Jemaah Hilang atau Tersesat, Saat Haji atau Umroh

Jemaah Hilang atau Tersesat

Haji dan Umroh. Ketika menjalankan ibadah umrah ataupun haji, tidak sedikit jemaah yang hilang. Hilang di mana? Tentu saja di arab Saudi. Kalau hilangnya di dekat rumah mereka, kewajiban keluarga dan tetangga merekalah untuk mencari… hehe.

Selama menjalankan ibadah umrah atau haji di arab Saudi, kasus jemaah hilang bisa terjadi di mana saja. Ada jemaah hilang di masjid al-haram, ada yang di masjid an-nabawi, ada yang di padang arafah, di muzdalifah, di mina, atau tempat-tempat ziarah, seperti masjid quba, masjid qiblatain, jabal nur, di perkebunan kurma, di bukit magnet atau di masjid terapung.

Lalu, berapa lama mereka biasanya hilang? Tentu saja waktunya berbeda-beda. Ada yang hilang selama satu jam, ada yang dua jam, ada yang sehari, dan ada yang lebih. Kalau hilangnya di masjid, biasanya paling lama satu hari sudah ditemukan. Hilangnya jemaah secara umum terjadi di masjid al-haram, yakni ketika melakukan tawaf ataupun sa’i. selain saat berhaji, kasus jemaah hilang ini paling banyak terjadi saat umrah bulan ramadhan.

Kehilangan jemaah juga sering terjadi di tempat miqat (tempat dimulainya ritual haji dan umrah yang telah ditetapkan dalam syariat), seperti di bir’ali. Niasanya, jemaah yang hilang di sini akan menyusul rekan-rekannya ke masjid al-haram dengan menumpang bus rombongan lain. Untuk kasus seperti ini, biasnaya paling lambat satu hari, jemaah yang hilang sudah berhasil ditemukan. Akan tetapi, kalau jemaah hilang di tempat lain, waktu yang dibutuhkan untuk mencari dan menemukannya bisa lebih dari satu hari. Bahkan, menurut cerita seorang muthawif yang sudah berpengalaman, ada jemaah yang sampai satu bulan tidak berhasil ditemukan. Padahal yang bersangkutan adalah jemaah umrah, yang hanya punya waktu sekitar 12 hari di sana.

Apa yang dilakukan untuk menemukan jemaah yang hilang ini? Muthawif mencari ke rumah sakit, ke kantor plisi, bahkan sampai ke tempat muassasah, tempat pengeluaran visa umrah. Jika jemaah tetap tidak berhasil ditemukan di tempat-tempat terseebut. Muthawif akan mencarinya ke kantor kementrian haji. Jika ternyata di sana juga tidak ditemukan apa daya? Dengan izin Allah, sebulan kemudian ada sajan yang menelepon pihak muthawif, yang menyatakan bahwa ia menemukan jemaah yang dicari tersebut.

Apakah ada jemaah yang hilang selama lebih dari sebulan? Ada. Bahkan, menurut pengalaman seorang muthawif berusia 44 tahun asal Madura, jufri umar, yang sudah 22 tahun berdomisil di mekah, ada seorang jemaah umroh lelaki tua asal Banjarmasin, Kalimantan selatan, yang belum berhasil ditemukan hingga sekarang. Padahal,m ia berangkat umrah bersam istrinya tahun 2010. Walhasil, asn istri pun pulang ke tanah air tanpa suaminya.

Ada juga jemaah umrah yang hilang sejak pertyama kali menginjakan kaki di arab Saudi sampai batas waktu umrah ynag dijadwalkan untuknya dan teman-temannya satu rombongan habis dan mereka kembali ke tanah air. Dimana ia ditemuka? Ternyata, sejak awal kedatangan, si jemaah jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit oleh petugas arab Saudi. Karena sakit yang dideritanya cukup parah, ia terpaksa diopname disana. Karena tidak membawa identitas dan tidak bisa berbahsa arab, petugas kesulitan untuk menghubungi rombongannya. Dengan begitu, baik petugas maupun  pihak rumah sakit akhirnya bertindak pasif, menunggu teman atau ketua rombongannya datang atau mencarinya.

Bagaimana dengan biaya rumah sakit, perawatan, dan pengobatan si jemaah selama di rumah sakit? Untuk diketahui, jika seorang jemaah dirawat di rumah sakit pemerintah, semua biaya akan ditanggung pemerintah arab Saudi. Jemaah tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Akan tetapi, jika dirawat di rumah sakit swasta, tentu saja semua biaya harus dibayar sendiri oleh si jemaah. Namun, petugas baru akan membawa seorang jemaah ke rumah sakit swasta bila jemaah tersebut yang meminta.

“Untuk diketahui, jika seorang jemaah dirawat di rumah sakit pemerintah, semua biaya akan ditanggung pemerintah arab Saudi. Jemaah tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Akan tetapi, jika dirawat di rumah sakit swasta, tentu saja semua biaya harus dibayar sendiri oleh si jemaah”

Jika jemaah hilang dalam waktu yang lama, tapi bukan karena sakit seperti kasus di atas, di mana ia mesti menginap? Jawabannya adalah di mana pun yang memungkinkan untuknya tinggal. Biasanya, ada saja rekan-rekan sesame jemaah yang bersedia membantu. Hanya, tentu saja dengan segala keterbatasan. Misalnya, terbatas pakaiannya, terbatas uang yang dipegangnya untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk apa biaya hidup? Untuk transportasi dari penginapan ke mesjid, untuk belanja makanan ringan jika lapar dan sebagainya.

Selain memastikan setiap jemaah mengenakan identitas diri setiap saat, apa yang harus dilakukan pihak perusahaan travel untuk mengurangi terjadinya kasus jemaah hilang atau setidaknya berhasil menemukan jemaah yang hilang secepat mungkin? Tentu saja sikap preventif, proaktiv, serta hubungan yang baik dan lancar dengan travel untuk saling membantu dan saling bertukar informasi. Penguasaan tempat seputar lokasi ibadah sangat membantu petugas travel untuk mengatasi kasus ini. Begitu juga dengan penguasaan bahasa arab yang aktif.

Yang tak kalah penting dilakukan pihak perusahaan travel adalah membuat bendera kecil perusahaan yang diikatkan ke tongkat kayau atau bamboo yang cukup panjang. Biasanya, tongkat tersaebut dapat dilihat jemaah karena tingginya sekitar 2-3 meter. Tiang ini dipegang oleh para muthawif, yang tentunya sudah mengerti semua lokasi peribadatan. Dan, selama menjalankan ritual peribadatan, para jemaah diminta mengikuti muthawif ke mana pun ia berjalan. Berada di kerumunan orang banyak tentu akan membuat para jemaah kesulitan mencari keberadaan sang muthawif. Oleh karena itu, mereka cukup memperhatikan bendera tersebut. Kemana pun bendera itu bergerak, mereka harus mengikutinya. Kalau benderanya terbang ke angkasa? Boleh ikut, boleh tidak hehe…

Untuk lebih efektif, baik bagi muthawif maupun jemaah ynag dibimbingnya, seorang muthawif sebaiknya membimbing satu kelompok yang jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin paling banyak 30 orang. Jika lebih dari itu, barisan kelompok akan menjadi trlalu panjang. Jemaah yang terlalu banyak ini tidak mungkin berbaris melebar karena akan menghalangi jemaah dari kelompok lain dalam berjalan.

Hal lain yang juga perlu diingatkan pihak perusahaan travel kepada para jemaah adalah mengingat tanda lokasi dari mana mereka memulai suatu kegiatan. Misalnya, seorang jemaah tinggal di hotel al-safwah di mekah. Hotel bintang 5 itu hanya berjarak sekitar 50 meter dari masjid al-haram. Posisinya tepat di depan pintu satu atau pintu king abdul aziz masjid tersebut. Jika hendak ke masjid, ia sebaiknya masuk dari pintu satu atau pintu king abdulaziz masjid tersebut. Nah, berapa lama pun ia berada di dalam masjid, di shaf mana pun ia duduk, ia tidak perlu khawatir. Alasannya, ketika akan kembali ke hotel, ia cukup mencari pintu satu atau pintu king abdulaziz, dan keluar dari sana. Berarti, tanpa dicari-cari pun, hotel itu akan langsung men-cogok atau terlihat di depan mata. Begitu juga di masjid nabawi atau di tempat-tempat lain. Yang penting, dari mana mereka memulai suatu kegiatan, ke tempat itu pulalah mereka harus kembali.

Kasus jemaah tidak bisa menemukan hotel ini sangat sering terjadi, terutama di musim haji. Hal ini terjadi karena pada umumnya bangunan di arab Saudi itu sama coraknya, berbeda dengan Indonesia. Bangunan di arab Saudi umumnya berupa cubicle atau kotak-kotak. Begitu juga alamnya, di mana-mana yang terhampar hanya padang pasir dan bebatuan. Akibatnya, potensi tersasar bagi mereka yang baru datang sangat tinggi, apalagi kalau jemaah itu uneducated alias kurang berpendidikan atau berusaia lanjut.

Meskipun jemaah yang hilang ini umumnya bisa ditemukan kembali. Kondisi itu sangat tidak mengenakkan, baik bagi orang yang hilang maupun orang-orang yang berkepentingan dengannya. Oleh sebab itu, kasus jemaah hilang sangat perlu dihindari.

Nah, untuk mengatasi kasus ini, setiap jemaah harus dibekali identitas berupa ID card. Biasanya, ID card ini berupa kalung tali. Di kalung itu dicantumkan nomor telepon muthawif atau ustaz yang mendampingi mereka selama di arab Saudi. Pada jemaah haji, identitas mereka ditambah dengan gelang besi yang berisikan informasi lengkap seperti tadi.

“setiap jemaah harus dibekali identitas berupa ID card. Biasanya, ID card ini berupa kalung tali. Di kalung itu dicantumkan nomor telepon muthawif atau ustaz yang mendampingi mereka selama di arab Saudi”

Ketika seorang jemaah hilang, ia bisa menunjukan kartu identitasnya kepada petugas lapangan yang ditemuinya. Selanjutnya, petugas akan menghubungi nomor telepon yang tercantum di kalung itu. Untuk itu, sebelum berangkat ke arab Saudi, semua jemaah harus diingatkan untuk selalu menggunakan identitas tersebut. Jika identitas mereka berupa ID card yang dikalungkan di leher, mereka harus mengalungkannya selama berada di sana. Termasuk saat mereka mandi? Ya, nggak-lah. Saat tidur? Ya, tergantung kalau tidurnya di hotol tempat mereka menginap, ya, gak penting dikalungin. Tapi, kalau di pinggir jalan, di perjalanan ziarah, atau di dalam masjid, tentu saja penting. Selain itu, pihak perusahaan juga perlu mengingatkan setiap jemaah untuk membawa kartu nama hotel, kalau perlu nomor kamar hotel, untuk mempermudah petugas atau polisi mengantarkan jemaah yang hilang ke hotel tempat mereka menginap.Haji dan Umroh.

Similar Posts:

By |2015-06-18T09:55:29+00:00June 18th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment