Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa dari Etnis Tionghoa

Etnis Tionghoa berperan dalam penyebaran Islam di Jawa. Sunan Ampel yang bernama asli Bong Swi Hoo ini merupakan cucu dari penguasa Kerajaan Perkemahan, Bong Tak Keng. Sunan Ampel atau Raden Rahmat tiba di Nusantara tanpa seorang istri. Ia menikah dengan seorang wanita Jawa bernama Ni Gede, Manila.
Slamet Muljana, dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Bangkitnya Negara-Negara Islam di Nusantara, menulis bahwa Ni Gede Manila adalah anak dari kapten Cina Gan Eng Yu, yang tinggal di Tuban, Jawa Timur, dan juga di Kabupaten Vilatikta. Sebelum Tuban, Gang Eng Yu tinggal di Manila. Menurut teori ini, Gan Eng Yu menikah dengan seorang wanita lokal dan melahirkan Ni Gede Manila.


Tokoh Tionghoa lainnya dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa adalah Raden Patah, nama asli Jin Bon. Babad Tanah Jawi menceritakan tentang Jin Bon yang konon keturunan Tionghoa dari perkawinan antara pejabat kerajaan Majapahit dengan keturunan Tionghoa.
Salamet Muljana dalam bukunya menyatakan bahwa banyak orang Tionghoa Peranakan telah kehilangan pengetahuan mereka tentang bahasa Tionghoa. Baru pada abad ke-15 dan ke-16 orang Tionghoa Peranakan ini masih mengenal bahasa Tionghoa karena mereka masih terdidik dalam masyarakat Tionghoa. Namun sejak runtuhnya masyarakat Muslim Tionghoa dan Sunan Ampel mulai membentuk masyarakat Islam Jawa, banyak Muslim Peranakan Tionghoa tidak lagi mengenal bahasa Tionghoa. Mereka dididik atau dibesarkan dalam masyarakat Islam Jawa. Bahkan anak Sunan Ampel, Sunan Bunang, tidak bisa lagi berbahasa Mandarin. Namun Kin San masih bisa berbahasa Mandarin dengan baik karena Kin San tumbuh dalam komunitas Muslim Tionghoa dan Sunan Bonang tumbuh dalam komunitas Islam Jawa. Artikel ini telah tayang di jatim.inews.id dengan judul `Kisah Penyebaran Islam di Negeri Tionghoa Beretnis Tionghoa`, klik untuk membaca: https://jatim.inews.id/berita/isah -para – penyebar- agama – islam-di-negeri-jawa-etnis-cina /

source:https://jatim.inews.id/berita/kisah-para-penyebar-agama-islam-di-tanah-jawa-dari-etnis-tionghoa/2