidak mengucapkan kata-kata yang keji atau kotor serta tidak berbuat kefasikan, maka dia akan kembali bersih (dari dosa-dosa) seperti hari ketika dia dilahirkan oleh ibunya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
“Dari umroh yang satu ke umroh berikutnya adalah sebagai penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tidaklah ada balasan baginya kecuali Al-Jannah.”
(Muttafaqun ‘Alaihi, dari sahabat Abu Hurairah ra.)
Selain menjadi kewajiban dan penghapus dosa, banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan, seperti yang terkandung dalam surah Al-Hajj ayat 28: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.”
Selama melakukan ibadah umroh dan haji, muslim dari seluruh belahan dunia berkumpul. Mereka menanggalkan pakaian-pakaian mereka dan menggantinya dengan pakaian ihram. Hal itu menunjukkan bahwa di hadapan Allah, mereka sama. Tidak ada perbedaan antara muslim Asia dan muslim Eropa. Tak ada perbedaan antara pengusaha, pejabat, atau rakyat biasa. Sama halnya ketika meninggal dunia, umat muslim akan dipakaikan pakaian yang sama, yaitu kain kafan. Hal yang membedakan mereka semua hanya kektakwaan mereka kepada Allah.
Di Baitullah, selain memakain pakaian yang sama, kita juga melakukan tindakan-tindakan yang sama sesuai dengan sunah, seperti melafalkan talbiyah, melakukan tawaf (mengelilingi Ka’bah), melakukan sai (lari-lari kecil antara Safa dan Marwah), bermalam di Arafah, dan melempar jamrah. Semua itu semata-mata agar kita senantiasa menyebut dan mengingat nama Allah. Kita juga bisa belajar untuk ikhlas dan melakukan napak tilas sejarah para nabi dan sahabat seperti bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah, bagaimana perjuangan Siti Hajar ketika harus bolak-balik antara Safa dan Marwah untuk mencari sumber air, dan berbagai tempat bersejarah lainnya yang akan meningkatkan iman kita kepada Allah.
Dengan berkumpulnya seluruh umat muslim dari seluruh dunia, kita bisa saling menasihati, mengingatkan satu sama lain dalam hal kebenaran. Hal ini dapat menimbulkan rasa cinta dan tali persaudaraan antarumat muslim sehingga kita bisa saling mengenal dan tolong-menolong dalam kebaikan. Berdasarkan HR. Al-Bukhari dan Muslim, juga dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dikatakan bahwa
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Maka beliau menjawab: ‘Beriman kepada Allah da Rasul-Nya.’ Ditanyakan kembali kepada beliau: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Berjihad di jalan Allah.’ Dan ditanyakan kembali kepada beliau: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Haji yang mabrur’.”
Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Sahihnya dari ‘Aisyah radhiyallahu’anhu bahwasannya dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam
“’Wahai Rasulullah, kami mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama, tidakkah kami juga ikut berjihad?’ Beliau menjawab: ‘Bukan seperti itu, akan tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah haji yan mabrur’.”
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa dengan berhaji kita sama saja melakukan jihad tanpa peperangan. Karena saat kita berumroh dan berhaji, ujian Allah selalu adan untuk menguji seberapa besar iman dan ketakwaan kita kepada-Nya. Ujian Allah berbeda-beda terhadap para hamba-Nya karena Allah takkan memberikan suatu cobaan melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Bahkan bagi sebagian jemaah haji yang kondisi fisiknya sudah tidak lagi kuat baik karena faktor umur maupun hal-hal lain, melakukan sai atau berada di Muzdalifah saat malam hari merupakan sebuah ujian.
Semuanya kembali lagi kepada niat kita. Jika kita mengikhlaskan amalan-amalan kita semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah ta’ala, tentu saja kita dapat menjadi haji yang mabrur. Segala perbuatan kita senantiasa berada pada ketaatan terhadap Allah, dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri dari kemaksiatan serta larangan-larangan Allah, baik di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, sebelum pelaksanaan ibadah haji ataupun setelahnya.
Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…
Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…
Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…
Apakah Dalil Disyariatkannya Ibadah Kurban dari Al-Qur’an dan Hadits?. Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang…
Kapan Ibadah Qurban disyariatkan dalam Islam? Ibadah qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan…
Makna Qurban dan Waktu Disyariatkannya dalam Islam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut…