Makna Dan Hakikat Ibadah Haji

MAKNA DAN HAKIKAT IBADAH HAJI

Untuk memahami makna ibadah haji tentunya kita harus melihat ulang dimensi sejarah ibadah ini.pada segmen ini, jelas kita membutuhkan pemahaman secara lebih eksplisit mengenai sejarah Nabi Ibrahim dan ajaran-ajarannya. Mengapa? Sebab, praktik-praktik atau ritual di dalam ibadah haji memiliki hubungan yang sangat erat dengan pengalaman-pengalaman yang dijumpai oleh Nabi Ibrahim As bersamakeluarga beliau.

Sebagaimana telah disebutkan dalam sejarah peradaban dan perkembangan islam, Bani Ibrahim As diseut sebagai para anak Nabi. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai bapak monoteisme serta “proklamator keadilan Illahi” karena itu, tidak heran apabila selama ini agama-agama samawi teresar menjadikan beliau sebagai rujukan.

Sebagai Nabi, Ibrahim memiliki beberapa keistimewaan tersendiri. Selain itu,Makna  beliau juga telah menemukan dan membina keyakinannya melalui proses pencarian dan pengalaman-pengalaman. Keruhanian yang dilalui. Dan, semua ini, menurut pandangan agama atau melalui pendekatan Qur’ani, terbukti bukan hanya dalam penemuannya tentang keesaan Tihan, melainkan juga dalam keyakinannya tentang hari kebngkitan. Menarik untuk diketahui bahwa beliau adalah termasuk satu-satunya nabi yang (disebut dalam Al-Qur’an) pernah meminta kepada Tuhannya agar diberi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung tentang cara menghidupkan kembali orang yang telah mati. Dan, permintaan itupun akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.

Dengan demikian, wajar apabila beliau dijadikan sebagai teladan bagi seluruh manusia, seperti terangkum dalam firman Allah SWT. Berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan  (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan Kami, terimalah(amalan) kami.sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [02]: 127)

Adapun keteladanan yang terdapat dalam diri Beliau antara lain diwujudkan dalam bentuk ibadah haji dengan cara berkunjung ke Mekkah. Beliau bersamaputranya, Ismail , membangun (kembali) fondasi-fondasi Ka’bah. Beliau pulalah yang diperintahkan untuk mempopulerkan syariat Haji. Keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk ibadah tersebut, yang dilengkapi pula dengan praktik-praktik ritual , adalah berkaitan dengan peristiwa yang beliau dan keluarganya pernah alami.

Oleh karena itu, ibadah haji merupakan penegasan kembali tentang keterikatan ibadah tersebut dengan prinsip-prinsip keyakina yang dianut oleh Nabi Ibrahim. Prinsip-prinsip tersebut melingkupi beberapa hal.Pertama, tentang pengakuan keesaan Tuhan, serta penolakan terhadapa segala macam kemusyrikan, baik berupa patung-patung, bintang, bulan, matahari, bahkan segala sesuatu selain Allah SWT.

Kedua, keyakina tentang adanya neraca keadilan Tuhana dalam kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh oleh setiamakhlukj pada Hari Kebangkitan kelak. Ketiga,  keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal. Dengan jata lain, tidak ada perbedaan kemnusiaan seseorang dengan manusia lainnya, meskipun terdapat sebuah peredaan yang mencolok dintara mereka dalam hal-hallainnya. Karenanya, ketiga inti dari prinsip-prinsip tersebut tercermin dengan jelas atau dilambangkan dalam setiap praktik-praktik ibadah haji.

Similar Posts: