Kota Madinah Al Munawaroh Tempat Tinggal Rasulullah

 

Kota Madinah Al Munawaroh. Allah Swt berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali diizinkan (Al-Agzab [33]: 53). Izin memasuki Madinah al-Munawwarah hanya bisa kita dapatkan dari Allah setelah diri kita benar-benar siap, berbalut tobat dan ketulusan hati.

Wahai saudaraku, saat cahaya Madinah mulai nampak depan mata, hendaknya engkau menggerakkan hati dan lidahmu untuk menghaturkan shalawat dan salam kepada junjungan umat manusia, Nabi Muhammad saw.

Wahai saudaraku, engkau sekarang melantunkan kalimat-kalimat pendek yang senantiasa disenandungkan. Kalimat-kalimat itulah yang diperintahkan oleh Allah untuk kita persembahkan kepada Rasul dan orang pilihan-Nya. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (al-Ahzab [33]: 56).

            Ya Allah, hanya dengan anugerah-Mu kami memohon. Engkau menerima haji kami dan hanya dengan ampunan-Mu kami dapat menggapai ridha-Mu. Muliakanlah kami dengan pengakuan-Mu terhadap kami sebagai umat Nabi agung itu, Muhammad saw-semoga shalawat dan salam tetap terlimpah kepada-Nya.

Ya Allah, anugerahkanlah shalawat, salam, dan hormat kami kepada Muhammad sehingga kami bisa mengendalikan ucapan, kegiatan ibadah, keadaan, dan harta kami dari perbuatan menyimpang, bid’ah, atau jeratan setan. Ya Allah, anugerahkanlah shalawat, salam, dan hormat kami kepada Nabi Muhammad  dan keluarganya sehingga bisa memudahkan rezeki kami, menjaga kekuatan kami, menghancurkan musuh kami, dan mengangkat panji-panji keagungan Islam dan kaum muslim.

Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad. Kalimat indah yang senantiasa mendahului linangan air mata para peziarah. Kalimat yang dengan halus membuncah dari dalam lubuk hati mereka. Para pecinta Muhammad hampir tidak sanggup menggerakkan bibir mereka kecuali mengucapkan shalawat dan salam kepadanya. Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad.

Kesakralan menyelimuti kondisi saat berziarah ke Madinah. Oleh karena itu, kita harus mengisinya dengan zikir, ibadah, membaca Al-Qur’an, dan menghadirkan sejarah 1.400 tahun yang lalu, yaitu sejarah agung seorang anak manusia yang sangat mulia. Untuk itu, hendaknya kita membersihkan diri dengan mandi dan memakai pakaian terbaik. Kita harus bisa menghayati dan mengambil pelajaran dari penduduk Madinah yang menyambut kedatangan Muhammad dengan memukul rebana.

Seakan-akan kita berbaur dengan putra-putri Bani Najjar dan bersenandung bersama:

Bulan purnama telah datang kepada kita

Dari arah tsaniyah al-wada

Wajib bagi kita untuk bersyukur

Selama ada penyeru di jalan Allah

Wahai Nabi yang diutus kepada kita

Engkau datang dengan wahyu yang kami agungkan

Engkau datang memuliakan Madinah

Selamat datang wahai sebaik-baik penyeru Allah

 

Biasanya, ziarah ke Madinah dilakukan setelah semua rangkaian manasik haji dirampungkan. Setelah merampungkan manasik haji, jamaah perempuan hendaknya langsung menuju Madinah untuk shalat di Masjid Nabawi dan berziarah ke makam Rasulullah saw beserta dua sahabatnya. Seandainya dia bisa shalat berjamaah selama delapan hari (shalat arba’in) di Masjid Nabawi, dia dijanjikan mendapat pahala berupa bebas dari api neraka. Selama di Madinah, hendaknya dia juga mengunjungi masjid Quba untuk shalat dua rakaat yang pahalanya sama dengan pahala umrah, lalu berziarah ke Gunung Uhud yang lembahnya dibasahi oleh wangi darah sahabat yang syahid, lalu berziarah ke Baqi yang menjadi tempat persemayaman para sahabat dan tabiin.

 

Nama-Nama Kota Madinah al-Munawwarah

Kota Madinah dengan Masjid Nabawi
Kota Madinah dengan Masjid Nabawi

Sebelum Islam datang, daerah Madinah dikenal dengan Yatsrib. Selain Madinah, nama lain yang disematkan Rasulullah saw atas daerah itu adalah Thabah, Thibah, dan Thayyibah. Nama Thabah disebutkan dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Humayd. Abu Humayd berkata, “Kami pulang bersama Rasulullah dari arah Tabuk. Saat mendekati Madinah, beliau bersabda, Madinah adalah Thabah. Dalam redaksi lain yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda, “Madinah adalah Thibah dan Thayyibah.” Artinya, Madinah beraroma semerbak wangi. Nama lain Madinah adalah al-Jabirah, al-Habibah, dan Dar al-Hijrah wa al-Iman. Jika dicermati, nama-nama terakhir ini sesuai dengan keberadaan. Madinah itu sendiri sebagai bumi hijrah dan keimanan yang mampu merampas hati orang yang datang kepadanya.

 

Sabda Nabi saw tentang keistimewaan Kota Madinah

Inilah sejumlah sabda Nabi saw tentang keistimewaan Madinah al-Munawwarah

  1. Sesungguhnya Ibrahim telah menyucikan Makkah dan mendoakan kebaikan bagi penduduknya, dan aku menyucikan Madinah sebagaimana Ibrahim menyucikan Makkah. Aku juga mendoakan keberkahan untuk takaran dan mud di Madinah sebagaimana Ibrahim mendoakan kebaikan untuk penduduk Makkah,” (HR Muslim).
  2. “Sesungguhnya Ibrahim telah menyucikan Makkah dan aku menyucikan Madinah; diantara dua gunungnya tidak boleh ditebang tanamannya dan diburu hewannya,” (HR Muslim).
  3. “Keimanan akan selalu mengelilingi Madinah sebagaimana ular mengelilingi liang rumahnya,” (HR al-Bukhari).
  4. “Madinah adalah tanah haram antara gunung A’ir dan Tsawr. Barangsiapa berbuat jahat didalamnya atau melindungi orang jahat maka dia akan mendapat laknat dari Allah, malaikat, seluruh manusia, dan Allah tidak akan menerima secuil pun kebaikannya. Haram memotong tanamannya, memburu hewannya, dan mengambil barang yang terlantar kecuali untuk menyelamatkannya. Siapapun tidak diperkenankan mengangkat pedang dan berperang di dalamnya atau memotong rerumputan kecuali untuk memberi makan unta,” (HR al-Bukhari).
  5. “Akan datang satu masa ketika seseorang akan mengajak sepupu dan kerabatnya mencari kesejahteraan. Seandainya mereka mengetahui, Madinahlah tempat yang paling cocok untuk tujuan mereka. Demi Allah yang menggeggam jiwa ragaku, tidak ada seorang pun yang keluar dari Madinah sambil membawa kedengkian kecuali Allah akan menggantinya dengan orang lain yang lebih baik. Ingatlah! Madinah tak ubahnya seperti ubupan api tukang besi yang menyingkirkan hal-hal buruk. Kiamat takkan terjadi sampai Madinah menyingkirkan orang-orang jahat didalamnya sebagaimana ubupan api menyingkirkan kotoran besi,” (HR Muslim).
  6. “Siapa yang meninggal dunia di Madinah hendaknya dia menerimanya (dengan bahagia) karena tidak ada orang yang meninggal dunia di Madinah kecuali kelak aku akan memberi syafaat kepadanya,” (HR Ibnu Majah dan al-Turmudzi).

 

Sabda Nabi saw Tentang Keistimewaan Penduduk Kota Madinah

Penduduk Madinah adalah pendukung dakwah Rasulullah, penyemarak Masjid Nabawi, dan pelindung setia beliau. Mereka sangat dicintai beliau sampai-sampai mendapatkan doa khusus.

Rasulullah saw mewanti-wanti umatnya tentang keistimewaan penduduk Madinah. Beliau bersabda, “Madinah adalah tempat hijrahku, tempat aku bisa tidur nyenyak, dan tempat aku diutus. Untuk itu, seyogyanya umatku memuliakan tetangga-tetanggaku selama mereka tidak berbuat dosa besar. Barangsiapa menjaga mereka maka dia berhak mendapat syafaatku dan persaksianku di hari kiamat,” (HR al-Thabrani).

Beliau akan marah dna mengecam jika ada orang berani menyakiti penduduk Madinah, “Siapa yang menginginkan kejelekan penduduk kota ini maka Allah akan melepuhkannya sebagaimana garam yang luruh didalam air,” (HR Muslim).

Beliau melindungi mereka dari wabah penyakit dan Dajjal, “Madinah dikelilingi malaikat sehingga wabah penyakit dan Dajjal tidak dapat memasukinya,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Beliau juga menjanjikan syafaat kepada orang meninggal dunia di Madinah. Saat ini, penduduk Madinah tak ubahnya seperti penduduk Madinah di zaman Nabi. Mereka senantiasa mengedepankan perkataan baik dan perilaku jujur yang diiringi keikhlasan. Mereka begitu ramah, lapang dada, dan ringan tangan bagi setiap pendatang.

 

Masjid Nabawi di Kota Madinah

Sebelum kami menjelaskan sisi keistimewaan Masjid Nabawi, kami akan menceritakan sekilas pembangunan Masjid Nabawi. Hal ini agar para peziarah dapat bershalawat dan salam kepada Rasulullah saw dengan hati yang mantap. Kemuliaan Madinah ialah berkat kedatangan Rasulullah saw pada tahun pertama hijrah. Saat beliau datang, penduduk Madinah langsung tumpah ruah ke jalan menyambutnya. Setiap orang ingin agar beliau berkenan singgah dirumahnya. Mereka semua mengucapkan, “Wahai Rasulullah, jiwa raga kami siap berkorban untukmu!”

Tapi, beliau tetap berada diatas unta sambil melepaskan tali kekangnya dan menyampirkannya di belakang kepala. Saat mereka berusaha menghentikan langkah unta, beliau tak henti-hentinya berkata, “Biarkan dia berjalan karena dia telah diperintah.” Ketika sampai didepan rumah Abu Ayyub al-Anshari, unta beliau tiba-tiba berderum dan tidak bergerak. Melihat hal ini, Rasulullah bersabda, “Di sinilah tempat singgahku, insya Allah.”

Dikisahkan bahwa Rasulullah saw membeli tanah Masjid Nabawi dari dua anak yatim. Sebelumnya, tanah itu adalah komplek anak-anak yatim, pekuburan orang-orang Yahudi, tanah lapang, dan pekarangan kurma dan pohon cemara. Beliau kemudian memerintahkan agar kuburan-kuburan itu dipindah, tanah diratakan, pepohonan ditebang dan dijajarkan di sebelah kiblat masjid, sementara kiblat masjid sendiri mengarah ke Baitul Maqdis.

Masjid Nabawi kala itu hanya berupa tanah lapang yang dibatasi empat tembok dari batu bata merah dan pasir. Hanya sebagiannya yang diberi atap dari pelepah kurma sehingga sebagian besar dari tanah masjid masih terbuka. Di salah satu pojok masjid terdapat satu kamar yang disediakan bagi kaum fakir yang tidak memiliki tempat tinggal. Pada malam hari, masjid ini selalu gelap kecuali waktu shalat isya. Lampunya hanya berupa kayu rotan yang dibakar. Penggunaan lampu-lampu seperti ini berjalan selama hampir sembilan tahun, lalu diganti dengan lampu-lampu yang digantung pelepah kurma yang menjadi piranti atap masjid.

Lantainya berupa hamparan pasir berkerikil dan memiliki tiga pintu. Panjang masjid dari arah kiblat sampai belakang ialah sekitar 100 dzira dengan lebar yang hampir sama. Di sebelah samping masjid di bangun sejumlah kamar untuk istri-istri beliau. Setelah pembangunan kamar-kamar itu selesai, beliau lalu berpindah dari rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dalam proses pembangunan itu, beliau memperlihatkan diri sebagai pemimpin yang baik. Beliau turut serta dalam pembangunan itu dan tidak segan bekerja bersama pemuda-pemuda yang lain. Saat itu, beliau sering kali melantunkan nyanyian yang dapat menggugah semangat kerja para pemuda.

 

Ya Allah, tiada kehidupan yang indah kecuali kehidupan akhirat

Anugerahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar dan Muhajirin

Beban di pundak kami ini bukanlah beban Khaybar

Tapi perbuatan baik dan suci untuk Tuhan kami

Mendengar nyanyian beliau ini, salah seorang pemuda langsung bersenandung:

Andai kita hanya duduk sementara Rasulullah bekerja

Niscaya kita melakukan sesuatu yang sangat keterlaluan

 

Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai sarana shalat saja. Lebih dari itu, ia adalah madrasah tempat kaum muslim menimba ajaran-ajaran Islam sesuai dengan wahyu. Ia adalah satu-satunya  tempat belajar yang langsung ditangani Rasulullah.

Masjid Nabawi juga menjadi ruangan umum bagi semua unsur untuk menjalin kerja sama, persaudaraan, dan persatuan setelah sekian lama terbelenggu dalam tradisi jahiliah yang fanatik.

Masjid Nabawi juga berfungsi sebagai barak militer untuk memutuskan perang dan penentuan siasat perang terjadi.

Lebih dari itu, Masjid Nabawi menjadi tempat tinggal orang-orang miskin dan golongan Muhajirin yang telah meninggalkan seluruh keluarga, anak, dan harta bendanya. Masjid Nabawi menjadi tempat singgah mereka dengan Rasulullah sebagai orang yang menanggung kehidupan mereka. Masjid Nabawi telah menginspirasi berdirinya negara dan pengaturan komunitas muslim yang berbasis keadilan, persamaan, persaudaraan, dan permusyawaratan. Untuk itu, jamaah haji perempuan sangat dianjurkan berziarah kesana agar lebih mengenal fondasi-fondasi kebanguan peradaban Islam.

 

Kamar Aisyah dan Persemayaman Rasulullah

Kamar istri-istri Rasulullah berjajar di sebelah timur Masjid Nabawi dan tidak termasuk ke dalam komplek masjid tersebut.

Saat ruh suci Nabi Muhammad memenuhi panggilan Allah, beliau disemayamkan di tempat meninggalnya, yaitu kamar Aisyah. Itulah kamar yang senantiasa hidup, penuh rahmat, terang, dan memancarkan cahaya. Setiap jamaah berbondong-bondong melewatinya sambil mengucapkan shalawat dan salam kepadanya dengan khusyuk dan syahdu.

Kaum muslim merasa begitu cepat ditinggalkan oleh sosok teladan sekaligus guru yang sangat mereka cintai. Kesedihan begitu mendalam menyelimuti jiwa mereka yang selama ini mendapat siraman iman dari sang guru. Dunia terasa gelap gulita saat kilau cahaya yang menyinarinya meredup.

Ketika sore kelabu itu datang, mereka semua berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir. Liang lahat pun dibuat oleh Abu Thalhah. Ia membuat liang lahad itu melingkar, lalu menggelar selendang merah yang biasa dipakai Rasulullah. Orang-orang yang bertugas memandikan jasad suci itu kemudian menurunkannya ke dalam peristirahatan terakhir. Mereka terdiri dari Ali ibn Abu Thalib, Abbas ibn Abd al-Muthalib, Fadhl ibn Abbas, Qutsam, Usamah ibn Zayd, dan Syaqran (pembantu Rasulullah saw). Setelah itu, mereka menutupkan batu bata di atas kuburan dan menguruknya dengan pasir. Aisyah, yang kamarnya menjadi taman indah kuburan Rasulullah saw, berpindah ke kamar di sebelahnya.

Jenazah Abu Bakar disemayamkan di sisi makam Rasulullah saw. Begitupun jenazah Umar ibn al-Khathtab.

Aisyah merasa cemas jika makam Rasulullah saw dipergunakan untuk tujuan-tujuan tidak baik yang mengarah pada kemusyrikan. Untuk itu, dia memerintahkan agar tembok yang menutupi lokasi makan ditinggikan dan lubang-lubang di tembok di tutup sehingga kaum muslim hanya bisa mengucapkan salam dan shalawat dari luar tembok. Hal ini terus dipertahankan sampai era sahabat berakhir.

Pada masa pemerintahan Walid ibn Abd al-Malik ibn Marwan, diambil satu kebijakan untuk memperluas Masjid Nabawi sehingga kamar-kamar para istri Rasulullah itu masuk kedalam komplek masjid. Sebelumnya, khalifah al-Walid terlebih dahulu memerintahkan Gubernur Madinah, Umar ibn Abd al-Aziz, agar membeli kamar-kamar itu dari para ahli waris istri-istri Rasulullah saw. Kamar-kamar itu pun kemudian dibongkar dan bekas tanahnya dimasukkan kedalam komplek Masjid Nabawi. Tinggi tembok-tembok yang mengelilingi makam juga ditambah lagi dan dibuat berbentuk segitiga. Dikatakan bahwa Umar ibn Abd al-Aziz membangun model segitiga itu untuk memenuhi doa Rasulullah saw yang pernah dihaturkan, “Ya Allah, jangan jadikan makamku sebagai area sesembahan.”

Kota Madinah, Masjid Nabawi, Ziarah Kota Madinah, Nama nama Kota Madinah.

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *