Masuknya Islam di Pulau Sumatera

Masuknya Islam di Pulau Sumatera dianggap sebagai cikal bakal penyebaran Islam di Nusantara. Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui Barus, sebuah wilayah yang terletak di pantai barat Sumatera pada abad ke-8, ketika kerajaan Sri Wijaya Sumatera yang diilhami Buddha didirikan. Kemudian dikembangkan untuk wilayah Aceh dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pembawa Islam di Indonesia adalah pedagang dari Gujarat dan Persia, dan kemudian orang Arab. Di sana perkembangan Islam sangat pesat. Banyak peninggalan dari sejarah pergerakan Islam.


Peninggalan Sejarah di Sumatera Barus disebut-sebut sebagai kampung Islam tertua di Nusantara, dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kedatangan Islam ke Indonesia barus terutama melalui berbagai jalur seperti perdagangan, perkawinan dan umat Islam
Ada beberapa makam kuno yang ditemukan di Rumah Duka Mahligai, Barus. Di batu nisan tertulis bahwa Syekh Rukunuddin meninggal pada tahun 672 M. Juga makam Syekh Usuluddin yang panjangnya sekitar 7 meter. Batu nisan penguasa pertama Kerajaan Laut Basai berasal dari tahun 696 oleh Sultan Malik al-Salih. Inilah bukti terpenting dinasti Islam di wilayah Indonesia-Malaysia. Ini memperkuat gagasan bahwa komunitas Muslim di Paros memang ada pada waktu itu.
Selain perdagangan, masuknya Islam ke Sumatera juga dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan Sumatera. Juga klaim orang tua atau ulama yang hadir. Dari Kesultanan Aceh, pengaruh Islam meluas ke seluruh Nusantara. Bukti penyebaran budaya Islam dapat ditemukan saat ini. termasuk masjid dan kuburan.
Islam di Sumatera Dalam Buku Abad ke-7 Sejarah Politik dan Kekuasaan (2019) karya Tapel Rambay dkk Barus sudah terkenal dengan produksi kapur barus dan rempah-rempah di Eropa dan Timur Tengah.
Pada akhir abad itu, para saudagar Arab mulai memasuki pelabuhan Barus untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Setelah Islam pindah ke utara Sumatera, masyarakat Sumatera menjadi lebih terbuka untuk berinteraksi dengan para pedagang. Para pedagang Arab kemudian menikahi wanita lokal dan memiliki anak. Oleh karena itu, komunitas Muslim terbentuk. Islam diterima dengan baik di Sumatera Utara karena tidak memandang aliran-aliran tersebut sebagai Hindu-Budha. Kemudian karena hubungan baik antara masyarakat setempat dengan ulama yang berasal dari negara-negara Arab. Setelah kedatangan Islam, kerajaan Acehhu mengambil langkah lebih jauh melawan beberapa kerajaan di Sumatera dan di tempat lain.
Sebelum masuknya Islam di Sumatera, penduduk Sumatera menganut agama Hindu. dan beberapa dari mereka berlatih parmalin.
Dalam Tales of the Pasay Kings and Malay History, disebutkan bahwa Nakhuda Ismail dan Fikr Muhammad datang dari Mekah untuk memeluk Islam Paros. Kemudian meluas ke Lamuri (Banda Aceh), Aru dan baru-baru ini ke Pasai. Sumber ini dibuktikan dengan keberadaan batu nisan di Kota Rentang, Barus. Dari masa penemuan, dipastikan bahwa jenis batu nisan telah digunakan di Kota Rantang sejak abad ke-13 Masehi. Oleh karena itu, kawasan pemekaran kota, Silver Expense Area menjadi kawasan penting sejak abad ini. Juga, kerajaan Aru/Haru dikukuhkan sebagai kerajaan Islam sejak pertengahan abad ke-13 Masehi. Hal ini didasarkan pada jenis makam di Kota Rentang, kisah raja-raja Pasai, sejarah Malaysia, atau kunjungan Markopolo pada tahun 1292. Penguasa Arus ini, Sultan Khusin, adalah bukti bahwa kerajaan Aru telah menjadi Muslim.

source:https://www.kompas.com/skola/read/2020/06/26/182500369/perkembangan-dan-peninggalan-islam-di-sumatera?page=3