Tips Membangun Pikiran Positif Agar Hidup Bertetangga Harmonis dan Anak Menjadi Sholeh | Pakde Djon – Ikhtiar Langit. Pagi hari ini kita mendapatkan tambahan ilmu lagi semoga kita semakin bijaksana dalam mengambil persepsi terhadap suatu masalah karena persepsi itulah yang membuat kita bertindak bagaimana untuk menjadi lebih baik itu karena dasar dari ilmu yang kita pelajari dan kita dapat oleh karena itu ini juga bermanfaat bagi para Dai para Mubalik para Ustaz para Ustazah apabila kita memberikan ilm tersebut atau menyebarlaskannya siapa kesah sih sebenarnya audien kita itu kadang-kadang perlu gitu penting sehingga kita tidak salah dalam memberikan tataran ilmu gitu memang dalam pengajian tataran ilmu Paki ada sama kalau kita belajar silat belajar karate belajar ar ku itu pasti ada tataran ilmunya enggak mungkin baru masuk kemudian dikasih jurus 30 ya Enggak mungkin pasti diajari kuda-kuda saja gitu kan ya sama dengan ilmu kita nah.
Oleh karena itu apabila kita menyampaikan sesuatu Kalau Pak ustaz Najid menyampaikan membaca membaca mana tadi Iftitah membaca doa iftitah itu yang panjang panjang itu disampaikan kepada orang mualaf yang baru masuk ya kelenger kan begitu yang kita sampaikan yang pendek-pendek dulu yang penting sudah sesuai dulu makanya saya sering menyampaikan ya kan ilmu ekonomi di dalam belajar Islam ya kalau kita tahu yang Ee audien kita itu adalah beliau-beliau ini yang biasanya sukanya adalah ee apa itu ibadahnya sedikit tapi pengin pahala Han ya banyak kan begitu kan ya kita sampaikan itu tetapi bagi bapak-bapak yang sudah biasa Taklim di sini itu adalah bagian kecil kita sudah meningkat ke dalam sabuk hitam lagi kan gitu jangan sabuk merah terus kan gitu naik ke sabuk hitam Jadi bukan yang kecil mendapatkan pahala yang banyak itu sudah kita kantongin tapi yang banyak kita dapatkan pahala yang banyak lagi kan begitu Jadi semangatnya berbeda.
Auzubillahiminasyaitanirrajim Bismillahirrahmanirrahim asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh inalhamdillahmuirillall alhamdulillah alhamdulillah Bapak Ibu sekalian yang dirahmati Allah, Nah itu menjadi pegangan bagi kita kenapa kalau kenapa Pak J menyampaikan yang yang mudah kemudian pahal yang banyak supaya bapak-bapak ibu-ibu kalau menyampaikan kepada anak-anak kita itu awalin dari tahap yang dasar gitu loh jangan sampai doa iftinya ini nak yang panjang ini loh Wah nanti dia malas apalagi laki-laki gu ya sebaga Nah makanya itu kita ya harus menyadari itu dan itu bisa stres juga Ananya Kok saya engak pernah diajarin ini sama Bapak nah l kan bapaknya kena kan kita ggak bisa ngomong nah itu harusnya begini enggak ggak bisa seperti itu karena apa persepsi anak-anak kita di masyarakat seperti itu Pak teman-teman saya itu begini begini kok Bapak begitu Nah makanya itu perlu jenjang-jenjang tadi n Bapak Ibu sekalian kita akan lanjutkan kemarin kita sudah menyampai tentang Apa itu perbedaan eh keilmuan atau ya perbedaan tentang pemprograman otak laki-laki dan perempuan ini berhubungan tadi saya sampaikan berhubungan dengan persepsi ya jadi persepsi itu adalah tanggapan kita imaan kita action kita atau reaktif kita terhadap sesuatu yang kita terima dari alam semesta ini dari peristiwa dalam dunia ini terhadap diri kita.
Kita paham kenapa persepsi Setiap orang pasti berbeda karena apa Karena ilmu yang diterima berbeda pengalaman yang diterima berbeda keadaan fisiknya dia berbeda sederhana sekali banyak dicontohkan mohon maaf seorang tuna netra yang mencari apa itu mendefinisikan seekor gajah sesuai dengan yang diterima persepsi dia oh Gajah itu ternyata panjang kemudian bulat seperti ular karena dia memegang belalainya Oh gajah ternyata lebar tipis Karena Dia memegang kupingnya Nah itu persepsinya kan berbeda kan Begitu juga dengan manusia nanti karena ilmu yang kedalaman permokraman dalam dirinya berbeda nah itu yang harus Apakah kita akan menyalahkan salah Gajah itu tidak seperti itu ya enggak bisa salah menurut kita merurut dia ngotot bener nah itu menjadi pemahaman kita juga kan gitu ya.
Nah Oleh karena itu Allah juga menciptakan karullah bahwa persepsi pemrograman otak antara wanita dengan pria ber beda kan itu programnya berbeda mana berbeda ee sehingga di dalam menyikapi sesuatu juga menjadi berbeda ya kan bahkan kadang kita pernah mendapatkan satu kelompok kita menyadari itu kalau mohon maaf kalau di dalam surah aliimron itu kan ya dalam 36 itu kan tentang e istrinya imprron Istrinya impron ketika mengandung kemudian lahirlah lahirlah putrinya Maram kan J in kan pengin banget mendapatkan laki-laki Bahkan dia nadarkan kan sehingga sampai terucap bahwa laki-laki perempuan adalah berbeda dengan laki-laki dalam alron kan disampaikan tu wakar itu beda ini penyampaian dari istrinya imon tentang itu jadi dia merasa Aduh saya pengin banget laki-laki Kara persepsinya.
Nah itu kan persepsinya istrinya impron itu bahwa kalau laki-laki itu bisa lebih di dalam segala hal termasuk di dalam ber iibadah ternyata Allah memberikan hal yang tidak sesuai dengan persepsinya bahkan akhirnya Allah melebihkan ya kan putrinya ini di dalam banyak hal mohon maaf termasuk di dalam keilmuan rezeki Nabi Zakaria gu kan mohon maaf setiap masuk ke ruang mikrabnya lah sudah ada makanan lagi kemarin sayur lodeh hari ini sate dari mana didapat Oh enggak pernah keluar dia menang kemarin kan begitu Nah itulah makanya memang kita diciptakan berbeda antara pemrograman otak laki-laki dan perempuan kecuali di dalam meraih pahala kepada Allah subhanahu wa taala dalam hal beribadah silakan berlomba-lomba antara laki-laki dan perempuan jadi diperbolehkan kan begitu nah.
Oleh karena itu, Bapak Ibu sekalian, kemarin saya sampaikan bahwa otak wanita relatif lebih bertanggung jawab. Sehingga, apabila ibu-ibu mau berangkat kajian, perse siang hari itu kira-kira di rumah sudah selesai belum kegiatannya? Sudah nyiapin punya bapaknya? Sudah nyiapin punya anaknya? Bapak-bapak mandi berangkat, kira-kira begitu kan ya? Jadi lebih bertanggung jawab, bekerja lebih cepat, dan mempunyai multitasking. Multitasking itu banyak yang dikerjakan dalam satu waktu: yang masak, yang jawab HP (handphone) kalau sekarang gitu ya, bahkan ada yang sambil gendong anaknya begitu. Kalau bapak ya, tidak sebanyak itu bisa, tapi tidak sebanyak itu. Bapak lebih fokus dalam satu pekerjaan. Tetapi rata-rata ibu-ibu itu rentan terhadap stres karena banyaknya yang dipikirkan.
Tadi kenapa bisa? Karena otak kiri dan otak kanan mereka berkembang dengan sama, sehingga kadang-kadang ibu itu banyak masalah yang tidak bisa disimpan tapi berputar-putar di otaknya, pengin disampaikan. Sementara laki-laki, otak pria adalah lebih suka rapat. Nah, otak pria itu lebih suka rapat, lebih suka diskusi. Kalau otak perempuan lebih suka mengaji, lebih suka sosial, lebih suka bergerombol. Sehingga dalam kondisi umumnya Majelis Taklim itu lebih banyak yang datang ibu-ibu. Kalau waria, waria itu dikerjain sendiri. Nah, bapak-bapak lebih condong mencapai hasil dan tujuan serta lebih condong mencapai status dan kekuasaan. Ini bapak-bapak, karena kita paham kita itu mempunyai program status kekuasaan, jadi lebih banyak mendominasi.
Jadi, kalau ngomong sesama teman itu, ngomongnya temannya A, kita juga menyaingi ngomong B. Kan gitu? “Ah, kemarin tuh saya lihat tuh ada bapak itu loh bawa motor bagus banget.” “Iya, saya juga ngelihat tuh tetangga saya itu bawa Harley Davidson, enggak mau kalah.” Itu bapak-bapak memang begitu. Nah, oleh karena kita tahu seperti itu, Bapak Ibu sekalian, ya, makanya itu kita perlu kajian. Supaya kita tadi mempunyai pengalaman di dalam pemrograman. Jadi, kalau ada yang ngomong misalnya, “Alhamdulillah kemarin tuh anakku itu juara MTQ tingkat kecamatan.” Kan senang banget, meskipun kecamatan, nggak, kan? Yang penting juara satu, kan gitu, kan? Sudah senang banget kita ngomong.
Nah, Ustaz Hadi yang anaknya kemarin juara kabupaten, ya, enggak ngomongnya. Lah, baru kecamatan sudah gitu. Anak saya, ponakan saya itu ponakan diandelin bukan anaknya. Bahkan tetangga itu, ya, tetangga saya kemarin juara kabupaten juga, enggak mau kalah. Karena belum tahu pengalaman otaknya, ngomong belum ada kajian. Seharusnya ngomongnya kanak begitu, kalau sudah tahu kajian lebih sopan, lebih berilmu, adab, dan berilmu. “Wah, Masyaallah, hebat banget dong bisa juara satu tingkat kecamatan. Alhamdulillah, bagus banget tuh. Kemarin juga tetangga saya itu bisa begitu juga loh.” “Oh, hebat juga itu, anunya ustaznya yang ngajar.” Nah, kan begitu ngomongnya, bukan saling menyaingi gitu kan, tapi saling menyupport.
Nah, itu kajian-kajian yang kita tanamkan di otak kita, karena kita tahu kita punya dasar seperti itu, gitu kan? Kita bisa mengerem diri. Nah, oleh karena itu Bapak Ibu sekalian, seperti dalam bicara perlu sopan dan lain sebagainya, tadi menekankan ilmunya.
Kesadaran wanita, kesadaran ibu-ibu itu selalu berkomunikasi. Seperti kemarin ya, selalu berkomunikasi suka kalau di dalam majelis. Bahkan ada ibu-ibu itu yang dominan, gitu ya, karena suka ngomong. Kalau di dalam majelis itu juga suka ngomong, bahkan kan bukannya suka ngomong, suka ngatur teman-temannya, gitu ya, suka ngatur. Nah, biasanya kalau sudah ikut kajian-kajian, cara ngaturnya pun harus berbeda. Jadi meskipun, ya, ibu namanya ibu-ibu, cara ngaturnya juga harus lebih sopan, lebih beradab, lebih berilmu, gitu.
Nah, itu memang orientasinya berbeda. Orientasi ibu-ibu tadi karena suka kerja sama, maka dia suka itu bareng-bareng. Kalau mau kajian selalu ngajak bareng-bareng, mau berangkat kajian jam berapa bareng, ya gitu. Padahal, sudah ibunya satunya, karena kajian ibu-ibunya kan gitu, seringnya begitu. Laki-laki ada undangan, berangkat sendiri. Mau kajian, berangkat sendiri. Ya ada perbedaan itu.
Nah, Bapak Ibu sekalian, ibu-ibu tidak suka saingan, jadi sukanya bersama-sama, tidak suka saingan. Makanya seringnya ibu-ibu itu seringnya kan mohon maaf, karena dikaruniai banyak kosakata tadi, kan gitu ya, 20.000 itu. Jadi setiap hari itu ibu-ibu harus mengeluarin 20.000 kosakata. Banyak banget, jadi kalau ibu-ibu diam aja itu, itu otaknya spaneng malah begitu sebenarnya. Nah, makanya bapak-bapak itu kasih kanal dong ibu-ibu itu, suruh ngomong biar enggak sepaneng. Bukan berarti ngomong ini kan banyak, ya, kosakata bisa gaya, bisa gaya tubuh dan lain sebagainya, bisa kegiatan dan lain sebagainya biar enggak sepaneng. Tapi kalau ibu-ibu sepaneng, kita juga akhirnya ikut sepaneng.
Baik, nah, wanita lebih tahan. Ini yang agak berbeda juga. Wanita itu lebih tahan di dalam pembicaraan saling tatap muka, ya kan? Sehingga ibu-ibu sering nak pandang wajah ibu-ibu mau bicara, kan gitu, kan? Karena wanita itu lebih suka tatap mata di dalam percakapan, sementara laki-laki tidak. Laki-laki itu tidak tahan tatap muka di dalam pembicaraan. Sehingga kalau kita ngobrol sesama teman itu jarang kita ngomong terus langsung begini, jarang. Ya sambil gini, sambil apa ngomong, kan gitu? Tapi kalau wanita lebih suka itu. Nah, ini konsekuensinya apa? Konsekuensinya, ibu-ibu, apabila bapaknya itu dia ingin bapaknya bicara, enggak usah minta, dia melototin bapaknya ngomong. Enggak, bapaknya malah rikuh kok dipelototi, dilihati, tambah rikuh. Kenapa begitu? Itu ya qarullah dari ilmu yang disampaikan para pakar itu, memang di dalam mata itu kan ada putih-putih ya, apa itu namanya?
Di dalam pupil itu, kan? Di dalam pupil hitam itu ada titik putihnya. Wanita ternyata titik putihnya itu lebih lebar daripada laki-laki, sehingga dia lebih tahan menatap mata lawan bicaranya. Sehingga itu menjadi pelajaran bagi ibu-ibu, kalau memarahi anaknya, minta perhatian anaknya, ya enggak perlu, “Nak, lihat ibu, lihat muka ibu.” Enggak, enggak bisa anak laki-lakinya, enggak bisa melihat mata ibunya lebih dari 5 detik. Nah, itu yang harus dipahami, makanya ibu-ibu harus paham, supaya enggak sepaneng. Kita sudah semangat mau marahin sama anaknya, “Lihat mata ibu, ya gini-gini.” Kan gimana sih? Tambah marah lagi. Memang kan laki-laki begitu. Nah, ibu-ibu harus paham, bapak-bapak juga begitu, kan gitu.
Makanya, dulu saya pernah dapat joke, ya, dapat joke dalam di dalam perusahaan itu, saya sampaikan kepada sekretaris, “Suamimu yang perempuan, yang biasanya cantik kan, ya, kalau rapat, sekretarisnya itu supaya melihati pimpinannya itu dan mencatat dengan baik apa yang dibicarakan.” Kan aneh, ya? Ternyata ilmunya adalah ini. Karena apa? Kalau laki-laki dipelototin terus sama perempuan, dia enggak bisa melihat, grogi. Grogi sehingga apa? Sehingga laki-laki pimpinan tadi enggak melihat terus kepada sekretarisnya yang cantik. Paham maksudnya? Itu faktanya, banyak laki-laki melihat perempuan yang cantik kan begitu, kan? Ya, nah, Bapak Ibu kita lihat, biasanya perempuan cantik yang dilihat itu sedang tidak menatap dia. Jadi, dia yang lihat, dia enggak natap, ketika ditatap, dingkluk, kan gitu, enggak berani. Beraninya lihat gambarnya itu, memang laki-laki begitu kondisinya, ya dipahami.
Nah, ya, dikit lagi, wanita tadi lebih suka bicara dengan kontak mata, sementara pria tidak, menurut para ahli. Karena, karena pupil ada putih dalam pupil tadi, ya. Oleh karena itu, anak perempuan, apa itu, otak kanannya tadi lebih cepat, sedangkan anak laki-laki, kan, kita sampaikan, otak kanannya yang banyak anak. Akhirnya apa? Anak perempuan itu akan lebih cepat belajar, di dalam belajar akan lebih cepat, di dalam berhitung akan lebih cepat, di dalam menghafal atau memadukan warna baju, ya, kan? Sementara laki-laki tidak begitu. Anak laki-laki karena otak kanannya tadi, main aja gitu. Tapi dalam main, sebenarnya dia juga belajar.
