Misteri Kawasan Jabal Magnet Mampu Menarik Bus 70 Km/Jam

Jabal Magnet Madinah telah mebuat Jamaah Umroh kami dalam satu rombongan bus berisi 42 orang terpana. Bus bisa melaju kencang hingga 70 km/jam lebih, padahal gigi persneleng netral. Bus seolah ditolak atau ditarik oleh kekuatan alam di barisan perbukitan hitam dan tandus ini.

Jabal (gunung) Magnet atau Magnetic Hill, akhir-akhir ini namanya semakin populer di kalangan jamaah umroh dan haji Indonesia. Kekuatan alam dari Jabal Magnet yang mampu menarik bus atau mobil hingga 70 km/jam lebih, dalam posisi persneleng netral, membuat para jemaah umroh dan haji penasaran. Di dalam paket tour city jamaah umroh dan haji, namanya makin tenar seperti Jabal Uhud, Jabal Tsur, Jabal Rahmah dan Jabal Nur.

=========================================================================

INFORMASI DAN KONSULTASI PAKET UMROH MURAH 2018:

H SUDJONO AF – 0813 8809 7656 WA

=========================================================================

Jabal Magnet berjarak sekitar 60 kilometer ke arah dari Kota Madinah menuju Tabuk. Deretan bukit dan pegununan di Jabal Magnet ini sebernarnya hampir sama dengan gunung-gunung lain di Tanah Suci, yaitu penuh pasir dan bebatuan. Namun, keinukan yang  membedakan bukit di Jabal Magnet adalah bebatuan di bukit-bukitnya didominasi merah bata, beberapa agak hitam kelam dan mengkilat bila tertimpa sinar matahari. Ya.., mirip dengan batu bara.

Rute tour city Madinah ke Jabal Magnet biasanya diawali berziarah ke makam 70 syuhada yang gugur dalam perang Uhud di Jabal Uhud. Selanjutnya tour city mampir ke kebun kurma al Fath dan melanjutkan ke Jabal Magnet. Sepanjang perjalanan menuju Jabal Magnet memang banyak kebun-kebun kurma yang subur dan luas. Kebun-kebun tersebut dipagar keliling dengan tanaman hidup juga tembok berkeliling. Setelah deretan kebun kurma habis, baru deretan perbukitan. Jalan ke Jabal Magnet kini sudah mulus dengan aspal hotmik yang dilengkapi rambu-rambu lalu lintas. Jabal Magnet berada diluar kawasan Tanah Haram, sehingga non muslim pun bisa berkunjung.

Tour city ke Jabal Magnet biasanya bukan termasuk paket dari tour city Mdinah travel umroh dan haji. Jadi ini merupakan tour city tambahan. Sehingga untuk menikmati fenomena tarikan atau tolakan magnet di bukit-bukit hitam ini, jamaah unroh dan haji perlu urunan tambahan. Biasanya sekitar 15 SR tergantung negosiasi. Kalau mau charter taksi, harga bervariasi dari 150-300 SR.

Keunikan jabal-magnet-Madinah

Keunikan jabal-magnet-Madinah

Bus Mulai Ngos-ngosan Mendekati Jabal Magnet

 

Memasuki wilayah Jabal Magnet, atau sekitar 15 km sebelum tiba di gunung yang disebut-sebut sebagai pusat Jabal Magnet, bus yang kami tumpangi melaju dengan berat. Pak Sopir kami yang juga dari Indonesia, mengaku harus menginjak pegas lebih dalam agar bus tetap melaju ke arah Jabal Magnet.

Jalan memang mulai sedikit menanjak namun menurut Pak Sopir hal ini dikarenakan kekuatan gaya tolak magnet dari Jabal Magnet sudah mulai bekerja. Bila tidak ditekan gas maka bus akan melambat dan bahkan tertarik mundur ke arah kompleks kebun kurma. Pedal gas harus diinjak terus sehingga seolah bus ngos-ngosan agar tiba di lokasi yang disebut pusat Jabal Magnet.

Ujung jalan dari jalan menuju Jabal Magnet adalah buntu karena menuju kaki bukit. Sehingga oleh pemerintah dibuatkan taman melingkar, sekaligus untuk berputar kendaraan.

Sekitar 4 km sebelum ujung jalan, ada semacam cekungan mendatar yang agak luas. Lokasi inilah yang dijadikan bus-bus rombongan atau taksi-taksi untuk mencoba kebenaran adanya gaya tolak atau tarik dari Jabal Magnet.

 

Bus rombongan kami berhenti. Lalu Pak Sopir menetralkan persneleng. Perlahan-lahan bus didorong atau ditarik mundur, padahal jalan mundur dari cekungan datar sedikit menanjak. Tarikan makin kuat dan laju bus agak cepat apalagi setelah jalanya sedikit menurun. Kami pun bertasbih dan Pak Sopir segera menginjak rem untuk keamanan. “Nanti kita coba dengan jalan maju maka kecepatannya bisa 70 km/jam lebih,’ ujar Pak Sopir.

Percobaan ini bukan rombongan kami saja yang melakukan. Ada sebuah taksi dan minivan yang tampaknya dicharter jamaah umroh lain, non Indonesia,  ikut mencoba gaya tarik atau dorong Jabal Magnet. Bus rombongan kami berada di jalan beraspal, sedang kedua mobil berada di tanah berpasir. Ternyata mobil mereka juga didorong atau ditarik mundur menjauhi Jabal Magnet seperti bus kami.

 

Longsoran Bebatuan Membentuk Lafat Allah.

 

Usai menikmati percobaan tersebut, bus rombongan meneruskan perjalanan menuju pusat Jabal Magnet. Di ujung jalan yang buntu tepat di kaki gunung kami diberitahu bahwa ada longsoran bebatuan yang membentuk lafat Allah. Subkhanallah, meski tidak begitu nyata, namun memang longsoran bebatuan hitam dari atas bukit di depan kami bila dilihat dengan lebih cermat memang membentuk lafat Allah.

Di kawasan ini juga dibangun taman dan beberapa gazebo. Menurut Muthowwif bila sore hari tempat ini jadi ramai dikunjungi wisatawan. Banyak mobil berdatangan untuk membuktikan kebenaran fenomena Jabal Magnet.

Usai menikmati longsoron bebatuan yang membentuk lafat Allah, kami pun kembali ke Madinah. Tiba di lokasi hamparan cekung tadi, Pak Sopir memberi tahu bahwa dia sudah melepaskan gas dan menetralkan persneleng. Bus melaju terus semakin cepat meninggalkan Jabal Magnet, bahkan hingga diperkirakan kecepatan 70 km/ jam lebih hingga beberapa saat.

Jabal Magnet Ditemukan Penggembala

Menurut informasi Muthowwif dan Pak Sopir, Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah maupun jamaah haji dan umrah, awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy yang sedang menggembalakan dombanya. Para pemilik domba memang biasa menggembalakan domba-domba ke luar wilayah Madinah. Domba-domba diangkut dengan mobil dan sesampai ditempat dituju domba-domba diturunkan untuk digembalakan.

Saat itu, seorang penggembala Arab Baduy menghentikan mobilnya di lokasi deket Jabal Magnet dan menurunkan domba-dombanya. Usai domba-domba ditunkan, ia menggiring domba-domba ke arah rerumputan dan perdu. Ia lupa menyetel rem tangan. Ketika berbalik akan kembali ke mobilnya, ia kaget bukan kepalang. Mobilnya berjalan sendiri semakin cepat menjauhi lokasi penggembalaan. Ia berusaha mengejar, tapi tidak berhasil. Mobil tersebut dikabarkan baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan.
Sejak saat itulah, kawasan tersebut disebut sebagai Jabal Magnet atau Magnetic Hill. Warga setempat menyebutnya Manthiqa Baidha yang berarti perkampungan putih. Setiap musim haji dan musim umroh, banyak jamaah yang menyambanginya. Pemerintah Arab Saudi kemudian membangun jalan menuju lokasi Jabal Magnet.

 

Benarkah Fenomena Jabal Magnet Ini?

Tapi, benarkah Jabal Magnet memiliki kekuatan gaya tarik atau tolak yang bisa menarik mobil atau bahkan bus? Mengutip pengamat geologi, Ma’rufin, bahwa secara geologis, fenomena Jabal Magnet bisa dijelaskan dengan logika. Hal ini karena Kota Madinah dan sekitarnya berdiri di atas Arabian Shield tua yang sudah berumur 700-an juta tahun.

Kawasan itu berupa endapan lava alkali basaltik (theolitic basalt) seluas 180 ribu km persegi (km) yang berusia muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas dua juta tahun silam). Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilometer melalui zona rekahan sepanjang 600 km yang dikenal sebagai Makkah-Madinah-Nufud Volcanic Line.
Selain di Madinah, fenomena tersebut bisa ditemui di ratusan bukit gravitasi di seluruh dunia, seperti di Ladakh (India), Gunung Halla (Korea), Frankin Lakes (AS), Pennsylvania (AS), Orroroo (Australia), New Brunswick (Kanada), dan Gansu (Cina). Di AS saja, ada 40 bukit ‘magnet’ tersebar di 23 negara bagian.

Jabal Magnet memang fenomena alam atas kekuasaan Allah SWT yang sebenarnya tersebar di seluruh permukaan bumi dan hamparan langit. Semoga menambah keimanan dan ketaqwaan kita semua aamiin.

Yang nikmat dari perjalanan tour ke Jabal Magnet ini adalah saat kembali ke Madinah, kami mampir dulu di peternakan unta di jalur ke Jabal Magnet tersebut. Lokasinya di pinggir jalan, dan saya lihat tak ada kandang yang permanen. Sepertinya unta-unta ini sedang digembalakan. Di seberang jalan dimana unta-unta digembalakan ada semacam danau buatan untuk menampung air jika hujan turun. Jadi lokasinya memang banyak pepohonan perdu dan tentu ada mata air.

 

“Qamsa real. Qamsa real,” teriak pemilik unta menawarkan susu unta segar yang baru diperahnya dan ditampung dalam ember. Dari ember tersebut mereka lalu memasukanya ke dalam botol-botol plastik. Saya pun penasaran dan membelinya. Sebotol kecil ukuran 250 ml susu unta harganya qamsa real atau 5 SR. Langsung saya minum di tempat. Segar meski rasanya tidak semanis susu sapi.

Temen lain ada juga yang nekat berfoto dengan unta yang dihias ala kadarnya. Naik di atasnya dan berputar sebentar biayanya 10 SR.

 

 

Similar Posts:

By |2018-02-11T06:56:20+00:00June 15th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment