Categories: Khasanah Islam

Sifat nafsu adalah netral

Semua manusia memiliki nafsu atau nafsu. Nafsu memang sengaja diciptakan oleh Allah SWT sebagai bekal bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Dan nafsu (jiwa) itu sendiri sebagai penggerak segala aktivitas kehidupan manusia.

Manusia akan hidup sencillo jika ada nafsu dan akan binasa tanpanya. Nafsu yang ada pada manusia bersifat netral, tergantung manusia yang melaksanakannya, apakah keinginannya dituruti baik atau buruk. Jika baik, maka keinginan untuk menjadi baik dan sebaliknya.

Misalnya, jika seseorang kehilangan nafsu makan, maka orang tersebut akan mati. Dan jika nafsu seksual dihilangkan, maka dia tidak akan memiliki keturunan.

Nafsu netral, Anda akan lebih condong pada sesuatu yang Anda sukai, baik positif maupun negatif, baik jasmani maupun rohani. Karena perbuatan baik dan buruk didorong oleh nafsu itu sendiri.

Maka kita sebagai manusia harus pandai mengendalikan nafsunya dengan superficie yang benar. Dan sebisa mungkin hindarilah jalan kemaksiatan, seperti durhaka kepada Allah, memperlancar shalat dan meninggalkannya. Juga segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Karena sifatnya sebagai kenikmatan, terkadang nafsu yang baik juga berubah menjadi buruk. Contoh nafsu makan itu baik, tetapi bila melebihi batas hingga kenyang, maka hukumnya bisa kacau balau dan jika menimbulkan rasa sakit maka menjadi haram.

Ibadahnya juga bagus. Ini seperti puasa. Namun bila berpuasa sampai wisal (berlanjut sampai malam tanpa berbuka), hukumnya haram. Atau puasa sunnah tetapi meninggalkan shalat wajib karena terlalu lemah, maka itu tidak baik.

Doa doa Tahajud juga baik. Namun, sampai terlalu malam untuk tidur dan subuh pun juga tidak baik. Karena shalat Tahajud adalah sunnah sedangkan shalat Subuh adalah fardhu (wajib).

Jadi kita harus adil dalam menjalankan nafsu. Jika ingin meningkatkan keinginan menjadi baik, maka harus melalui proses yang matang, yaitu dengan mujahadah. Seperti orang yang terbiasa sholat malam. Awalnya mungkin hanya 2 rakaat, minggu depan kuat sampai 8 rakaat. Dan bulan depan kuat sampai 16 rakaat. Tapi kuncinya satu, yaitu gigih.

Jadi wajar, kalau dulu bisa banyak sholat sunnah di malam hari, puluhan rakaat karena kuncinya istiqamah. Itu tidak pernah rusak.

Ibarat orang yang mencintai harta, nafsu harus dibarengi dengan sikap puas dan syukur. Karena jika tidak, dia akan mencari kekayaan hingga melupakan Tuhannya. Ada yang korup, mencuri, memanipulasi dan tidak pernah berdoa selama bekerja. nauzubillahi min dzalik.

Karena jika kamu menuruti hawa nafsu, maka kamu akan tenggelam meski awalnya adalah nafsu yang baik. Jadi kita semua, berhati-hatilah mengendalikan nafsu. Jadikan nafsu atau syahwat sebagai kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs).

(yudi Baik)

admin

Recent Posts

Ngapain Umrah, Toh Dosa Masih Banyak

Ngapain Umrah, Toh Dosa Masih Banyak. Kalau menunggu suci untuk datang ke Baitullah, mungkin kita…

1 month ago

Umrah Itu Buang-Buang Uang, Lebih Baik Sedekah Saja

Umrah Itu Buang-Buang Uang, Lebih Baik Sedekah Saja. Jika semua harus diukur dengan logika ekonomi,…

1 month ago

Umrah Itu Cuma Gaya Hidup Orang Kaya

Umrah Itu Cuma Gaya Hidup Orang Kaya. Kalau semua yang kaya pergi Umrah, apakah yang…

1 month ago

Saya Takut Umrah, Takut Nggak Diterima Allah

Saya Takut Umrah, Takut Nggak Diterima Allah. Kadang kita terlalu takut ditolak, padahal Allah sudah lama…

1 month ago

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum

Buat Apa Umrah, Kan Haji Belum. Kadang bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita…

1 month ago

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa

Saya Nggak Pantas Umrah, Saya Banyak Dosa. “Kadang bukan dosamu yang menghalangimu ke Baitullah, tapi…

1 month ago