Nah, terus gimana? Makanya kalau anak-anak SD punya anak, mohon maaf, punya anak-anak Bapak Ibu yang masih SD, laki-laki enggak pernah juara satu, enggak apa-apa. Tapi kalau anak perempuannya juara satu, ya wajar gitu. Karena anak perempuan itu kiri dan kanannya otaknya seimbang. Sehingga di anak-anak SD itu biasanya yang banyak juara itu anak perempuan, anak laki-laki yang. Lah, terus gimana, Ji? Kalau kita ngajari anak laki-laki supaya bisa matematika, bisa bahasa, kemudian bisa menghafal Quran?
Nah, itu kan menjadi tantangan bagi Bapak Ibu sekalian. Tantangan bagaimana kita memberi pelajaran sesuai dengan perkembangan otak dia. Bahwa otak dia yang bekerja itu adalah kanan. Jadi, para alim menyampaikan kalau kita belajar menghafal, laki-laki tak laki diam begini, ternyata kurang tepat. Jadi, “Hafalin nak, ayo diam, hafalin,” itu kurang tepat bagi anak laki-laki ternyata. Jadi, ya sudah, biarin aja dia ngafalin sambil gini, “Bismillahirrahmanirrahim,” ya biarin aja. Anak laki-laki begitu, jadi sambil tidur, sambil apa, sambil apa, belajar. Ya, ada rambu-rambunya tadi, bukan harus diam. Kalau perempuan, ya, ngadap diam belajar, iya. Ternyata anak laki-laki nanti malah stres kalau digitu begitu, ya.
Mudah-mudahan ini juga bisa mendapatkan pemahaman bagi kita. Anak laki-laki adalah suka bermain, termasuk salah satunya suka bermain game. Kan sekarang, kan, kita sudah mumet kalau laki-laki sudah suka bermain game. Nah, sebenarnya gimana kita mengalokasikan, bagaimana kita menata, bagaimana kita mengarahkan dia bermain game. Bermain game itu bukan banyak bermain loh. Itu mengisi otaknya untuk bagaimana mengatur strategi menang. Sebenarnya hampir mirip dengan bermain sepak bola, hampir mirip dengan bermain futsal. Bagaimana mengatur strategi dia supaya bisa menang, menggolkan, tapi ini bentuknya game kan, bentuknya game. Nah, positifnya kalau olahraga itu fisik bergerak, kalau game kan enggak. Nah, itu tugas kita untuk mengarahkan bagaimana game itu supaya tidak terlalu dominan menjadi negatif.
Satu lagi, oleh karena itu juga, laki-laki itu, kalau perempuan itu, anak SD perempuan sudah bisa mau bahwa, “Umi, baju saya apa itu, kerudung saya kan pink, Mbok bajunya juga pink.” Kan gitu, kan? Sudah bisa begitu, sudah milih memadukan. Tapi laki-laki, anak laki-laki agak peduli, cuek, yang penting kaosnya ada gambar pahlawannya, ada gambar mainannya, gitu kan? Sehingga hari ini pakai, sore cuci, besok kering, pakai lagi. Kita sebagai orang tua harus pahami ini, kalau anak laki-laki suka gambar kaosnya gambar A, ya jangan beli satu, beli lima, kan gitu. Jadi enggak sekali pakai cuci, kering, pakai, ya enggak begitu, kan?
Nah, ini satu ilmu lagi bagi Bapak Ibu sekalian yang bisa saya sampaikan. Mudah-mudahan lain kali bisa kita tambahkan menambah pengalaman kita dalam berhubungan antara suami istri saling memahami, juga dalam mendidik anak perempuan dan anak laki-laki, saling menyesuaikan. Kebenaran datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekurangan adalah karena kesalahan. Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Siapakah Orang Dianggap Mampu Berkurban? Hari Raya Idul Adha adalah momen besar umat Islam yang…
Apakah Syarat Bagi Orang yang Berkurban? Berkurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam…
Apakah Hukum Berkurban?. Bulan Dzulhijjah menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah…
Apakah Dalil Disyariatkannya Ibadah Kurban dari Al-Qur’an dan Hadits?. Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang…
Kapan Ibadah Qurban disyariatkan dalam Islam? Ibadah qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan…
Makna Qurban dan Waktu Disyariatkannya dalam Islam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut…