Sejarah Ringkas Rasulullah Muhammad SAW

Sejarah Ringkas Rasulullah Muhammad SAW. Nabi pembawa Risalah Islam, yang merupakan Rasul terakhir penutup rangkaian seluruh Nabi utusan Allah SWT di muka bumi. Beliau lahir hari senin tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 570 Masehi. Beliau adalah salah satu dari lima Rasul yang termasuk kedalam golongan “Ulul Azmi” atau mereka yang mempunyai keteguhan hati (QS. 46: 35). Keempat Rasul lainnya adalah Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Nuh AS. Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal dunia tiga bulan setelah menikahi Aminah, ibu Muhammad.

HALIMAH.

Pada zaman dahulu kala di Arab Saudi atau persisnya di Mekkah terdapat adat yang unik dimana para ibu-ibu di kota akan menyerahkan bayi-bayinya kepada ibu-ibu didesa untuk disusui. Ketika Muhammad lahir, ibu-ibu dari desa Sa’ad datang ke Mekkah mencari keluarga-keluarga yang akan menyusukan anaknya. Diantara ibu-ibu itu terdapat wanita bernama Halimah yang belum mendapatkan anak untuk disusuinya. Kepada suaminya, Haris ia mengeluh, bahwa walaupun telah berusaha keluar masuk lorong mencari anak asuh, tetapi yang dicarikannya tidak ada kecuali seorang bayi yatim. Halimah merasa enggan mengasuhnya karena miskin.

“Akan tetapi, anak itu sungguh menawan hatiku. Matanya berseri-seri dan pandangannya tajam,” katanya.

Suaminya kemudian mendesak supaya Halimah mengambil anak itu sambil berharap mudah-mudahan Allah memberkati mereka. Akhirnya Halimah mengambil Muhammad dengan segala senang hati.

Ziarah ke Makam Rasulullah di Masjid Nabawi

Ziarah ke Makam Rasulullah di Masjid Nabawi

MEMBAWA BERKAH.

Kehadiran Muhammad SAW dalam keluarga yang miskin itu segera membawa berkah. Kehidupan rumah tangga Haris dan Halimah yang sebelumnya suram dan penuh kesedihan karena miskin, berubah menjadi bahagia penuh kedamaian. Kambing yang mereka pelihara menjadi gemuk-gemuk dan menghasilkan lebih banyak susu dari biasanya. Rumput yang digunakan untuk menggembala domba juga tumbuh subur. Mereka percaya dan yakin bahwa anak dari Mekkah yang mereka asuh itulah yang membawa berkah dalam kehidupan mereka.

KEAJAIBAN-KEAJAIBAN. Dalam masa asuhannya, baik Halimah maupun anak-anak teman bermain Muhammad, sering menemukan “keajaiban” di sekitar diri Muhammad. Misalnya, anak-anak sering mendengar suara yang memberikan salam kepada Muhammad. “Assalamu’allaika, ya Muhammad”. Padahal mereka tidak melihat ada orang yang memberikan salam itu. Pada hari yang lain, Dimrah, anak Halimah berlari-lari pulang sambil menangis. Dengan terbata-bata ia berkata bahwa ada orang yang menangkap Muhammad. Orang itu besar dan berpakaian putih.

Halimah bergegas menyusul dan mendapatkan Muhammad sendiri tengah menengadah ke langit. Setelah ditanya oleh Halimah, Muhammad menjawab:

“Ada dua Malaikat turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, dan membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang mereka bawa, lalu mereka menutup dadaku kembali tanpa aku merasa sakit, tidak ada luka dan tidak ada bekas. Kedua Malaikat itu baru saja menghilang ke angkasa”.

Dalam usianya yang ke-6 Muhammad telah menjadi Yatim Piatu, ibunya Aminah, dengan tidak disangka-sangka jatuh sakit beberapa hari kemudian meninggal dunia. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an. Surat Ad-Dhuha ayat 6-7 Allah SWT berfirman.

READ :  Bagaimana Hukum Miqat Di Jeddah

Artinya:

“Bukankah Allah mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Allah mendapatimu sebagai orang yang bingung lalu Dia memberimu petunjuk”.

PENDETA BAHIRAH.

Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib sang paman, mengabulkan permintaan Muhammad SAW. Untuk ikut menyertai kafilah dagangnya ketika ia memimpin rombongan niaga ke Syam (Suriah). Dalam perjalanan itu terjadi pula keajaiban yang merupakan “tanda-tanda kenabian” Muhammad. Terik panas matahari yang membakar rombongan musyafir tidak dirasakan oleh Muhammad kecil karena segumpal awan yang selalu menanguinya menggantung diatas kepalanya bagaikan sebuah payung.

Awan itu menarik perhatian seorang pendeta Kristen bernama Bahirah yang menguasai betul isi Kitab Taurat dan Injil. Hatinya tergerak ketika melihat didalam rombongan kafilah itu terdapat seoranng anak yang terang benderang sedang mengendarai unta mendapati perlindungan khusus dari Allah YME.

“Inilah Roh kebenaran itu”.

Begitu pikir Bahirah lalu ia berlari ke jalan menyongsong kafilah itu dan mengundang mereka dalam satu jamuan makan. Dalam jamuan itu, pendeta Bahirah mempertegas keyakinannya bahwa anak yang bernama Muhammad adalah calon Nabi yang ditunjukkan oleh Allah SWT. Tanda-tanda itu semakin dipertegas lagi oleh isi perbincangannya langsung dengan Muhammad dan menyaksikan ada tanda kenabian di belakang bahu Muhammad. Ketika akan berpisah, pendeta Bahirah berkata kepada Ali Thallib:

“Saya berharap tuan berhati-hati benar menjaga Dia. Dialah Nabi akhir zaman yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakanlah agar hal ini jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh Nabi-Nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu adalah berdasarkan apa yang saya ketahui dari Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan”.

Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abu Thalib memutuskan untuk cepat-cepat pulang ke Mekkah.

MENGGOTONG HAJAR ASWAD.

Dari waktu ke waktu kebajikan perilaku bijaksana  Muhammad semakin dikenal oleh kaumnya. Ketika menginjak usia ke-35, bangunan Ka’bah rusak berat karena banjir dan sedang dilakukan perbaikan secara gotong royong oleh penduduk Mekkah.

Pada saat terakhir, pekerjaan tinggal mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad pada tempat semula, timbul perselisihan. Setiap suku ingin mendapatkan kehormatan dan merasa lebih berhak dibandingkan yang lain untuk melakukannya. Pada saat perselisihan sedang memuncak, Abu Umayyah bin Mughrirah dari suku Makzum, sebagai orang yang tertua, tampil ke depan dan berkata:

READ :  Rukun Yamani, Salah Satu Tempat Mustajab Berdoa

“Serahkan keputusan kamu ini kepada orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini”.

Semua kepala suku menyetujui usul tersebut dan kemudian menanti siapa yang mula-mula masuk melalui pintu itu. Kemudian tampaklah Muhammad muncul dari sana. Semua hadirin berseru:

“Itu Dia al-amin, orang yang terpercaya.

Kami rela menerima keputusannya”.

Setelah persoalannya diketahui, Muhammad menerima kesepakatan mereka itu. Beliau kemudian membentangkan sorbannya di atas tanah dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah lalu meminta agar setiap kepala suku memegang tepi sorban itu dan serentak menggotong, sedangkan begitu pikir Bahirah lalu ia berlari ke jalan menyongsong kafilah itu dan mengundang mereka dalam satu jamuan makan. Dalam jamuan itu, pendeta Bahirah mempertegas keyakinannya bahwa anak yang bernama Muhammad adalah calon Nabi yang ditunjukkan oleh Allah SWT. Tanda-tanda itu semakin dipertegas lagi oleh isi perbincangannya langsung dengan Muhammad dan menyaksikan ada tanda kenabian di belakang bahu Muhammad. Ketika akan berpisah, pendeta Bahirah berkata kepada Ali Thalib:

“Saya berharap tuan berhati-hati benar menjaga Dia. Dialah Nabi akhir zaman yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakanlah agar hal ini jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh Nabi-Nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu adalah berdasarkan apa yang saya ketahui dari Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan”.

Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abu Thalib memutuskan untuk cepat-cepat pulang ke Mekkah.

MENIKAHI KHADIJAH.

Pada usianya yang ke-25, atas permintaan Khadijah binti Khuwalid, seorang saudagar kaya raya, Muhammad berangkat ke Suriah membawa barang dagangan Khadijah dibantu oleh Maisarah, seorang pembantu lelaki yang telah lama bekerja pada Khadijah. Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad, Khadijah sudah menaruh simpati melihat penampilan Muhammad yang sopan dan tampan itu. Kekagumannya bertambah besar terhadap Muhammad setelah mengetahui bahwa hasil dagangannya yang dicapai di Suriah melebihi perkiraannya. Akhirnya Khadijah mengutus Maisarah dan teman karibnya Nusafah untuk menyampaikan isi hatinya kepada Muhammad. Khadijah yang berusia 40 tahun, melamar Muhammad untuk menjadi suaminya. Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya diterima dan dalam waktu dekat segera diadakan upacara perkawinan dengan sederhana. Yang hadir dalam acara itu antara lain Abi Thalib, Waraqah bin Nawfal (Saudara Sepupu Khadijah) dan Abu Bakar As-Siddiq. Perkawinan bahagia dan mencintai itu dikaruniai 6 orang anak, yaitu 2 putra dan 4 putri, mereka terdiri dari:

  • Qosim
  • Abdullah
  • Rukayyah
  • Ummi Kalsum.
  • Zainab
  • Fatimah az-Zahra.
READ :  Memahami Hukum dan Jenis Jenis Thowaf

Kedua putranya meninggal semasa masih kecil. Rasulullah tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal, pada saat mana Muhammad SAW berusia 50 tahun.

TURUNNYA WAHYU.

Meskipun Muhammad bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka, namun beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab dan menyembah berhala yang ada di Ka’bah itu. Menjelang usia yang ke-40, beliau bahkan sering memisahkan diri dari keramaian masyarakat untuk menemukan solusi agar masyarakat tidak lagi menyembah berhala yang ada di Ka’bah itu.

Beliau sering mengasingkan diri ke Gua Hira, sekitar 5 km sebelah timur laut kota Mekkah. Di lereng gunung itu, sekitar 20 meter dari puncaknya terdapat sebuah gua yang sempit dan gelap. Di Gua itulah Muhammad mengheningkan cipta, bertafakur, dan beribadah menurut agama Ibrahim AS selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari. Apabila beliau rindu akan keluarga atau perbekalan habis, iapun pulang dan datang kembali ke Gua itu dengan membawa perbekalan secukupnya. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan beliau untuk beribadah. Pada tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 611, beliau melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya, menyampaikan wahyu Allah SWT pertama, yang artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Allah Mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Allah-Mulah yang paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

(QURAN SURAT AL-ALAQ AYAT 1-5)

Dengan turunnya wahyu pertama itu, Muhammad SAW yang ketika itu telah berusia 40 tahun 6 bulan dan 8 hari menurut perhitungan tahun Kamariah, atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun Syamsiah itu berarti telah dipilih Allah SWT sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang-benderang.

ISTERi-ISTERI NABI.

Para Ummul Mukminin (ibu-ibu orang yang beriman) itu adalah:

  1. Siti Khadijah binti Khuwalid.
  2. Saudah binti Zam’ah.
  3. Siti Aisyah binti Abu Bakar.
  4. Zainab binti Huzaimah.
  5. Juwairiyah binti Haris.
  6. Sofiyah binti Hay.
  7. Hindun binti Abi Umaiyah.
  8. Ramlah binti Abi Sufyan.
  9. Hafsah binti Umar bin Khattab.
  10. Zainab binti Jahsy.
  11. Maimunah binti Haris.

Oleh para perawi, tiga diantara isteri Nabi tersebut dijadikan sebagai narsumber, yaitu Aisyah, Hafsah, dan Zainab.

Similar Posts:

By |2019-01-14T01:21:24+00:00January 14th, 2019|Manasik|