Keberadaan Bangsa Yahudi Di Madinah dan Kawasan Arab

Keberadaan Bangsa Yahudi Di Madinah dan Kawasan Arab. Eksistensi orang-orang Yahudi di kawasan Arab dimulai sejak Musa menaklukan Firaun di Mesir, kemudian merambah ke beberapa Arab lainnya, seperti Palestina dan Yatsrib. Kehidupan mereka direkam dengan sangat baik dalam puisi Jahiliah. Selain itu, mereka juga menetap di Yaman dan Yamamah. Dan sebagian lagi menjadi pedagang di Mekkah, khususnya pada musim haji. Dikisahkan, bahwa Musa pernah melkitakan Thawaf di Ka’bah.

Menurut Yasin Ghadhban (1994), yang dimaksud dengan kaum Yahudi, yaitu semua yang memeluk ajaran Musa, termasuk didalamnya Bani Israel. Bani Israel adalah anak-anak Ya’qub dan cucu-cucunya, serta seluruh keturunannya. Mereka yang pertama kali memeluk ajaran tersebut adalah mereka yang mula-mula ingin menyihir Musa, tetapi kemudian upaya jahat mereka dibatalkan oleh Musa. Setelah itu mereka menyatakan sebaliknya, yaitu meyakini ajaran Musa sembari berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman kepada Musa.”

Sejarah Bangsa Yahudi di Madinah

Sejarah Bangsa Yahudi di Madinah

Mereka tersebar di kawasan Arab secara berkelompok-kelompok di tempat-tempat yang terdapat air dan sumber mata air di sejumlah Lembah Qura, Khaibar hingga Yatsrib. Mereka kemudian membangun benteng dan tempat tinggi untuk melindungi mereka dari ancaman orang-orang Arab badui. Mereka dikenal dermawan terhadap pemuka-pemuka suku yang tinggal di sekitar mereka, dan kerapkali memberikan hadiah agar diterima oleh mereka. Kebaikan seperti itulah yang menjadikan mereka dapat diterima di tempat ini.

Menurut sejarawan Muslim, orang-orang Yahudi yang berada di Yatsrib pada umumnya berasal dari keturunan Arab, sehingga mereka disebut dengan Arab Yahudi, atau Yahudi Arab.

Lalu, pada tahun pertama atau kedua masehi, terjadi lagi migrasi orang-orang Yahudi yang berada di Palestina. Hal tersebut terkait dengan hegemoni kerajaanRomawi terhadap sejumlah kawasan Arab lainnya, seperti Mesir, Suriah, dan Palestina, yang merupakan tempat tinggal orang-orang Yahudi. Mereka dengan mudah pergi ke Yatsrib, karena tempat ini bukan bagian dari kawasan yang dikuasai oleh kerajaan Romawi. Disamping, tempat ini sangat berdekatan dengan Palestina yang memungkinkan mereka untuk menempuhnya melalui jalur darat.

Bangsa Yahudi dan Tanah Keluarga Ibrahim

Orang-orang Yahudi sendiri menganggap tanah Arab sebagai tanah keluarga Ibrahim, yang mana mereka keturunan dari Ismail, yang merupakan putra Ibrahim dari istrinya, Hajar. Sedangkan mereka adalah keturunan dari Ishaq yang juga putra Ibrahim dari istrinya, Sarah. Mereka menganggap tanah Hijaz merupakan tempat yang paling aman dari intimdasi orang-orang Romawi, dan Hijaz tidak dikuasai oleh orang-orang Romawi.

Orang-orang Yahudi Bani Quraydhah memberikan testimoni, bahwa orang-orang Romawi telah membunuh orang-orang Yahudi yang berada di Suriah, yang mana mereka tidak menyisakan satu orang Yahudi pun hidup. Maka dari itu, bagi orang-orang Yahudi di Palestina tidak ada pilihan lain kecuali berimigrasi menuju Yatsrib, yang pada saat itu dikenal sebagai gurun pasir yang terbuka, yang juga sudah ditempati oleh Bani Israel, atau Bani Qaynuqa.

Mereka yang datang ke Yatsrib setelah Bani8 Qaynuqa yaitu Bani Quraydha, Bani Nadhir, dan Bani Yahdal. Digambarkan, mereka pertama kali sampai ke kawasan hutan, tetapi mereka menolak untuk tinggal disana.

Orang-orang Yahudi sendiri menganggap tanah Arab sebagai tanah keluarga Ibrahim, yang mana mereka keturunan dari Ismail, yang merupakan putra Ibrahim dari istrinya, Hajar. Sedangkan mereka adalah keturunan dari Ishaq yang juga putra Ibrahim dari istrinya, Sarah. Mereka menganggap tanah Hijaz merupakan tempat yang paling aman dari intimdasi orang-orang Romawi, dan Hijaz tidak dikuasai oleh orang-orang Romawi.

Akhirnya mereka menemukan sebuah lembah, yang dikenal dengan Bathan dan Mahzuz, yang mana juga terdapat sumber air yang sangat deras. Mereka memutuskan untuk tinggal di tempat ini. Bani Nadhir tinggal di lembah Bathan, sedangkan Bani Quraydha dan Yahdal tinggal di lembah Mahzuz.

Lambat laun jumlah mereka terus bertambah. Mereka mendapatkan ketenangan dan kenyamanan di tempat tersebut, sehingga dikabarkan mereka menempati hampir di sebagian besar kawasan Yatsrib, baik dibagian selatan maupun barat. Bahkan mereka menguasai pertanian dan perdagangan. Mereka mampu membuat pasar yang sangat ramai, yang memungkinkan mereka mendapatkan keuntungan materi yang besar. Diantara mereka yang gemar berdagang, yaitu Bani Quraydha, Bani Nadhir, Bani Qaynuqa, Bani Masah, dan Bani Za’ura. Mereka adalah kelompok mayoritas, disamping kelompok-kelompok orang Yahudi yang sangat beragam.

Mereka kemudian membangun benteng, tempat mereka berlindung dari ancaman orang-orang luar. Sedangkan dibagian utara ditempati oleh Suku Aws dan Khazraj. Selain orang-orang Yahudi ada orang-orang non-Yahudi, antara lain: Bani Hirman dari Yaman, Bani Martsad dan Bani Nayf dari Bala, Bani Muawaiyah dan Bani Syaythah dari Ghassan.

Bangsa Yahudi Mulai Menetap di Yatsrib – Madinah

Pada tahun 70 M, orang-orang Yahudi yang menetap di Yatsrib merupakan gabungan antara orang-orang Yahudi pengikut Musa A.S. yang telah mengalahkan Amalekit dan orang-orang Yahudi yang eksodus dari Palestina. Mereka telah menjadikan Yatsrib sebagai kota migrasi dari ancaman orang-orang Romawi. Sebuah kota yang tanahnya subur, jalur transportasi perdagangan, yang mana tersedia air yang melimpah.

Menurut Yasin Ghadhban (1994), meskipun populasi mereka relatif sangat besar, tetapi mereka tidak mau membentuk pemerintahan. Mereka memilih untuk hidup berdasarkan klan mereka. Uniknya, mereka tidak menggunakan bahasa Ibrani yang merupakan bahasa ibu mereka. Mereka jutsru belajar bahasa Arab dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari, meskipun dengan dialek yang bercampur dengan bahasa ibrani. Sedangkan bahasa ibrani digunakan dalam peribadatan dan pendidikan diantara mereka. Hal tersebut menyebabkan adanya pengaruh bahasa Ibrani dalam bahasa Arab.

READ :  Inilah 4 Mazhab Dalam Menetapkan Hukum Ibadah Umroh Haji

Pada mulanya, kelompok yang terbesar yaitu Bani Qaynuqa, Bani Quraydha dan Bani Nadhir. Jumlah setiap klan sekitar 2.000 orang. Salah satu ciri khas mereka adalah menetap di Yatsrib dan tidak melancong kemana-mana, sebagaimana orang Arab badui. Mereka betul-betul memanfaatkan kemakmuran alam dan perdagangan yang sudah dimiliki kota Yatsrib. Sebab itu, sejak dahulu kala mereka dikenal sebagai masyarakat yang berperadaban, karena mereka menetap dan membangun pola relasi kultural diantara mereka.

Selain ketiga kelompok tersebut, terdapat beberapa kelompok kecil lainnya, yang mana jumlah mencapai 18 kelompok antara lain: Bani Anif, Bani Qashish, Bani Hadal, Bani Amru, Bani Murid, Bani Muhammam, Bani Muawiyah, Bani Za’ura, Bani Zaid al-Lat, Bani Hajar, Bani Za’labah, Juwaniyah, Bani Ikrimah, Rabikh, Bani Marawah, Yatsrib dan Na’idhah. Disamping itu masih ada kelompok-kelompok kecil lainnya.

Bangsa Yahudi Arab. Al-Ya’qubi di Yatsrib – Madinah

Satu hal yang menarik untuk dicermati, khususnya menurut sejarawan Muslim, bahwa orang-orang Yahudi yang berada di Yatsrib pada umumnya berasal dari keturunan Arab, sehingga mereka disebut dengan Arab Yahudi, atau Yahudi Arab. Al-Ya’qubi, sebagaimana dikutip oleh Yasin Ghadhban, menyebutkan beberapa alasan yang dapat membenarkan pandangan tersebut: Pertama, nama-nama mereka yang identik dengan bahasa Arab dan bahasa yang digunakan dalam sehari-hari juga adalah bahasa Arab. Diantara mereka terdapat para penyair yang menulis dalam bahasa Arab, dan sebaiknya mereka tidak mempunyai karya-karya dalam bahasa Ibrani.

Kedua, silsilah keluarga dan keturunan mereka sebagaimana silsilah yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab, terutama tatkala mereka mengaitkan pertalian darah mereka dengan Harun dan Musa. Mereka mempunyai kebanggaan yang sangat luar biasa ketika mereka merupakan anak cucu dari para Nabi. Pandangan tersebut amat mirip dengan orang-orang Arab pada umumnya, terutama orang-orang Quraysh.

Ketiga, orang-orang Yahudi yang tinggal di Yatsrib mempunyai kapasitas dan kreativitas melebihi orang-orang Arab sendiri. Mereka pun menetap di Tanah Arab setelah penyiksaan yang berlangsung lama terhadap mereka. Mereka mengembangkan pertanian, perdagangan dan perindustrian, terutama persenjataan, emas dan perak. Disamping mereka mempunyai lahan pertanian yang cukup luas.

Orang-orang Yahudi yang berada di Yatsrib tidak seluruhnya berlatar belakang Yahudi. Mereka pada hakikatnyna orang-orang Arab yang memeluk Yahudi. Bahkan, fenomena tersebut masih bertahan hingga sekarang. Di kawasan yang merupakan kekuasaan Israel yang notabene Yahudi masih Terdapat orang-orang Yahudi yang berlatar belakang Arab, dan masih menggunakan bahasa Arab. Tidak hanya itu saja, masih banyak orang-orang Kristen yang juga berbahasa Arab.

Keempat, mereka juga eksodus dari Palestina ke Yatsrib pada umumnya adalah orang-orang yang mempunyai nama Arab, tetapi mereka kemudian memeluk Yahudi. Pada masa Raja Titus dan Hedrian dengan mudah mendapatkan orang-orang Arab yang masih menggunakan Arab, tetapi mereka juga memeluk Yahudi. Sebab itu, pilihan mereka memeluk Yahudi tidak lain karena pergaulan mereka dengan orang-orang Yahudi, sehingga sedikit banyak mereka terpengaruh dengan ajaran yang dibawa oleh Musa A.S. dan pengikutnya. Menurut Noldeke, orientalis asal Jerman yang sangat terkenal itu, bahwa sebelum mereka memeluk Yahudi, mereka adalah kaum pagan.

Diantara mereka yang memeluk Yahudi, yaitu suku Aws dan suku Khazraj. Setelah mereka keluar dari Yaman dan berinteraksi dengan orang-orang Yahudi Khaibar, Quraydha, dan Nadhir, maka mereka kemudian memeluk Yahudi. Begitu pula kaum dari Bani Harits bin Ka’ab, kaum dari Ghassan dan kaum dari Jadzam. Mereka memeluk Yahudi setelah berinteraksi dengan orang-orang Yahudi.

Bangsa Yahudi di Dalam Al Qur’an

Tentang fenomena orang-orang Arab yang memeluk Yahudi ditegaskan dalam Al Quran dalam sebuah ayat yang berbunyi, Tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas antara kebenaran dan kezaliman (QS. Al-Baqarah [2] : 256). Imam al-Wahidi al-Naisaburi dalam Asbab al-Nuzul menegaskan, bahwa ayat ini diturunkan pada orang-orang Anshar. Diantara perempuan mereka bernazar jika anak-anak mereka nanti lahir, mereka akan menjadikannya sebagai orang-orang Yahudi. Lalu, mereka memeluk Yahudi. Setelah Islam datang, mereka ingin memaksa anak-anak mereka agar memeluk Islam. Mereka pun mengadukan kepada Nabi Muhammad SAW perihal persoalan tersebut. Kemudian Nabi terdiam, dan turunlah wahyu dari Allah SWT, bahwa didalam agama tidak ada paksaan. Didalam riwayat lain disebutkan, bahwa anak-anak Anshar ada yang menyusui dari orang-orang Yahudi Bani Quraydha. Lalu mereka juga memeluk agama Yahudi.

Beberapa penjelasan diatas semakin meneguhkan, bahwa orang-orang Yahudi yang berada di Yatsrib tidak seluruhnya berlatar belakang Yahudi. Mereka pada hakikatnya orang-orang Arab yang memeluk Yahudi. Bahkan, fenomena tersebut masih bertahan hingga sekarang. Di kawasan yang merupakan kekuasaan Israel yang notabene Yahudi masih terdapat orang-orang Yahudi yang berlatar belakang Arab, dan masih menggunakan bahasa Arab. Tidak hanya itu saja, masih banyak orang-orang Kristen yang juga berbahasa Arab.

Pandangan ini semakin meneguhkan tesis Philips K. Hitty dalam History of the Arabs, bahwa Arab bukanlah entitas agama. Arab adalah entitas kebudayaan, yang mana mereka dipersastukan oleh bahasa dan budaya, bukan hanya oleh agama. Tesis ini semakin meneguhkan, bahwa orang-orang Kristen dan yahudi yang tinggal di sejumlah Negara Arab pada umumnya masih berbahasa Arab. Dengan demikian, Arab bukanlah monopoli agama tertentu. Arab adalah ikatan kelompok yang dibangun diatas bahasa dan kebudayaan yang sudah mengakar kuat bagi mereka.

READ :  Paket Umroh Murah di Medan Mulai Rp19,9 Juta Starting Jakarta

Tesisi Hitty tersebut semakin membenarkan pandangan al-Ya’qubi dan Yasin Ghadhban, bahwa orang-orang Yahudi yang datang ke Yatsrib adalah orang-orang Yahudi yang berasal dari  keturunan Arab. Yang membedakan diantara mereka hanyalah agama yang dipeluk masing-masing kelompok. Meskipun tidak bisa dimungkiri pula, bahwa diantara mereka juga terdapat orang-orang Yahudi, yang juga menggunakan bahasa Ibrani. Buktinya, ketika datang  ke Yatsrib diantara mereka ada yang belajar bahasa Arab agar bisa berinteraksi dengan orang-orang Arab.

Satu hal yang dapat dipastikan dari penjelasan diatas, bahwa Yatsrib atau Madinah pra-islam merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi orang-orang Yahudi. Mereka telah menemukan tempat yang cocok untuk kemakmuran mereka. Meskipun satu hal yang tidak bisa diabaikan juga, bahwa mereka tidak hanya satu kelompok dan pandangan. Mereka terbagi dalam berbagai kelompok, yang memungkinkan diantara mereka terdapat perbedaan dan persaingan. Apalagi setiap kelompok tinggal di kawasan tertentu, yang mana diantara mereka tidak terbiasa dengan pembaruan dan interaksi sosial yang insentif. Hal tersebut menyebabkan munculnya friksi diantara mereka.

Selain di Yatsrib, orang-orang Yahudi juga menempati wilayah lain di Hijaz. Mereka menetap di Khaibar. Mereka dikenal sebagai kelompok Yahudi pemberani. Di tempat inilah mereka bertahan hidup dan mempunyai sumber penghidupan yang layak, utamanya dari pertanian kurma. Ketika mereka diusir dari Khaibar, mereka lalu eksodus sejumlah Arab lainnya, seperti Iran, Suriah dan Mesir. Meskipun demikian, mereka masih mempunyai ikatan batin yang kuat dengan Khaibar.

Orang-orang Yahudi juga menetap di Taima. Tempat ini sangat strategis, karena merupakan jalur transportasi bagi para pedagang. Mereka merebut tempat ini melalui penaklukan. Lalu mereka mengolah tanah, bercocok tanam, dan menggali sumber air. Kemakmuran mereka diabadikan oleh Imraul Qays dalam syairnya.

Bangsa Yahudi Menetap di Madinah dan Hijaz

Disamping itu, mereka juga menetap di Fadek dan Lembah Qura. Mereka pada umumnya menekuni pertanian, tenun, dan pandai besi. Sebagai kelompok migran, mereka sangat kreatif, terutama dalam rangka mempertahankan hidup. Tanah air mereka adalah kreativitas mereka. Itulah karakter yang menonjol dari orang-orang Yahudi yang menetap di Hijaz.

Orang-orang Yahudi, baik di Yastrib maupun di tanah Hijaz dan Arab pada umumnya telah menemukan tempat yang nyaman. Dalam bidang perdagangan dan pertanian, mereka menguasai dengan sangat baik. Kompetitor mereka hanyalah orang-orang pagan Quraysh yang berada di Mekkah. Satu hal yang menjadi karakter dari orang-orang Yahudi adalah system riba. Dari system ini mereka mendapatkan keuntungan yang berlimpah-limpah, yang menyebabkan mereka menjadi sebuah kekuatan yang tidak tertandingi oleh pihak lain.

Sedangkan dalam hal keagamaan dan pemikiran, orang-orang Yahudi merupakan salah satu rujukan penting bagi orang-orang Arab. Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menegaskan, bahwa Ahlul Kitab, utamanya Yahudi dan Kristen merupakan kelompok yang paling banyak dijadikan rujukan dalam memecahkan masalah kehidupan. Bahkan, ketika mereka ada yang memeluk Islam, mereka masih mempunyai keahlian dalam meramal misteri kehidupan dan urusan perang.

Sedangkan dalam rangka menumbuhkan religiuisitas mereka mempunyai system yang popular diantara mereka yang dikenal dengan system sekolah, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah, al-Madaris, Bayt al-Madaris, dan al-Madarisy. Dari system ini, mereka melahirkan para pemuka agama. Disamping itu, mereka juga mempunyai sinagoge, yang merupakan tempat ibadah bagi mereka. Melalui tempat inilah mereka melkitakan ritual keagamaan, yang mana mereka menunjukkan ketundukan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka, yaitu Musa A.S. Meskipun sebagian dari mereka ada yang tidak peduli dan tidak patuh pada ajaran Yahudi karena mengutamakan hubungan klan daripada hubungan agama, diantara mereka masih terdapat orang-orang yang taat beribadah melalui pemuka agama yang mengajarkan Taurat di Madaris.

Meskipun demikian, satu hal yang membedakan antara orang-orang Yahudi di Yatsrib dan kawasan Arab pada umumnya dengan orang-orang Kristen, yaitu mereka tidak mempunyai gairah untuk mengembangkan misinya bagi orang-orang Arab lainnya. Jumlah orang-orang Yahudi tidak mengalami perkembangan yang signifikan, bahkan mengalami penyusutan. Apalagi setelah Islam datang, mereka tidak melkitakan proliferasi ajarannya di tanah Arab. Secara pelan-pelan jumlah mereka mengecil dan menghilang dari tempat yang dulunya merupakan tempat tinggal mereka.

Orang-orang Yahudi juga menetap di Taima. Tempat ini sangat strategis, karena merupakan jalur transportasi bagi para pedagang. Mereka merebut tempat ini melalui penaklukan. Lalu mereka mengolah tanah, bercocok tanam, dan menggali sumber air. Kemakmuran mereka diabadikan oleh Imraul Qays dalam syairnya.

Hal tersebut terkait dengan karakter orang-orang Yahudi yang tidak mempunyai ambisi sama sekali untuk membangukekuatan politik, sebagaimana dilkitakan oleh penganut agama lainnya. Afiliasi mereka hanya kepada kabilahnya dan pemuka kaumnya. Mereka cukup memberikan hadiah dan harta kepada mereka dan orang-orang Arab yang berada di sekitar mereka, tanpa harus membangun sebuah kekuatan politik sendiri. Disamping itu, mereka hanya perlu memastikan bahwa benteng-benteng yang akan menjadi tempat perlindungan mereka dari ancaman musuh dapat bertahan dengan baik.

READ :  Umroh Murah Terpercaya Mulai Rp19,9 Juta Jabotabek

Kehidupan mereka mirip seperti orang-orang pagan Quraysh, yang mana kecintaan mereka terhadap klan jauh lebih tinggi daripada kecintaan mereka terhadap agama. Dari hubungan klan mereka membangun sebuah pola relasi yang sangat terbatas, tetapi secara ekonomi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meminjam tesis Hitty dalam soal Jahiliyah, orang-orang Yahudi di Yatsrib dapat dikatakan sebagai orang-orang semi-Jahiliyah. Yaitu mereka mempunyai norma-norma Yahudi, tetapi mereka menolak adanya hukum yang mempersatukan mereka.

Pemandangan seperti ini mempunyai kekuatan di satu sisi dan kelemahan di sisi lain. Kekuatannya, mereka lebih fokus pada pengembangan dan kesejahteraan mereka, sehingga tidak disibukkan dengan pertentangan dalam kasak-kusuk politik. Tetapi kelemahannya, perkembangan Yahudi sebagai sebuah agama tidak mengalami pertumbuham yang signifikan di kawasan Arab. Diantara faktanya, bahwa penganut Yahudi di tanah Arab tidak mengalami penambahan yang mengejutkan, meskipun secara ekonomimereka relatif menonjol dibandingkan dengan kelompok yang lainnya, terutama orang-orang Kristen sebagai agama yang sezaman dengan mereka. Hingga sekarang ini, kita mendapatkan bahwa jumlah orang-orang Yahudi di tanah Arab menempati posisi yang terakhir jika dibandingkan dengan penganut Islam dan Kristen.

Meskipun demikian, orang-orang Yahudi adalah masyarakat yang terbuka. Dalam penelusuran sejarawan, hemat Yasin Ghadhban, bahwa orang-orang Yahudi, terutama para pemuka agamanya menjalin hubungan dengan penduduk Mekkah dalam hal mengenali tentang pesan-pesan kerasulan dan para Nabi terdahulu. Dalam hal ini dapat dipahami, kenapa kisah-kisah Israel di masa lalu begitu kuat dalam khazanah orang-orang Arab. Hubungan yang begitu intim antara orang-orang Arab Jahiliyah dengan orang-orang Yahudi telah memungkinkan diantara mereka saling bertukar pemahaman. Hubungan tersebut didokumentasikan oleh para penyair Arab jahiliyah. Diantara mereka kerap datang ke Mekkah untuk berdagang di musim haji. Yang membuat mereka menjadi masyarakat terbuka adalah karakter merkantalis yang melekat pada mereka. Dalam budaya merkantalis harus ada negosiasi dan interaksi agar barang dagangan mereka laris manis dan mendapatkan keuntungan yang besar.

Disamping perdagangan, mereka juga mempunyai kebudayaan yang relatif maju di Arab pada zaman itu, yaitu puisi. Hubungan dengan orang-orang Arab pada umumnya dilkitakan melalui mediasi puisi. Puisi merupakan medium yang sangat baik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka. Dalam hal ini, puisi-puisi yang ditulis oleh orang-orang Yahudi mencerminkan sebuah kecintaan mereka terhadap nilai-nilai moralitas, seperti kearifan, keadilan, kejujuran, persahabatan, merenungi kematian dan perlunya menepati janji. Berikut petikan pusi dari seorang penyair Yahudi, Rabi bin Abu al-Haqiq, ia menulis:

Seorang petualang mengalir seperti air Dan ilmu akan diberikan kepada seorang petualang Hendaklah kita tidak menjadi orang yang dikendalikan hawa nafsu Dan jadilah orang yang gemar mendengar pesan seseorang Karena kebajikan didapatkan dari pesan-pesan yang baik Kita jika hendak menentukan hukum dalam soal agama kita Hendaklah mengutamakan keadilan Jangan jadikan kebatilan sebegai kebenaran Dan janganlah campur-adukkan antara kebatilan dan kebenaran Kami khawatir hal tersebut akan mengotori mimpi-mimpi kita

Pesan ini menunjukkan betapa orang-orang Yahudi sebenarnya mempunyai pandangan yang sangat baik tentang kehidupan bermasyarakat dan nilai-nilai yang harus dipedomani dalam sebuah masyarakat. Mereka menghendaki agar setiap persoalan diselesaikan melalui kesadaran dan keadilan.

Selain Rabi bin Abu al-Haqiq, ada beberapa penyair Yahudi yang dicatat dalam sejarah dengan sangat baik, yaitu Samuel bin Farid bin Adiya, Abu al-Zabbal, Dirham bin Zayd, Aws bin Awfa, Sammak, Salam bin Misykam, Kinanah bin Abu al-Haqiq, Abu Atabah, Abu Yasir, Abu Qarfa, Amr bin Asad bin Said, Malik bin Umar, Basmir bin Arkan, Samir bin Arkan.

Kondisi obyektif orang-orang Yahudi tersebut telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagaimana mereka mampu bertahan hidup di pengungsian. Mereka bukanlah penduduk asli. Mereka adalah kaum yang juga hijrah dari tanah kelahirannya setelah mereka diintimidasi oleh orang-orang Romawi. Tetapi karena kegigihan dan keyakinan mereka, justru ditempat inilah mereka menemukan kehidupan yang barangkali jauh lebih menjanjikan daripada tempat asal-muasal mereka.

Yatsrib di masa lalu sudah dititahkan Tuhan menjadi “kota hijrah” bagi orang-orang Yahudi yang tertindas. Dan dalam sejarah selanjutnya, Yatsrib pun menjadi “kota hijrah” bagi orang-orang muslim yang tertindas di Mekkah. Tentu ada perbedaan yang mendasar diantara kedua agama samawi tersebut dalam membangun Yatsrib, yang akan dijelaskan pada bab selanjutnya. Tetapi satu hal yang menyatukan mereka adalah penderitaan yang sangat mendalam akibat penindasan yang dilkitakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan haus akan kekuasaan.

Similar Posts:

By |2019-01-23T05:55:04+00:00January 23rd, 2019|Umroh Murah|