Perpaduan Islam dan Matematika

Perpaduan Islam dan Matematika  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mushala Teknik “Next Level”, Perpaduan Islam dan Matematika”, Klik untuk baca: https://properti.kompas.com/read/2019/02/09/070000321/mushala-teknik-next-level-perpaduan-islam-dan-matematika?page=2. Penulis : Erwin Hutapea Editor : Hilda B Alexander  Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Mulai Jumat (8/2/2019), sivitas akademika Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) bisa menggunakan mushala yang baru diresmikan setelah direnovasi dalam beberapa bulan. Peresmian mushala dengan nama Teknik “Next Level” ini dilakukan Rektor UI Muhammad Anis dan Dekan Fakultas Teknik UI Hendri DS Budiono di kampus UI Depok. Menurut Cahyo Candrawan, arsitek utama yang merancang mushala tersebut, desain mushala ini memadukan filofosi agama Islam dengan ilmu Matematika sebagai mata kuliah wajib di semua jurusan FTUI.

Perpaduan Islam dan Matematika  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mushala Teknik “Next Level”, Perpaduan Islam dan Matematika”, Klik untuk baca: https://properti.kompas.com/read/2019/02/09/070000321/mushala-teknik-next-level-perpaduan-islam-dan-matematika?page=2. Penulis : Erwin Hutapea Editor : Hilda B Alexander  Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L“Bangunan ini disebut Mustek, jadi semacam soul bagi anak-anak Teknik UI. Saya ingin menggabungkannya sebagai bangunan religius umat Muslim dengan Matematika yang menjadi mata kuliah wajib yang menyatukan kita di FTUI. Itu juga menjadi salah satu sumbangan terbesar peradaban Islam terhadap dunia,” papar Cahyo kepada Kompas.com.
Dilihat dari segi arsitektur, ada dua komponen yang ditonjolkan dalam mushala ini, yaitu mashrabiya dan helix. Mashrabiya merupakan bentuk dekorasi pada jendela atau dinding yang dibuat dari perhitungan matematika dan geometri yang rumit.
Ini menjadi elemen penting dalam arsitektur Islam klasik di mana terdapat ventilasi berlubang yang menyilang sebagai akses masuk cahaya dan bayangan matahari ke dalam ruangan. Menurut Cahyo, sesuai Surat Al Ashr yang artinya waktu, konsep waktu inilah yang ingin dikembangkan dalam bangunan ini secara keseluruhan. Dinding berlubang membuat cahaya masuk dan bentuk bayangan yang berubah-ubah sesuai peredaran matahari. Sebab, lanjutnya, shalat sendiri sebenarnya sebagai penanda waktu. Itulah filosofi yang diangkat dalam mushala ini untuk mengingatkan semua sivitas akademika di sini agar menghargai waktu.
“Masjid-masjid di Timur Tengah itu biasanya ada dinding yang namanya mashrabiya, yaitu dinding bernapas dalam arti berlubang sebagai bentuk adaptasi dengan udara di sekitarnya yang panas dan lembab. Mashrabiya selalu dibuat dalam bentuk dekorasi yang rumit berdasarkan hitungan matematika juga,” ucap Cahyo. Kemudian, komponen kedua yaitu helix. Ini merupakan bentuk kurva dalam ruang 3 dimensi dan juga menjadi bagian dari Matematika. “Dua hal itulah yang coba kami sematkan di sini, mashrabiya dan helix. Ini bentuk interpretasinya dalam bahasa keteknikan. Kami ingin orang datang ke sini merasa bahwa ini memang mushala teknik. Makanya kalau dilihat bentuknya agak melintir,” imbuhnya. Cahyo menuturkan, pembangunan mushala ini merupakan hasil kerja sama semua disiplin keilmuan di FTUI.
Dia pun mengharapkan tempat ini bisa menjadi inspirasi, sarana berkontemplasi, dan merasakan landscape lingkungan yang tertata lebih baik lagi. Selain itu, mushala ini juga menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan untuk bisa disumbangkan pada peradaban manusia. “Kami harap bisa jadi tempat di mana ilmu pengetahuan terus berkembang. Selain bisa dapat pahala karena ibadah, ilmu pengetahuan kita juga bisa terus berkembang,” pungkasnya.

source:https://properti.kompas.com/read/2019/02/09/070000321/mushala-teknik-next-level-perpaduan-islam-dan-matematika?page=2