Inilah Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Untuk Umroh Maupun Haji

Inilah Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Untuk Umroh Maupun Haji

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram. Seorang wanita berangkat menunaikan ibadah haji, namun lima hari setelah tanggal berangkatnya, mengalami datang bulan. Ketika sampai miqat ia mandi dan berihram tapi belum suci dari datang bulannya. Ketika tiba di Makkah, ia tetap di luar Masjidil Haram, tidak mengerjakan sedikit pun amalan haji dan umrah. Setelah itu menetap dua hari di Mina, ia suci, mandi, dan mengerjakan seluruh amalan umrah dalam kondisi suci. Sayangnya darah kembali mendatanginya saat mengerjakan thawaf ifadhah untuk haji. Ia malu memberitahukan hal itu dan terus melanjutkan amalan-amalan hajinya. Ia tidak memberitahu walinya kecuali saat sampai di negaranya. Maka bagaimana hukum hal itu?

===================================================================================

PAKET UMROH BACKPACKER MARET $1.380

Hotline: Ir. H Sudjono AF:  0896 1184 1848 | 0813 880 97656 | BB 2315A7C3

=============================================================================

 

Jawab: Tentang darah yang mendatanginya saat mengerjakan thawaf ifadhah, jika itu darah haidh yang diketahuinya lewat sifat dan rasa sakit yang mengiringinya, berarti thawaf ifadhahnya tidak sah. Karenanya ia wajib kembali ke Makkah untuk mengerjakan thawaf ifadhah. Jadi ia harus berihram dari miqat dan mengerjakan umrah dengan thawaf, sa`i, dan memendekkan rambut. Setelah itu mengerjakan thawaf ifadhah.

Adapun jika darah ini bukan darah haidh, tetapi darah yang keluar akibat suasana yang ramai, rasa takut, atau lain sebagainya, berarti thawafnya sah menurut pendapat yang tidak mensyaratkan suci dalam thawaf.

Pada masalah pertama, yakni kalau darahnya adalah betul-betul haidh, jika tidak memungkinkannya untuk kembali ke Makkah, karena negaranya jauh misalnya, maka hajinya tetap sah. Karena ia tidak bisa mengerjakan lebih dari yang dia mampu. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram dan Sholat di Masjidil Haram

Saya sedang menunaikan ibadah haji kemudian mengalami datang bulan, saya malu memberitahukannya kepada siapapun. Saya pun terus masuk ke dalam Masjidil Haram, mengerjakan shalat, thawaf, dan sa`i. Sekarang apa yang harus saya lakukan, karena saya datang setelah mengalami masa nifas?

Jawab: Wanita yang haidh atau nifas tidak halal mengerjakan shalat. Baik melakukannya di Makkah, di negerinya, atau di tempat manapun. Sesuai sabda Nabi r tentang wanita:

 

((أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟!))

 

“Bukankah wanita ketika haidh, tidak mengerjakan shalat dan tidak pula berpuasa?!”

 

Kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya wanita haidh tidak halal mengerjakan shalat dan berpuasa. Karena itu wanita yang sudah melakukannya, harus bertaubat kepada Allah I dan memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Adapun thawaf yang dilakukannya pada saat haidh, itu juga tidak dibenarkan. Tetapi sa`inya sah. Karena pendapat yang benar: Seseorang dalam haji boleh mendahulukan sa`i sebelum thawaf. Berdasarkan hal ini, sang wanita wajib mengulangi thawafnya. Karena thawaf ifadhah adalah salah satu rukun haji dan tahallul tsani (kedua) tidak sempurna kecuali dengannya.

Berdasarkan hal ini pula, maka sang wanita tidak boleh disetubuhi suaminya jika sudah bersuami, hingga selesai mengerjakan thawaf. Dan jika belum menikah, ia tidak boleh mengadakan akad nikah sampai menyelesaikan thawaf. Allahu a`lam. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Waktu Umroh

Saya datang dari Yanbu` untuk mengerjakan umrah bersama keluarga saya. Ketika sampai Jeddah, isteri saya haidh. Sehingga saya mengerjakan umrah sendirian tanpa isteri saya. Maka bagaimana hukum syar`i tentang isteri saya?

Jawab: Mengenai isteri anda, ia harus menetap hingga suci kemudian menyelesaikan umrahnya. Karena ketika Shafiyyah haidh, Nabi r berkata:

 

((أَحَابِسَتُنَا هِيَ؟))، قَالُوْا: إِنَّهَا قَدْ أَفَاضَتْ. قَالَ: ((فَلْتَنْفِرْ إِذًا))

 

“Apakah ia menahan perjalanan kita?” para sahabat menjawab: “Ia sudah mengerjakan thawaf ifadhah.” Maka Nabi r bersabda: “Kalau begitu, suruh segera beranjak (meninggalkan Makkah).”

 

Sabda Nabi r: “Ahaabisatuna hiya?” (Apakah ia menahan perjalanan kita?), adalah dalil bahwasanya wanita wajib menetap jika mengalami haidh sebelum mengerjakan thawaf ifadhah hingga suci dan mengerjakan thawaf. Dan thawaf umrah hukumnya sama seperti thawaf ifadhah, karena thawaf umrah adalah rukun umrah.

Jadi, jika seorang wanita yang mengerjakan umrah mengalami haidh sebelum mengerjakan thawaf, ia harus menunggu hingga suci kemudian mengerjakan thawaf. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Pada Hari Haji

Bagaimana hukum seorang wanita muslimah yang mengalami datang bulan pada hari-hari haji. Apakah hajinya sah?

Jawab: Pertanyaan seperti ini kami tidak bisa menjawabnya. Hingga kami tahu kapan ia berhaidh. Demikian itu karena sebagian amalan haji tidak terhalangi oleh haidh, dan sebagian lainnya terhalangi olehnya. Seperti thawaf misalnya, wanita tidak boleh mengerjakannya kecuali dalam kondisi suci. Adapun amalan-amalan haji lainnya, ia boleh mengerjakannya meski dalam kondisi haidh. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji dan Suami Harus Meninggal Makkah

Seorang wanita mengalami datang bulan sementara muhrimnya harus segera meninggalkan Makkah. Tidak ada lelaki muhrim lain yang bisa menemaninya di Makkah. Apa yang mesti dia kerjakan?

Jawab: Sang wanita harus berangkat bersamanya tapi tetap dalam kondisi ihram. Jika sudah suci ia kembali lagi ke Makkah. Ini jika ia warganegara Saudi. Karena untuk kembali ke Makkah sangat mudah baginya. Ia bisa kesana tanpa paspor dan lain sebagainya. Adapun jika dari negara lain, dan sangat sulit kembali kesana, maka ia membalut kemaluannya serapat mungkin, kemudian mengerjakan thawaf, sa`i, memendekkan rambut dan umrahnya sudah sempurna pada saat itu. Karena thawaf yang dilakukannya dalam kondisi seperti ini adalah sesuatu yang darurat. Dan apapun yang darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram dan Masuk Makkah Saat Haji

Bagaimana hukum Islam bagi wanita yang tiba di Makkah dalam kondisi haidh, sementara keluarganya harus segera meninggalkan Makkah? Apakah mereka menunggu atau tetap melakukan perjalanan, baik perjalanannya dekat atau tidak?

Jawab: Jika wanita mengalami haidh sebelum mengerjakan thawaf, ia harus tinggal di Makkah hingga suci. Baru kemudian mengerjakan thawaf dan menyempurnakan umrahnya. Kecuali sebelumnya sudah memberi syarat dengan udzur ihram, yakni mengatakan:

 

((فَإِنْ حَبَسَنِيْ حَابِسٌ فَمَحَلِّيْ مِنْ حَيْثُ حَبَسَنِيْ))

 

“Jika nanti ada sesuatu yang menghalangi saya, maka tahallul saya di tempat yang saya terhalangi. ”

 

Jika keadaannya seperti ini, maka ia bertahallul kemudian keluar bersama keluarganya, dan tidak ada kewajiban apa-apa atasnya. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)[1]

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Dalam Mengerjakan Sholat Ihrom

Bagaimana cara wanita haidh mengerjakan shalat dua rakaat saat berihram? Dan bolehkah wanita haidh mengulang-ulang ayat-ayat Al-Qur`an secara pelan?

Jawab: Pertama: Kita harus tahu bahwa ihram tidak ada shalatnya. Tidak ada Hadis dari Nabi r bahwa beliau mensyariatkan shalat ihram atas umatnya. Tidak dengan perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya.

 

Kedua: Sesungguhnya wanita yang mengalami haidh sebelum berihram, ia bisa berihram meski kondisinya haidh. Karena Nabi r memerintah Asma` binti Umais, isteri Abu Bakar, ketika mengalami haidh di Dzul Hulaifah, beliau menyuruhnya untuk mandi, membalut kemaluannya dengan kain, dan berihram. Seperti itu pula yang dilakukan wanita haidh ketika ihram. Ia melakukan seperti itu hingga suci, kemudian berthawaf di Ka`bah dan mengerjakan sa`i.

Tentang pertanyaannya: Bolehkah ia membaca Al-Qur`an? Jawabannya: Boleh. Wanita haidh boleh membaca Al-Qur`an saat ada kebutuhan. Adapun jika tidak ada kebutuhan, misalnya ingin membaca Al-Qur`an untuk mendekatkan diri kepada Allah I, maka lebih baik ia tidak membacanya. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Sebelum Thawaf

Seorang wanita mengalami haidh sebelum thawaf ifadhah. Ia tidak kunjung suci hingga para jamaah haji banyak yang pulang. Ia tidak mungkin tinggal untuk menungu suci. Bolehkah dia mengerjakan thawaf dalam kondisi seperti itu? Jika hal itu diperbolehkan, apakah ia wajib membayar dam atau tidak? Apakah ia dianjurkan mandi dari haidnya? Jika dia tahu haidhnya tidak berhenti kecuali setelah jamaah haji pulang, dan ia tidak mungkin tinggal di Makkah, apakah ia tetap wajib haji? Jika tidak wajib, apakah ia dianjurkan untuk thawaf atau tidak? Mohon kami diberi penjelasan, mudah-mudahan Allah I membalas kebaikan anda.

Jawab: Tentang thaharah (suci) apakah menjadi syarat sah thawaf atau tidak, para ulama` mempunyai dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama: Suci adalah syarat sah thawaf. Ini madzhab Malik, Asy-Syafi`i, dan Ahmad pada salah satu riwayatnya. Pendapat kedua: Suci bukan syarat sah thawaf. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan Ahmad pada salah satu riwayat yang lain.

Maka berdasarkan pendapat kedua, jika seseorang mengerjakan thawaf dalam kondisi junub, berhadats, atau membawa sesuatu yang najis, maka thawafnya tetap sah tapi wajib membayar dam. Namun pengikut Ahmad berbeda pendapat: Apakah hal semacam ini mutlak pada orang yang mendapat udzur karena lupa ke-junub-annya atau tidak? Sementara imam Abu Hanifah menjadikan damnya berupa seekor onta, jika yang melakukannya sedang haidh atau junub.

Tentunya wanita yang tidak memungkinkan melakukan thawaf kecuali dalam kondisi haidh, lebih utama mendapatkan udzur tersebut karena haji wajib atas keduanya (wanita haidh dan orang junub). Tidak ada seorang ulama` pun yang berkata: Haji gugur dari wanita haidh. Juga bukan kebiasaan syariat untuk menggugurkan kewajiban karena ketidakmampuan seseorang pada sebagian apa yang diwajibkan. Sebagaimana jika seseorang tidak mampu bersuci untuk shalat.

Jika sang wanita bisa menetap di Makkah hingga suci kemudian mengerjakan thawaf, maka hal itu diwajibkan atasnya tanpa keraguan pun. Tetapi jika hal itu tidak memungkinkan, seandainya ia diwajibkan untuk kembali lagi, berarti ia diwajibkan melakukan perjalanan dua kali untuk haji, dan ini sangat menyalahi aturan syariat.

Di sisi lain ia tidak mungkin berangkat kecuali bersama rombongan, sedangkan haidhnya dalam sebulan sama seperti yang biasa mendatanginya. Jadi meski kapanpun, ia tidak mungkin mengerjakan thawaf dalam kondisi suci selamanya.

Sementara syariat mempunyai prinsip, jika seorang hamba tidak mampu mengerjakan salah satu syarat ibadah, maka syarat ibadah itu gugur darinya, seperti orang shalat yang tidak mampu menutup aurat, menghadap Qiblat, atau menghindari najis. Juga seperti orang thawaf yang tidak mampu mengerjakan thawaf dengan berjalan atau naik kendaraan, maka ia dibopong dan dithawafkan.

Adapun ulama` yang mengatakan seorang wanita thawafnya sah meski mengerjakannya tidak dalam kondisi suci, dan harus membayar dam jika tidak ada udzur untuk itu -seperti yang dikatakan penganut Abu Hanifah dan Ahmad-, berarti perkataan mereka terhadap orang yang mempunyai udzur, lebih sah lagi thawafnya.

Sedangkan untuk mandi, jika wanita mengerjakannya maka itu lebih baik, seperti mandinya wanita haidh dan nifas ketika ihram. Allahu a`lam. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji dan Haidh Sebelum Thawaf Ifadhoh

Seorang wanita menunaikan ibadah haji kemudian mengalami haidh sebelum thawaf ifadhah. Ketika rombongannya hendak pulang ke negaranya, ia mewakilkan kepada walinya agar berthawaf ifadhah dan bersa`i untuknya. Walinya melakukan hal tersebut, setelah itu mereka berangkat pulang ke negaranya. Pertanyaan kami: Apakah mewakilkan dalam kondisi seperti ini dibenarkan? Dan perlu anda ketahui, haji yang dilakukannya adalah haji nafilah (bukan haji wajib).

Jawab: Meurut perkataan ulama` fiqih, hal seperti ini dibolehkan jika hajinya nafilah. Sedangkan orang yang mewakilinya, harus sudah berhaji pada tahun itu dan selesai dari amalan-amalan hajinya. Apalagi jika pewakilan itu dilakukan karena kebutuhan yang mendesak. Allahu a`lam. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji dan Haidh Sebelum Thawaf Ifadhah

Seorang wanita datang bersama muhrimnya untuk menunaikan ibadah haji. Ia sudah menyelesaikan seluruh amalan haji kecuali thawaf ifadhah. Ia tidak melakukannya karena tertimpa haidh dan terpaksa harus pulang bersama rombongannya tanpa mengerjakan thawaf ifadhah. Maka apa yang diwajibkan atasnya?

Jawab: Diharamkan atasnya seperti yang diharamkan atas orang yang bertahallul awal. Ia tinggal mengerjakan tahallul tsani. Karena itu diharamkan atasnya melakukan persetubuhan dan hal-hal yang mengawalinya, juga diharamkan menyelenggarakan akad nikah, selama thawaf ifadhah belum dikerjakan. Sebagaimana ia juga diwajibkan kembali ke Makkah secepatnya ketika mampu datang kesana pada waktu kapan pun.

Ketika sampai dekat miqat, ia berhenti pada miqat itu dan berihram dengan niat umrah dari sana. Kemudian masuk Makkah dan mengerjakan amalan-amalan umrah. Setelah itu mengerjakan thawaf ifadhah secara lengkap. Dengan demikian hajinya telah sempurna dan tidak ada kewajiban apa-apa atasnya ketika melakukan safar sebelum mengerjakan thawaf ifadhah dan kembali lagi untuk menyempurnakannya. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji yang Tinggal di Jeddah

Jika wanita terhalangi darah haidh untuk menyempurnakan amalan-amalan haji, sementara dia tinggal di Jeddah. Apakah ia harus pulang ke Jeddah hingga haidh selesai, kemudian kembali ke Makkah dan menyelesaikan kewajiban hajinya, atau menetap di Makkah hingga dirinya suci?

Jawab: Ia tidak boleh pulang ke Jeddah hingga suci dan mengerjakan thawaf ifadhah. Ia juga wajib mengerjakan thawaf wada`, namun cukup baginya mengerjakan thawaf ifadhah saja jika sebelum mengerjakannya berniat mengerjakan dua-duanya. Dengan syarat ia tidak menetap di Makkah setelah sa`i ifadhah, tapi segera pulang sehabis mengerjakannya. Kecuali ketika menetap di Makkah dia mendapatkan kesulitan.

Saya telah menjelaskan kepada kalian pada jawaban sebelumnya, tentang wanita yang tertimpa haidh dan belum mengerjakan thawaf ifadhah serta thawaf wada`. Jika demikian ia harus menetap di Makkah hingga dirinya suci.

Untuk lebih jelasnya saya tegaskan lagi, ketika sang wanita mendapat kesulitan untuk menetap di Makkah, mungkin dari sisi tempat tinggal dan lain sebagainya, maka ia boleh keluar ke Jeddah dan thawaf wada` digugurkan darinya. Tetapi dia masih dihukumi sebagai seseorang yang sedang ihram, jadi tidak boleh disetubuhi suaminya ketika suci. Setelah suci, ia segera kembali ke Makkah untuk mengerjakan thawaf ifadhah. Ia wajib berihram dari Jeddah ketika hendak masuk dalam umrahnya. Jika dalam umrah ini ia sudah mengerjakan thawaf, sa`i, memendekkan rambut, dan sudah bertahallul dari umrahnya, pada saat itu ia mengerjakan thawaf ifadhah. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji dan Mulai Haidh di Hari Tarwiyah

Jika wanita nifas memulai masa nifasnya pada hari tarwiyah,[2] ia sudah menyempurnakan rukun-rukun haji kecuali thawaf dan sa`i. Hanya saja ia melihat dirinya sudah suci lebih awal, yaitu setelah sepuluh hari. Apakah ia harus bersuci, mandi, dan menunaikan rukun yang masih tersisa, yaitu thawaf haji (thawaf ifadhah)?

Jawab: Benar, jika dia memulai nifasnya pada tanggal delapan misalnya, maka boleh melanjutkan amalan haji serta berwuquf bersama kaum muslimin di Arafah dan Muzdalifah. Ia juga boleh mengerjakan amalan-amalan yang dikerjakan kaum muslimin, seperti melempar jumrah, memendekkan rambut, menyembeli hadyu (binatang sembelihan), dan lain sebagainya. Tersisa baginya thawaf dan sa`i. Keduanya harus diakhirkan hingga dirinya suci.

Seandainya dirinya suci setelah sepuluh hari, atau lebih, atau kurang dari itu, ia segera mandi, mengerjakan shalat, berpuasa, serta mengerjakan thawaf dan sa`i. Karena jangka waktu nifas yang paling sedikit tidak ada batasnya. Seorang wanita bisa suci dalam sepuluh hari atau kurang dari itu, atau lebih dari itu. Tetapi puncak tertingginya adalah empat puluh hari. Jika sudah berjalan empat puluh hari dan darah tidak kunjung berhenti, maka ia menghukumi dirinya sebagai wanita suci. Yakni dia segera mandi, mengerjakan shalat, berpuasa, dan menganggap darah yang masih keluar sebagai darah yang rusak (istihadzah).

Jadi, meski darah terus mengucur ia tetap mengerjakan shalat, berpuasa, boleh disetubuhi suaminya, dan membalut kemaluannya serapi mungkin dengan kain atau semacamnya. Ia berwudhu pada setiap waktu shalat dan boleh menjamak antara dzuhur dan ashar, maghrib dan isya`. Sebagaimana diwasiatkan Nabi r kepada Hamnah binti Jahsy Radhiyallahu anha. (Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Nifas Saat Ihram Haji Pada Hari Tarwiyah

Seorang wanita nifas memulai masa nifasnya pada hari tarwiyah. Ia sudah menyempurnakan seluruh rukun haji kecuali thawaf dan sa`i. Ia mendapati dirinya suci lebih awal. Yaitu sepuluh hari setelah datangnya nifas. Apakah ia harus bersuci, mandi, dan menunaikan rukun yang masih tersisa, yaitu thawaf haji?

Jawab: Ia tidak boleh mandi dan mengerjakan thawaf hingga benar-benar yakin dirinya telah suci. Yang saya pahami dari pertanyaan, sang wanita mengatakan dirinya suci lebih awal. Berarti ia belum sempurna melihat masa sucinya. Jadi sekali lagi, ia harus benar-benar yakin bahwa dirinya telah suci.

Ketika dirinya sudah benar-benar suci, ia segera mandi, kemudian mengerjakan thawaf dan sa`i. Jika sa`i dilakukannya sebelum thawaf maka tidak menjadi masalah. Karena ketika Nabi r ditanya tentang seseorang yang bersa`i sebelum thawaf beliau mengatakan: “Laa haraj.” Yakni tidak apa-apa. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji Setelah Lempar Jumrah

Jika seorang wanita kedatangan haidh setelah melempar jumrah aqabah dan sebelum thawaf ifadhah. Ia sangat bergantung kepada suami dan rombongannya. Maka apa yang harus dilakukannya? Dan perlu anda ketahui ia tidak mungkin kembali ke Makkah setelah rombongan berangkat pulang.

Jawab: Jika tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke Makkah, maka dia membalut kemaluannya serapi mungkin kemudian mengerjakan thawaf dan menyempurnakan amalan-amalan haji yang masih tersisa. Tidak ada kewajiban apapun atasnya dalam hal ini, karena keadaannya darurat. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)

 

Hukum Wanita Haidh Saat Ihram Haji dan Haidh Sebelum Mengerjakan Thawaf Ifadhoh

Seorang wanita tertimpa haidh atau nifas sebelum mengerjakan thawaf ifadhah. Apakah ia wajib menetap di Makkah hingga suci dan mengerjakan thawaf, atau boleh pergi ke Jeddah dan tempat lain, kemudian kembali ke Makkah untuk thawaf ketika sudah suci?

Jawab: Jika mampu menetap di Makkah, maka wajib baginya untuk menetap hingga suci dan menyempurnakan haji. Jika tidak mampu maka tidak menjadi masalah untuk pergi bersama muhrimnya ke Jeddah, Thaif, atau tempat lain. Kemudian kembali bersama muhrimnya setelah suci dan menyempurnakan amalan-amalan hajinya. (Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah)

 

Hukum Seseorang Menunaikan Hai Ifrad Tanpa Melakukan Thawaf Qudum

Tentang seseorang yang menunaikan haji ifrad, ia berihram dari Dzul Hulaifah dan datang di Jeddah. Setelah itu pergi ke Arafah tanpa mendatangi Masjidil Haram dan tanpa melakukan thawaf qudum. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Orang ini berdosa karena menyalahi Nabi r dalam banyak Hadisnya. Di antaranya:

 

((دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِي الْحَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ))

“Umrah telah masuk ke dalam haji hingga Hari Kiamat.”

 

Juga sabdanya:

((أَحِلُّوْا أَيُّهَا النَّاسُ، فَلَوْلاَ أَنِّيْ سُقْتُ الْهَدْيَ َلأَحْلَلْتُ مَعَكُمْ))

“Wahai para manusia! Bertahallullah! Seandainya saya tidak membawa hadyu, pasti saya sudah bertahallul bersama kalian.”(Syaikh Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah)

 

[1] Disebutkan dalam Al-Mughni: 6/388:

 

(إِنْ حَبَسَنِي حَابِسٌ فَمَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي، فَإِنْ حُبِسَ حَلَّ مِنْ الْمَوْضِعِ الَّذِي حُبِسَ فِيهِ ، وَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ ) يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَحْرَمَ بِنُسُكٍ ، أَنْ يَشْتَرِطَ عِنْدَ إحْرَامِهِ ، فَيَقُولَ : إنْ حَبَسَنِي حَابِسٌ ، فَمَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتنِي . وَيُفِيدُ هَذَا الشَّرْطُ شَيْئَيْنِ : أَحَدُهُمَا ، أَنَّهُ إذَا عَاقَهُ عَائِقٌ مِنْ عَدُوٍّ ، أَوْ مَرَضٍ ، أَوْ ذَهَابِ نَفَقَةٍ ، وَنَحْوه ، أَنَّ لَهُ التَّحَلُّلَ .وَالثَّانِي ، أَنَّهُ مَتَى حَلَّ بِذَلِكَ ، فَلَا دَمَ عَلَيْهِ وَلَا صَوْمَ . [المغنى: 6-388]

“Jika saya terhalangi oleh sesuatu, maka tahallul saya di tempat yang saya terhalangi.” Maksudnya: Jika seseorang terhalangi, ia boleh bertahallul di tempat terhalanginya itu. Dan tidak ada kewajiban apapun atasnya. Jadi dianjurkan bagi siapapun yang berihram untuk haji atau umrah, agar memberikan syarat saat ihram. Yaitu mengatakan: “Jika ada sesuatu yang menghalangi ibadah haji atau umrah saya, maka tahallul saya di tempat yang saya terhalangi.” Syarat ini memberikan dua manfaat. Pertama: Jika orang yang ihram terhalangi sesuatu, seperti musuh, penyakit, hilangnya harta benda, dan lain sebagainya, maka dia boleh bertahallul. Kedua: Ketika dia bertahallul karena halangan tersebut, maka tidak ada kewajiban dam maupun berpuasa atasnya. (Al-Mughni: 6/388)

 

[2] Hari tarwiyah adalah hari kedelapan dari bulan Dzul Hijjah. (pen.)

 

(al faqir ila Rahmati Rabbih)

Diterjemahkan dari kitab: LI AN-NISA’ FAQATH, kumpulan fatwa para ulama’. nomor yang tertera dalam pertanyaan adalah nomor asli yang terdapat dalam kitab tersebut.

hukum wanita haidh saat umroh, hukum wanita haidh saat ihrom, hukum wanita haidh saat umrah, hukum wanita haidh saat haji, hukum wanita haidh saat thawaf, hukum wanita haidh saat hari tarwiyah, hukum wanita haidh saat sa’i, hukum wanita haidh sebelum tahallul, hukum wanita haidh saat  niat umroh, umroh bagi wanita, tatacara umroh bagi wanita, hukum hukum umroh bagi wanita, baju ihrom wanita, syarat ihrom wanita

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *