Tafsir Surah An Nas dan Keutamaan Membacanya

Tafsir Surah An Nas dan Keutamaan Membacanya

Tafsir Surah An Nas (bahasa Arab:النَّاسِ, “Manusia”) adalah surah penutup (ke-114) dalam Al-Qur’an. Nama An-Nas diambil dari kata An-Nas yang berulang kali disebut dalam surah ini yang berarti manusia. Surah ini termasuk dalam golongan surah makkiyah. Isi surah adalah anjuran untuk manusia memohon perlindungan kepada Pemerintah, Pemilik dan Pemelihara nyawa seluruh umat manusia, Allah SWT, dari pengaruh hasutan jahat (setan) dalam diri.

=====================================================================

UMROH MURAH JANUARI, FEBRUARI, MARET, APRIL 2016

UMROH PROMO $1.500

INFO: H SUDJONO AF 081388097656 | BB 2315A7C3

=====================================================================

 

Surat An Nas terdiri dari 7 ayat termasuk Basmallah.

1.بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  Bismilaahirahmanirahiim

  1. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ Qul Auudzu bi rabbinnaas
  2. مَلِكِ النَّاسِ Malikinnaas
  3. إِلَهِ النَّاسِ Ilahinnaas
  4. مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ min syarrin waswaasil khannaas
  5. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ alladzii yuwaswisu fii suduurinnaas
  6. مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ minal jinnati wannaas

Artinya:

  1. Katakanlah: “Aku memohon perlindungan pada Tuhan (yang memelihara) umat manusia.
  2. Penguasa umat manusia.
  3. Sembahan umat manusia.
  4. Dari dorongan jahat kalbu yang menyelinap,
  5. yang menyesak ke dalam dada manusia.
  6. disebabkan golongan jin dan manusia.

Keutamaan Surah An-Nas

Ayat pertama hingga ketiga mengisyaratkan bahwa memuja dan mengagungkan Allah (sebagai tanda pengakuan sebagai hamba dan rasa hormat) adalah hal yang diperlukan sebelum memohon-memohon kepadaNya supaya dikasihani dan diberkatiNya.

Pada ayat keempat hingga terakhir memberi pelajaran bahwa segala dorongan jahat dalam diri manusia bukan berasal keinginan nafsu semata, melainkan nafsu yang dibisiki oleh Penghasut (setan), sebab pada dasarnya nafsu diciptakan bukan untuk melawan Kehendak Tuhan, sebagaimana hewan atau makhluk-makhluk kecil yang memiliki nafsu namun tidak melawan perintah Allah. Pemilik asli kejahatan dan perlawanan terhadap Allah adalah Iblis yang diwariskan kepada setan dan jin yang merasuki manusia secara tak sadar apabila nafsu tidak dapat dikendalikan sehingga ‘menular’ di antara kedua golongan ini. Hasutan setan adalah penyebab utama manusia berpikir jahat, memiliki dendam, benci dan berlaku kejam terhadap manusia lain apabila telah terbujuk dan tergoda yang pada akhirnya akan menyebabkan kerugian pada diri sendiri dan orang yang disakiti hingga seluruh umat manusia (Nas).

Oleh sebab itu teramat penting, untuk mengingat Surah ini apabila dada merasa sesak akibat keadaan sekitar atau masalah yang sedang dihadapi, sebab Tuhan akan selalu bersedia menjadi Pelindung dan Pemelihara kehidupan manusia, sebab Dia dijuluki Penguasa, Yang Kuasa atas segala kekuasaan untuk menciptakan Alam Semesta dan Memusnahkannya dalam sekejap mata demikian pula memberi ujian dan memberi pertolongan bagi siapa yang berkenan bagiNya.

Surah ini adalah Surah terakhir dalam urutan mushaf Al-Qur’an menunjukkan bahwa kepentingan An-Nas atau umat manusia adalah tujuan akhir dari Al-Qur’an.

Surat ini beserta surat Al Falaq merupakan sebab sembuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sihir seorang penyihir Yahudi bernama Labid bin A’shom. Dalam sihir tersebut Rasulullah dikhayalkan seakan-akan melakukan suatu hal yang beliau tidak melakukannya.

Kisah tersebut disebutkan dalam hadits yang shohih, sehingga kita harus mempercayainya. Jika syaitan membisiki Anda dengan mengatakan bahwa seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa terkena sihir berarti ada kemungkinan bahwa bisa saja syaitan mewahyukan kepada Rasulullah sebagian dari Al Quran? Maka bantahlah bahwa Allah Maha Kuasa terhadap seluruh makhluknya, jika Allah telah berjanji memelihara kemurnian Al Quran (QS. Al-Hijr: 9) maka tidak ada yang dapat mengubahnya.

Jika setan tersebut kembali membisikkan agar kita menolak hadits tersebut dan menanamkan keraguan di hati kita tentang validitas hadits shohih sebagai sumber hukum islam dengan alasan bahwa kisah itu tidak masuk akal karena Allah subhanahu wa ta’ala selalu melindungi rasul-Nya. Maka katakanlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mungkin memelihara lafal Al Quran tanpa memelihara penjelasannya berupa perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam hadits. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dilahirkannya di tengah umat ini para imam ahli hadits yang hafalannya sangat mengagumkan. Di antaranya adalah imam Ahmad yang menghafal hingga 1 juta hadits beserta sanadnya.

Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan terjadinya hal tersebut sebagai ujian bagi manusia, apakah mereka beriman ataukah kafir. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala meng-isra dan mi’raj-kan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu malam, ada sebagian kaum muslimin ketika itu yang murtad. Sedangkan pengaruh perlindungan setelah membaca kedua surat tersebut akan lebih kuat jika disertai dengan pemahaman dan perenungan akan maknanya.

 

Surat An Nas: Memohon Perlindungan Melalui Perantara Nama-Nya

Dalam surat ini terkandung permohonan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertawasul (menggunakan perantara) dengan tiga nama-Nya yang mencakup tiga makna keyakinan tauhid kepada Allah SWT secara sempurna. Yaitu tauhid rububiyah, asma wa sifat dan uluhiyah. Ketiga jenis tauhid ini diwakili oleh asma-asma Allah subhanahu wa ta’ala sebagi berikut:

 

Ar-Rabb, Al-Malik dan Al-Ilaah

Ar-Rabb dalam kata  ِرَبِّ النَّاسِ (Tuhan Manusia) bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pengatur dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Tentunya Allah subhanahu wa ta’ala bukan hanya Rabb atau Tuhannya manusia, namun juga seluruh Alam semesta ini beserta isinya. Pengkhususan penyebutan Rabb manusia di sini adalah untuk menyesuaikan dengan pembicaraan. Menauhidkan Allah pada hal tersebutlah yang dimaksud dengan tauhid rububiyah. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa wali-wali tertentu dapat mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak maka dia telah menyekutukan Allah dalam rububiyah-Nya.

Al-Malik adalah salah satu dari asmaul husna yang bermakna pemilik kerajaan yang sempurna dan kekuasaan yang mutlak. Sedangkan penyebutan kata Ilahinnaas (sembahan manusia) di sini adalah untuk menegaskan Allah adalah yang seharusnya disembah oleh manusia dengan berbagai macam peribadatan.

Sedangkan ibadah itu ada dua jenis yaitu zhohir dan batin. Yang zhohir misalnya adalah sholat, do’a, zakat, puasa, haji, nazar, menyembelih qurban dan lain sebaginya. Sedangkan yang batin letaknya di dalam hati, seperti khusyu’, roja’ (pengharapan terhadap terpenuhinya kebutuhan), khouf (takut yang disertai pengagungan), cinta dan lain sebagainya. Barang siapa yang meniatkan salah satu dari ibadah-badah tersebut kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Siapa yang sujud kepada kuburan Nabi dan para wali atau yang lainnya, maka dia telah berbuat kesyirikan, siapa yang tawakalnya kepada jimat maka dia telah syirik.

 

Surah An Nas: Bisikan Syaitan Pada Hati Manusia

Pada surat Al-Falaq permohonan perlindungan hanya bertawasul menggunakan nama Allah Ar-Rabb saja. Sedangkan pada surat An-Naas ini digunakan 3 nama sekaligus yang mewakili 3 jenis tauhid. Hal ini mengindikasikan bahwa ancaman pada surat An Naas lebih besar dari pada ancaman yang disebutkan pada surat Al-Falaq. Ancaman yang disebutkan dalam surat Al-Falaq hanya mencelakakan manusia di dunia dan bersifat lahiriah, sehingga dapat atau mudah dideteksi.

Sedangkan pada surat An-Naas ini ancamannya dapat mencelakakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Ancaman yang sangat halus, bukan merupakan kata-kata yang dapat didengar, sehingga sulit untuk di deteksi. Kemudian yang dijadikan sasarannya adalah hati, di mana hati manusia merupakan raja dari seluruh anggota tubuh. Tentang hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Hati sebagai raja adalah yang memerintah seluruh anggota tubuh. Jika hatinya cenderung kepada ketaatan, maka anggota tubuhnya akan melaksanakan kebaikan tersebut. Dan begitu pula sebaliknya. Syaitan menjadikan hati sebagai target utama karena hati adalah ‘tiket’ keselamatan seorang hamba di akhirat, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih/selamat (saliim).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

 

Orang yang selamat di akhirat adalah orang datang menjumpai Allah dengan hati yang bersih (Qolbun Saliim). Bersih dan selamat dari penyakit syubhat dan syahwat. Syubhat adalah bisikan-bisikan syaitan terhadap seorang hamba sehingga dia meyakini kebenaran sebagai kebatilan, yang sunah sebagai bid’ah dan sebaliknya.

Sedangkan syahwat adalah bisikan syaitan untuk mengikuti segala yang diinginkan oleh jiwa, meskipun harus menentang aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika seorang hamba selalu memperturutkan syahwatnya dan melanggar aturan Allah, maka lama-kelamaan hatinya akan menganggap kemaksiatannya itu adalah suatu hal yang biasa, sehingga menjerumuskannya kepada penghalalan suatu yang diharamkan Allah.

Jika hati diumpamakan sebagai sebuah benteng, maka syaitan adalah musuh yang hendak masuk dan menguasai benteng tersebut. Setiap benteng memiliki pintu-pintu yang jika tidak dijaga maka syaitan akan dapat memasukinya dengan leluasa. Pintu-pintu itu adalah sifat-sifat manusia yang banyak sekali bilangannya. Di antaranya seperti; cinta dunia, syahwat dan lain sebagainya. Jika dalam hati masih bersemayam sifat-sifat tersebut, maka syaitan akan mudah berlalu lalang dan memasukan bisikannya, sehingga mencegahnya dari mengingat Allah dan mengisi hati dengan takwa.

 

Surat An Nas: Syaitan Jin dan Manusia

Di kalangan masyarakat ada yang menganggap bahwa syaitan, jin dan iblis adalah jenis makhluk tersendiri. Maka ayat terakhir dari surat ini membantah anggapan yang salah tersebut. Sesungguhnya makhluk yang mendapatkan beban syariat ada dua; yaitu jin dan manusia. Iblis merupakan bangsa jin berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang maknanya:

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الجِنِّ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (QS. Al-Kahfi: 50)

 

Sedangkan syaitan adalah sejahat-jahat makhluk dari kalangan jin dan manusia yang mengasung sebagian kepada yang lain ke neraka.

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu…” (QS. Al-An’am: 112)

 

(Penyusun: Abu Yahya Agus bin Robi’ Al-Bakaasy (Alumni Ma’had Ilmi)

Murojaah: Ustadz Aris Munandar)

 

Tafsir Surat an Nas ayat 1-6 | Tafsir Jalalain

Tafsir Surat An Nas ayat 1

قُلْ أَعُوذ بِرَبِّ النَّاس

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb manusia. Yang menciptakan dan Yang memiliki mereka; di sini manusia disebutkan secara khusus sebagai penghormatan buat mereka; dan sekaligus untuk menyesuaikan dengan pengertian Isti’adzah dari kejahatan yang menggoda hati mereka.

Tafsir Surat An Nas ayat 2

ملك الناس

Raja manusia.

Tafsir Surat An Nas ayat 3

إِلَه النَّاس

Sesembahan manusia. Kedua ayat tersebut berkedudukan sebagai Badal atau sifat, atau ‘Athaf Bayan, kemudian Mudhaf Ilaih. Lafal An-Naas disebutkan di dalam kedua ayat ini, dimaksud untuk menambah jelas makna.

 

Tafsir Surat An Nas ayat 4

مِنْ شَرّ الْوَسْوَاس الْخَنَّاس

Dari kejahatan bisikan setan; setan dinamakan bisikan karena kebanyakan godaan yang dilancarkannya itu melalui bisikan (yang biasa bersembunyi) karena setan itu suka bersembunyi dan meninggalkan hati manusia bila hati manusia ingat kepada Allah.

 

Tafsir Surat An Nas ayat 5

الَّذِي يُوَسْوِس فِي صُدُور النَّاس

  1. (Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia) ke dalam kalbu manusia di kala mereka lalai mengingat Allah.

 

Tafsir Surat An Nas ayat 6

مِنْ الْجِنَّة وَالنَّاس

Dari jin dan manusia, lafal ayat ini menjelaskan pengertian setan yang menggoda itu, yaitu terdiri dari jenis jin dan manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu melalui firman-Nya, “yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin.” (Q.S. Al-An’am, 112)

Atau lafal Minal Jinnati menjadi Bayan dari lafal Al-Waswaasil Khannaas, sedangkan lafal An-Naas di’athafkan kepada lafal Al-Waswaas. Tetapi pada garis besarnya telah mencakup kejahatan yang dilakukan oleh Lubaid dan anak-anak perempuannya yang telah disebutkan tadi. Pendapat pertama yang mengatakan bahwa di antara yang menggoda hati manusia adalah manusia di samping setan, pendapat tersebut disanggah dengan suatu kenyataan, bahwa yang dapat menggoda hati manusia hanyalah bangsa jin atau setan saja. Sanggahan ini dapat dibantah pula, bahwasanya manusia pun dapat pula menggoda manusia lainnya, yaitu dengan cara yang sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka sebagai manusia. Godaan tersebut melalui lahiriah, kemudian merasuk ke dalam kalbu dan menjadi mantap di dalamnya, yaitu melalui cara yang dapat menjurus ke arah itu. Akhirnya hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

 

Penamaan Surat An Nas

Dinamakan surat An-Naas (manusia) karena dimulai dengan:

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

(Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Pemilik) manusia)

 

Kata An-Naas dalam surat ini berulang sebanyak lima kali.

 

Materi Surat An Nas

Permohonan perlindungan dari Pemilik semua pemilik terhadap kejahatan musuh terbesar, yaitu iblis beserta para penolongnya dari jenis setan manusia dan jin yang menyesatkan manusia dengan berbagai bisikan was-was dan penyesatan.

 

Faedah Penting Surah An Nas

Al-Quran ditutup dengan Al-Muawwidzatain dan dimulai dengan Al-Fatihah untuk mengumpulkan antara permulaan yang baik dengan penutupan yang baik pula. Demikian ini merupakan puncak kebaikan dan keindahan, dimana seorang hamba memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah dari awal hingga penghabisan urusannya.

 

Kosa Kata Surah An Nas

 

أَعُوذُ

Aku berlindung, berpegang kuat, berbenteng dan memohon perlindungan.

 

بِرَبِّ النَّاسِ

(Kepada Pemilik manusia): Pencipta, Penguasa, dan Pengasuh mereka.

 

مَلِكِ النَّاسِ

(Raja manusia): Tuan, Penguasa, dan Pemberi keputusan bagi mereka.

 

إِلَٰهِ النَّاسِ

(Tuhan manusia): Sesembahan yang benar bagi manusia, sebab tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya.

 

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ

(dari kejahatan was-was): Dari kejahatan setan. Setan dinamakan dengan bentuk ketiga(asdar dari asal katanya), karena seringnya bersentuhan (dengan manusia).

 

الْخَنَّاسِ

Yang mundur dan menjauh dari hati saat mengingat Allah.

 

فِي صُدُورِ النَّاسِ

(kedalam dada manusia): ke dalam dada manusia saat lalai dari mengingat Allah.

 

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

(dari jin dan manusia): dari jenis setan jin dan setan manusia.

 

Makna Secara Global Surah An Nas

Surat ini mencakup permohonan perlindungan kepada Pemilik, Penguasa dan Pengasuh manusia dari setan yang merupakan sumber segala keburukan, yang diantara fitnah keburukannya bahwa dia membisikkan was-was dalam dada manusia, lalu dia menampakkan kebaikan sebagai suatu keburukan dan menampakkan keburukan sebagai suatu kebaikan kepada manusia, membuat mereka girang untuk melakukan  kebaikan palsu itu, dan menghalangi mereka dari kebaikan asli yang dia tampakkan bagi manusia dalam bentuk yang buruk. Begitulah selalu keadaan setan, memberikan was-was saat mendapatkan kesempatan lalu mundur jika hamba itu mengingat Rabbnya dan memohon bantuan-Nya untuk mengusir setan.

Seharusnya manusia selalu memohon pertolongan dan perlindungan serta berpegang teguh pada Rububiyyah Allah untuk seluruh manusia, karena semua makhluk masuk dalam Rububiyyah serta kerajaan-Nya, dan semua yang melata maka Dialah yang memegang dahinya (menguasainya).

Juga seharusnya manusia berpegang pada Uluhiyyah (beribadah hanya pada) Allah yang Dia telah menciptakan manusia untuk ini. Maka tidaklah sukses urusan manusia kecuali dengan menolak kejahatan musuh mereka yang ingin memutus dan memisahkan mereka dari ibadah menyembah Allah, serta ingin merekrut (memasukkan) manusia ke dalam partainya agar termasuk penduduk neraka.

 

Was-was, sebagaimana timbul dari jin, ia juga timbul dari manusia, maka Allah berfirman:

 

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

(dari jin dan manusia)

 

Ibnu Katsir berkata: “Ketiga hal ini termasuk sifat-sifat Allah, yaitu:Rububiyyah, Raja dan Ilahiyyah.”

Dia Pemilik, Raja dan Rabb segala sesuatu, sedangkan semua yang ada adalah makhluk, budak dan hamba-Nya. Maka Allah memerintahkan orang yang mau memohon perlindungan untuk berlindung kepada Siapa yang memiliki sifat-sifat di atas dari kejahatan was-was setan yang selalu menggoda manusia. Semua anak cucu Adam mempunyai qarin (setan yang selalu bersamanya) yang menghiasi baginya perbuatan keji dan ia tidak pernah lemah untuk membinasakan manusia. Orang yang terpelihara darinya adalah orang yang dipelihara oleh Allah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Tidaklah ada seseorang dari kalian kecuali telah diberikan baginya qarin jin, para sahabat bertanya: ‘Engkau juga wahai Rasul Allah!!’ Beliau menjawab: ‘saya juga, hanya saja Allah telah membantuku mengatasinya maka dia “aslam” dan tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.”

Tentang kata aslam ada dua riwayat (aslam atau aslamu), yang membaca fathah (aslama) berkata bahwa qarin Beliau telah masuk islam dan beriman, serta tidak mengajak Rasul kecuali dengan kebaikan. Sedangkan yang membaca rafa’ (aslamu) berarti Rasul mengatakan: “Saya selamat dari kejahatan dan fitnahnya.”

 

Manfaat Membaca Surah An Nas

Berkata Ibnu Abbas: “Setan menyelinap di hati anak Adam (manusia), maka jika mereka lupa dan lalai, dia was-waskan, sedang jika mereka mengingat Allah maka dia menjauh.”

Dari Nabi Beliau bersabda:

“Sesungguhnya setan meletakkan belalainya di hati anak cucu Adam, jika mereka mengingat Allah maka setan menjauh dan jika mereka melupakan Allah maka setan menelan hatinya, itulah yang dimaksud dengan was-wasnya al-khannas.”

  1. Bermohon perlindungan dan berpegang teguh kepada Allah dari setan.
  2. Memohon perlindungan dengan Rububiyyah, Kerajaan dan Uluhiyyah Allah serta dengan asma’ul-husna dan sifat-sifatNya yang tinggi.
  3. Pemuliaan manusia atas segala makhluk dimana Allah menyebutkan mereka secara khusus (menyandarkan jenis mereka kepada Allah , lihat ayat 1-3), padahal Allah adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu.
  4. Permusuhan setan pada manusia dan usahanya untuk untuk menyesatkan mereka dengan bisikan was-wasnya.
  5. Peringatan dari setan dan was-wasnya dan dari lalai mengingat Allah.
  6. Zikir kepada Allah dapat mengusir setan hingga ia lari terusir dalam keadaan lesu.
  7. Memohon perlindungan kepada Allah merupakan ibadah, maka mengarahkan permohonan perlindungan kepada selain Allah merupakan syirik.
  8. Memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan jin dan manusia.
  9. Otoritas Allah pada Rububiyyah, Kerajaan, dan Uluhiyyah atas seluruh makhluk.
  10. Setan juga membisikkan kesesatan ke dalam hati jin sebagaimana ia melakukannya pada manusia.

Rujukan:

  1. Buku Syarah Ad Durusil Muhimmah li Ammatil Ummah, Cahaya Tauhid Press
  2. Taisir Karimirrahman fii Tafiiril Kalamil Mannaan (Syaikh Abdurrahaman bin Nashir As-Sa’dy).
  3. Terjemahan Mukhtashor Minhajul Qashidin (Ibnu Qudamah).
  4. Tafsiir ‘Usyril Akhiir Minal Qur’anil Kariim (DR. Sulaiman Al-Asyqor).

www. muslim. or. id

https://id.wikipedia.org | www. tafsironline. org | www. salafy. or.id/blog

 

surah an naas, surat annas, surat annas beserta artinya, surat annas dan artinya, surat annas latin, arti surat annas, tafsir surat annas, tafsir surat annas ibnu katsir, tafsir surat annas jalalain, tafsir surat annas dan al falaq, surah annas, surah annasberserta arti, surah annasartinya, surah annas diturunkan di, surah annas diturunkan dimana

========================================================================================================

PAKET UMROH MURAH JANUARI, FEBRUARI, MARET, APRIL 2016

UMROH PROMO $1.500

INFO: H SUDJONO AF 081388097656 | BB 2315A7C3

========================================================================================================

umroh januari, umroh februari, umroh maret, umroh april, umroh mei, umroh juni, umroh ramadhan, umroh murah 2016, umroh januari 2016, umroh februari 2016, umroh maret 2016, umroh april 2016, umroh murah januari 2016, umroh murah februari 2016, umroh murah maret 2016, umroh april 2016, paket umroh januari 2016, paket umroh februari 2016, paket umroh maret 2016, paket umroh april 2016, Umroh backpacker, umroh ramadhan, umroh iktikaf

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *