Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya

Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya

Al Qur’an Surat Al Fatihah dan artinya, (QS:1 ayat 1-7) terjemah dan tafsir dalam Bahasa Indonesia. Di akhir surat ada VIDEO lengkap Murottalnya:

  1. Surat Al Fatihah Dengan 7 Bacaan Syaikh Berbeda Ustadz Muchlas As Sakalany.
  2. Surat Al Fatihah (QS:1 ayat 1-7) Bahsa Arab, Arti dan Terjemahan Bahasa Indonesia | Juz Amma Diva | Kastari Animation Official- Murottal Anak-anak.

1:1
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – ١
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1:2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – ٢
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
1:3
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – ٣
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
1:4

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – ٤

Pemilik hari pembalasan.

1:5

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – ٥

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

1:6

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ – ٦

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

1:7

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ – ٧

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

https://quran.kemenag.go.id/sura/1

Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya
Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya

Surat Al Fatihah Dengan 7 Bacaan Syaikh Berbeda Ustadz Muchlas As Sakalany

Surat Al Fatihah (QS:1 ayat 1-7) Bahsa Arab, Arti dan Terjemahan Bahasa Indonesia | Juz Amma Diva | Kastari Animation Official- Murottal Anak-anak

Terjemahan Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya dalam  Bahasa Inggris

  1. In the name of God, the Most Beneficent, the Most Merciful.
  2. Praise be to God, the Lord of the worlds,
  3. The Most Beneficent, the Most Merciful,
  4. Master of the Day of Judgment.
  5. You alone do we worship, and You alone do we ask for help;
  6. Guide us on the straight path,
  7. The path of those on whom You have bestowed your favor, not of those who have earned Your anger, nor of those who go astray.

Ensiklopedia Al Qur’an Surat Al Fatihah dan Artinya

Surah Al-Fatihah (bahasa Arab: الفاتحة, translit. al-fātiḥah, har. ‘pembukaan’‎) adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Makkah sehingga tergolong surah makiyah dan terdiri dari tujuh ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an.

Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan) karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran, serta dinamakan Ummul Qur’an (أمّ القرءان; induk al-Quran) atau Ummul Kitab (أمّ الكتاب; induk Al-Kitab) karena merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Selain itu, surah ini dinamakan pula As Sab’ul matsaany (السبع المثاني; tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam salat.

Unsur pokok Surat Al Fatihah
1.Keimanan
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, yang menyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Di antara nikmat itu ialah: nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb (ربّ) dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin (ربّ العالمين) tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah (التربية) yaitu mendidik dan menumbuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai Hari Pembalasan.”
Yang dimaksud dengan “Yang Menguasai Hari Pembalasan” ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surah Al-Fatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: ‘”Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”‘ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين; hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ”
Di bagian akhir surah Al-Fatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang surah Al-Baqarah dimulai dengan penunjukan kitab (Al-Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

2.Hukum-hukum
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “Hidayah” disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

3.Kisah-kisah
Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al -Quran memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (صدّيقين; orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa’ (شهداء; orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (صالحين; orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surah-surah yang lain.

Al-Fatihah
Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam salat. Salat dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini. Dalam hadits dinyatakan bahwa salat yang tidak disertai al-Fatihah adalah salat yang “buntung” dan “tidak sempurna”. Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:

“Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”
Dalam pelaksanaan salat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan Doa Iftitah dan dilanjutkan dengan “Aamiin” dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur’an (pada rakaa’at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam salat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur’an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga selesai membacanya, misal:

Bismillāhir rahmānir rahīm (jeda) Alhamdu lillāhi rabbil ʿālamīn (jeda) Arrahmānir rahīm (jeda) Māliki yaumiddīn (jeda) dan seterusnya.
Selain itu, kadang bacaan Nabi Muhammad pada ayat Maliki yaumiddīn dengan ma pendek dibaca Māliki yaumiddīn dengan ma panjang.

Dalam salat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata “Aamiin”. “Aamiin” dalam salat Jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan “Aamiin” diharuskan dengan suara keras dan panjang. Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus mengucapkan “aamiin” karena malaikat juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “aamiin” diucapkan apabila imam mengucapkannya.

Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam salat ada yang membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai salat yang sedang dijalankan dan urutan rakaat dalam salat. Salat yang melirihkan seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal hingga akhir salat, disebut Salat Sir (membaca tanpa suara). Salat Sir contohnya adalah Salat Zuhur dan Salat Ashar di mana seluruh bacaan salat dalam salat itu dilirihkan. Selain salat Sir, terdapat pula salat Jahr, yaitu salat yang membaca dengan suara keras. Salat Jahr contohnya adalah salat Subuh, salat Maghrib, dan salat Isya’.

Dalam salat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imam salat. Sedangkan pada saat itu, makmum tidak diperbolehkan mengikuti bacaan Imam karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan. Makmum diperbolehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskan suaranya. Sementara dalam Salat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkan membaca keras dan diperbolehkan lirih, hal ini seperti yang tertera dalam hadits:

“Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, saya telah lewat di depan rumahmu ketika engkau salat Lail dengan bacaan lirih.” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, Dzat yang aku bisiki sudah mendengar.” Dia bersabda kepada Umar, “Aku telah lewat di depan rumahmu ketika kamu salat Lail dengan bacaan yang keras.” Jawabnya, “Wahai Rasulullah, aku membangunkan orang yang terlelap dan mengusir setan.” Nabi Muhammad bersabda, “Wahai Abu Bakar, keraskan sedikit suaramu.” Kepada Umar dia bersabda, “Lirihkan sedikit suaramu.”
Penutup
Surah Al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al-Quran yang 113 surah berikutnya.

Persesuaian surah ini dengan surah Al-Baqarah dan surah-surah sesudahnya ialah surah Al-Fatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surah Al-Baqarah dan surah-surah yang sesudahnya.

Kontroversi Surat Al Fatihah
Beberapa mazhab memiliki pandangan yang berbeda mengenai basmalah dalam surah Al-Fatihah. Hal ini berkaitan pula dengan sah atau batalnya salat fardu jika keliru membaca surah Al-Fatihah.

Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa salat tidak sah bila tidak membaca bismillah karena bismillah adalah kalimat suci yang diucapkan oleh Allah sendiri dalam surah Al-Fatihah. Pandangan ini banyak dianut oleh Nahdlatul Ulama dan kaum muslim di Indonesia.
Mazhab Maliki berpendapat bahwa basmalah tidak pernah diucapkan oleh Allah dalam surah Al-Fatihah. Hal ini dianggap bersifat makruh; tidak kena dosa tetapi juga tidak dapat pahala. Pandangan ini banyak dianut oleh imam besar di masjid Nabawi (Medinah) dan masjidil Haram (Mekah).
Mazhab Hanafi menyetujui mazhab Maliki bahwa ‘”Bismillah”‘ tidak pernah diucapkan Allah dalam surah Al-Fatihah, namun mereka mengambil posisi tengah (tepatnya ambigu) dengan cara mengucapkan Bismillah secara pelan saja. Pandangan ini banyak dianut di India, Pakistan dan Asia Tengah.

Nama lain Surat Al Fatihah
Selain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surah ini sering juga disebut Fatihatul Kitab (Pembukaan Kitab), Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur’an (Induk Al-Qur’an), As-Sab’ul Matsani (Tujuh yang Diulang). Selain keempat sebutan tersebut, banyak ulama tafsir yang menyebutnya dengan: Ash-Shalah (الصلاة, Salat), al-Hamd (الحمد, Pujian), Al-Wafiyah (الوافية, Yang Sempurna), al-Kanz (الكنز, Simpanan Yang Tebal), asy-Syafiyah (Yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Arab: الشفاء, Obat), al-Kafiyah (Arab: الكافية, Yang Mencukupi), al-Asas (Pokok), al-Ruqyah (Mantra), asy-Syukru (Syukur), ad-Du’au (Do’a), dan al-Waqiyah (Yang Melindungi dari Kesesatan).

Read more: https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Fatihah