Rukun Haji dan Syarat Wajib Haji

Rukun Haji dan Syarat Wajib Haji bagi manusia.

Jamaah Haji Di Padang Arofah
Jamaah Haji Di Padang Arofah

Rukun Haji

  1. Ihram. Kalangan mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Maliki sepakat tentang kedudukan ihram sebagai rukun haji. Hanya kalangan mzahab Hanafi yang menganggapnya sebagai syarat haji.
  2. Wukuf di padang Arafah. Keempat mazhab sepakat mengenai hal ini.
  3. Tawaf ifadhah. Keempat mazhab sepakat mengenai hal ini.
  4. Sa’i antara Shafa dan Marwa. Semua fukuha sepakat mengenai hal ini kecuali mazhab Hanafi yang menganggapnya sebagai wajib haji.

 

Dari sini bisa disimpulkan bahwa rukun haji, menurut mazhab Hanafi, hanya ada dua, yaitu wukuf di Arafah dan tawaf ifadhah. Menurut mereka, tawaf ifadhah yang dianggap sebagai rukun haji adalah tiga putaran pertama, sementara tiga putaran selanjutnya hanya merupakan wajib haji-yang tidak sampai membatalkan haji jika ditinggalkan, tapi harus membayar dam (sanksi).

Syarat Wajib Haji

Islam.

Artinya, setiap orang tidak beragama Islam, baik laki-laki maupun perempuan, tidak wajib melaksanan ibadah haji.

Dewasa (Balig)

Artinya, tidak ada kewajiban haji bagi anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan. Seandainya dia sudah pernah berhaji dan menguasai manasiknya, dia tetap wajib berhaji jika sudah dewasa. Tetapi, dia tetap berhak mendapatkan pahala dari ibadah haji yang telah dikerjakannya saat kecil.

Hal ini didasarkan pada dua hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Seorang perempuan yang tengah menggendong anaknya datang menemui Nabi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah anak ini boleh melaksanakan haji?” Beliau menjawab, “Boleh, kamu berhak atas pahala.” Riwayat kedua menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Anak kecil mana saja, sekalipun masih menyusui, yang telah berhaji dan kemudian tumbuh dewasa, dia tetap wajib melaksanakan haji.”

READ :  Hak dan Kewajiban Jemaah Haji Yang Sudah Lunas

Hadis pertama menunjukkan bahwa hajinya anak kecil yang ditemani oleh orang tuanya itu sah, lebih-lebih jika sang anak sudah memahami dan mengetahui manasik haji. Hal itu ditujukan untuk melatih dan membiasakan sang anak agar terbiasa menjalankan kewajiban-kewajiban keagamaan yang sifatnya berat-yang barangkali bisa dicerminkan oleh kegiatan menempuh perjalanan jauh, mabit (singgah bermalam), dan seterusnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah ihramnya anak ecil boleh diwakili oleh orang tua yang menemaninya haji? Anak kecil yang sudah mumayyiz (mengetahui dan memahami manasik haji, bisa membedakan baik dan buruk) harus melakukan ihram sendiri atas izin kedua orang tua nya. Tetapi, jika sang anak tidak mengetahui dan memahami manasik, kedua orang tua nya boleh mengihramkannya, meskipun kedua orangtuanya itu sudah dalam keadaan berihram. Yang jelas, ihram sang anak hanya boleh diwakili oleh orang tuanya saja, tidak kerabat-kerabat dekat lainnya. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat Jabir. Jabir berkata, Suatu ketika kami pergi haji bersama Rasulullah saw dan juga para perempuan dan anak-anak kecil. Kami kemudian mengihramkan anak-anak kecil itu.” Dalam riwayat Jabir lainnya disebutkan, “Kami mentalbiyahkan anak-anak kecil dan mengihramkannya.”

Jamaah Haji Melempar Jumrah di Jamarat Mina
Jamaah Haji Melempar Jumrah di Jamarat Mina

Mentalbiyahkan atau mengihramkan anak kecil hanya dibolehkan ketika sang anak belum memahami dan mengetahui manasik haji. Apabila sudah mengetahui dan memahami manasik, sang anak harus melakukan sendiri semua manasik haji, seperti wukuf di Arafah dan mabit (singgah bermalam) di Muzdalifah. Adapun manasik yang tidak mampu dia kerjakan, seperti lempar jumrah, boleh diwakili oleh kedua orangtuanya atau wali yang menemaninya. Hanya saja, sebelum mengerjakan manasik haji untuk dirinya. Artinya, sang wali harus melemparkan jumrahnya terlebih dahulu sebelum melemparkan jumrah untuk anaknya, atau berihram terlebih dahulu sebelum mengihramkan anaknya. Tidak ada dosa bagi sang wali jika sang anak tidak bisa menyempurnakan manasik yang dilaksanakannya sendiri.

READ :  Hukum dan Tatacara Memotong Rambut dan Melempar Jumrah Saat Ibadah Haji

Berakal.

Artinya, orang gila tidak berkewajiban mengerjakan haji karena tidak menanggung beban kewajiban agama apapun. Dia baru wajib mengerjakan ibadah haji ketika sudah sembuh.

Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah, “Kewajiban agama menjadi gugur bagi tiga golongan; anak kecil sampai tumbuh dewasa (baligh), orang gila sampai sembuh, dan orang yang tidur sampai bangun kembali.” Apabila seseorang mengidap penyakit gila kambuhan, kemudian sadar, maka yang dijadikan pertimbangan di sini adalah waktu terlama dari keduanya, apakah gila atau sadarnya. Jika waktu sadarnya lebih lama maka dia wajib melaksanakan haji.

Merdeka, bukan budak

Adanya waktu dan kemampuan materi menjadi syarat bagi wajibnya haji-yang keduanya tentu tidak dimiliki oleh seorang budak atau hamba sahaya.

Hal itu didasaran pada firman Allah Swt,… dan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah (Al-Imran [3]: 97). Nabi saw bersabda, “Budak mana saja yang telah berhaji, kemudian dia bebas dan menjadi orang merdeka, dia wajib melaksanakan haji fardhu.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa apabila seorang budak berhaji saat masih menyandang status budak maka dia tetap memiliki kewajiban haji ketika sudah merdeka dan mampu, baik fisik maupun materi.

READ :  Pengertian Haji, Syarat, Rukun, Wajib dan Waktu Mengerjakan Haji

Mampu

Syarat wajib haji yang kelima adalah mampu (al-istitha’ah). Istilah mampu (al-istitha’ah) dalam konteks ibadah haji dibagi menjadi dua, yaitu mampu sendiri (bi al-nafs) dan mampu karena orang lain (bi al-ghayr).

========================================================================

Informasi Paket Haji Visa Furoda Langsung Berangkat Tahun ini

Biaya Mulai USD 14.500 Aman, Nyaman dan Amanah

H. SUDJONO AF – 081388097656 – WA

========================================================================

Similar Posts:

Pengertian Haji, Syarat, Rukun, Wajib Haji dan Waktu Mengerjakan Haji Daftar isi: Pengertian Haji Hukum
Rukun haji dan wajib haji. Urutan ibadah yang harus dilakukan secara lengkap yang tercakup didalam
Hukum dan Tatacara Memotong Rambut dan Melempar Jumrah Saat Ibadah Haji. Pada saat melaksanakan ibadah
WhatsApp chat