Travel Umroh Murah Harga Mulai Rp19,9 Juta All in

Travel Umroh Murah Sragen.   Biaya mulai 19,9 Juta. Start Jakarta. Untuk Start Solo biaya menyesuaikan dengan Cabang kami setempat. Bila Anda sudah membulatkan tekad untuk beribadah umroh bersama keluarga, maka perhatikanlah pedoman lima pasti dalam ibadah umroh, agar umrah keluarga berkesan. Hal tersebut penting. Pastikan Izin Travelnya, Pastikan Jadwalnya, Pastikan Pesawatnya, Pastikan Hotelnya, Pastikan Visanya. Semuanya komplit.

 

INFORMASI DAN KONSULTASI UMROH HAJI: 

H SUDJONO AF – 0813 8809 7656 WA

Paket umroh murah 2019 Solo

Paket umroh murah 2019 Solo

Biaya Umroh Murah Tahun 2019-2020, telah dibuka dengan biaya Rp19,9 Juta. Paket terbatas. Ayo segera daftarkan keluarga Bapak Ibu agar tidak kehabisan seat. Program Umrah Murah bulan April 2018 – 2019 ini tetap memiliki fasilitas yang bagus bagi semua calon jamaah umroh, baik tua maupun muda.

 

Kelebihan Program Umroh Murah Tahun 2019-2020

Perjalanan umroh pada bulan Januari, khususnya, apalagi berangkat pada tengah dan akhir bulan, akan memberikan kenyamanan dan kesyahduan tersendiri, yaitu:

  • Jamaah umroh di Tanah Suci relatif sedikit.
  • Memiliki peluang besar untuk bisa menyentuh Hajar Aswat.
  • Memiliki peluang besar untuk dapat melaksanakan sholat-sholat sunnah di Hijir Ismail.
  • Memiliki peluang besar untuk bisa sholat dan berdoa di Raudhan, Taman Surga.

 

Biaya Umrah Murah Tahun  2019-2020:

Biaya untuk jadwal Umroh Murah kota Bekasi 2018 – 2019 ini  adalah Rp18,9 juta. Sudah termasuk koper dan pelengkapan, diluar pengurusan pasport dan biaya suntik meningitis.

 

Pembayaran Paket Umrah ini bisa dilakukan dua kali:

  • Pertama DP Rp3,5 juta saat melakukan pendaftaran.
  • Kedua, Pelunasan wajib dua bulan sebelum berangkat umroh.

 

Jadwal Keberangkatan  Program Umroh Murah Bekasi Tahun 2019 -2020:

  • Berangkat bulan Januari.
  • Berangkat bulan Februari.
  • Berangkat bulan Maret.
  • Berangkat pada bulan April.

 

Fasilitas yang Didapat untuk Paket Umrah Promo Tahun  2019-2020 adalah sbb:
  • Selama sembilan (9) hari perjalanan umroh reguler.
  • Pengurusan Visa umroh.
  • Akomodasi hotel di Mekkah: Fajr Al Badea, bintang 3, jarak 500m dari Masjidil Haram. Atau hotel yang setara.
  • Fasilitas hotel di Kota Madinah: Shourfah Suite, bintang 3 jarak 200m dari Masjid Nabawi. Atau hotel yang setaraf.
  • Transportasi Kota Jeddah – Kota Madinah – Kota Makkah.
  • Tour city Jeddah – Kota Madinah – Kota Makkah.
  • Konsumsi: 3 kali sehari.
  • Ketua Rombongan dari Indonesia dan Pembimbing Umroh di Tanah Suci.
  • Umroh kedua dari tempat miqot yang berbeda.
  • Air Zam Zam 5 liter.
  • Pesawat: Scoot via Singapura.

 

Tidak Termasuk Fasilitas Paket Umrah Murah Tangerang Tahun 2019-2020 adalah:

  • Pembuatan dan perubahan pasport, oleh jamaah sendiri.
  • Suntik vaksinasi meningitis oleh jamaah sendiri, namun kadang dikoordinasi oleh travel.
  • Pembuatan surat mahrom bagi wanita dibawah umur 45 tahun yang berangkat umroh tanpa muhrim.
  • Transpor dari daerah masing-masing ke Jakarta dan sebaliknya.
  • Permintaan umroh dan tour city diluar program yang ditetapkan travel.
  • Kelebihan berat bagasi, telepon hotel, loundry dan keperluan pribadi lain.

 

NB:

  • Biaya pembuatan pasport Rp350.000,_ (diurus sendiri), selesai sekitar 7 hari.
  • Biaya suntik vaksinasi Meningitis Rp450 ribu (suntik sendiri).
  • Biaya penerbitan surat mahrom Rp350 ribu (lewat travel).

 

 

Informasi lengkap Paket Umroh Murah Cikarang Tahun Baru 2019-2020 hubungi :

 

SUDJONO AF – 0813 8809 7656 WA | Email:[email protected]

Inilah Itenerary Perjalanan Umroh Murah Bekasi|Jakarta|Jabotabek|Bogor|Depok|Tangerang Tahun 2019-2020

Hari 01 : JAKARTA – KUALA LUMPUR / SINGAPURA — JEDDAH

Jamaah berkumpul di airport paling lambat 3 jam sebelum berangkat. Berangkat menuju Kuala Lumpur atau Singapura, sesuai dengan pesawat. Transit sekitar 4-5 jam dan selanjutnya berangkat ke Jeddah. Tiba di Jeddah melanjutkan perjalanan menuju Medinah menggunakan Bus. Tiba di Madinah langsung menuju hotel untuk istirahat dan makan malam.

Hari 02 : MADINAH

Sholat Tahajud dan shubuh di Masjid Nabawi, dilanjutkan dengan ziarah ke makam Rasulullah & sahabat serta ke Raudhah. Pk.07.00 Ziarah di sekitar kota Madinah yaitu mengunjungi Masjid Quba, Qiblatain, Jabal Uhud, Masjid Khandaq serta pasar kurma. Jamaah kembali ke hotel sebelum azan Zuhur.

Setelah Ashar: Diadakan Tausiyah dan Pemantapan Manasik Umroh.

Hari 03 : MADINAH

Sholat Tahajud dan shubuh di Masjid Nabawi

Acara bebas. Dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi

Setelah Ashar: Tausiyah dan Pemantapan Manasik

Hari 04 : MADINAH – MEKKAH

Sholat Tahajud dan shubuh di Masjid Nabawi, dilanjutkan dengan ziarah ke makam Rasulullah Saw & sahabat serta ke Raudhah.

Bersiap untuk keberangkatan ke Makkah. Setelah makan siang, berkumpul di lobby hotel kemudian menuju Mekkah. Jamaah melakukan miqat / niat umrah di Bir Ali. Insya-Allah tiba di Mekkah langsung ke hotel. Setelah istirahat sejenak & makan malam, menunaikan ibadah umrah ke-1 bersama – sama.

 

Hari 05 : MEKKAH

Sholat Tahajud selanjutnya Tawaf sunat. Solat shubuh di Masjid Haram

Acara bebas. Dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram

 

Hari 06 : MEKKAH

Sholat Tahajud , Tawaf sunat. Solat shubuh di Masjid Harom

Pk. 07.00 Setelah makan pagi, melaksanakan program ziarah di sekitar kota Mekkah yaitu mengunjungi Jabal Nur, Jabal Tsur, Ja bal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah dan Masjid Ja’ronah untuk mengambil miqat ibadah umroh ke-2.

 

Hari 07 : MEKKAH

Sholat Tahajud , Solat shubuh di Masjid Harom

Acara bebas. Disarankan jamaah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram

 

Hari 08 : MEKKAH – JEDDAH – JAKARTA

Sholat Tahajud Solat shubuh di Masjid Harom

Sebelum meninggalkan Mekkah, Tawaf Perpisahan kemudian berangkat menuju Jeddah. City tour kota Jeddah, kemudian menuju Airport untuk keberangkatan kembali ke Tanah Air.

Hari 09 : JAKARTA

In sya-Allah tiba di Jakarta dengan selamat, semoga memperoleh Umroh Makbullah.

Dengan tanpa mengurangi kekhusukan dan makna ibadah umroh, itenerary bisa berubah menyesuaikan kondisi di lapangan dan ketentuan Pemerintah Arab Saudi

 

Info tautan travel umroh muah Sragen:

Para jamaah umroh di Madinah nantinya bisa menyaksikan bagaimana peradapan Madinah terus berubah.

DARI IBNU KHALDUN MENUJU PERADABAN MADINAH

ada mulanya, mimpi dan imaji tentang Madinah dimulai dari Mesir, saat itu kita masih kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Selama kita di pesantren dulu, penjelasan tentang Madinah hanya ada dalam mata pelajaran sejarah (al-tarikh). Itupun hanya dipelajari di kelas-kelas awal kita menginjakkan kaki di pesantren.

Tidak seperti kisah tentang Mekkah yang begitu menarik dan eksotik diperbincangkan oleh setiap orang dikampungku, karena setidaknya lima kali dalam sehari setiap Muslim melaksanakan shalat dan menghadap ke Ka’bah, yang terletak di jantung kota Mekkah. Madinah adalah kota Muhammad SAW yang kurang mendapatkan penjelasan secara utuh dan menyeluruh. Hanya orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren, yang mampu mengenali Madinah walaupun hanya singkat dan sangat terbatas.

Ironisnya, penjelasan tentang masa Nabi di Madinah bercerita dengan perang yang dilkitakan Nabi pada masa-masa itu. Lihat misalnya buku-buku sejarah yang selama ini diterbitkan, pada umumnya menyebut Madinah sebagai “kota transit”, yang mana kehidupan Nabi di Madinah lebih banyak dikisahkan dalam konteks perang melawan kaum pagan Quraysh.

Untung saja, saat kita belajar di Universitas al-Azhar, kita mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk melahap keilmuan Islam yang sangat kaya itu. Kita bisa mengenal Madinah dalam penjelasan yang sangat luas. Kita juga beruntung bisa berkenalan dengan pikiran-pikiran almarhumn Nurcholish Madjid-yang biasa dipanggil Cak Nur. Mudah-mudahan beliau tenang dan bahagia di surga-Nya.

Cendekiawan Muslim yang satu ini diantara mereka yang banyak bercerita dan menjelaskan tentang keunikan dan keistimewaan Madinah. Hampir di setiap kesempatan. Cak Nur selalu menjadikan Madinah sebagai contoh kemodernan Islam. Dalam sebuah seminar yang digelar di auditorium Fkitaltas Kedokteran Universitas al-Azhar, Kairo, Cak Nur memaparkan dengan sangat meyakinkan perihal pergulatan Nabi dengan konteks sosial di Madinah. Pemaparan Cak Nur yang mengalir dan mendalam perihal sejarah Islam telah membuat mereka yang memenuhi auditorium berdecak kagum.

Kita diantara mereka yang terperangah dengan penjelasan Cak Nur. Seorang Muslim mestinya tidak boleh minder dihadapan modernitas, karena Islam adalah agama yang modern. Ajaran yang diusung Nabi adalah ajaran yang modern dan demokratis. Salah satu rujukan yang sering dikutip Cak Nur adalah pandangan Robert N. Bellah (1972), bahwa Madinah merupakan salah satu bentuk pemerintahan modern yang melandaskan konstitusinya pada nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi. Piagam Madinah merupakan salah satu pencapaian pemerintahan Nabi yang paling spektkitaler, karena membangun konstitusi atau konsensus yang berlandaskan kebhinekaan kelompok, baik suku maupun agama.

Uniknya, penjelasan seperti ini tidak banyak diketahui oleh kalangan muslim pada umumnya. Bahkan barangkali kawan-kawan yang belajar di Universitas al-Azhar kurang mengetahui perihal kemodernan Madinah. Andaikan penjelasan Cak Nur tersebut diketahui oleh anak didik sejak Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi, maka akan memberikan dampak ingatan yang kuat pada diri mereka, bahwa Madinah merupakan salah satu bentuk kemampuan dan kehendak umat Islam untuk berdialog dan berkitalturasi dengan kelompok-kelompok yang lain, bahkan kelompok yang tidak seiman sekalipun. Dalam sejarahnya, umat Islam pernah menjadi komunitas dan kelompok minoritas, dan umat Islam yang dipimpin langsung oleh Nabi dapat diterima penduduk Madinah yang pada masa itu mayoritas dari mereka memeluk Yahudi.

Menimba ilmu di Univeritas al-Azhar merupakan berkah tersendiri bagiku, karena kita mempunyai kesempatan untuk menggali khazanah keislaman. Salah satu kelebihan Mesir jika dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, yaitu pemerintah Mesir memberikan ruang bagi berbagai arus pemikiran, sehingga seperti

“Sejarah adalah seni yang luas, bermanfaat, dan mempunyai tujuan mulia. Sejarah akan menjadikan seseorang mengerti latar historis umat-umat terdahulu, para Nabi dan para penguasa dalam misi politik dan mengelola pemerintahan secara umum. Sejarah adalah ilmu yang amat penting, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui urusan dunia dan akhirat. Bahkan sejarah dapat menyelamatkan seseorang dari kekeliruan dan keterpelesetan.” (IBNU KHALDUN)

Hidangan aneka ragam makanan di restoran, pemikiran keislaman di Mesir dapat diakses sesuai dengan selera peminat dan pembacanya. Pemikiran keislaman dari yang paling kanan hingga yang paling kiri sekalipun dapat dibaca dengan mudah. Syarat yang dimiliki oleh seorang mahasiswa al-Azhar hanya satu, yaitu mempunyai minat baca yang tinggi.

Sejak itu kita mulai tertarik dan fokus untuk mengenali Madinah lebih utuh. Berbagai literatur pun dicari dari perpustakaan Dewan Tinggi Kebudayaan Mesir hingga toko buku loakan yang berada di kawasan Etaba, tidak jauh dari lingkungan kampus Universitas al-Azhar. Tempat tersebut sangat populer dikalangan mahasiswa dengan nama al-asbaqiyyah. Artinya, tempat buku-buku bekas.

READ :  Biaya Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Kemang Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

Daya tarik tempat ini tidak hanya karena harganya yang murah dan bisa ditawar, tetapi juga menyediakan buku-buku kontroversial. Misalnya, buku novel monumental Naguib Mahmud, Awladu Haratina (Anak-anak Kampungku), yang pada saat itu dilarang dipasarkan di toko-toko buku umum, tapi toko loakan Etaba menyediakannya. Di samping itu, kita bisa memesan buku apa saja dari toko loakan. Dalam hitungan beberapa hari, buku yang dipesan hampir bisa dipastikan tersedia. Ini membuktikan, bahwa penjual toko loakan adalah seorang yang gemar membaca, yang juga mengikuti tren dan arus pemikiran keislaman di Mesir, dan Timur-Tengah pada umumnya.

Maka dari itu, kita yang sangat tertarik dengan Madinah mulai berselancar dalam tumpukan buku yang tersusun agak kurang rapi di loakan Etaba. Kita beruntung bisa mendapatkan sejumlah buku monumental tentang Madinah, antara lain: Tarikh al-Madinah, karya Quthb al-Din al-Hanafi. Karya ini diantara karya yang lengkap memotret Madinah. Di samping itu, ada buku Madinah Yatsrib Qabl al-Islam, karya Yasin Ghadban. Lalu, yang terakhir yaitu al-Madinah al-Munawwarah fi al-Tarikh : Dirasain Syamilah, karya Abdussalam Hasyim Hafidz. Ketiga buku ini cukup memberikan informasi dan wawasan yang luas dan menyeluruh seputar Madinah, sehingga rasa penasaran untuk mengenal Madinah sebagaimana dikisahkan oleh Cak Nur dengan amat mempesona itu dapat diobati.

Kita merasa malu dengan Cak Nur menyelesaikan kuliahnya di Universitas Cgicago, tetapi lebih mengerti tentang keutamaan Madinah daripada kita yang belajar di salah satu pusat peradaban islam terlama. Al-Azhar adalah cikal bakal dari perguruan tinggi, yang usianya melebihi usia Universitas Harvard.

Kesan pertama yang kita dapat saat membaca buku-buku tersebut, bahwa Madinah merupakan salah satu kota yang menyimpan sejarah panjang. Ibarat sebuah pendulum, sejarah Madinah juga tidak kalah menarik dari sejarah Mekkah. Kita teringat tesis yang dipoopulerkan oleh Philips K. Hitty dalam The History of The Arabs, bahwa Arab bukanlah entitas agama yang dimiliki oleh pihak tertentu, tetapi lebih dari itu Arab merupakan entitas kebudayaan yang mana antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain saling mengisi dan menyempurnakan. Madinah adalah kota ketiga yang sangat terkenal di Hijaz. Tepatnya setelah Mekkah dan Thaif.

Belakangan Sulaiman Bashir dalam Muqaddimah fi al-Tarikh al-Akhar juga menegaskan pentingnya melihat jejak-jejak sejarah Islam jauh sebelum Islam, sehingga kita terselamatkan dari klaim kebenaran yang dapat menciptakan fanatisme dan ekstremisme yang mengancam kemajemukan, yang inheren dalam kebudayaan Arab. Sebab itu, Bashir (1984) menyampaikan proposal menulis kembali sejarah Arab dalam konteks yang lebih luas dan sejarah Islam dalam konteks yang lebih khusus pula.

Hemat kita, upaya untuk  melkitakan misi tersebut tidak hanya berlkita bagi Madinah, tetapi juga berlkita bagi kota-kota suci lainnya, seperti Mekkah dan Jerusalem. Dua kota suci ini juga kerapkali hanya dibaca dari sisi sejarah tertentu dan melupakan akar-akar sejarah yang menjalar panjang seperti benang. Konsekuensinya, kita mengalami keterputusan sejarah yang kerapkali mudah melahirkan sebuah klaim kebenaran. Bahkan klaim tersebut kerapkali digunakan secara politik, sehingga dalam kurun waktu yang panjang kita mengalami krisis nalar kemanusiaan yang merupakan  bagian terpenting dalam agama bahkan bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.

Pengenalan terhadap Madinah membuatku semakin percaya, bahwa hidup ini pada intinya adalah kebersamaan dan solidaritas ditengah kemajemukan. Sejauh kedua hal tersebut dapat dijadikan sebagai pegangan hidup dan sumber inspirasi, maka akan menjadi modal yang sangat kuat untuk membangun sebuah masyarakat 

Pengenalan terhadap Madinah membuatku semakin percaya, bahwa hidup ini pada intinya adalah kebersamaan dan solidaritas ditengah kemajemukan. Sejauh kedua hal tersebut dapat dijadikan sebagai pegangan hidup dan sumber inspirasi, maka akan menjadi modal yang sangat kuat untuk membangun sebuah masyarakat, bahkan bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.

 

Inilah salah satu kekuatan Madinah, yang barangkali tidak dimiliki oleh kota-kota Arab lainnya. Kita semua berhutang budi kepada orang-orang Yahudi di Madinah yang dengan lapang dada dan besar hati mau menerima Nabi Muhammad SAW dalam momen hijrah. Pada saat itu, orang-orang Yahudi merupakan kelompok mayoritas, sedangkan orang-orang Islam merupakan kelompok mayoritas, sedangkan orang-orang Islam merupakan kelompok minoritas. Tetapi, orang-orang Yahudi mau menerima Nabi dan rombongannya. Bahkan beliau disambut dengan sangat semarak layaknya seorang pemimpin agung, yang mana pemandangannya digambarkan begitu sangat berbeda seratus persen dengan apa yang terjadi di Mekkah.

Di pihak lain, sikap orang-orang Yahudi yang terbuka dan toleran tersebut juga mestinya harus dijadikan teladan oleh orang-orang Yahudi di Israel yang dalam kurun waktu setengah abad terakhir melkitakan pembantaian etnis terhadap rakyat palestina. Sikap yang dilkitakan Israel sebenarnya lebih dilandasi oleh ambisi Zionisme yang keras dan kkita, yang menyakini kekerasan sebagai satu-satunya jalan untuk hidup. Padahal sejarah membuktikan jauh sebelum terbentuknya konsep negara-bangsa, nilai-nilai toleransi dan kebersamaan telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Arab. Faktanya, orang-orang Yahudi pada masa pra-Islam di Madinah adalah mereka yang menerima Nabi dengan hangat dan merangkulnya untuk membangun kota suci umat Islam itu.

Dalam konteks kekinian, kita mulai teringat berbagai upaya yang dilkitakan oleh para pemuka agama untuk menggelar dialog antar-agama, baik yang dilaksanakan di Eropa, Amerika Serikat, maupun Timur-Tengah. Dialog antar-agama selalu berhenti di tempat, karena mereka hanya berhenti pada latar-latar teologis yang mendukung dialog dan perdamaian. Upaya tersebut sungguh baik dan bermanfaat. Tetapi, jika didukung dengan latar-latar historis yang didalamnya menginspirasikan dialog dan hidup berdampingan secara damai justru akan semakin menguatkan pentingnya hidup damai di tengah keragaman umat.

Seorang yang pernah terlibat dalam dialog antar-agama tersebut pernah mengisahkan kepadkita, bahwa kehendak berdialog begitu kuat dikalangan pemuka agama-agama. Tetapi, masing-masing pihak kerap tidak mau masuk dalam persoalan yang lebih mendalam perihal hubungan kuat dalam agama-agama samawi. Setidaknya ada kesan trauma masa lalu yang disebabkan oleh perang salib dan kebiadaban Israel di masa kini. Kedua tragedi tersebut telah menyebabkan dialog antar-agama berjalan di tempat, hanya menjadi pembicaraan dari konferensi ke konferensi, dari seminar ke seminar. Belum lagi, dalam realitasnya, mereka yang menghendaki dialog kurang militan jika dibandingkan dengan mereka yang menghendaki konfrontasi.

Madinah telah memberiku energi baru, bahwa bendera dialog, toleransi dan hidup damai harus dikibarkan berapapun ongkos yang harus dibayar. Sebab hal tersebut merupakan salah satu prasyarat untuk menjadikan Bumi ini sebagai surga dunia yang didalamnya tidak ada lagi konflik yang dapat merugikan kemanusiaan. 

Madinah telah memberiku energi baru, bahwa bendera dialog, toleransi dan hidup damai harus dikibarkan berapapun ongkos yang harus dibayar. Sebab hal tersebut merupakan salah satu prasyarat untuk menjadikan bumi ini sebagai surga dunia yang didalamnya tidak ada lagi konflik yang dapat merugikan kemanusiaan.

Apa yang diungkapkan oleh Cak Nur menemukan momentumnya, karena Madinah merupakan simbol dari masyarakat yang berperadaban tinggi. Yaitu masyarakat yang mempunyai konsensus untuk menerima perbedaan dan kemajemukan, sembari membangun sebuah komunitas yang toleran. Yang paling menonjol dari konsensus tersebut adalah pentingnya kesetaraan dan spirit kewargaan.

Dengan demikian, apa yang dicapai oleh para pendiri bangsa ini (founding father) untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai common platform mengingatkanku pada Madinah yang begitu istimewa itu. Kita pun mulai berandai, mungkin saja para pendiri bangsa dalam mengambil keputusan mengambil inspirasi salah satunya dari apa yang telah dilkitakan Nabi di Madinah. Sebab pencapaian para pendiri bangsa mempunyai kemiripan, meskipun tidak sama persis dengan apa yang terjadi di Madinah.

Secara substantif, yang penting dari pelajaran Madinah adalah musyawarah. Dari sini kemudian, demokrasi menemukan momentumnya dalam tradisi Islam. Mereka yang menerima demokrasi pada umumnya melandaskan pandangan pada musyawarah. Didalam Al-Quran disebutkan, Hendaklah kalian bermusyawarah dalam setiap perkara (QS. Syura [42]: 38). Didalam ayat lain disebutkan : Maafkan dan ampunilah mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam memecahkan setiap masalah (QS. Ali Imran [3]: 159).

Madinah telah menjadi sumber inspirasi bagiku untuk memahami Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang memancarkan kasih sayang bagi seluruh makhluk Tuhan apa pun latar belakang ras, suku, agama, dan bangsanya. Madinah memuat makna yang sangat mendalam bagi kemanusiaan, karena telah menjadikan manusia sebagai makhluk Tuhan yang dapat mengemban amanat untuk menebarkan perdamaian.

 

Geliat Intelektualisme

Setelah membaca beberapa literatur tentang Madinah, kita terpanggil untuk menggali khazanah keislaman lainnya. Kuliah di kampus tertua di dunia membuatku harus mengenal khazanah keislaman lebih banyak lagi, sehingga kita menjiwai salah satu keistimewaan para ulama terdahulu. Meminjam istilah yang dipopulerkan Khaled Aboe el Fadl (2006), kita ingin merasakan the beauty of islam. Indahnya ajaran Islam. Didalam salah satu hadis Nabi disebutkan, Islam adalah agama yang indah dan mencintai keindahan. Menurut Khaled Abou el Fadl, salah satu keindahan Islam adalah karya para ulama amat kaya tersebut. Bahkan dalam pameran buku tahunan di Mesir, kita mendapatkan seorang ulama mengarang kurang lebih 100 jilid buku.

Kita mulai menyampaikan inisiatif kepada kawan-kawan untuk membuat kelompok studi terbatas (limited group discussion). Amat sayang jika waktu luang yang tersedia tidak digunakan sebaik mungkin untuk mengkaji buku-buku, baik dalam kategori sejarah maupun pemikiran. Mahasiswa Indonesia di Kairo harus mulai terbiasa dengan diskusi, bukan hanya sekedar hafalan. Tradisi diskusi tersebut dalam rangka mengembangkan khazanah yang diperoleh di bangku kuliah.

Bersamaan dengan itu, pada awal tahun 1990-an, muncul kritik yang lumayan pedas perihal miskinnya metodologi dan teori sosial modern bagi para alumni Timur-Tengah, termasuk didalamnya alumni al-Azhar. Topik utama jurnal Ulumul Quran, jurnal terkemuka yang dipimpin oleh Dawam Rahardjo, setidaknya menganggap alumni perguruan tinggi barat, khususnya Eropa, Amerika Serikat, dan Australia jauh lebih unggul daripada alumni perguruan tinggi Timur-Tengah dalam hal metodologi dan teori sosial modern.

READ :  Biaya Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Serang Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

Kritik tersebut ibarat petir di siang hari, yang mana menimbulkan reaksi dari mahasiswa yang sedang belajar di Universita al-Azhar, dan barangkali sejumlah mahasiswa yang sedang belajar diberbagai perguruan tinggi di Timur-Tengah lainnya. Saat itu, setidaknya ada dua reaksi dan respons yang mengemuka. Pertama, mereka yang menolak mentah-mentah penilaian dan kritik Jurnal Ulumul Quran, serta menganggap alumni Barat sebagai agen “sekulerisme” atau “sekularisasi”. Mereka ini tergabung dalam kajian usrah, yang banyak mengambil inspirasi perjuangannya melalui Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin dan Sayyed Quthub, yang juga merupakan salah satu aktivis Ikhwanul Muslim garda depan. Mereka tidak terpengaruh dengan kritik yang dilancarkan oleh para alumni barat.

Mereka menganggap kritik tersebut sebagai angin lalu saja. Bahkan, sebagian mereka mulai melkitakan kritik terhadap pemikiran alumni barat. Mereka juga mengambil inisiatif untuk menulis sejumlah artikel yang dimuat dalam media mahasiswa untuk mengkritik seluruh pemikiran yang ditulis oleh alumni Barat. Mereka juga menuduh alumni Barat sebagai pemerhati keislaman yang tidak mengerti bahasa Arab yang merupakan prasyarat untuk memahami teks-teks keagamaan.

Kritik tersebut dapat dikatakan, karena bagaimana mungkin dapat memahami teks-teks keislaman klasik tanpa mengetahui bahasa Arab. Kritik serupa juga dilancarkan oleh Edward. W Said terhadap Bernard Lewis dalam bukunya Covering Islam yang dalam beberapa hal salah dalam memaknai bahasa Arab. Kesalahan tersebut membuktikan, bahwa orientalis tidak semuanya benar dalam analisisnya. Para alumni Barat ini pada umumnya “memuja” karya para orientalis tersebut setinggi langit, bahkan tanpa kritik.

Perihal kritik alumni Barat yang tidak mengenal bahasa Arab tidak sepenuhnya benar. Sebab Cak Nur yang merupakan salah satu jebolan Universitas Barat, tetapi uniknya ia mempunyai kemampuan bahasa Arab yang sangat cemerlang. Cak Nur hafal kiitab Alfiyah Ibnu Malik, sehingga baginya tidak ada kesulitan untuk memahami teks-teks keislaman yang notebene berbahasa Arab. Dan belakangan, tidak sedikit alumni pesantren dari kalangan Nahdlatul Ulama yang juga menguasai bahasa Arab, lalu melanjutkan studi ke Barat. Belum lagi muncul fenomena kawan-kawan saya yang menyelesaikan sarjana di Universitas al-Azhar. Lalu, melanjutkan pascasarjana ke Inggris dan Perancis.

Kedua, mereka yang cenderung menganggap kritik tersebut sebagai masukan yang konstruktif. Mereka cenderung membangun kembali kultur kajian kegamaan, yang tidak hanya menekankan aspek teologis, tetapi juga aspek historis-sosiologis yang didalamnya memungkinkan adanya ruang kritik, tesis, antitesis dan sintesis. Kelebihan dan kelemahan dalam sebuah pemikiran merupakan sebuah keniscayaan. Disinilah letak pentingnya kritik pemikiran.

Kita masih ingat pesan salah seorang pemikir Muslim asal Mesir, bahwa untuk memajukan tradisi intelektualisme dalam Islam diperlukan “kultur kritik”. Apresiasi bisa “diungkapkan” sebanyak 40 persen, sedangkan 60 persen lainnya harus berupa kritik konstruktif untuk melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Imam al-Ghazali mengkritik Ibnu Sina dalam Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat). Kemudian, Ibnu Rushd mengkritik Imam al-Ghazali dalam Tahafut al-Tahafut (Kerancuan [buku] Kerancuan Filsafat).

Maka dari itu, untuk merespons kritik dari Jurnal Ulumul Quran tersebut, kita dan kawan-kawan mendirikan sebuah kelompok kajian pemikiran Islam kontemporer, al-Taysir. Artinya, fleksibelitas dan kemudahan. Nama ini diinspirasikan dari salah satu buku Yusuf al-Qaradlawi, al-Taysir fi al-Fiqh al-Islami (Flekstibelitas dalam hukum Islam). Dalam hal pembaruan Fikih, Yusuf al-Qaradlwi merupakan salah satu pemikir Muslim yang mampu menghadirkan sebuah dimensi penting dalam hukum Islam yaitu fleksibelitas dan kemudahan.

Kelompok kajian ini berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya yang cenderung menggunakan frame ideologi tertentu. Kita memilih untuk menggunakan cara pandang dan ideologi yang bersifat inklusif, terbuka. Kita dan kawan-kawan fokus pada kajian sejarah dan peradaban. Dua aspek ini merupakan titik penting yang dalam beberapa abad dilupakan oleh kalangan Muslim. Sebagaimanan kritik Jurnal Ulumul Quran terhadap alumni Timur-Tengah yang hampir melupakan dimensi tersebut. Padahal sebenarnya sejarah dan peradaban merupakan khazanah yang inheren dalam khazanah keislaman klasik.

Konsekuensinya, pemikiran keislaman berjalan di tempat, karena hanya mendaur ulang pemikiran klasik tanpa harus mengadaptasikannya dengan kenyataan kontemporer. Kajian keislaman hanya mampu menjawab problem internal, khususnya dalam ranah hukum Islam. Di sisi lain, muncul kerinduan yang amat mendalam untuk menghidupkan kembali klaim politik yang melekat pada periode Nabi. Meskipun demikian, klaim tersebut tidak mampu menghadirkan pemikiran yang memuaskan, karena selalu ada ketegangan antara ajaran dengan realitas, antara Islam dan kondisi obyektif umatnya.

Maka dari itu, kita dan kawan-kawan mencoba untuk mendalami sesuatu yang beda, yang mana ide dasarnya menyambungkan antara khazanah klasik dengan khazanah kemodernan. Dari segi ideologi, kami memilih pemikiran yang bercorak jalan tengah, atau yang biasa dikenal dengan istilah “moderat”. Dalam hal ini, mengkaji pikiran Yusuf al-Qaradlwi, terutama dalam soal hukum Islam dan pandangan terhadap kalangan minoritas menjadi relevan.

Selain itu, pandangan Muhammad al-Ghazali tentang peranan perempuan dalam ruang publik memberikan harapan tentang kesetaraan jender dengan menggunakan perspektif hukum Islam. Syaikh Muhammad al-Ghazali adalah salah seorang ulama al-Azhar, yang pernah mengajar di Arab Saudi. Tetapi dalam soal peran perempuan dalam ruang publik, ia mengkritik pandangan kalangan Wahabi yang  cenderung memandang perempuan sebelah mata, bahkan diskriminatif. Karya Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyyah bayn Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits merupakan salah satu bentuk kritik yang amat mendalam terhadap nalar kalangan Wahabi.

Pilihannya adalah mengkaji pemikiran dan pandangan keislaman yang dapat mengantarkan umat Islam pada kemodernan di satu sisi, tetapi di sisi lain tidak kehilangan pijakannya pada khazanah klasik. Spirit yang hendak diangkat ke permukaan adalah spirit Madinah. Nilai-nilai keislaman yang diusung Nabi dapat hidup di tengah kebhinekaan dan bahkan memainkan peran yang sangat penting untuk membangun sebuah masyarakat modern.

Corak Islam yang berkemajuan dan berperadaban menjadi sebuah materi kajian setiap dua mingguan. Dalam hal ini, mengkaji pikiran-pikiran Muhammad Arkoun, Muhammad Abid al-Jabiri dan Hasan Hanafi merupakan santapan pemikiran yang sangat nikmat. Membaca pikiran-pikiran mereka dapat menumbuhkan optimisme, karena Islam dapat berperan dalam konteks sosial yang lebih luas. Kita dan kawan-kawan menghindari cara berpikir kalangan puritan, karena pemahaman mereka mengabaikan konteks sosial dan cenderung rigid.

Dalam hal ini, memgkaji pikiran-pikiran Nashr Hamid Abu Zayd  tentang konsepsi teks (Mafhum al-Nash) menjadi sangat relevan. Kitab tersebut akan memahami Al-Quran secara lebih adil dan mendorong setiap Muslim untuk melkitakan penafsiran yang relevan untuk zamannya. Ada dua konsep yang dinyatakan dalam karya tersebut, yaitu pertama Al-Quran sebagai teks yang lahir dari pergulatan dengan realitas pada zamannya, atau yang dikenal sebagai produk budaya (muntajun tsaqafiyyun). Seperti keyakinan kalangan muslim pada umumnya, bahwa Al-Quran merupakan kalam Allah SWT, tetapi Abu Zayd ingin membentangkan sebuah realitas perihal proses dan dialektika Al-Quran dengan realitas pada zamannya.

Dalam poin ini, kita mengenal sebab-sebab turunnya Al-Quran, atau yang biasa dikenal dengan asbab al-nuzul. Dalam kaidah tafsir dikenal, perlunya pengenalan terhadap kausa obyektif bukan dengan lafadz teks, atau dikenal dengan kaidah, al-Ibrah bi khushus al-sabab la bi umum al-lafdzi. Maka dari itu para ulama tafsir mengenalkan Al-Quran pada periode Mekkah dan periode Madinah. Pengenalan terhadap dua periode ini menjadi penting antara ayat-ayat yang bersifat universal dan ayat-ayat yang khusus untuk umat Islam.

Kita teringat kembali, bahwa Madinah juga menjadi salah satu kota yang terpenting dalam studi Al Quran. Kota ini harus dikunjungi suatu saat nanti untuk melengkapi pengenalanku terhadap jejak-jejak turunnya kitab Suci yang telah berjasa besar bagi transformasi umat Islam seantero dunia. Untuk sementara waktu, kita mencoba untuk mengenali konteks social turunnya Al Qurandari kitab Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turunnya Al Quran) yang ditulis oleh imam Abul Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naysaburi dan Sirah Hayat Kuttab al-Rasul (Biografi Para Penulis Wahyu), karya Fathi Abdul Mu’thi. Kedua kitab ini telah memberikan pengetahuan tentang konteks social turunnya Al Quran di Madinah.

Kedua, Al Quran sebagai Kitab Suci yang harus mampu mengubah peradaban. Jika yang pertama menjelaskan tentang pergulatan Al Quran dalam merespon realitas dan kebudayaan arab, maka pada tahap selanjutnya Al Quran mesti berperan sebagai alan transformasi social. Abu Zayd menggunakan istilah Al Quran sebagai produsen peradaban (muntijun tsaqafiyyun).

Dalam hal ini, tafsir mempunyai peran sentral untuk menjadikan Al Quran sebagai sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang maju. Dimensi moral etik yang ada didalam Al Quran harus mampu menjadikan islam agama yang membangun kemaslahatan umat keadilan dan keadaban public. Islam hadir untuk merangkul, bukan untuk memukul. Islam hadir untuk membangun, bukan untuk menggempur dan menghancurkan.

Bagi kelompok yang pertama tadi, pemikiran Abu Zayd sering disalah pahami sebagai upaya untuk mendekronstruksi Al Quran. Rujukan yang digunakan biasanya adalah karya abdul shabur sahahin, guru besar universitas Dar al-ulum yang berhasil menggagalkan gelar guru besar abu Zayd, dan kemudian merekomendasikan hokum murtad bagi Abu Zayd.

Tetapi, bagiku dan kawan-kawan yang perhatian pada study sejarah dan peradaban memandang pikiran abu Zayd sebagai breakthrough untuk memecah kebuntuan dalam study Al Quran. Pandangan tersebut justru memberikan dorongan moral agar umat islam menjadikan sumber primer untuk memecahkkan masalah-masalah kemanusiaan. Islam bisa berperan lebih luas dalam mengatasi masalah perubahan iklim (climate change), buruh migran, terorisme, kemiskinan, dan lain-lain.

Kita sendiri menulis sebuah artikel khusus tentang pikiran abu Zayd dalam jurnal OASE, jurnal ilmiah terkemuka pada saat itu, dan barangkali hingga sekarang ini. Artikel tersebut kita beri judul, Nashr Hamid Abu Zayd dan refitalisasi peradaban. Belakangan kita juga mendapatkan karib dekatku, Sukidi mulyadi yang sedang kuliah di sekolah Theology, universitas Harvard, juga menulis artikel yang sangat menarik tentang pikiran Abu Zayd dengan judul, Nashr Hamid Abu Zayd and the Quest For A Humanistic Hermeneutics of The Quran. Artikel tersebut semakin meyakinkanku perihal pentingnya pikiran abu Zayd untuk membangun peradaban umat, terutama untuk menjadikan agama sebagai elan kemanusiaan dan kemaslahatan.

Geliat intelektualisisme yang bergeliat ditengah-tengah mahasiswa Indonesia dikairo memberikan kenangan yang indah. Kita mulai mengenal pergulatan Al Quran dengan konteks social, terutama konteks madinah. Perhatianku pada madinah begitu besar, karena dikota ini tersimpan banyak kenangan soal jejak perjuangan Muhammad SAW dalam mengemban misi dakwah. Dan yang terpenting, kota ini menjadi saksi keagungan Al Quran, Karena dari sini kemudian ide tentang kodifikasi Al Quran dari yang semula berbentuk hafalan, kemudian menjadi tulisan. Dari Al-jam’u v al-sudur menuju al jam’u fi al-suthur. Dari kota inilah ide tentang pembukuan Al Quran dimulai, yang mana pertama-tama misi penulisan Al Quran dimulai oleh Aban bin Said bin Ash di Kota Suci madinah.

READ :  Umroh Murah Solo 2019 Mulai Rp24,5 Juta

Ibnu Khaldun

Masa-masa kuliah berlalu begitu indah. Kita semakin cinta mesir. Bisa dibayangkan, apa jadinya jika kita dulu tidak mempunyai kesempatan kuliah di Universitas Al Azhar, kairo, mesir. Kita tidak mungkin berkenalan dengan pemikiran-pemikiran keislaman yang bernuansa kemajuan. Yang lebih khusus lagi, kita tidak akan mengenal keistimewaan kota Madinah.

Selama kurang lebih tiga tahun, hari-hariku dilalui dengan diskusi dan kajian. Diluar itu, kita menjadi redaktur bulletin terkemuka, TEROBOSAN, yang dikenal sangat keritis terhadap kebijakan kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir dan pemimpin redaksi juarnal OASE yang merupakan menara pemikiran mahasiswa Indonesia di mesir.

Kajian sejarah dan peradaban yang paling membuatku terkesan, bahkan hingga sekarang ini yaitu pemikiran Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam bukunya Al-Muqaddimah. Buku ini tergolong spektkitaler, karena memberikan dorongan yang sangat berharga agar umat islam mempelajari sejarah dan peradaban. Didalam pembahasan pertama, Ibnu Khaldun menegaskan, “sejarah adalah seni yang luas bermanfaat, dan mempunyai tujuan mulya. Sejarah akan menjadikan seseorang mengerti latar historis umat-umat terdahulu, para nabi dan para penguasa dalam misi politik dan mengelola pemerintahan secara umum. Sejarah adalah ilmu yang amat penting, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui urusan dunia dan akhirat. Bahakan sejarah dapat menyelamatkan seseorang dari kekeliruan dan keterpelesetan”.

Ibnu khaldun semakin meneguhkan pandanganku, bahwa pengetahuan tentang sejarah akan semakin memperluas cakrawala, terutama untuk mengetahui sebab-sebab kejatuhan dan kebangkitan sebuah peradaban. Sejarah akan menyelamatkan kita dari cara befikir generalis, yang biasanya digunakan oleh para teolog, karena mereka hanya mendasari pandangannya pada teks semata. Perihal pentingnya melihat sejarah, RAYMOND Around dalam dimensions de la conscience histori que menegaskan, bahawa mengenali sejarah bukan untuk terbelenggu oleh masalalu, tetapi justru dalam rangka menyambungkannya dengan masa kini. Sejarah merupakan cara terbaik untuk merangkai pemikiran dan pembelajaran dari masa lalu.

Ibnu khaldun mengkritik mereka yang hanya mendasari pandangannya pada teks dan mengenyampingkan tradisi, konteks politik dan konteks social budaya. Diantara para sejarahwan yang kerap dikritik adalah al thabari dan al-mas’udi, pengarang kitab muruj al-thazab. Didalam karya-karya mereka berdua kerapkali terdapat angka-angka hiperbolik yang sulit dipercaya dengan nalar, karena tidak sesuai dengan konteks social dan konteks politik pada zamannya.

Muhammad abid al-jabiri dalam al-ashabiyyah wa al tawlah: ma’alim mazariyyah khalduniyyah v al-tarikh al-islamic, menempatkan al-mukaddimah, sebagai salah satu karya monumental dan relefan karena memotret sisi-sisi yang tidak terpotret oleh para pemikir muslim lainnya, yaitu dimensi sejarah dan peradaban manusia. Apalagi karya tersebut ditulis sebelum kejatuhan peradaban islam, sehingga memberikan pendasaran sosiologis yang cukup perihal sebab-sebab yang menyebabkan jatuhnya sebuah peradaban.

Jika madinah merupakan titik awal dari kebangkitan peradaban islam, maka era ibnu khaldun merupakan titik akhir dari kejatuhan peradaban islam. Ibnu khaldun, menurut al-jabiri, memberikan pelajaran yang sangat berharga, karena ia tidak hanya menulis teori dan filsafat sejarah, tetapi justru terlibat langsung dalam konteks social politik pada zamannya.

Ibnu Khaldun menegaskan, “sejarah adalah seni yang luas, bermanfaat, dan mempunyai tujuan mulia. Sejarah akan menjadikan seseorang mengerti latar historis umat-umat terdahulu, para nabi dan para penguasa dalam misi politik dan mengelola pemerintahan secara umum. Sejarah adalah ilmu yang amat penting, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui urusan dunia dan akhirat. Bahakan sejarah dapat menyelamatkan seseorang dari kekeliruan dan keterpelesetan”.

Secara sederhana dapat digambarkan, ketika madinah menjadi kekuatan pemersatu, maka pada masa ibnuKhaldun, umat islam berada dalam ambang kehancuran dan ketercerai-berayan yang tidak bisa diselamatkan lagi. Begitu pula konteks social budaya yang lebih luas lagi, sehingga hal tersebut menimbulkan keputus asaan yang sangat mendalam.

Ibnu khaldun mencoba menulis factor tersebut dengan pendekatan sejarah dan peradaban dalam rangka memberikan pelajaran yang sangat berharga perihal semen-semen yang dapat memperkuat sebuah bangunan sesial masyarakat semen tersebut dimanivestasikan dalam interaksi social yang dinamis dan komunikatif berlandaskan keadaban dan konsesnsus. Intinya, interaksi social dapat memperkuat kota, dan kota dapat mempererat interaksi social. Ada hubungan simbiosis mutualistic diantara keduanya. Sebaliknya, jika interaksi social sudah punah, maka sebuah kota akan berada diambang keambrukan yang tidak tertolong lagi. Sebab itu, menurut ibnu kaldun, sebagai mana merujuk ungkapan bijak dimasa lalu, bahwa manusia adalah makluk social yang senantiasa berinteraksi satu sama lain ( al-insan madaniyyun bi al thab’I ).

Teori ini sangat terkenal sekali, karena tidak seperti para pemikir muslim sebelumnya yang hanya memahami teks dan melupakan konteks ibnu khaldun memandang perlunya sebuah pembacaan makna-makna social. Memahami konteks social masyarakat akan memudahkan moralitas yang terdapat dalam teks digunakan untuk membangun interaksi dan komunikasi diantara sesama manusia. Dialektika antara teks dengan konteks sebagai dijelaskan oleh abu zayd diatas telah menyebabkan lahirnya sebuah peradaban besar dimadinah dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Konteks sebelum kejatuhan peradaban islam membuktikan, bahwa kekuasaan yang cenderung pada penumpukan harta dan mengenyampingkan kesejah teraaan social merupakan salah satu alasan sosiologis yang dikenal dengan diktum, “kekuasaan merupakan jalan mulus untuk meraih keuntungan finansial” (al-jah mufidun li al-mal).

Kekuasaan yang berorientasi pada penumpukan kekayaan akan menyebabkan krisis yangnyata. Apa lagi dimasa ibnu khaldun tidak banyak akses untuk mendapatkan harta bagi penguasa, sehingga mereka menerapkan pajak progresif kepada rakyat. Hal tersebut menyebabkan kekacauan, karena kekuasaan tidak untuk melayani rakyat, tetapi justru untuk melayani dirinya. Maka dari itu, visi sebuah kekuasaan kerap dipertanyakan, apakah misinya untuk menciptakan interaksi social yang harmonis atau justru sebaliknya menciptakan goncangan, yang dilandasi pada otoritarianisme kekuasaan. Ibnu khaldun secara sederhana ingin menyatakan, bahwa orientasi kekuasaan yang begitu dominan telah menebabkan rapuhnya sebuah tatanan peradaban.

Ibnu khaldun telah memberikan insight yang sangat berharga, bahwa kekuasaan absolut merupakan lokomotif kehancuran tatanan dalam masyarakat, yang mana interaksi social tidak akan berjalan normal. Sebab itu, wawasan tentang sejarah social masyarakat yang berdasarkan pada analisis dan kajian yang mendalam atas aspek-aspek menjadi penentu kebangkitan dan kehancuran.

Pandangan ibnu khaldun ini juga di amini oleh Abdurrahman al-kawakibi dalam thabai al-istibdad, bahwa masalah serius yang dihadapi oleh peradaban islam dimasa kejatuhannya adalah merebaknya kediktatoran yang dibungkus oleh kebudayaan, politik, ekonomi, bahkan agama. Kediktatoran tersebut menyebabkan tatanan peradaban terpuruk hingga ke dalam kubangan yang tidak terbayangkan sebelumnya, terutama dari segi dampaknya bagi peradaban Islam.

Kajian seputar Ibnu Khaldun memberikan nuansa dan spirit baru bagi kami, yang juga melihat secara kasat mata perihal otoritarianisme rezim orde baru, dan sikap umat islam pada umumnya bersifat pasif. Pertanyaannya pada saat itu, apakah islam merupakan agama yang melanggengkan kediktatoran? Jawabannya pasti: tidak. Sebab dalam kacamata apa pun, kediktatoran tidak bisa ditolerir, karena kediktatoran hanya akan melahirkan kenestapaan dan kesedihan yang amat mendalam.

Ibnu Khaldun telah memberikan insight yang sangat berharga, bahwa kekuasaan absolute merupakan lokomotif kehancuran tatanan dalam masyarakat, yang mana interaksi social tidak akan berjalan normal. Sebab itu, wawasan tentang sejarah social masyarakat yang berdasarkan pada analisis dan kajian yang mendalam atas aspek-aspek menjadi penentu kebangkitan dan kehancuran.

Pembahasan tentang Ibnu Khaldun tersebut mengingatkanku pada masa Muhammad SAW di Madinah. Keberhasilan beliau di kota bersejarah itu merupakan buah manis dari kepemimpinan yang memegangi prinsip keadilan, keadaban dan perdamaian. Di samping itu, harmonisasi diantara berbagai kelompok dibangun dengan sangat baik.

Meskipun Ibnu Khaldun tidak secara ekspilisit menyebut Madinah sebagai prototipe dari kebangkitan peradaban islam pada zamannya, tetapi pikiran dan perasaanku tertuju kepada kota yang telah menerima Nabi dan rombongannya dengan hangat itu. Madinah telah menyisakan sebuah cerita dan kisah yang sangat penting bagi kemanusiaan, karena kota tersebut menjadi saksi teologis dan historis perihal kehendak bersama untuk membangun sebuah “kota”, yang mana salah satu kekuatannya adalah harmoni dan toleransi.

Madinah dalam konteks ini lebih relevan jika dibandingkan dengan Mekkah. Sebab penduduk Mekkah, terutama orang-orang pagan Quraysh harus dikatakan telah gagal membangun harmoni di tengah keragaman. Secara teoretis dapat disimplifikasi, jika penduduk Madinah merupakan contoh terbaik bagi sebuah kebangkitan peradaban, Karena mereka mau menerima Nabi dengan tulus dan membangun harmoni. Sedangkan Mekkah pra-islam merupakan contoh dari kejatuhan peradaban, karena mereka menolak harmoni dan masyarakatnya dibangun diatas kediktatoran. Dulu, di Mekkah harta dan tahta dapat mengalahkan hati nurani dan kebenaran agama.

Ibnu Khaldun menjadi pintu baik yang sangat baik bagiku dan kawan-kawan untuk mengenal Madinah lebih detail lagi. Daripada meratapi kondisi sosial umat islam yang terpuruk, baik secara ekonomi maupun politik, lebih baik bagiku adalah mencari inspirasi yang dapat membangkitkan semangat dan membangun kepercayaan.

Pandangan Ibnu Khaldun diatas sebenarnya bukan untuk “menangisi masa lalu dan masa kini”, tetapi justru memacu kita untuk membangun tata nilai dan tata masyarakat yang akan mengukuhkan kita menjadi umat terbaik, yaitu umat yang dapat membangun harmoni dan toleransi. Dan sekali lagi, Madinah adalah pilihan yang tepat untuk diketahui secara detail, terutama dalam rangka mengenali lebih jauh tentang peradaban yang sudah dirintis dan dibangun Muhammad SAW, lalu dikembangkan oleh para sahabat.

Sumber:

MADINAH

KOTA SUCI, PIAGAM MADINAH, DAN TELADAN MUHAMMAD SAW

Similar Posts:

By |2018-12-31T06:25:17+00:00July 18th, 1983|Madinah, Umroh Murah|

Leave A Comment