Nama-nama Kota Suci Makkah dan Proses Pembangunan Ka’bah. Kota Suci Makkah adalah kota yang Allah SWT SWT mulia muliakan. Itulah kota yang Allah SWT diharamkannya, dimuliakannya dan disucikannya. Kota ini memiliki banyak nama, sebagai bentuk penghormatan kepada yang dinamai. Diantaranya: Ummu Quro, Al Balad Al Amin, dan Bakkah.

=======================================================================

Info Paket Umroh Desember, Rp18,9 Juta

Info Paket Umroh BackPcker Ramadhan, mulai Rp24,5 Juta

H. Sudjono AF : 081388097656 WA

=======================================================================

 

Diantara nama kota suci yang termaktub dalam Al-Qur’an adalah:

  1. Kota Suci Makkah

  • Nama ini paling banyak dikenal. Allah SWT berfirman:

“Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Fath: 96)

 

2. Kota Suci Makkah Disebut Al Bakkah

  • Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

3. Kota Suci Makkah Disebut Ummul Quro

  • Ummul Qura. Allah SWT berfirman:

“Demikianlah kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk Surga dan segolongan masuk Neraka.” (QS. Asy-Syuura: 7)

Ummul Qura adalah kota Makkah, sesuai dengan kesepakatan para ulama tafsir. Kota Makkah dinamakan Ummul Qura, karena ia adalah kota paling mulia dan paling utama dari seluruh kota yang ada. Ia juga kota yang paling dicintai Allah SWT dan RasulNya.

4. Kota Suci Makkah Disebut Al Balad Al Amin
  • Al-Balad Al-Amin. Allah SWT berfirman:

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Demi bukit Sinai dan semi Al-Balad Al-Amin (kota Makkah yang aman).” (QS. At-Tiin: 1-3)

Al-Balad Al-Amin adalah kota Makkah. Pendapat ini tidak ada perselisihan diantara para ulama.

Dan masih banyak nama lainnya bagi kota yang diberi nama Al-Balad Al-Amin ini.

Batasan-Batasan Kota Suci Makkah

            Karena pentingnya perkara ini dan hubungannya dengan hukum-hukum syar’i yang sangat banyak, maka Allah SWT mensyariatkan keharaman kota ini dengan batasan-batasan yang langsung dari wahyuNya. Maka, turunlah Jibril untuk memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim, sang pembangun Ka’bah, batasan-batasan tanah Haram itu. Nabi Ibrahim segera menancapkan batasan-batasan tanah Haram tersebut.

Batasan-batasan tanah Haram ini diperbarui lagi pada zaman Nabi Muhammad ketika Fathu Makkah. Beliau mengutus Asad Al-Khuza’i untuk memperbarui batasan-batasan tanah Haram tersebut.

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah  bin Abbas bahwa Nabi mengutus Asad Al-Khuza’i saat Fathu Makkah untuk memperbarui batasan-batasan tanah Haram. Dan sebelumnya Nabi Ibrahim lah yang menancapkan batasan-batasan itu dengan isyarat dari Jibril.

Ibnu Hajar berkata bahwa isnad Hadis ini adalah hasan.

Dan demikianlah, batasan-batasan tanah Haram ini terus diperbarui sesuai dengan kebutuhan hingga sekarang.

Imam An-Nawawi berkata:

“Ketauhilah! Sesungguhnya mengetahui batasan-batasan tanah Haram adalah termasuk hal-hal yang sangat perlu diperhatikan. Karena ia berhubungan dengan hukum-hukum yang banyak…”

 

Awal Mula Kejadian Kota Makkah dan Proses Pembangunan Ka’bah Al-Musyarrafah

Proses pembangunan Ka’bah yang agung, juga permulaan terjadinya kota Makkah, Ka’bah, dan manasik, sangat berkaitan dengan nama Khailurrahman (Nabi Ibrahim) dan putranya (Nabi Ismail), sebagaiman disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Al-Qur’an secara tegas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim lah yang pertama kali membangun Ka’bah. Juga orang yang pertama kali mendirikan dasar pondasi Baitullah ini.

Namun, nash-nash yang menjelaskan tentang masalah pembangunan Ka’bah ini tidak menutup kemungkinan bahwa Ka’bah tersebut sudah ada wujudnya sebelum datang masa Nabi Ibrahim. Allah SWTu a’lam.

Adapun berita tentang pembangunan Ka’bah dan usaha Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah itu dengan bantuan Nabi Ismail, maka Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Dan disebutkan dalam riwayat yang shahih dari Rasulullah tentang permulaan kejadian kota suci Makkah dan kisah pembangunan Ka’bah ini. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Said bin Jubair dari Abdullah bin Abbas. Dia berkata:

“Wanita zaman dahulu yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Ismail. Ia memakai ikat pinggang untuk menghilangkan jejaknya dari Sarah. Kemudian Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail, yang masih disusui ke tempat Ka’bah sekarang, tepatnya dibawah pohon besar diatas zamzam pada bagian atas masjid. Pada saat itu tak ada seorangpun yang tinggal disana. Disana juga tidak ada air. Tapi, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua disana. Nabi Ibrahim meninggalkan sebuah keranjang berisi kurma dan wadah kulit berisi air untuk mereka.

Setelah itu, Nabi Ibrahim beranjak pergi kearah negeri Syam, ibu Nabi Ismail mengikuti beliau dan ia bertanya: “Wahai Ibrahim! Kemana kau hendak pergi? Tegakah kamu meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia  dan tidak ada apa-apanya ini?” Hajar terus menanyakan hal itu kepada Nabi Ibrahim. Tapi, Nabi Ibrahim tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya: “Apakah Allah SWT yang memerintahkanmu melakukan hal ini?” Nabi Ibrahim menjawab: “Ya!” Hajar lalu menjawab: “Kalau begitu Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan kami berdua.” Hajar pun kembali ketempatnya. Dan Nabi Ibrahim terus melanjutkan perjalanannya, hingga ketika beliau sampai di Tsaniyyah (sebuah dataran tinggi), sekiranya Hajar dan Ismail tidak melihatnya, beliau menghadapkan wajah ke arah Baitul Haram. Beliau mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan doa:

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagiaan keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami! Yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Ibu Nabi Ismail terus menyusui Ismail dan minum dan air yang disediakan Nabi Ibrahim tadi. Ketika air habis, Hajar pun merasa kehausan, begitu pula putranya. Hajar memandangi Ismail yang yang berguling-guling kehausan. Serta merta Hajar beranjak pergi karena tidak tega melihat keadaan Ismail yang kehausan. Ia mendapati Shafa, yaitu sebuah gunung yang paling dekat dengan tempatnya. Ia bergegas mendaki gunung tersebut. Lalu menghadap ke lembah, memandang kesana kemari, sekiranya ada seseorang di kejauhan sana. Tetapi, ia tak melihat seorangpun.

Lalu ia turun dari bukit Shafa. Ketika sampai di lembah, ia mengangkat ujung baju bagian bawahnya. Ia terus menelusuri lembah itu dengan penuh susah payah hingga tiba di dasar lembah. Kemudian ia mendatangi bukit Marwah, dan ia pun menaikinya. Ketika sampai puncak, ia melihat-lihat apakah ada seseorang. Tapi, ia tak mendapatkan seorangpun disana. Ia terus melakukan hal itu hingga tujuh kali.

Abdullah bin Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Itulah asal mula ibadah sa’i yang dilakukan manusia diantara Shafa dan Marwah.”

Ketika Hajar berada di puncak Marwah, ia mendengar sebuah suara. Lalu ia berkata kepada dirinya: “Diamlah!”  kemudian ia mendengar suara itu lagi. Maka Hajar berkata kepada dirinya lagi: “Kamu telah mendengar. Sekarang, kamu pasti mendapat pertolongan.”

Rupanya suara itu adalah suara Malaikat yang berada di tempat Zamzam. Malaikat itu mencari-cari Zamzam dengan tumitnya atau dengan sayapnya sampai airnya bersemburat. Lalu Malaikat itu membuat sebuah kolam dengan tangannya. Maka Ummu Ismail mengambil air itu dengan kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam tempat air. Setiap kali air itu diambil, ia langsung memancar.

Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi bersabda:

“Mudah-mudahan Allah SWT merahmati Ummu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam (atau beliau bersabda, ‘Seandainya Ummu Ismail tidak menciduki Zamzam dengan tangannya’), pastilah Zamzam itu menjadi air yang terus mengalir.”

Maka Ummu Ismail meminum air itu dengan sepuas-puasnya dan menyusui anaknya. Lalu mereka berkata kepadanya, “Kalian jangan takut tersiakan, karena disini adalah Baitullah (rumah Allah SWT) yang akan dibangun bocah ini beserta ayahnya. Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan keluargaNya.”

Dulu, Baitullah itu tinggi seperti sebuah dataran yang tinggi. Kemudian, datanglah banjir yang menerpa kanan-kirinya. Dan Baitullah tetap seperti itu sampai datang sekelompok kaum Jurhum yang melewati daerah tersebut, atau sekeluarga dari kaum Jurhum yang datang dari arah Kada (sebuah daerah bagian atas Makkah). Mereka menelusuri daerah bagian bawah Makkah. Disana mereka melihat burung-burung yang terbang diatas mata air untuk mencari minum. Lalu mereka berkata: “Burung-burung itu pasti berputar-putar diatas air. Kita harus turun segera ke lembah itu. Disana pasti ada air.”

Kemudian mereka mengutus satu atau dua orang penunggang kuda. Mereka benar-benar menemukan air tersebut. Setelah itu, mereka kembali dan memberitahu kaumnya bahwa disana ada air. Merekapun berbondong-bondong mendatangi daerah tersebut.

Saat itu Ummu Ismail berada disamping air. Mereka berkata kepadanya: “Apakah anda mengizinkan kami singgah di tempat anda?” Hajar menjawab: “Boleh, tapi kalian tidak berhak menguasai air ini.” Mereka menjawab: “Baik!”

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Maka Ummu Ismail mendapatkan kebahagiaan karena kedatangan mereka, sebab ia seorang wanita yang senang bergaul.”

Akhirnya, orang-orang  Jurhum itu singgah disana. Mereka memberitahu sanak kerabatnya tentang daerah itu. Maka, kerabat merekapun ikut tinggal disana bersama mereka.

Ketika orang-orang Jurhum sudah membangun rumahnya masing-masing, dan si bocah Ismail tumbuh dewasa, sudah bisa belajar bahasa Arab dari mereka ia menjadi pemuda yang paling disegani dan dihargai diantara mereka. Setelah Ismail pantas menikah, orang-orang Jurhum menikahkannya dengan seorang gadis mereka. Setelah itu Ummu Ismail meninggal dunia.

Setelah Nabi Ismail menikah dan ibunda Hajar meninggal, datanglah Nabi Ibrahim untuk mengetahui keadaan putra yang ditinggalkannya. Tetapi beliau tidak mendapati Nabi Ismail di rumah. Beliau bertanya kepada istri Nabi Ismail, “Kemana dia pergi?” Sang istri menjawab: “Ismail sedang keluar mencari nafkah buat kami.” Lalu Nabi Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Sang istri menjawab: “Kami dalam keadaan yang sangat buruk, kami hidup dalam kesempitan dan kemelaratan.” Lalu wanita itu mengadu kepada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim berkata: “Jika suamimu datang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya agar mengganti ambang pintunya.” Ketika Nabi Ismail datang, beliau seperti merasakan kehadiran seseorang. Ia bertanya: “Apakah tadi ada seseorang yang datang?” Istrinya menjawab: “Benar! Tadi ada ornag tua yang sifatnya seperti ini dan itu. Ia bertanya kemana kamu pergi, dan saya pun memberitahunya. Ia juga bertanya tentang keadaan hidup kita. Lalu saya memberitahunya bahwa kita berada dalam kesempitan dan kemelaratan.” Nabi Ismail kembali bertanya: “Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?” Sang istri menjawab: “Benar!” ia menyuruhku menyampaikan salamnya padamu dan berkata agar mengganti engsel pintumu!”

Nabi Ismail berkata: “Itu adalah ayahku. Ia menyuruhku untuk menceriakanmu. Sekarang pergilah kepada keluargamu.” Maka Nabi Ismail mentalak istrinya, dan menikah dengan wanita Jurhum yang lain. Nabi Ibrahim lama tak mengunjungi mereka setelah pernikahan ini. Kemudian beliau datang lagi, tapi lagi-lagi tidak mendapati Nabi Ismail di rumah. Beliau bertanya kepada istrinya: “Kemana Nabi Ismail pergi?” Sang istri menjawab: “Ia sedang keluar mencari nafkah buat kami.” Nabi Ibrahim bertanya: “Bagaimana kehidupan kalian?” Beliau juga menanyakan tentang keadaan dan kehidupan mereka. Sang istri menjawab: “Kami dalam keadaan yang selalu baik dan dalam kehidupan yang lapang.” Lalu sang istri memuji Allah SWT. Nabi Ibrahim bertanya: “Apa makanan kalian?” Sang istri menjawab: “Daging!” Nabi Ibrahim bertanya lagi: “Apa minuman kalian?” Sang istri menjawab: “Air putih!” Maka Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Allah SWT! Berkahilah mereka dalam daging dan air putih ini.”

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Saat itu di kota Makkah tidak terdapat biji-bijian sedikitpun. Jika ada, tentunya beliau juga berdoa untuk biji-bijian itu.”

            Kemudian Rasulullah Muhammad SAW bersabda lagi:

“Tidak ada seorangpun yang tidak memakan daging dan air di selain kota Makkah kecuali akan sakit perutnya.”

            Nabi Ibrahim lalu berkata: “Jika suamimu datang, maka sampaikan salamku padanya. Perintahkan padanya untuk memperkuat engsel pintunya.” Ketika Ismail datang, ia pun bertanya kepada keluarganya: “Apa ada seorang yang datang?” Istrinya menjawab: “Benar! Kita kedatangan seorang lelaki tua yang bagus keadaannya.” Sang istri memuji kepribadian lelaki tua itu.” Ia bertanya padaku tentangmu. Lalu saya memberitahunya. Ia juga menanyakan keadaan hidup kita, dan saya memberitahunya bahwa kita dalam keadaan yang lapang.” Nabi Ismail bertanya: “Apakah dia berwasiat sesuatu padamu?” Sang istri menjawab: “Benar, ia mengucapkan salam padamu dan memerintahmu untuk mempertahankan ambang pintumu.”

Nabi Ismail berkata: “itu adalah ayahku. Kamulah ambang pintu itu. Ia menyuruhku untuk tetap mempertahankanmu.”

Beberapa saat kemudian, datanglah Nabi Ibrahim ke kota Makkah untuk bertemu putranya yang sangat ia rindukan. Saat itu Nabi Ismail sedang meruncingkan anak-anak panahnya dibawah sebuah naungan besar dekat sumber air zamzam. Ketika mengetahui kedatangan Nabi Ibrahim, beliau langsung menghampiri dan merangkulnya erat-erat, seperti yang biasa dilakukan oleh seorang bapak dengan anaknya atau seorang anak kepada bapaknya yang sudah lama tidak bertemu.

Lalu Nabi Ibrahim berkata: “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allah SWT menyuruhku dengan suatu perintah.” Nabi Ismail menjawab: “Laksanakan perintah Rabbmu itu.” Nabi Ibrahim berkata: “Apakah kamu mau membantuku?” Nabi Ismail menjawab: “Aku pasti membantumu.” Maka Nabi Ibrahim berkata: “Allah SWT memerintahku untuk membangun sebuah rumah disini.” Seraya menunjuk sebuah dataran tinggi yang agak naik dari permukaan tanah lainnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Maka, pada saat itulah keduanya mengangkat dasar-dasar Baitullah. Nabi Ismail mendatangkan batu, sedangkan Nabi Ibrahim membangunnya.”

            Ketika bangunan sudah meninggi, Nabi Ismail mendatangkan sebuah batu. Beliau meletakkan batu itu untuk pijakan Nabi Ibrahim. Maka Nabi Ibrahim berpijak diatasnya. Nabi Ibrahim yang membangun, sedangkan Nabi Ismail yang memberikan bati-batu kepadanya. Keduanya terus berkata:

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amalan ini. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Keduanya terus membangun dan menyempurnakan Baitullah ini sampai mengelilinginya, dan keduanya terus mengucap: ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amalan ini. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

            Setelah terlaksana pembangunan Baitullah, ia pun menjadi rumah pertama kali yang dibangun di muka bumi untuk ibadah. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah Hadits dari Abu Dzar. Ia bertanya kepada Nabi:

“Wahai Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali di muka bumi? Rasulullah menjawab: ‘Masjidil Haram.’ Abu Dzar bertanya lagi: ‘Kemudian masjid apalagi?’ Beliau menjawab: ‘Masjidil Aqsha.’ Abu Dzar bertanya: ‘Berapakah jarak diantara keduanya?’ Nabi menjawab: ‘Empat puluh tahun.’ Tapi, dimanapun kamu kedatangan waktu shalat, maka segeralah kamu mengerjakannya tanpa menunda. Karena, disitulah terdapat keutamaan itu.”

            Allah SWT telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia meninggalkan banyak sekali tanda yang jelas dan petunjuk yang nyata pada Baitullah. Bahwasanya ia dibangun oleh Nabi Ibrahim. Dan sesungguhnya Allah SWT sangat memuliakan dan mengagungkan Baitullah. Dia berfirman:

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, diantaranya maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah), maka menjadi amanlah dia. Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Qatadah dan Mujahid berkata, “Maqam Ibrahim termasuk diantara tanda-tanda yang jelas itu.”

Setelah membaca keterangan diatas, maka menjadi jelaslah dihadapan kita tentang kedudukan agung kota suci ini, dan betapa besar ketinggian martabat juga kemuliaannya. Yang menunjukkan hal itu adalah nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sudah disebutkan tadi secara berurutan. Yaitu, mengenai jumlah namanya, batasan-batasan, awal mula kejadiannya, serta penjelasan tentang keharamannya. Allahu a’lam.

kota makkah, kota suci makkah, mekkah, kota suci mekah, makkah al mukaromah, sejarah makkah, nama lain makkah, mekah, kota mekah

Similar Posts: