Kun..! Saya Berniat Naik Haji dan Umrah!

Kun! Saya berniat naik haji dan umrah ! Saudaraku, semoga kalimat tersebut bisa dijadikan sebagai tonggak dalam hati bahwa kita berniat sungguh-sungguh untuk naik haji dan beribadah umrah. Selanjutnya kita setia memelihara niat tersebut dengan berbagai action agar Allah Yang Maha Kaya, segera memberangkatkan kita berhaji dan berumrah ke Tanah Suci, aamiin.

Labbaik

Allahumma Labbaik

Labbaika

Laa syariika laka labbaik

Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka

Laa syarii ka laka.

 

Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Aku datang memenuhi panggilan-Mu

Tidak ada sekutu bagi-MU, aku datang memenuhi panggilan-Mu

Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah

milik-Mu

Tidak ada sekutu bagi-Mu

 

Itulah kalimat talbiyah yang selalu menggema di tanah air menyongsong musim haji di bulan Dzulkaidah-Dzulhijjah. Bagi mereka yang segera berangkat ke Tanah Suci di bulan itu, tentunya merasakan kesyahduan  tersendiri saat mengumandangkannya. Hatinya akan bergetar penuh kerinduan dan syukur. Sudah terbayang di benak mereka perjalanan yang penuh nikmat ke Baitullah.

Lantas apa yang terlintas di benak kita yang belum bisa berangkat? Hambar? Biasa-biasa saja? Atau ada perasaan lain? Ingin menyusul mereka entah kapan? Bagi anak-anak atau orang dewasa yang belum bekerja, mungkin perasaan hambar atau biasa-biasa saja saat mendengar lantunan kalimat tersebut. Meski itu selalu didengar setiap tahun. Tidak semua memang. Banyak juga diantara mereka yang sudah memiliki keinginan, sebuah krenteg di hati untuk naik haji. Khususnya mereka yang nyantri, atau keluarganya sudah ada yang haji, atau keluarga tersebut memiliki pemahaman keislaman yang baik.

Bagi saya dengan latar belakang pemahaman keislaman keluarga yang pas-pasan, krenteg ingin naik haji baru terbersit saat ikut ngaji di kampus Universitas Brawijaya Malang. Itu pun cuma letupan-letupan kecil yang timbul tenggelam. Hingga saya mulai bekerja keinginan itu masih redup tak terpelihara. Bahkan sering hilang dan tidak terpikir lagi sama sekali. Tertutupi oleh kesibukan mencari rejeki dunia. Ya…saya memang baru sekedar ingin. Sebuah bersitan sekedar ingin naik haji saja. Belum menuju kata “ingin” sesungguhnya, “ingin sekali” atau “cita-cita” mau naik haji. Apalagi menuju berniat naik haji, masih sangat jauh.

Keinginan untuk naik haji, seberapapun kecilnya, saya kira sudah menjadi fitrah manusia. Khususnya umat muslim yang taat di seluruh planet bumi ini. Karena keinginan naik haji merupakan panggilan hati nurani dalam upaya mendekatkan diri kepada Rabbi pemilik jiwa dan raga ini. Namun keinginan naik haji, meski hanya sebesar biji zarrah atau sekecil atom adalah modal yang sangat berharga. Bisa dibayangkan bila kita sebagai muslim, tak secuil atom pun memiliki keinginan naik haji. Sungguh nestapa dan mengenaskan.

Ingin dan Niat Naik Haji dan Ibadah Umrah

Ingin naik haji dalam kontek umum, memang agak beda dengan kontek judul film Emak Ingin Naik Haji. Yang pertama adalah hanya sekedar ingin. Sementara dalam film tersebut, Emak sudah memiliki keinginan yang besar. Emak sudah bercita-cita dan mematri di hatinya untuk bisa naik haji. Bahkan Emak sudah berniat naik haji, bukan sekedar ingin naik haji. Menurut saya sih…ingin naik haji berbeda dengan berniat naik haji. Banyak diantara kita mencampur-adukkan keduanya.

Misalnya kita ditanya seorang teman atau ustadz, “Ingin naik haji, enggak?”

Jawabnya pasti kor. “Ingiiin!”

Namun saat ditanya, “Sudah berniat naik haji?”

Jawabnya tidak jelas, dengan beragam alasan sebagai ganti kata belum atau nanti dulu.

Ungkapan “ingin” (sekedar lamis, cuma di bibir, sebuah ungkapan datar-datar saja) naik haji, menurut saya, hanya sekedar angan-angan bolong. Terwujud syukur, tidak terwujud juga tak bersedih. Tidak ada action apa-apa. Ya, mirip-mirip dengan nato (not action talk only) atau omdo (omong doang). Keinginan itu dibiarkan saja apa adanya, tanpa dirawat atau dilanjutkan dengan tindakan apapun. Meski ini pun patut disyukuri daripada hampa tak memiliki harapan sama sekali. Sementara niat, sudah masuk ke relung hati dan terpahat. Selanjutnya diikuti sebuah action. Suatu rencana tahap demi tahap sesuai kemampuannya, lahiriyah dan bathiniyah.

Langkah sederhana misalnya, ya membuka tabungan haji. Menghadiri undangan walimatussafar tetangga, sahabat dan kolega, atau pengajian seputar haji. Membaca buku-buku haji dan care terhadap berita-berita haji. Juga ikut (bukan ikut-ikutan) manasik haji.

Ada yang lebih mudah lagi. Beli poster gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, lalu pasang di tempat yang mudah dipandangi, biar kerinduan hati menggelora. Biar rasa ingin tadi berubah jadi ingin banget sehingga menggedor-gedor hati untuk mulai melangkah. Mengalami metamorphosa menjadi niat yang menggebu-gebu. Tips satu ini Anda boleh tersenyum (aneh) alias tak percaya. Tapi saran saya, coba saja lakukan! Anda akan memetik keajaiban, he.he..

Kisah dalam film Emak Ingin Naik Haji, memberikan banyak pelajaran bagi kita. Seorang Emak dengan keterbatasan materi, menetapkan niat untuk naik haji. Niat itupun dipelihara dengan sepenuh hati, dengan selalu berdoa dan menabung. Betul! Emak menabung Rp1 juta tiap tahun. Sehingga dalam hitungan Emak, dirinya baru bisa membayar Ongkos Naik Haji alias ONH, saat ini disebut BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) setelah umurnya 86 tahun. Namun Emak tak peduli, ia tetap menabung. Emak sudah melangkah nyata. Sudah action. Emak juga merawat dengan sepenuh hati buku Sejarah Mekkah pemberian anak tetangganya yang kaya raya. Sering dipandangi, ditimang-timang dan dipeluknya buku tersebut sambil meresapi, nikmatnya bisa berangkat haji.

Banyak Cara Naik Haji dan Beribadah Umrah Murah

Kisah Emak bukan hanya ada di film tetapi banyak terjadi di masyarakat sekeliling kita. Ada penjual sate keliling, tukang tambal ban, tukang becak, pedagang sayuran di pasar, tukang cabut rumput dan profesi-profesi biasa lain yang bisa berangkat naik haji. Kisah lengkap mereka ditulis Budhi Wuryanto: Tukang Kuli Naik Haji, Andapun Bisa! Mereka dengan tekun menabung Rp2 ribu sampai Rp20 ribu tiap hari, hingga bertahun-tahun. Ada yang 7 tahun, 12 tahun, bahkan ada yang 20 tahun dengan sabar menabung, hingga Allah Yang Maha Pemurah memberangkat haji. Musim Haji Tahun 2010 lalu, tukang becak asal Brebes, Jawa Tengah, bisa berangkat haji dari menabung selama 20 tahun. Keberangkatannya dihantar dengan  pawai becak para tetangga dan teman-teman seprofesi. Sungguh dahsyat! Bahkan lebih dramatis lagi, Hasan Bisri telah menulis 99 Cara Naik Haji Gratis, termasuk dirinya. Lantas apalagi yang membuat kita ragu?

Allah Maha Kaya. Allah Maha Pemberi dan Maha Pemurah. Saya juga melakukan hal yang sama. Begitu niat sudah menggedor-gedor hati, sesudah bertahun-tahun menggantung tak pasti, saya pelihara dan saya rawat dengan sebuah action, menabung. Ya., menabung! Tak peduli berapa besarnya dana yang bisa saya debetkan. Targetnya harus terus bertambah setiap bulan.

Saya pun menyimpan poster gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di ruang kantor. Saya sering memandangi kedua poster itu. Bahkan kadang berguman,”Nanti saya masuk ke masjid ini dari pintu sebelah mana, ya?” Selanjutnya saya tersenyum sendiri menyadari perilaku “aneh” ini. Namun, terus terang saya bisa memperoleh perasaan penuh bahagia setiap usai melakukan itu. Saya membayangan, diri saya berjalan memasuki salah satu pintu di Masjidil Haram, lalu terpaku di depan Ka’bah entah untuk berapa lama. Tahu-tahu, saya melihat diri ini dengan pakaian ikram, tawaf mengelilingi bersama ribuan jamaah.

Bila ada undangan walimatussafar, saya berusaha menghadirinya. Semenatra di rumah, saya mengkliping berita haji dari koran Republika, yang saya langgan hanya saat musim haji. Ditambah koran Kompas, dan Tempo yang kebetulan langganan kantor. Bila ada berita haji di TV, saya bersemangat menontonnya.

Tentu saja, doa tidak pernah lepas setiap usai sholat fardlu, usai sholat dhuha, dan sholat malam yang masih bolong-bolong. Selanjutnya saya iklaskan dan tawakal kepada Allah Sang Penggenggam Waktu. Hasilnya..? Bersyukur, Allah Yang Maha Kaya memberi kemudahan dalam ikhtiar saya dan segera memberikan kode PIN Bank Langitan untuk mencukupi seluruh kebutuhan biaya ONH saya.

Alhamdulilllah. Man jadda wa jadda. Man shabara zhafira. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Siapa yang bersabar akan beruntung.

 

Program Umrah Murah Rp4,5 Juta dan Rp10 Juta – Jadwal Keberangkatan 2014 – 2015

Umrah Tabarru' Murah hanya Rp.4,5 juta saja. Fasilitas: Urus visa, Tiket PP, Pesawat Lion/Brunai/Saudi, Hotel *3 jarak 750 m Masjidil Haram, Asuransi, Air Zam Zam, Makan 3 x menu Indonesia, 9 hari perjalanan ke Tanah Suci, Transpor Madinah-Mekkah-Jeddah plus City Tour, Muthowif. Manasik & Buku Panduan, Tas Paspor & Batik, Berangkat dengan daftar tunggu sekitar 3-4 tahun.

Umrah Murah Rp10 Juta. Berangkat April 2014. Fasilitas: pesawat Batavia Air Bus 330, urus visa, tiket pp, Transpor Madinah-Mekkah-Jeddah plus City Tour, HotelEllaf Usuud Mekkah 700 dari Masjidil Haram, Rawdah Suite /Wassel Suite Madinah, 9 hari perjalanan, Asuransi, Air Zam Zam, Muthowif, Manasik & Buku Panduan, Tas Paspor & Batik. Tempat Terbatas! DP Rp3 Juta, pelunasan 6 April 2013.

Similar Posts:

By |2013-09-15T09:24:23+00:00September 15th, 2013|Uncategorized|

Leave A Comment