Haji dan Umroh Ibadah Istimewa

Setiap ibadah mengandung keistimewaan. Shalat ada keistimewaannya. Puasa ada keistimewannya. Zakat ada keistimewannya. Demikian pula ibadah haji dan umrah. Allah menyebutkan keistimewannyaka ibadah-ibadah tersebut secara khusus. Termasuk ibadah haji dan umroh yang bagi kalangan kaum muslimin di tanah air membutuhkan effort (usaha) yang tidak ringan. Dari mulai biaya sampai kepada faktor fisik yang harus dijalaninya.

Ibadah haji dan umrah menjadi istimewa karena merupakan salah satu perintah Allah  yang harus dikerjakan kaum muslimin pada waktu dan tempat yang ditentukan. Haji termasuk salah satu dari rukun islam yang menjadi sendi agama. Bahkan ibadah haji  merupakan klimaks dari ibadah kepada Allah. Dengan tiadanya salah satu ibadah ibadah tersebut maka rubuhlah bangunan Islam seseorang. Allah sudah menekankan agar setiap muslim yang mampu menunaikan ibadah haji seperti dalam firman-Nya,

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; berangsiapa memasukinya menjadi amanlah; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah;, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulllah. Barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semest alam.” (Al-Imran : 97)

Kita dapat memahami betapa keras perintah Allah tersebut. Terlihat dalam kata-kata “kafir” (ingkar) bagi mereka yang tidak mengerjakannya. Artinya Allah menyamakan seorang muslim yang sudah mampu untuk meenunaikan ibadah haji ataupun umroh namun ia enggan dengan orang kafir.

Dan ibadah Haji ataupun umroh pada hakikatnya untuk manusia itu sendiri, bukan untuk Allah . Allah memang memanggil dan mengundang kaum muslimin untuk datang ke tanah Suci memenuhi panggilan-Nya. Namun bukan karena Allah butuh manusia untuk didatangi. Ibadah haji pada hakikatnya kembali kepada manusia yang melaksanakannya.  Sebab, seperti diuraikan dalam penutup ayat tersebut Allah Mahakaya dari Alam Semesta. Tentu tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya.

Demikioan pula dengan Rosullallah SAW. Beliau mengingatkan umatnya untuk jangan lupa menunaikan rukun Islam yang ke lima ini (haji dan umroh). Beliau SAW. Bersabda,

Siapa yang hendak menunaikan ibadah haji, hendaknya dilakukan dengan segera, karena mungkin saja akan sakit, atau hilang kendaraannya atau ada keperluan lain.” (HR Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Majah)

Perintah ini sejalan dengan perinah terhadap kebaikan yang lain. Pada dasarnya ketika ada kesempatan jangan ditunda-tunda. Ada seorang rekan suatu ketika berencana naik haji. Ia sudah mengumumkan hal tersebut kepada teman-temannya. Namun ternyata ia urungkan niat tersebut karena ia lebih memilih memenuhi kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu. Dipikirnya, kalau hanya mengambil sedikit uang tabungan haji, tahun depan bisa ditutupnya ketika dapat bonus. Apa yang terjadi, dari tahun ke tahun tabungan hajinya bukan malah bertambah malah makin turun. Dan kondisi terakhir, kawan tersebut jatuh sakit yang oleh dokter divonis menderita penyakit kanker. Sungguh menyesal perasaannya. Tepat apa yang disampaikan Nabi SAW, bahwa haji harus dilakukan dengan segera.

Dan Nabi SAW. Menyebutkan ibadah haji merupakan ibadah yang paling utama. Memang ada hadits yang juga menyebut amal perbuatan lain. Sebagai perbuatan yang paling utama seperti berjihad, berbakti kepada orang tua, shalat lima waktu dan sebagainya. Rosulallah SA.  bukannya plin plan. Kadang beliau SAW. Mengucapkan suatu perkataan berkaitan dengan karakter orang yang diajakan bicara. Seperti ada seseorang yang suka marah (tempramental) bertanya, perbuatan apa yang dapat memasukkannya ke ke dalam syurga? Beliau SAW menjawab, “jangan  marah!”

Demikian pula dengan haji. Rosulallah SAW memberikan predikat ibadah tersebut merupakan ibadah yang paling utama di sisi Allah. Sabda Nabi SAW.,

“Ipekerjaan yang paling utama di sisi Allah adalah haji yang mabrur” (HR Ahmad)

Bagi seotrang muslim mungkin sangat mudah melaksanakan haji dibanding berjihad, menanggul senjata ke medan perang melawan musuh. Orang karena itu, menjadi keistimewaan haji adalah Allah menyamakan perbuatan haji dengan jihad. Bahkan haji merupakan salah satu bentuk jiihad sebagaimana doterangkan Nabi SAW ketika ditanya,

Wahai Rosulallah bukankah jihad itu amal yang paling utama? Jawab Rosul, “Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR Bukhari)

Kalau dalam hadist lain Rosulallah SAW pernah mengatakan bahwa ibadah ynang paling utama adalah jihad maka sekali lagi hal ini tergantung kepada siapa beliau waktu itu berbicara. Oleh karena itu, kondisi tersebut sangat tepat bagi kaum muslimin dibeberapa tempat saat ini yang tidak dapat menunaikan perintah jihad dengan cara menunaikan ibadah haji secara benar dan ikhlas. Maka pahalanya seta radengan jihad di jalan Allah.

Haji menjadi istimewa karena orang yang datang ke Tnah Suci untuk menunaikan ibadah haji adalah  tamu Allah. Begitulah biasa disebut dan memang Rosulallah SAW menyebutkannya demikian. Haji adalah tamu Allah sehingga apa yang diminta sang tamu akan dikabbulkan ole-Nya. Ini adalah bentuk keistimewaan yang istimewa. Hal itu ditegaskan oleh Rosulallah SAW dallam sabdanya,

Orang yang mengerjakan haji dan umroh merupakan tamu Allah, maka jika mereka bermohon kepada-Nya pastilah dikabulkan-Nya, dan jika mereka memohon ampunan pasti diampuni-Nya.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Apa lagi yang diinginkan oleh seorang anusia kecuali doanya dikabul dan dosanya diampuni. Dalam riwayatnya yang lain Rosulallah SAW bersabda,

Orang-orang yang sedang berhaji atau berumroh, adalah tamu-tamu Allah dan para peziarah-Nya. Jika mereka meminta dari-Nya sesuatu, niscaya Ia akan memberi kepada mereka. Dan jika mereka memohon ampun dari-Nya, biscaya Ia akan mengabulkannya. Kepada-Nya, Dan jika mereka bersyafaat (meminta sesuatu untuk orang lain) kepada-Nya, niscaya Ia akan menerima Syafaatnya.(HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dengan beberapa perbedaan susunan redaksinya)

Sebagai tamu Allah, jamaah haji diterima oleh shahibul bait (tuan rumah) yaitu Allah. Mereka akan mendapatkan hidangan dari Allah berupa rahmat Allah, berkah Allah dan maghfirah dari Allah.

Keistimewaan yang lain dalam ibadah haji adalah ibadah tersebut dapat menghapuskan dosa manusia. Kalau shalat itu menghapuskan dosa dari waktu ke waktu shalat sebelumnya, puasa menghapus dosa selama satu tahun maka menunaikan ibadah haji telah menghapuskan dosa manusia sejak lahirhingga selesai ia menunaikannya. Ia bagaikan seorang bayi yang dilahirkan ibunya, bersih tanpa dosa sedikitpun. Seorang bayi tentu belum berbuat sesuatu sehingga tidak ada dosa sama sekali. Begitulah gambaran seorang yang menunaikan ibadah haji seperti yang disabdakan Rasulallah SAW.

Siapa yang melakukan haji dan tidak melakukan hubungan suami istri (pada waktu terlarang) dan ia tidak berbuat fasiq (maksiat), maka ia akan kembali bersih (tanpa dosa) seperti pada saat ia dilahirkan ibunya(HR Bukhari dan Muslim)

sumber : Dr. H. Miftah Faridl

Similar Posts:

By |2013-09-01T09:26:08+00:00September 1st, 2013|Uncategorized|

Leave A Comment