Masjid Kotagede Masjid Tertua di Yogyakarta Peninggalan Mataram Islam

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Tak heran jika banyak masjid yang berusia ratusan tahun di Yogyakarta. Selain sebagai tempat ibadah, masjid-masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam di Yogyakarta dan Jawa pada umumnya. Masjid tertua di Yogyakarta adalah Masjid Agung Mataram atau dikenal dengan Masjid Kotagede.


Lokasi masjid berada di kawasan pasar Kotagede, tepat di desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bupati Bantul. Sebagai masjid tertua di Yogyakarta, Masjid Gedhe Mataram Kotagede memiliki sejarah yang kaya dan arsitektur bangunan yang unik.
Monumen Kerajaan Mataram Masjid Giok Mataram ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya pada tahun 2007, menurut Sistem Pendaftaran Warisan Budaya Nasional. Masjid ini diyakini dibangun antara tahun 1575 dan 1601 pada masa pemerintahan Panembahan Senopati. Perkiraan ini didasarkan pada pembangunan makam yang terletak di kompleks masjid. Artinya Masjid Gedhe Mataram berusia antara 447 sampai 421 tahun.
Sumber lain menyatakan bahwa masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Hal ini berdasarkan prasasti pada prasasti yang menggunakan huruf Arab dan berbahasa Jawa. Prasasti di dalam masjid menjelaskan bahwa masjid ini didirikan pada hari Minggu Kliwon, 6 Rabiul Ahir 1188 H. Menurut kalender Gregorian, tanggal ini bertepatan dengan 27 Juni 1773.
Menurut informasi dari Kompas.com (25/04/2021), Masjid Gedhe Mataram memiliki arsitektur campuran Jawa dan Hindu. Arsitektur Jawa terlihat jelas pada bangunan masjid, sedangkan arsitektur Hindu terlihat pada gapura atau gapura dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.
Di depan pintu masuk serambi sekitar masjid terdapat kolam ikan. Selain itu, berbagai pepohonan mengelilingi Masjid Gedhe Mataram untuk menaungi halaman masjid. Berdasarkan informasi dari sistem pendaftaran negara untuk pelestarian budaya. Masjid ini terdiri dari beberapa bangunan. termasuk lokasi gereja mimbar masjid aula masjid Tempat pemandian, kuburan, tugu peringatan dan gerbang Atap Masjid Gedhe Mataram memiliki dua lantai dari kayu dan ubin. Di bagian atas adalah mahkota yang disebut pataka. Atap di tingkat atas berbentuk segitiga dengan sudut meruncing, sedangkan atap di tingkat bawah berbentuk segitiga dengan bagian atas terpotong. Dimensi musholla utama adalah 15,22 x 14,19 m. Ruang utama ditopang oleh empat empu Saka berbahan kayu jati. Ada mihrab dan mimbar di aula besar ini. Yang menarik dari Masjid Mataram Gedhe adalah kompleks makam keluarga Keraton Mataram Islam yang terletak di bagian selatan masjid.
Makam di kompleks ini terdiri dari tiga bagian, bagian depan disebut Prabayaksa, bagian tengah atau Witana dan bagian belakang atau Tajug. Pemakaman saat ini dikelola oleh keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Pusat Penyebaran Islam di Jawa Selatan Kompas.com, (25/04/2021), Tujuan dibangunnya masjid adalah untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Selatan. Karena saat itu wilayah Jawa Utara seperti Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak dan Cirebon mendominasi penyebaran agama Islam.
Sementara itu, masyarakat di Jawa Selatan masih menganut paham animisme dan dinamisme. Oleh karena itu, Masjid Agung Mataram saat itu menjadi pusat dakwah Islam di Jawa Selatan. Pembangunan masjid ini atas perintah Panembahan Senopati atas perintah Guru Sunan Kalijaka. Salah satu anggota Walisongo adalah pendiri Kesultanan Demak yang juga merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Utara.

source:https://travel.kompas.com/read/2022/04/07/132800727/masjid-kotagede-masjid-tertua-di-yogyakarta-peninggalan-mataram-islam?page=2